Ning terbangun di ranjang rumah sakit dengan tubuh yang bukan miliknya.
Perutnya rata. Bayinya hilang. Dan tahun di kalender menunjukkan angka yang mustahil — enam belas tahun telah berlalu sejak malam kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Tapi anaknya masih hidup.
Kian Nie, 16 tahun. Pewaris tunggal Semesta Group. Remaja berambut perak dengan tatapan sedingin es — yang langsung mengusirnya begitu mendengar namanya.
Karena nama Ning... adalah nama mendiang ibunya.
Ning tahu ia tidak bisa mengaku. Tidak kepada Kian yang masih memendam luka ditinggal ibunya. Tidak kepada Kevin Nie — suami lamanya yang kini menjadi CEO paling berkuasa di Jakarta, yang masih memakai cincin pernikahan mereka setelah enam belas tahun, yang masih menonton video terakhirnya setiap malam sebelum tidur.
Yang tidak Ning tahu: Kevin sudah mengenalinya. Matanya, caranya tertawa, kebiasaannya yang tak mungkin dipelajari orang lain.
Dan ia akan melakukan apapun untuk tidak kehilangan Ning — untuk kedua kalinya.
Pernikahan kilat. Identitas yang tersembunyi. Seorang anak yang diam-diam memanggil "Mama" saat mengira ia tidur. Dan satu keluarga yang bersekongkol menjaga rahasia terbesar mereka — bahwa ibu tiri baru Kian... bukan ibu tiri biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1: Tubuh yang Asing
Perut Ning hilang.
Itu hal pertama yang disadarinya sebelum bau obat, sebelum cahaya putih lampu rumah sakit menusuk kelopak matanya, sebelum rasa nyeri di seluruh tubuhnya membuat napasnya tersendat.
Tangannya bergerak lebih cepat daripada pikirannya. Ia meraba perut sendiri, sekali, dua kali, lalu menekannya dengan gemetar.
Datar.
Tidak ada lengkung besar yang selama sembilan bulan terakhir membuatnya susah tidur. Tidak ada tendangan kecil yang biasanya muncul saat ia menahan lapar terlalu lama. Tidak ada kehidupan yang bergerak di bawah telapak tangannya.
"Bayi saya..."
Suara yang keluar dari tenggorokannya serak. Asing. Terlalu tipis untuk menjadi suaranya sendiri.
Ning mencoba bangun, tetapi dunia langsung berputar. Langit-langit putih rumah sakit melengkung di matanya. Ada tirai hijau pudar di samping ranjang. Ada infus yang sudah dilepas dari punggung tangannya. Ada bau antiseptik yang tajam, bercampur keringat, obat murah, dan udara lembap pendingin ruangan tua.
"Bayi saya di mana?"
Kali ini suaranya lebih keras.
Seorang perawat yang sedang menulis di meja kecil dekat pintu menoleh cepat. Perempuan itu berusia sekitar tiga puluhan, memakai masker, matanya tampak lelah seperti orang yang sudah terlalu sering mendengar pasien panik.
"Mbak, jangan bangun dulu." Perawat itu menghampiri ranjang. "Pelan-pelan. Kamu baru sadar."
Ning mencengkeram selimut rumah sakit yang tipis. "Anak saya. Saya hamil. Saya tadi..."
Kata-katanya berhenti.
Tadi?
Tadi ia berada di mobil.
Hujan turun sangat deras. Wiper bergerak cepat di kaca depan. Perutnya sakit karena kontraksi yang datang terlalu awal. Di sampingnya, suara Kevin terdengar tegang, menyuruh sopir mempercepat mobil. Lalu lampu truk menyambar dari arah berlawanan. Suara benturan. Logam hancur. Darah. Kevin berteriak memanggil namanya.
Setelah itu, tidak ada apa-apa.
Perawat menatapnya bingung. "Mbak tidak hamil."
Ning membeku.
"Tidak mungkin," bisiknya.
"Waktu dibawa ke sini, kondisi Mbak lemah karena kelelahan dan kurang darah. Tidak ada tanda kehamilan." Perawat itu memeriksa tekanan darahnya dengan gerakan terlatih. "Mbak pingsan di tempat kerja. Teman Mbak yang antar ke IGD, tapi dia sudah pulang karena katanya harus masuk shift."
Pingsan di tempat kerja?
Ning menatap perawat itu seperti sedang mendengar bahasa yang tidak ia mengerti. Ia ingin bertanya lebih banyak, tetapi rasa sakit tiba-tiba menusuk kepalanya.
Potongan ingatan masuk tanpa permisi.
Gang sempit di Tangerang. Kamar kontrakan kecil dengan kipas angin yang bunyinya berdecit sepanjang malam. Tumpukan kain pesanan. Tubuh yang dipaksa bekerja sampai lewat tengah malam. Telepon dari seorang pria mabuk yang menuntut uang. Perut kosong. Kepala pusing. Lalu lantai toko yang terasa dingin saat tubuh itu jatuh.
Nama gadis itu juga Ning.
Ning Tju.
Usianya dua puluh lima tahun.
Tidak ada suami. Tidak ada anak. Tidak ada keluarga yang bisa disebut rumah.
Ning menutup mulut dengan tangan. Napasnya keluar patah-patah.
Ini bukan tubuhnya.
"Mbak?" Perawat menyentuh bahunya. "Kalau pusing, rebahan lagi."
Ning menepis selimut dan memaksa turun. Kedua kakinya menyentuh lantai. Dingin langsung menjalar dari telapak kaki sampai lutut. Tubuh ini terlalu ringan. Terlalu lemah. Seolah tulangnya kosong dan hanya dibungkus kulit.
"Toilet di mana?" tanyanya.
Perawat ragu. "Saya antar."
"Tidak perlu. Saya bisa."
Ia tidak bisa.
Baru dua langkah, lututnya hampir tertekuk. Perawat menahannya tepat sebelum ia jatuh. Ning menggigit bibir sampai terasa asin.
"Saya antar," kata perawat itu, kali ini tidak memberi ruang untuk menolak.
Ning berjalan dengan satu tangan berpegangan pada lengan perawat. Koridor rumah sakit tampak kusam. Cat dindingnya mengelupas di beberapa bagian. Di ujung lorong, seorang anak menangis di pangkuan ibunya. Dari ruang sebelah terdengar suara keluarga pasien berdebat soal biaya obat.
Semua terlalu nyata.
Di toilet sempit itu, Ning berdiri di depan cermin buram.
Wajah yang menatap balik bukan wajahnya.
Pipi itu tirus, hampir cekung. Bibirnya pucat pecah-pecah. Rambut hitam panjangnya diikat asal, beberapa helai menempel di kening karena keringat. Di bawah mata ada bayangan gelap yang membuatnya terlihat lebih tua dari dua puluh lima.
Ning mengangkat tangan perlahan.
Di pergelangan kirinya, ada bekas luka.
Bukan satu.
Beberapa garis tipis, sudah mengering, sebagian memudar, sebagian masih meninggalkan warna merah muda yang menyakitkan untuk dilihat.
Jari Ning berhenti di atas luka itu tanpa menyentuh.
Tubuh ini pernah meminta tolong.
Tidak ada yang mendengar.
Dada Ning tiba-tiba sesak. Ia tidak mengenal gadis pemilik tubuh ini, tetapi kesedihannya menempel di kulit seperti bau obat rumah sakit yang tidak bisa hilang. Ingatan-ingatan kecil kembali muncul. Hartono yang pulang mabuk. Mei yang diam di sudut dapur. Yuan yang meminta uang pulsa sambil mengumpat. Bos kecil yang menyuruh lembur tanpa tambahan bayaran.
Lalu kamar kontrakan itu. Gelap. Panas. Sepi.
Ning menunduk, kedua telapak tangannya menempel di wastafel.
"Kalau ini tubuhmu," bisiknya pelan pada bayangan di cermin, "aku akan menjaganya."
Tapi setelah kalimat itu selesai, tangannya kembali turun ke perut.
Kosong.
Anaknya.
Kian.
Nama itu muncul dari tempat paling dalam di hatinya. Nama yang ia dan Kevin pilih sambil tertawa kecil suatu malam, saat hujan turun di luar jendela kamar mereka. Kevin bilang nama itu terdengar kuat. Ning bilang nama itu terdengar lembut. Mereka bertengkar manja selama sepuluh menit, lalu Kevin menyerah seperti biasa.
Air mata Ning jatuh begitu saja.
"Kamu di mana?" bisiknya.
Ketukan pelan terdengar dari luar. "Mbak Ning? Masih aman?"
Ning cepat menghapus air mata. "Iya."
Ia keluar dengan wajah yang sudah ia paksa tenang. Perawat itu mengantarnya kembali ke ranjang, lalu mengambil kantong plastik bening dari laci kecil.
"Ini barang Mbak waktu masuk. KTP, ponsel, dompet. Uangnya sedikit, jadi tadi biaya awal ditanggung dulu dari deposit teman Mbak. Sisanya bisa dibicarakan di administrasi."
Ning mengambil KTP itu dengan jari gemetar.
Foto di kartu itu adalah wajah yang baru saja ia lihat di cermin.
Nama: Ning Tju.
Tempat tanggal lahir: Bandung, 14 Mei 1997.
Agama: Kristen.
Alamat: Tangerang.
Di sudut kartu, tahun berlaku dan data elektronik kecil tampak biasa saja. Tapi angka di ponsel membuat darah Ning terasa berhenti.
11 September 2022.
2022.
Tangannya kehilangan tenaga. KTP itu hampir jatuh ke lantai.
"Mbak?" Perawat cepat menangkap kartu itu.
Ning menatap layar ponsel tua di tangannya. Layarnya retak di pojok. Baterainya tinggal delapan persen. Angka tahun itu tetap di sana, dingin dan tidak peduli.
Enam belas tahun.
Ia mati enam belas tahun lalu.
Kalau bayinya selamat, anak itu sekarang bukan bayi lagi. Ia sudah bisa berjalan, bicara, berlari, marah, tertawa. Ia mungkin sudah duduk di bangku SMA. Ia mungkin sudah lebih tinggi dari Ning.
Atau mungkin...
Ning tidak sanggup menyelesaikan pikiran itu.
"Saya mau pulang," ucapnya tiba-tiba.
Perawat mengerjap. "Mbak, dokter menyarankan observasi dulu. Hb Mbak rendah. Tubuh Mbak sangat lemah. Kalau pulang sekarang, risiko pingsan lagi besar."
"Saya tidak punya uang untuk rawat inap."
Kalimat itu keluar begitu saja. Terlalu jujur. Terlalu memalukan. Tapi Ning sudah melihat isi dompet tadi. Hanya ada dua lembar lima puluh ribuan, satu lembar dua puluh ribu, beberapa koin, dan struk minimarket.
Perawat terdiam sesaat. Tatapannya melunak.
"Bisa pakai BPJS kalau datanya aktif."
Ning membuka ingatan tubuh ini. BPJS menunggak. Nomor tunggakan muncul samar di kepala, bersama rasa takut setiap kali menerima pesan tagihan.
"Tidak aktif," jawabnya.
Perawat menarik napas pelan. "Kalau begitu tanda tangan penolakan rawat inap. Tapi tolong makan, minum obat, jangan kerja berat dulu."
Ning hampir tertawa.
Jangan kerja berat.
Tubuh ini hidup dari kerja berat.
Di meja administrasi, seorang petugas berkacamata mendorong beberapa lembar formulir ke arahnya.
"Ini total sementara. Karena hanya IGD dan obat, masih bisa ditekan. Tapi tetap ada biaya yang harus dibayar."
Ning melihat angka di kertas. Bukan jumlah yang besar untuk dirinya dulu. Dulu, satu kali makan malam dengan Kevin bisa menghabiskan lebih dari itu tanpa membuat siapa pun berkedip.
Sekarang angka itu membuat telapak tangannya dingin.
"Bisa saya bayar sebagian dulu?" tanyanya.
Petugas itu menatapnya dari balik kacamata. Mungkin sudah biasa melihat wajah seperti ini. Wajah orang yang sakit tapi lebih takut pada tagihan daripada rasa sakit.
"Bisa. Sisanya dicicil. Tanda tangan di sini."
Ning menandatangani dengan nama yang sama, tetapi tangan yang berbeda.
Ning Tju.
Huruf-huruf itu miring, tidak seindah tulisan tangannya dulu. Namun saat pulpen selesai bergerak, ada sesuatu yang seperti terkunci.
Mulai hari ini, ia hidup sebagai Ning Tju yang ini.
Ia menerima kantong obat murah, KTP, dan ponsel retak. Tidak ada koper. Tidak ada kartu bank. Tidak ada cincin nikah di jari. Pergelangan kirinya hanya punya bekas luka, bukan gelang berlian yang pernah Kevin pasangkan sambil pura-pura tidak gugup.
Kevin.
Nama itu membuat dadanya sakit dengan cara lain.
Bagaimana kabarnya?
Apakah ia hidup?
Apakah ia membenci Ning karena pergi begitu saja?
Apakah ia menyelamatkan anak mereka?
Ning berjalan keluar dari ruang administrasi dengan langkah lambat. Sore sudah turun di luar jendela koridor. Cahaya matahari Jakarta masuk miring, kuning kotor, memantul di lantai rumah sakit yang terlalu sering dipel.
Di depan pintu keluar, ada papan pengumuman tua penuh kertas. Jadwal donor darah. Nomor antrean poli. Pengumuman vaksin. Foto direktur rumah sakit yang mulai pudar. Beberapa potongan berita lama ditempel di sisi kanan, mungkin untuk menunjukkan kerja sama rumah sakit dengan berbagai perusahaan.
Ning melewatinya.
Lalu berhenti.
Matanya menangkap dua kata yang membuat seluruh tubuhnya menegang.
Semesta Group.
Ia menoleh pelan.
Potongan berita itu sudah menguning di tepi. Foto di dalamnya buram, tetapi masih cukup jelas memperlihatkan seorang pria berjas hitam berdiri di depan mikrofon. Judulnya membahas bantuan alat kesehatan dari Semesta Group untuk rumah sakit umum di Jakarta.
Ning mendekat.
Jantungnya mulai memukul rusuk.
Di bawah foto itu ada nama CEO yang memberikan sambutan.
Nama itu menghantam matanya seperti cahaya putih dari ruang operasi: Kevin Nie.
dan sekarang kata-kata itu dipakai si Abang kalau antar aku ketemu bestieku... buah jatoh sepohon-pohonnya