Dulu kopilot yang satu kokpit dengannya. Lalu istri siri yang dibuang dengan selembar talak. Tapi Anindya kembali—terbang lagi ke maskapai sang Kapten yang mencampakkannya, sambil menyimpan rahasia: dia pemilik Klub Enggar dan pewaris Grup Wicaksana. Ibunya dibunuh ibu tiri dan saudari tirinya. Amara cuma pramugari di kabin; hanya Anindya yang duduk di kokpit. Kini sang Kapten berlutut, menyesal… terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35
Menyusup ke Rumah Lama, Mendengar Rahasia Berdarah
Pesan dari Bibi Sum tiba sepuluh hari kemudian.
Ibumu menyimpan satu kotak surat di kamar lama. Bu Sri memerintahkan gudang dibersihkan setelah pesta Sabtu. Kalau kamu ingin mengambilnya, malam itu kesempatan terakhir.
Bibi Sum pernah merawat Laras sebelum Anindya lahir dan masih menempati rumah kecil di sayap belakang kediaman Wicaksana. Selama bertahun-tahun ia tidak berani menghubungi Anindya. Setelah berita tentang nikah siri dan serangan Herlina, rasa takutnya berubah menjadi rasa bersalah.
Sisi memeriksa nomor, riwayat kerja, dan kamera di sekitar rumah sebelum membiarkan Anindya menjawab.
“Ini bisa menjadi umpan,” katanya.
“Bisa.”
“Anda masih belum kembali terbang. Bahu belum selesai dinilai dan luka wajah baru masuk fase perawatan bekas.”
“Saya tidak akan masuk tanpa jalur keluar.”
Mereka membuat rencana yang tidak mengandalkan keberanian. Sisi menunggu dua jalan dari rumah bersama pengemudi dan petugas keamanan. Lokasi Anindya aktif. Bibi Sum membuka akses sayap layanan yang memang berada di bawah tanggung jawabnya. Kalau pemeriksaan lima menit terlewat, tim menghubungi Anindya, lalu meminta bantuan resmi jika perlu.
Arka tidak diberi tahu. Malam itu ia menjalankan penerbangan yang tertunda dan tidak berhak mendapat lokasi pribadi Anindya hanya karena khawatir.
Sabtu malam, rumah Wicaksana terang oleh lampu taman.
Keluarga mengadakan perayaan atas penunjukan Amara ke posisi pengembangan muda di Grup Wicaksana. Musik dan percakapan memenuhi aula utama. Kendaraan tamu berbaris sampai ke jalan Menteng.
Anindya masuk dari gerbang layanan dengan blus hitam longgar, celana gelap, dan masker medis yang masih wajar dipakai untuk melindungi bekas luka dari debu. Ia tidak menggunakan nama palsu. Kalau tertangkap, tidak ada penyamaran yang bisa menjelaskan keberadaannya.
Bibi Sum menunggu di dekat ruang cuci.
Perempuan tua itu lebih kecil daripada yang diingat Anindya. Rambutnya hampir seluruhnya putih. Ketika melihat garis merah muda di pipi Anindya, matanya langsung basah.
“Maaf, Nak.”
“Kita bicara nanti. Kotaknya di mana?”
“Kamar simpan dekat perpustakaan lama. Tapi Bu Sri baru saja membawa Amara ke ruang kerja.”
Bibi Sum menahan Anindya sebelum mereka bergerak. “Saya tidak melihat siapa yang membuat Ibu Laras sakit. Jangan kira saya punya jawaban lengkap.”
“Apa yang Bibi lihat?”
“Malam sebelum beliau dibawa ke rumah sakit, Bu Sri masuk membawa minuman dan menyuruh saya pulang. Besok paginya Ibu Laras muntah, tangannya gemetar, lalu pengemudi mengantar ke klinik. Setelah pemakaman, catatan obat di kamar hilang.”
“Kenapa Bibi diam?”
Mata perempuan tua itu turun. Sri Wahyuni memindahkan suaminya dari pekerjaan rumah, membayar sekolah cucunya, dan berulang kali mengingatkan bahwa satu tuduhan tanpa saksi bisa membuat seluruh keluarga mereka kehilangan tempat tinggal. Bibi Sum tidak menerima uang untuk berbohong. Ia menerima rasa takut, sedikit demi sedikit, sampai sepuluh tahun berlalu.
“Kotak surat itu saya sembunyikan karena hanya itu yang tersisa,” katanya. “Ada tulisan Ibu Laras dan daftar barang kamar. Tidak ada obat.”
Anindya ingin marah karena diamnya. Namun malam itu bukan waktu untuk mengadili seorang perempuan tua yang hidup di bawah kuasa rumah tersebut.
“Setelah kita keluar, Bibi juga harus pergi ke tempat aman,” ujarnya. “Bukan ikut saya sekarang. Sisi akan mengatur pilihan dan Bibi yang memutuskan.”
Bibi Sum mengangguk, air mata tertahan di garis matanya.
Mereka bergerak melalui koridor belakang. Bibi Sum mengenal papan lantai yang berbunyi dan kamera yang baru dipasang. Ia tidak mematikan alat apa pun. Mereka hanya melewati jalur lama yang tidak menghadap aula.
Di balik pintu kaca menuju taman, Anindya melihat Bramantya berbicara dengan beberapa tamu. Ayahnya tampak lebih tua daripada saat tahlilan Laras, tetapi senyum sosialnya sama: lemah, sopan, selalu berusaha membuat konflik berlalu tanpa memilih pihak.
Di sudut aula duduk seorang perempuan muda dengan piring kue di pangkuan.
Wulan.
Adik kandung Amara itu jarang muncul di acara publik. Ia menatap potongan kue tanpa ikut percakapan, sesekali menjawab ketika tamu menyapa. Tidak ada kesombongan di wajahnya. Hanya kelelahan seseorang yang hadir karena keluarga memintanya.
Anindya tidak mengenalnya cukup untuk merasa sayang. Namun melihat Wulan duduk sendirian di tengah pesta untuk keberhasilan kakaknya menimbulkan rasa iba yang tidak ia inginkan.
Bibi Sum menyentuh lengannya. Mereka harus bergerak.
Saat mendekati perpustakaan, suara Amara terdengar dari ruang kerja Sri Wahyuni. Pintunya tidak tertutup penuh.
“Telepon itu menyebut Laras,” kata Amara. “Seseorang tahu.”
“Kecilkan suaramu.”
“Bagaimana kalau pengemudi lama itu bicara? Ibu bilang semua sudah selesai.”
Anindya berhenti.
Bibi Sum memucat. Ia menunjuk lorong keluar, tetapi Anindya menggeleng. Tangannya mengambil ponsel, menyalakan rekaman, lalu menyimpannya di saku atas dengan mikrofon terbuka.
Suara dari ruang kerja terpantul pada dinding kayu. Bagian awal teredam musik aula.
“Kamu yang terus membuat masalah,” desis Sri Wahyuni. “Merapi, wartawan, perempuan Wibisana. Sekarang kamu panik karena satu telepon.”
“Saya panik karena Ibu meninggalkan terlalu banyak orang.”
“Tidak ada yang melihat apa pun.”
“Pengemudi membawa Ibu ke klinik malam itu.”
“Dia hanya tahu Laras sakit.”
“Dia tahu Ibu mengambil obat.”
Keheningan singkat di dalam ruangan membuat detak jantung Anindya terdengar terlalu keras.
Sri Wahyuni berkata, lebih rendah, “Kalau dulu Ibu tidak mencampurkan obat itu ke minuman Laras, kamu pikir siapa yang akan berdiri di rumah ini sekarang?”
Dunia Anindya miring.
Punggungnya menyentuh dinding. Rasa mual naik begitu cepat hingga ia harus menutup mulut. Di dalam saku, ponsel terus merekam.
Amara menjawab sesuatu, tetapi musik dari aula menelan separuh kalimat.
“Jangan sebut lagi,” kata Sri Wahyuni, kali ini jelas. “Nama Laras sudah dikubur bersama tubuhnya. Pengemudi itu menerima uang. Berkas medisnya sudah berubah. Tidak ada yang bisa membuktikan isi gelas.”
Anindya menggigit bagian dalam bibir sampai rasa sakit menahan tubuhnya tetap tegak.
Rekaman itu bukan bukti sempurna. Ia dibuat tanpa prosedur penyitaan, memiliki gema, dan beberapa bagian tidak terdengar. Tetapi kata obat, minuman Laras, uang, dan berkas medis cukup jelas untuk mengubah kecurigaan menjadi arah penyelidikan.
Bibi Sum menarik ujung lengan Anindya.
Dari ujung koridor terdengar langkah petugas keamanan.
“Pemeriksaan sayap belakang,” kata suara laki-laki melalui radio.
Mereka mundur menuju pintu layanan. Sebelum berbelok, Anindya melihat Wulan melalui jendela taman. Perempuan itu masih duduk sendiri, kini memegang garpu tanpa makan. Ia tidak tahu percakapan apa yang terjadi beberapa meter dari aula. Ia juga tidak tahu dosa ibunya sedang membentuk jurang di antara tiga saudari.
Sinar senter menyapu dinding.
Bibi Sum menyelinap lebih dulu ke ruang linen. Anindya menempel pada sisi lemari, menahan napas dan menekan tombol darurat di saku agar Sisi tahu jalur mereka terganggu.
Cahaya berhenti tepat di tempat Anindya berdiri beberapa detik sebelumnya.