"Bunda, kenapa Lily tidak punya Papa?"
Luna hidup sebagai single mom dengan dua anak kembar yaitu El dan Lily. Gala, kekasihnya meninggalkannya ketika Luna sedang mengandung anak mereka.
Setelah 7 tahun berselang, Gala kembali ke hidupnya. Tapi hidup Luna sudah berubah. Ada Alif di sisinya.
Luna belum siap untuk membuka hati. Tapi Lily selalu menanyakan hal yang sama kenapa dia tidak punya Papa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifah Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 - Lily Sadar
Ruang rawat itu masih sunyi. Hanya terdengar bunyi monitor berdetak pelan, ritmenya teratur.
Dewi duduk di kursi dekat ranjang. Kedua tangan terlipat di pangkuan. Tatapannya tertuju lurus pada tubuh Lily yang masih terbaring lemah. Perban putih melingkar di kepalanya.
Pagi ini, Luna harus tetap berangkat ke kantor. Jadi Dewi yang menggantikannya untuk menjaga Lily. Sejak datang, Dewi tidak banyak bergerak. Dia lebih banyak menunggu.
Kelopak mata Lily bergerak pelan.
Dewi menegakkan punggungnya sedikit. Napasnya tertahan. Tangannya refleks terangkat, lalu turun lagi. Tidak buru-buru menyentuh.
Mata Lily terbuka sepenuhnya.
Tatapannya berkeliling ke langit-langit ruangan, tirai yang sedikit bergerak, selang infus di tangannya. Wajahnya mengernyit. Bingung dan asing.
Terakhir tatapannya mengarah pada Dewi yang berada di dekatnya. Alis Lily mengerut. Bibirnya terbuka sedikit, ragu.
“Nenek," panggil Lily pelan.
Dewi langsung mendekat. Kursinya terdorong sedikit ke belakang. Tangannya mengusap pipi Lily dengan lembut, sangat hati-hati. “Iya, nak, Nenek di sini."
Mata Lily menatap wajah Dewi cukup lama, beralih ke belakang Dewi. Kepalanya sedikit bergerak di atas bantal, menyapu pandangan. Dia berkedip beberapa kali.
“Bunda?" tanyanya lirih.
Dewi tersenyum lembut. "Bunda lagi kerja dulu sebentar, nak. Nanti siang Bunda ke sini temenin Lily.”
Lily diam. Tangannya yang bebas menarik ujung kain itu sedikit, lalu menggenggamnya. “Lily kenapa disini?"
“Lily jatuh, nak. Tapi kata dokter sekarang Lily udah nggak papa. Lily ada yang sakit nggak?"
Lily diam sebentar, memejamkan mata, mencoba merasakan tubuhnya sendiri. Lalu, dia menggeleng pelan.
Dewi tersenyum lembut. “Kalau Lily merasa nggak enak, ada yang sakit, langsung bilang Nenek ya."
Lily mengangguk pelan. Tatapannya beralih ke samping, lalu menatap Dewi lagi. “El nanti ke sini, kan, Nek?"
Dewi mengangguk. “Iya, nanti El ke sini sama Bunda."
Lily mengangguk lagi. Kali ini lebih yakin. Genggaman di selimutnya mengendur. Kelopak matanya turun sedikit.
Tenang.
...***...
Luna duduk di balik meja kerjanya. Laptop menyala menunjukkan deretan angka-angka besar. Email yang masuk dibalas. Laporan keuangan sudah siap disajikan.
Tangannya bergerak cepat di atas keyboard. Matanya mengikuti angka-angka di spreadsheet.
Tapi setiap beberapa menit, matanya melirik jam tangannya. Berharap jarum jam itu berputar lebih cepat.
Ponselnya bergetar pelan. Jantung Luna langsung berdegup lebih kencang. Takut mendapatkan kabar buruk dari rumah sakit. Ternyata hanya sebuah pesan dari teman lamanya.
Luna menghembuskan napas panjang. Dia menegakkan punggung. Menggeser kursinya sedikit lebih dekat ke meja.
Luna harus bekerja.
Tagihan rumah sakit tidak akan menunggu. Sekolah El dan Lily tidak bisa ditunda. Kebutuhan rumah tetap ada. Hidup mereka berjalan karena angka-angka yang sekarang dia tatap.
Waktu berjalan begitu lambat. Setelah cukup lama, Luna akhirnya menyelesaikan pekerjaannya hari itu. Dia sudah izin untuk bekerja setengah hari. Jadi ketika waktu menunjukkan jam makan siang, Luna bergegas pergi.
Dia berjalan cepat keluar dari kantor. Wajahnya gelisah. Luna belum mendapatkan kabar dari Dewi. Itu cukup membuatnya frustasi.
Luna tidak langsung pergi ke rumah sakit. Dia lebih dulu menjemput El di sekolah.
Ketika sampai disana, El sudah menunggu di depan gedung. Jam pulang sekolah sudah berbunyi sejak tadi, tapi El tetap disana menunggu Luna menjemputnya. Kepalanya tertunduk. Matanya menatap lantai dengan tatapan kosong. Kedua tangannya memegang kursi besi di kedua sisinya.
Seharian ini El diam. El memang lebih sering diam di sekolah, tapi kali ini dia benar-benar sangat diam. Tidak ada satupun kata yang keluar dari bibirnya. Biasanya El paling semangat menjawab pertanyaan dari guru, tapi hari ini dia hanya diam. Bahkan ketika Gamma meledeknya lagi, El tetap tidak menanggapi.
“El," panggil Luna pelan.
Perlahan, El mengangkat kepalanya.
Ketika melihat Luna di hadapannya, wajah El sedikit bersinar. Dia tersenyum kecil untuk pertama kalinya hari ini.
El segera turun dari kursi dan menghampiri Luna di samping mobil.
Luna berjongkok di depan El. Dia menangkup pipi El dengan kedua tangannya. "Kenapa El murung?"
El tidak menjawab pertanyaan itu. Justru bertanya kepada Luna. “Kita ketemu Lily, kan, Bunda?"
Luna tersenyum kecil. “Iya. Kita ketemu Lily sekarang."
Luna bangun dan membuka pintu mobil untuk El. El masuk tanpa banyak bicara.
Sepanjang perjalanan, tidak ada yang membuka suara. Pikiran keduanya sama-sama sudah berada di rumah sakit.
Begitu sampai, Luna menggenggam tangan El lebih erat dari biasanya. El tidak menolak, tidak bertanya. Hanya mengikuti.
Lorong rumah sakit dipenuhi bau antiseptik yang menusuk hidung. Langkah Luna cepat, nyaris berlari kecil. Jantungnya berdetak tak beraturan. Setiap pintu kamar yang mereka lewati membuat napasnya tertahan.
Luna membuka pintu kamar rawat Lily dengan perlahan. Langkahnya terhenti di ambang pintu.
Di atas ranjang, Lily duduk bersandar pada bantal. Kepalanya dibalut perban. Dewi sedang menyuapinya pelan. Sendok itu berhenti di udara ketika melihat Luna.
Beberapa detik Luna hanya berdiri.
Lily mengangkat wajahnya. “Bunda," ucap Lily serak.
Dada Luna terasa sesak. Tangannya refleks mencengkeram gagang pintu. “Lily."
Luna berjalan cepat menghampirinya. Langkahnya terhenti satu detik di sisi ranjang. Dadanya naik turun. Baru setelah itu, dia memeluk Lily. “Lily, Bunda khawatir sekali sama Lily."
Suaranya bergetar di kata terakhir. Pelukannya mengencang. Untuk pertama kalinya hari itu, Luna bisa menghela napas lega.
Dewi yang tadinya sedang menyuapi Lily hanya tersenyum lembut. Sendok di tangannya kembali turun ke mangkok.
Luna perlahan melonggarkan pelukannya. Tapi tangannya tetap menahan Lily, seakan belum sepenuhnya berani melepaskan. Dia mengusap rambut Lily dengan gerakan berulang. Tangannya gemetar saat menyentuhnya.
“Lily, ada yang sakit, sayang?" tanya Luna.
Lily menggeleng pelan. Lalu tatapannya berpindah pada El.
El berdiri di samping Luna tanpa berkedip. Tangannya menyentuh kaki Lily, memastikan bahwa itu benar-benar Lily.
“El.” Nama itu keluar lirih dari bibir Lily.
Mata El membesar. Napasnya tercekat. “Lily…” suaranya hampir tak terdengar.
“El,” ulangnya, kali ini sambil tersenyum kecil.
El mengulas senyum. Pertama kalinya sejak kemarin sore, El akhirnya tersenyum.
El menatap Lily. Wajahnya sedikit cemberut, tapi jelas terlihat bahagia. “Lily nggak boleh sakit. El belum ngajarin Lily pecahan.”
Lily tersenyum lebih lebar. “Nanti.”
El tertawa kecil. Suara yang terdengar hampir seperti isak.
Luna ikut mengulas senyum. Dia meraih tubuh Lily lagi, memeluknya erat seakan takut kehilangannya. Dia menunduk sedikit, dahi menyentuh rambut Lily. Matanya terpejam.
Luna menghela napas panjang. Napasnya terdengar bergetar karena rasa lega yang teramat sangat.
El ikut menggenggam tangan Lily. Dua tangan kecil itu saling bertaut di atas selimut putih.
...----------------...