NovelToon NovelToon
AKAD TANPA CINTA

AKAD TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒

Di usianya yang masih belia, Amara dipaksa menghadapi kehilangan, penolakan, dan kenyataan pahit, bahwa terkadang dosa orang tua meninggalkan luka bagi anak-anaknya.
Menjadi anak dari seorang yang bersalah, bukan berarti ia harus menanggung hukuman yang sama. Mampukah Amara meyakinkan dunia tentang itu? ketika perempuan yang paling ia cintai, yang dipanggilnya mama telah lebih dulu menjauhinya. Dan di saat hatinya masih porak poranda, Amara dipaksa menikah dengan laki-laki yang berusia lebih dari dua kali usianya.

Yuk ikuti kisahnya, Akad Tanpa Cinta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 16

Amara hanya mampu berdiri diam di samping sofa, membiarkan pandangannya mengikuti setiap gerakan kedua mertuanya yang tengah merapikan barang-barang terakhir sebelum kembali ke Bandung siang ini. Koper telah tertutup rapi, tas telah tersampir di bahu, sementara waktu terus berjalan tanpa sedikit pun memberi kesempatan untuk menahannya.

Dadanya terasa sesak oleh perasaan yang sulit dijelaskan. Baru beberapa hari ia dan mertuanya saling mengenal dan tinggal bersama, namun kehangatan yang mereka hadirkan telah mengisi ruang-ruang kosong di hatinya yang hanya berjarak dua hari setelah ia kehilangan sosok orang tua, bukan hanya sekedar kehilangan sang papa yang telah pergi untuk selama-lamanya tetapi juga kehilangan sosok sang mama sekaligus.

Perhatian sederhana seperti mengajak makan, menyuruhnya beristirahat, menyiapkan makanan hangat, hingga belaian lembut di kepalanya, semuanya terasa begitu tulus. Kasih sayang itu begitu mirip dengan pelukan yang dulu pernah ia rasakan dari kedua orangtuanya, sebelum takdir merenggut nyawa sang papa dengan tragis.

Kini, ketika kepergian itu sudah berada di depan mata, Amara kembali dihantui ketakutan yang sama yaitu kesepian.

Apartemen yang beberapa hari terakhir dipenuhi suara tawa, obrolan hangat, dan aroma masakan rumahan, sebentar lagi akan kembali sunyi. Tak ada lagi sapaan lembut setiap pagi, tak ada lagi suara yang memanggil namanya dengan penuh kasih, dan tak ada lagi sosok yang diam-diam memperhatikannya layaknya anak kandung sendiri.

"Kenapa enggak besok saja pulangnya ma?" Ucap Amara, gadis itu mengekori bu Halimah layaknya anak kecil yang takut ditinggal pergi ibunya.

Bibirnya berusaha tersenyum, tetapi kedua matanya telah lebih dulu berkaca-kaca. Ia tak ingin terlihat cengeng, namun hatinya seolah sedang kembali kehilangan keluarga untuk kedua kalinya.

Bu Halimah yang hendak ke dapur seketika menghentikan langkahnya, ia membalikkan badan mengusap lengan Amara. "Papa masih harus kerja neng, sabar ya! nanti kalau ada libur kalian yang ke Bandung, liburan di sana." Ucapnya sembari menarik napas, seolah paham dengan kesedihan menantunya yang tak ingin dirinya pulang ke Bandung.

Amara menundukkan wajahnya, menggenggam jemarinya sendiri agar tangis itu tidak tumpah. Di dalam hatinya hanya ada satu doa sederhana, semoga kehangatan yang mereka tinggalkan tidak ikut pergi bersama mobil yang akan mengantarkan mereka ke Stasiun. Sebab ia tahu, setelah pintu apartemen itu kembali tertutup, yang akan menyambutnya sekali lagi hanyalah keheningan dan rasa kehilangan yang selama ini begitu akrab menemaninya.

Dan Abimanyu, entah akan seperti apa sikapnya nanti setelah kedua orang tuanya pulang. Meskipun pria yang berstatus sebagai suaminya itu tidak jahat, namun sikap dinginnya membuat siapapun termasuk Amara, sangat tidak nyaman untuk berada dan tinggal satu atap.

"Mara, papa sama mama pulang dulu ya! baik-baik di sini sama suamimu, kalau ada apa-apa telepon papa atau mama." Pak Rusdan mengusap puncak kepala Amara kemudian memeluknya penuh kasih, tak lama kemudian pria paruh baya itu melepaskan pelukannya dan menyelipkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu ke tangan Amara. Membuat gadis itu mengangkat wajah dan menatapnya.

"Buat pegangan, jaga-jaga nanti ada yang ingin dibeli." Ucap Pak Rusdan sembari mengepalkan telapak tangan Amara yang menggenggam uang darinya, kemudian ia mundur memberikan ruang pada sang istri untuk mencurahkan perhatian pada menantu barunya sebelum pulang. Sedangkan Abimanyu hanya diam, pria itu seolah enggan melihat interaksi antara kedua orang tuanya bersama dengan istrinya, sedari tadi ia sibuk sendiri dengan ponselnya.

Bu Halimah meregangkan pelukannya, paruh baya itu merangkum wajah Amara. "Nanti kalau sudah di Bandung, mama telepon setiap hari." Ucapnya sembari menyeka sudut matanya.

Amara menganggukkan kepala, ia tak mengeluarkan suara sepatah katapun hanya helaan napas berat yang terus dihembuskannya.

"Mama berangkat sekarang ya! baik-baik di sini. Buat makan malam sudah ada rendang sama bakwan jagung." Ucap bu Halimah kemudian beralih pada Abimanyu. "Bi habis dari Stasiun kamu langsung ke kantor?"

"Iya, kenapa gitu ma?"

"Kirain balik lagi ke sini, tadinya biar Amara ikut juga ke Stasiun."

"Enggak bisa! Aku langsung ke kantor." Jawab Abimanyu tegas.

Bu Halimah membuang napas. "Ya sudah kalau begitu, ayo!"

Amara berdiri di pintu melambaikan tangan pada kedua mertuanya sebelum memasuki lift, ingin rasanya ia berlari mengejar sepasang paruh baya tersebut dan ikut mereka ke Bandung. Namun kesadarannya masih menguasai, siapa dirinya di depan sepasang paruh baya tersebut tanpa Abimanyu.

Dering ponsel dari arah sofa menyudahi racauan batin Amara, gadis itu segera masuk melihat ponselnya yang terus berdering. Sesaat keningnya berkerut. Erik... Gumam Amara dalam hati, ia menatap layar ponsel yang terus menyala menampakkan nama Erik. Ada kegamangan dalam rautnya saat menatap nama yang dulu cukup dekat dengannya, namun semenjak kejadian nahas yang menimpa sang papa, semua teman-teman Amara termasuk Erik seketika berubah.

Amara menarik napas terlebih dahulu kemudian ia menempelkan ponsel ke telinganya. "Halo." Ucapnya pelan.

[Hai, Ra... Apa aku ganggu?] Suara Erik terdengar riang menyapa Amara.

"Enggak, ada apa Rik?"

[Em... Ra, boleh kita ketemu? Ada yang ingin aku sampaikan sama kamu]

Amara mengerutkan kening, "hal apa? maaf aku enggak bisa Rik." Amara menggeleng, seolah Erik bisa melihatnya.

[Sebentar saja Ra, plis! aku ingin minta maaf... Kita ketemuan di kafe baru tante ku]

"Sekali lagi maaf Rik, aku enggak bisa. Dan apa aku enggak salah dengar, kamu mau minta maaf karena apa?"

[Karena aku, enggak sempat melayat saat papa kamu meninggal. Dan... Maaf, aku juga sempat ilfeel saat tahu papamu kecelakaan bersam-]

"Tidak perlu minta maaf untuk itu, karena memang kenyataannya seperti yang mungkin sudah kamu dengar. Itu papaku, dan aku hanya ingin berpesan satu hal sama kamu Rik..." Amara menjeda ucapannya, ia menarik napas dalam-dalam.

"Apa yang terjadi dengan orang tuanya belum tentu anaknya bahagia atau mendukung, dan yang pasti tidak semua anak akan mengikuti jejak orang tuanya. Jangan pernah membenci seseorang karena orang itu anak dari pendosa, sadar atau enggak rasa bencimu perlahan akan menghancurkan mental seseorang." Tutur Amara panjang lebar, ia mengeluarkan semua i-si hatinya tentang sikap semua teman-teman sekolahnya termasuk Erik.

"Maaf Ra, aku enggak bermaksud membenci atau menyakitimu. Aku hanya enggak percaya sa..."

"Enggak percaya kalau ayah dari seorang Amara peselingkuh?" Potong Amara cepat, napasnya berubah memburu menahan amarah dan tangis yang hampir meluap bersamaan. "Kamu pikir cuma kamu yang enggak percaya, dan aku percaya? Bahkan sampai saat ini aku pun masih tidak percaya... Tidak percaya kalau papaku meninggal dengan jalan seperti itu, tidak percaya aku tiba-tiba dibenci dan dijauhi oleh teman-temanku hanya karena papaku berselingkuh. Apa salahku pada kalian?" Lirih Amara, suaranya tercekat di tenggorokan.

[Maafkan aku Ra] Ucap Erik, suaranya penuh penyesalan dan rasa bersalah. [Aku sekarang akan ke rumahmu ya]

"Enggak perlu!" Tolak Amara tegas.

[Ra... Aku ingin minta maaf, aku sudah bersalah sama kamu Ra.]

"Tak ada yang perlu dimaafkan."

[Pokoknya aku jalan sekarang! sampai ketemu sebentar lagi Ra, aku Otewe.] Keukeuh Erik kemudian mematikan sambungan teleponnya sepihak.

Amara mere-mas ponsel, ia berulang kali menarik napas dalam-dalam saat potongan-potongan kecil sikap teman-temannya terus berputar di kepalanya. Dan sikap Erik yang sudah kembali seperti dulu kepadanya membuat bibirnya menyunggingkan senyum yang getir.

-

-

-

Awan jingga sebagian sudah berubah ungu kebiruan saat Abimanyu memasuki unit apartment nya, pria itu menutup pintu sedikit keras sehingga Amara yang tengah fokus memanaskan makanan yang dimasak mertuanya sebelum pulang seketika menoleh. Namun sebaliknya, Abimanyu sedikitpun tak melihatnya. Pria itu melangkah lurus masuk ke dalam kamarnya yang selama ini ditempati berdua dengan Amara.

"O-om..." Panggil Amara ragu. Abimanyu menghentikan langkah tanpa menoleh, mantan bujang matang itu berdiri menunggu Amara kembali bersuara.

Melihat Abimanyu merespon dengan menghentikan langkahnya, Amara kembali bersuara. "Em... Boleh keluar sebentar enggak?"

Abimanyu menaikkan sebelah alisnya. "Mau keluar kemana?"

"Ketemu teman.."

"Enggak boleh!"

1
🦋⃟🍾⃝ ʜͩᴀᷞᴍͧɪᷠᴅͣ✿᭄ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠ᴸᴷ
aku sukaaa aku sukaaaaa
🦋⃟🍾⃝ ʜͩᴀᷞᴍͧɪᷠᴅͣ✿᭄ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠ᴸᴷ
cie cie 🤣
senyum ga tuh😂
🦋⃟🍾⃝ ʜͩᴀᷞᴍͧɪᷠᴅͣ✿᭄ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠ᴸᴷ
weh weh weh...
orang tua itu suami mu Amara🤣
dasar bocah cilik😭
Mimi Yoh
ayo...itu apa...😄😄😄
Mimi Yoh
kalau khawatir bilang aja...nggak usah banyak alasan ya 😁😁😁
Mimi Yoh
keluar diam-diam 😯😯 ..mara memangnya kalau mau keluar kamar sambil nyanyi atau teriak gitu..
Mimi Yoh
😯😯😆😆😆😆😆
Mimi Yoh
sama-sama ngegedein gengsi
Mimi Yoh
saking khusunya masak ya mara 😁😁
Mimi Yoh
hahahahah jadi mara bener-bener nggak nyadar kalau pak suami sudah pulang dan sudah jauh pindah ke alam mimpi 🤗🤗
Mimi Yoh
berasa ada yg hilang ya om 😁😁
Mimi Yoh
tahu masih punya suami...malah dibantu selingkuh...
Mimi Yoh
dasar matre
Mimi Yoh
oooh dijanjiin sesuatu kamu ya...
Mimi Yoh
sudah tahu kesalahan ada pada jenny, masih aja dibantu untuk deketin abi, tahu abi juga sudah menikah, terpaksa ataupun tidak, tetap abi sudah punya istri...kayak bukan sesama perempuan saja, dimana hatimu tya...
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
sama-sama gengsi... padahal saling mengkhawatirkan.
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Yaa ampun demi hadiah liburan ternyata....
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Tya dimana hatimu sebagai sesama perempuan. Abi kan sekarang sudah punya istri, tapi kamu kok bisa²nya malah berusaha mendekatkan Abi dengan Jenny. Kalau posisimu sebagai seorang istri apa nggak sakit hati yaaa....
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦༄⃞⃟⚡OLENG.comKᵝ⃟ᴸ : keknya Tya itu mkkb masa kecil kurang bahagia 😅
total 4 replies
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Wahhh keren... begitu donk Bi, jangan mau dimanfaatkan lagi apalagi sama mantan. Semoga sikap tegasnya bisa terus dipertahankan yaa, ingat... ingat... kamu sekarang sudah bukan single lagi.
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Iyaa iyaa ngerti om... tapi yaa jangan kasar² gitu donk. Seharusnya kamu lebih berpengalaman bagaimana meredakan amarah. Ini om mantan bujang lapuk beneran nggak tahu yaa caranya meluluhkan hati perempuan.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!