Seorang siswa yang terlambat ke sekolah berpindah ke dunia lain bersama dengan dua orang yang tak dikenalnya, setelah mereka ditabrak truk secara tidak sengaja.
Menurut suara misterius yang mereka dengar saat baru sampai di dunia itu, mereka harus menyelamatkan dunia itu dari kekacauan.
Kehidupan mereka berubah sejak mereka bertemu dengan seorang lelaki yang mengaku sebagai orang terkuat di dunia itu dan mereka belajar tentang keabadian dari orang itu.
Ikuti perjalanan mereka di dunia yang tak terduga, penuh darah, pertarungan, dan pengkhianatan itu.
[1 chapter untuk satu hari, dimohon bersabar...
Ada beberapa adegan garing, kalo gk lucu dimohon jangan ketawa...
Apabila terdapat kesamaan nama orang, lokasi, ataupun jurus, mohon maaf karena itu adalah ketidaksengajaan, beberapa disengaja ;)
Original story by Slitherio/Rio Andriana]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Slitherio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Masa lalu Kuro dan Shirao
“Hah, kalian tidak pandai berbohong...” Kuro mengepalkan tangannya, tangannya berubah warna menjadi hitam.
“Kalian boleh tidak percaya pada kami, tetapi itulah yang terjadi...” Ray mengeluarkan Black Dragon Sword dari Dimentional Ring, tetapi belum menariknya.
“Oh, apakah kau akan berduel denganku tentang pedang?” Tanya Shirao dengan tangan yang memegang gagang pedang.
“Entahlah, tetapi aku yakin kalau pemahamanku tentang pedang setidaknya setara dengan praktisi Spirit Forging...” Jawab Ray dengan senyuman lebar.
“Hei, ingatlah kalau kita masih ada di dalam kedai makan...” Agus mengingatkan, tetapi Ray dan Shirao sudah terlanjur saling tatap tajam dan perlahan mereka melepaskan sesuatu yang mungkin disebut aura.
Dari pertukaran aura saja, bisa diketahui kalau Ray benar-benar kalah. Tetapi Agus setidaknya memercayai Ray kalau kemampuan pedangnya sudah meningkat pesat sejak berlatih di Pulau Giok Putih.
Shirao menarik pedangnya dan mengarahkan pedangnya ke atas lalu melepaskan sebuah gelombang cahaya berwarna putih. Gelombang itu langsung menghancurkan atap dan Shirao menarik kerah Ray dan keduanya terbang ke atas.
Agus dan Mira terkejut bukan main, praktik mereka belum memungkinkan untuk bisa terbang. Mereka ragu kalau Ray bisa terbang di udara. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya.
Ray dilempar ke udara dan Shirao mengejarnya. Shirao tak menyadari kalau Ray tersenyum.
Shirao memainkan pedangnya lalu menebas udara. Tebasan itu menghasilkan gelombang serangan berwarna putih. Ray masih tersenyum dan ia perlahan turun ke bawah.
Jantung Mira hampir saja copot kalau saja ia tidak melihat kejadian selanjutnya.
Tanpa disangka, Ray menarik pedang hitamnya dan menebas gelombang serangan itu. Ia lalu mendarat di atas atap kedai makan itu.
“Oi, ganti rugi atas kerusakan yang kalian lakukan!” pemilik kedai itu jelas terkejut saat melihat kemampuan Ray dan Shirao, tetapi ia harus memikirkan tentang kedainya juga.
Beberapa orang yang bekerja dengannya wajahnya terlihat terkejut dan wajahnya seperti meminta agar pemilik kedai itu tidak mencari masalah dengan Agus, Mira, dan Kuro mengingat ketiganya adalah praktisi, sama dengan Ray dan Shirao.
“Baiklah, tapi maafkan dua rekanku itu, ya!” Kuro mengeluarkan sekantong uang dan menyerahkannya pada pelayan yang berdiri di dekatnya, “Kami pergi dulu...”
Selesai berkata demikian, Kuro melompat ke atas diikuti oleh Agus dan Mira. Menurut mereka, ada baiknya kalau mereka segera melerai dua orang itu sebelum mereka menghancurkan kedai.
“Shirao, cukup! Turun kau!” Kuro berteriak ke atas dimana di atas itu terlihatlah kalau Shirao sedang melayang.
“Tunggu dulu, kenapa kalian bertarung?” tanya Agus, membuat Shirao dan Ray seketika terdiam.
***
“Sial...” Ray menatap pedangnya yang dipegang oleh Agus dan pedang Shirao yang berwarna putih yang dipegang oleh Kuro.
“Kenapa kalian bertarung?”
Pertanyaan yang sama kembali dikeluarkan oleh Agus dan itu cukup untuk membuat keduanya terdiam.
“Benar, apa alasanku bertarung dengan sialan ini?” gumam Shirao, tetapi didengar oleh Ray.
“Tutup mulutmu sebelum kupukul!” Ray mengepalkan tangannya sambil melirik Shirao dengan tajam.
“Baiklah, aku akan mengatakan kebenaran yang sesungguhnya, tentang pandangan orang tentang dua aliran yang berlawanan ini...” Kuro berkata.
Beberapa orang memiliki pandangan kalau Aliran Hitam itu jahat dan Aliran Putih itu baik. Tetapi sebenarnya tidaklah begitu.
Diantara Aliran Hitam ada beberapa orang ataupun sekte yang memiliki pemikiran yang terbilang baik. Hal yang sebaliknya ada di Aliran Putih, ada beberapa orang ataupun sekte yang memiliki pemikiran jahat.
Ada juga satu sekte di Aliran Hitam yang berniat menyatukan Benua South, tetapi cara yang dipakainya salah.
“Setidaknya itulah yang kupahami tentang dua aliran yang berlawanan ini...” ujar Kuro.
“Hah, sudah kuduga kalau semua Aliran Hitam itu sama!” Shirao mendekati Kuro dan merebut pedangnya dari kuro, “Setidaknya kau mengaku...”
“Lebih baik daripada sektemu yang selalu menganggap dirinya yang paling kuat...” Kuro menaikkan bahunya.
“Bukankah itu benar? White Mountain Sect adalah yang terkuat di dunia ini!” Shirao mengepalkan tangannya dan memukul dadanya keras.
“Yah, kalau yang terkuat, kenapa aku dulu dikeluarkan?” Kuro menatap Shirao dengan senyuman kemenangan.
“Waktu itu kau memiliki jenis tubuh yang membuatmu bisa mempelajari ilmu Aliran Hitam, sebab itulah Ketua Sekte mengeluarkanmu...” jawab Shirao sambil menaikkan bahunya.
“Setidaknya aku sudah lebih kuat dari teman-temanmu yang menindasku dulu...” Kuro melipat tangannya dan kini wajahnya berubah sendu.
“Tu-tunggu dulu. Sebenarnya bagaimana masa lalu kalian?” tanya Ray setelah mengangkat tangannya meminta keduanya berhenti sejenak.
“Hmm? Haruskah aku memberitahumu?” tanya Shirao dengan nada dingin.
“Kalau tidak, pedangku bisa berhenti di dekat lehermu dan kapan saja bisa menebas lehermu itu...” Ray menatap Shirao tajam.
Shirao memalingkan wajahnya dan Kuro menjawabnya dengan satu syarat, “Bolehkah kami ikut perjalanan kalian?”
“Eh, bagaimana dengan sektemu?” tanya Mira menolak permintaan Kuro.
“Aku merasa bosan berada di dalam sekte terus...” Kuro mengetukkan jarinya ke jari yang lainnya.
“Dengan praktikmu sekarang, bukankah kau adalah seorang pengajar ataupun tetua?” tanya Ray. Meskipun tak bergabung dengan sekte, setidaknya ia mengetahui tentang susunan sebuah sekte.
Dalam sekte, dibagi menjadi jenis. Yaitu Outer Disciple, Inner Disciple, Core Disciple, dan terakhir adalah Elite Disciple. Di atas itu adalah Elder dan satu orang yang dipercaya diantara Elder akan mendapat jabatan Supreme Elder. Di atas Supreme Elder adalah Chairman Sect.
Susunan ini sendiri diketahui oleh Ray dari gurunya, yaitu Zon. Tianyun sendiri juga tahu susunan ini.
“Eh, darimana kau tahu?” Shirao dan Kuro menunjuk Ray bersamaan.
Ray menaikkan bahunya dan menjawab, “Aku mendengar hal itu dari guruku...”
Kuro dan Shirao terlihat berpikir lalu Shirao menjawab, “Baiklah, akan kuceritakan...”
***
Kuro dan Shirao lahir dan besar di sebuah desa kecil yang ada di tepi hutan. Mereka sudah menjadi sahabat sejak berumur 5 tahun karena rumah mereka memang bersebelahan.
Mereka bersahabat dan persahabatan itu terus berlanjut sampai sekelompok makhluk buas menyerang desa mereka. Saat itu mereka berumur 8 tahun.
Hanya mereka berdua yang selamat dari desa itu dan mereka bertemu dengan seseorang yang membawa pedang di pinggangnya.
Orang itu lalu mengajak mereka ke sebuah tempat, yang belakangan Shirao dan Kuro ketahui adalah sekte terbesar Aliran Putih, yaitu White Mountain Sect.
Menurut aturan yang telah ditetapkan, mereka bisa langsung mengikuti pelatihan karena mereka sudah berumur 8 tahun. Kalau dibawah itu, mereka akan diajarkan beberapa dasar, seperti membaca, menulis, dan sebagainya.
Mereka tidak sendirian, ada beberapa anak yang juga mengikuti pelatihan itu dan sebagiannya berteman dengan keduanya.
Saat di pelatihan, perkembangan Shirao benar-benar mengerikan. Sang pengajarnya saja bahkan terkejut bukan main saat melihat Shirao yang berhasil mencapai Self Forging tingkat 6 di umur 10 tahun.
Tak hanya itu, Shirao juga mampu menguasai ilmu pedang sampai penguasaan ahli di umur 10 tahun. Benar-benar murid yang amat berbakat.
Karena bakatnya itu, ia dipanggil oleh Chairman Sect dan tubuhnya diperiksa. Setelah diperiksa, diketahuilah kalau Shirao memiliki jenis tubuh yang terbilang sangat langka, yaitu White Sword Body.
Shirao diangkat menjadi murid langsung oleh Chairman Sect yang mendapat gelar Sword Emperor dan mendapat banyak sekali ilmu pedang tingkat tinggi.
Sementara Kuro, ia diajak oleh Shirao untuk berlatih bersamanya, tetapi sang Sword Emperor tak mau melakukannya setelah memeriksa tubuh Kuro.
Karena hal itu, Kuro kembali menjadi Outer Disciple dan ia menjadi praktisi yang biasa-biasa saja. Setidaknya itulah yang terjadi sampai sekelompok seniornya menindasnya untuk mendapatkan sumber daya yang telah Kuro kumpulkan susah payah. Saat itu umurnya sudah 12 tahun dan sudah memiliki praktik Self Forging tingkat ke-6.
Karena hal itu, Kuro dikeluarkan dari White Mountain Sect dan meninggalkan Shirao yang berlatih dengan keras dibawah bimbingan Sword Emperor langsung. Alasannya karena Kuro memiliki jenis tubuh yang memungkinkannya untuk berlatih ilmu Aliran Hitam. Sword Emperor adalah orang yang pikun sehingga baru ingat hal ini setelah dua tahun berlalu.
Kuro menjelajahi Benua South dengan kemampuannya sendiri, untuk mencari sekte yang mau menerimanya.
Saat umur Kuro sudah menyentuh angka 15 tahun, saat ia sudah menjadi praktisi Self Forging tingkat ke-7, seorang pria berjubah hijau menerimanya menjadi muridnya dan diajak ke sebuah sekte.
Sekte itu adalah Jade Poison Sect, yang belakangan Kuro ketahui adalah sekte besar yang cukup disegani di Aliran Hitam.
Di bawah bimbingan seseorang yang bernama Jiene, Kuro berlatih keras dan menjadi praktisi yang cukup berbakat. Tubuhnya ternyata benar-benar cocok untuk dipakai berlatih ilmu Aliran Hitam.
Di Aliran Putih, Shirao disebut-sebut adalah praktisi berbakat di generasinya dan saat keduanya berkelana, mereka bertemu dan bertarung dengan sengit. Saat itu, praktik Shirao berada di Self Forging tingkat ke-12 dan Kuro juga berada di tingkat yang sama.
Tetapi hasilnya Shirao menang, padahal saat itu kemampuan mereka sama. Benar-benar sesuatu yang aneh.
Saat itu, mereka berumur 17 tahun dan mereka membuat janji, kalau mereka akan berduel setiap sebulan sekali, di dekat sebuah pulau yang bernama Pulau Giok Putih, tempat mereka pertama kali berduel.