Kisah ini mengikuti seorang wanita penjelajah novel yang berpindah dari satu dunia cerita ke dunia lain. mulai dari romansa manis, cinta masa sekolah, hingga dunia CEO yang penuh intrik.
Dalam setiap dunia, ia tidak pernah sendirian. Sebuah sistem hologram setia membimbing, membantu, sekaligus menemaninya menyelesaikan berbagai misi yang telah ditentukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cattygril, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Setibanya di kediaman Felix Argantara, Devan dan Clarissa langsung turun dari mobil dengan langkah tergesa. Wajah Devan tampak mengeras, rahangnya terkatup rapat menahan amarah yang sudah di ubun-ubun. Namun, langkah mereka tertahan tepat di ambang pintu besar itu oleh dua pengawal bertubuh kekar yang berjaga.
"Minggir!" desis Devan tajam, mencoba menerobos masuk.
"Maaf, Tuan Muda. Saat ini Tuan Besar berpesan untuk melarang siapa pun masuk tanpa pengecualian," ucap salah satu pengawal dengan nada datar namun tegas.
"Sialan!" Devan mendesis penuh kekesalan. Napasnya memburu, tangannya mengepal kuat, siap untuk menghajar siapa pun yang menghalangi jalannya.
Melihat gelagat Devan yang hendak melakukan tindakan nekat, Clarissa segera memegang lengan suaminya. Ia teringat kejadian saat Devan mencoba menyelamatkannya di kediaman Devano—Devan berakhir babak belur karena kalah jumlah. Ia tidak ingin melihat suaminya terluka lagi dalam kondisi emosi yang tidak stabil seperti ini.
"Sayang, tenanglah. Sebaiknya kita kembali lagi nanti saat suasananya lebih memungkinkan," bisik Clarissa mencoba menenangkan.
"Ckk!" Devan mendecah frustrasi. Ia sadar melawan sekarang hanya akan membuang energi. Dengan perasaan dongkol, ia berbalik arah dan melangkah pergi menuju mobil. Clarissa pun bergegas menyusul di belakang agar tidak tertinggal.
Dalam perjalanan meninggalkan kediaman Felix dengan hati yang kacau, Devan memacu mobilnya tanpa arah. Pikirannya terbelah antara pengkhianatan ayahnya dan pengambilalihan perusahaan oleh Kenzo. Namun, di sebuah persimpangan, sebuah mobil melaju kencang dan hampir menghantam sisi mobil Devan.
Citttt!
Suara gesekan ban dengan aspal terdengar memekakkan telinga. Devan membanting setir ke pinggir, napasnya memburu karena kaget sekaligus emosi. Dari mobil di depannya, seorang pria keluar dengan wajah yang tampak lelah sekaligus penuh amarah. Itu Rizky, yang sedang terburu-buru mengurus pemakaman Ibu Dila.
"Kau! Turun kau!" teriak Rizky sambil menggebrak kap mobil Devan.
Devan keluar dengan rahang mengeras. "Apa masalahmu?! Kau yang hampir mencelakai kami!"
"Di mana Luna?! Berikan dia padaku!" Rizky langsung melabrak tanpa basa-basi, mencengkeram kerah kemeja Devan. Ia mengira hilangnya Luna ada hubungannya dengan pria kaya di hadapannya ini.
"Lepaskan! Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan," desis Devan sambil menepis tangan Rizky dengan kasar. "Saya bilang, saya tidak tahu di mana wanita itu!"
"Tidak mungkin! Kak Luna selalu mencari-cari Anda belakangan ini!" sahut Desy yang ikut turun dari mobil dengan mata sembab. "Ibu meninggal, dan Kak Luna hilang. Hanya Anda yang sering dia sebut!"
Clarissa yang sedari tadi memperhatikan dari dalam mobil merasa perdebatan ini tidak akan berujung baik. Ia segera turun dan melangkah dengan anggun namun tegas, menengahi ketegangan itu.
"Maaf, sepertinya kalian salah paham," ucap Clarissa tenang sambil berdiri di samping Devan. "Suamiku tidak bersama Luna. Selama beberapa hari terakhir, dia bersamaku terus-menerus. Tidak ada waktu baginya untuk bertemu dengan orang lain."
Rizky dan Desy tertegun. Mereka mengenali wanita cantik ini—wanita yang mereka lihat memeluk Devan di rumah sakit tempel hari. Ternyata dugaan mereka salah; wanita itu bukan sekadar kekasih, melainkan istrinya. Penjelasan Clarissa yang begitu tenang membuat Rizky kehilangan kata-kata.
Devan tetap menatap mereka dengan wajah datar dan dingin, khas seorang penguasa. Namun, di balik topeng ketenangannya, jantung Devan berdegup kencang. Bayangan malam itu—saat ia tak sengaja menghabiskan malam bersama Luna akibat sebuah jebakan—kembali menghantui pikirannya.
Ada rasa takut yang menyelinap; ia khawatir jika Clarissa mengetahui noda itu, istrinya akan pergi meninggalkannya. Devan merasa sedikit gelisah, namun sebagai pria yang terbiasa bersandiwara dalam dunia bisnis, ia mampu menyembunyikan getaran di tangannya dengan sangat rapi hingga tak ada satu pun orang di sana yang menyadarinya.
"saya sedang banyak masalah, jangan menambah beban dengan tuduhan tidak berdasar," tutup Devan dingin, sebelum berbalik masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil, suasana menjadi sangat sunyi. Clarissa menatap keluar jendela, sementara Devan mencengkeram kemudi dengan sangat erat hingga buku jarinya memutih.
Tiba-tiba, ponsel Devan bergetar. Sebuah pesan dari nomor pribadi masuk. Devan membukanya dan jantungnya seolah berhenti berdetak. Itu adalah foto ayahnya, Felix, dalam keadaan mengenaskan—terikat rantai di sebuah ruangan gelap dengan wajah penuh luka. Di bawah foto itu terdapat pesan singkat:
Asetmu sudah habis, perusahaan sudah berpindah tangan, sekarang... giliran nyawa ayahmu yang menjadi jaminan.
"Ada apa, Sayang?" tanya Clarissa yang menyadari perubahan ekspresi Devan.
Devan segera menyembunyikan ponselnya. "Tidak... bukan apa-apa." Devan berbohong. Ia tidak ingin melibatkan Clarissa lebih jauh dalam bahaya ini, namun di sisi lain, bayangan tentang pembunuh misterius di kehidupan sebelumnya kembali melintas.
"Clarissa, aku harus menurunkanmu di rumah. Ada urusan mendesak yang harus kuselesaikan sendiri," ucap Devan dengan nada yang tidak menerima penolakan.
Devan mulai curiga, jangan-jangan orang yang menyekap ayahnya adalah orang yang sama yang memegang senjata di gedung tua itu dulu. Bukan Devano, bukan juga ayahnya. Tapi musuh yang selama ini bersembunyi di balik bayang-bayang mereka semua.
Setelah, mengantarkan Clarissa pulang. Ka segera melajukan mobilnya dg kecepatan tinggi. Ia menuju lokasi, yang dikirim seseorang dari nomor tidak di kenal
Setelah mengantarkan Clarissa kembali ke kediaman mereka, Devan langsung memacu mobilnya dengan kecepatan gila. Rahangnya mengeras, kemarahan dan kecemasan bercampur aduk di dadanya. Ia mengikuti koordinat lokasi yang dikirimkan oleh nomor misterius itu hingga tiba di sebuah kawasan industri terbengkalai di pinggiran kota.
Tempat itu adalah sebuah gudang tua yang sudah berlumut, dengan dinding beton yang retak-retak. Suasananya begitu mencekam; hanya ada suara tetesan air dari atap yang bocor dan bau karat yang menyengat. Cahaya matahari nyaris tak mampu menembus jendela-jendela kecil yang tertutup debu tebal, membuat ruangan itu terasa pengap dan gelap.
Begitu Devan menendang pintu kayu yang sudah rapuh hingga terbuka, pemandangan di depannya membuat darahnya berdesir hebat. Di tengah ruangan, ayahnya—Felix Argantara—tergantung lemas dengan tangan terikat rantai ke langit-langit. Wajahnya penuh lebam, kemeja mahalnya sobek dan berlumuran darah kering. Felix tampak nyaris kehilangan kesadaran.
"Ayah!" teriak Devan. Ia hendak berlari mendekat, namun langkahnya terhenti saat melihat sosok pria yang berdiri di kegelapan, membelakangi mereka sambil memegang sebilah pisau bedah yang berkilau.
"Sialan! Siapa kau?! Lepaskan ayahku!" raung Devan.
Pria itu terkekeh rendah, suara tawa yang sangat akrab di telinga Devan. Perlahan, sosok itu berbalik, menampakkan wajahnya di bawah temaram lampu yang berayun.
Mata Devan membelalak sempurna. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat mengenali wajah pria paruh baya yang selama ini ia kenal sebagai sosok yang bijaksana dan sangat dekat dengan keluarganya.
"Paman?!" desis Devan tak percaya. "Paman Dairus? Bagaimana bisa... kau yang melakukan semua ini?"
**Bersambung**.....