"Cinta adalah hidup, hidup adalah Abigail" Nicholas Geonandes.
"Kau membuatku bahagia, dengan cara yang orang lain tidak bisa berikan" Abigail.
"Kebahagiaanmu adalah segalanya buatku" Bima Anggara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Salah Faham
"Oh akhirnya kau datang juga" Mauryn merentangkan kedua tangannya berniat ingin memeluk Nicholas. Abi segera melangkah kehadapan Nicho sehingga Mauryn memeluk tubuhnya. Nicho tersenyum.
"Jealous, huh..?" Bisik Nicho ditelinga Abi.
"Oh Abi ternyata datang juga?" Mauryn meletakan tangannya di kedua pipi Abi.
"Kakak mabuk?" tanya Abi sedikit khawatir. Mauryn menggeleng
"Aku tidak menyangka Abi yang kecil sudah menjadi seorang istri sekarang. Kau melangkahi ku dan Luna" Mauryn mencubit pipi Abi. Abi meringis karena cubitan Mauryn cukup kuat. Nicho segera melepaskan kedua tangan nya dari wajah Abi.
"Kau menyakiti nya" desis Nicho tidak suka bertepatan dengan Mauryn yang memuntahkan isi perutnya hingga mengenai baju Nicho.
Abi terpekik
"Menjijikkan" Nicho segera mendorong tubuh Mauryn hingga terjatuh kelantai
"Nicho" tegur Abi tidak suka.
"Sayang, aku ke kamar mandi dulu" pamitnya mengabaikan teguran Abi kepadanya. Ia pun pergi tanpa menunggu jawaban Abi.
Abi segera berjongkok
"Kakak tidak apa-apa?" Abi menyentuh bahu Mauryn.
Mauryn menggeleng sambil tersenyum getir
"Dia sangat membenci ku padahal aku sangat mencintainya" Abi menggigit bibirnya. Ia tidak menyukai apa yang dikatakan oleh Mauryn tapi ia memilih diam karena sadar wanita yang dihadapannya itu sedang mabuk.
"Sebaiknya kakak membersihkan diri dulu" Abi membantunya berdiri berniat memapahnya ke kamar mandi tapi Mauryn melepaskan tangannya begitu mereka sudah berdiri
"Aku bisa sendiri" Mauryn melangkah meninggalkan Abi.
"Sudah berapa lama dia disini?" Abi menatap bartender yang sedang sibuk meracik minuman.
"Kurang lebih 4 jam" Bartender itu menatap Abi hanya sekilas lalu melanjutkan pekerjaannya.
"Dia sendiri?" tanya Abi lagi
"Ya"
"Kenapa kau membuatnya mabuk?" tuduh Abi. Bartender itu menghentikan kegiatannya. Menatap Abi seraya menaikkan alisny.
"Hei nona orang ke sini tentu saja ingin mabuk. Dia meminta alkhol tentu saja ku berikan"
"Kau bisa memberikan nya air mineral"
"Jika begitu suruh dia datang ke kafe bukan ke klub malam begini"
"Ada apa ini?" terdengar sura berat seorang pria dari balik tubuh Abi, membuat Abi mengurungkan niatnya untuk membalas ucapan sang bartender.
"Kak Bima" pekik Abi senang
"Kakak kenapa bisa disini?"
"Mulai nakal sekarang ya..mainnya di klub malam begini" Abi berkacak pinggang. Bima terkekeh melihat tingkah istri sahabatnya itu. Tangannya terangkat lalu kemudian menurunkannya kembali. Abi mengernyit.
"Kenapa tidak jadi?" dan pertanyaan Abi itu membuat Bima tergelak. Abi mengangkat tangan Bima kembali dan meletakkannya di atas kepalanya
"Bukannya kakak ingin mengacak rambut ku tadi seperti yang biasa kakak lakukan"
"Itu sebelum kau menjadi seorang istri dan sialnya suami mu itu adalah sahabat kakak yang sangat cemburuan. Bisa-bisa tangan kakak dipatahakan oleh suami mu" Bima akhirnya mengacak rambut Abi. Abi mengangguk sambil tertawa
"Dimana Nicholas?"
"Kamar mandi"
"Kak Mauryn muntah di bajunya" jawab Abi
"Mauryn?" tanya Bima kembali
"Kamar mandi juga membersihkan dirinya" Bima mengangguk mengerti
"Kakak kenapa bisa ada disini?"
"Mauryn menghubungi kakak" jawabnya seraya menarik kursi agar Abi segera duduk
"Abi fikir kakak mulai nakal" Abi segera duduk dikursi yang ditarik Bima untuk nya. Bima hanya tertawa mendengar ucapan Abi
"Kak Luna sama kak Arya ikut juga?" Abi penasaran dan segera mengedarkan pandangannya.
"Kakak tidak yakin. Sepertinya Mauryn hanya menghubungi kakak" dan ucapannya menghentikan Abi mengedarkan pandangannya.
"Bagaimana pernikahanmu? Apa kau bahagia?" Bima menatapnya dengan lembut. Abi tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.
"Ya kakak. Abi bahagia. Kakak tahu ternyata Nicho adalah cinta pertamaku" jelas Abi penuh semangat.
"Paman gila yang kau ceritakan?" Bima membelalakan matanya tidak percaya. Dulu Abi memang selalu bercerita kepada Bima, termasuk saat pertama kali ia bertemu dengan Nicho. Pria pertama yang menurutnya sangat tampan setelah Papanya. Berharihhari Abi selalu membayangkan wajah pria itu dan ya dengan polosnya ia mencetitakannya 0ada Bima.
"Kakak masih ingat" Abi bertepuk tangan. Bima kembali tergelak melihat tingkah wanita yang ada dihadapannya dan berusaha menahan sesuatu dari dalam dirinya.
"Iya kak. Ah...ternyata kak Bima masih ingat"
"Semua tentangmu tentu saja kakak ingat" Bima bergumam.
"Hah?" Abi tidak mendengar apa yang dikatakan Bima. Bima hanya menggeleng.
"Apa Nicho sudah mengetahuinya bahwa kau menyukainya saat pertama kalian bertemu?"
Abi mengangguk
"Ya dan kakak tahu dia sangat bahagia mendengarnya"
"Tentu saja, dia sangat mencintaimu" Bima tersenyum hangat
"Aku tidak masih tidak percaya wanita yang disembunyikannya selama 6 tahun ini adalah dirimu"
"Aku juga mencintainya. Sangat mencintainya" Abi merentangkan kedua tangannya selebar mungkin
"Sebesar itu?" goda Bima.
"Lebih besar dari ini" jawab Abi
"Kenapa mereka lama sekali" Abi menoleh ke arah jalan yang dilali Nicho dan Mauryn tadi.
"Kakak akan memeriksanya?" Bima segera turun dari duduknya
"Tidak..tidak..biar Abi saja kak" Abi segera turun dan berjalan menuju toilet
❤❤❤❤❤
"APA YANG KAU LAKUKAN GEONANDES?!!" teriakan Abi memerintah Nicho dan Mauryn melepaskan ciuman mereka. Abi menatap Nicho dengan penuh kemarahan. Matanya sudah buram oleh air mata. Nicho terlihat gugup dan berjalan mendekat kearah Abi.
"Abi.." panggilnya dengan merentangkan sebelah tangannya berniat menyentuh istrinya itu.
"Tega nya kau melakukan itu" Abi menatap Nicho dan Mauryn dengan tatapan benci. Ia lalu memutar tubuhnya dan berlari.
"Abi..kau salah faham" Nicho mengejar Abi
"Bie dengarkan penjelasan ku" Nicho berhenti ketika melihat Abi juga berhenti dihadapan seorang pria yang tidak lain adalah sahabatnya. Bima.
"Ada apa?" tanya Bima bingung menatap Nicholas dan Abi bergantian.
"Apa kau ingin mengatakan Mauryn yang menyerangmu" Abi menghilangkan embel-embel kesopanannya terhadap Mauryn dan mengabaikan pertanyaan Bima yang sedang memperhatikan mereka
"Memang kenyataannya seperti itu Bie" jawab Nicholas dengan wajah memelas. Merutuki kebodohan Mauryn dalam hatinya.
"Kau bisa saja mengelak" Air mata sudah membasahi wajah Abi
"Aku baru saja akan melakukannya"
"Aku ingin tertawa mendengar jawaban konyol mu itu tapi sialnya air mata ku tidak bisa diajak kompromi"
"Bie, kau salah faham sayang" Nicho mendekat
"Salah faham apanya. Bukan kah kau memang sangat ingin bertemu dengan kekasihmu itu" Abi menggila
"Dia bukan kekasihku. Memang wanita itu yang menyerangku, Bie"
"Dan kau yang memintaku untu menemuinya jika kau lupa"
"Apa sekarang kau menyalahkanku?" hardik Abi
"Aku bukan menyalahkanmu, Bie, aku hanya meluruskan bahwa kau yang memang meminta aku agar menemuinya" jelas Nicho berusaha menahan kekesalannya demi wanita yang dicintainya itu dan demi pernikahannya yang masih seumur jagung
"Kita bisa membicarakannya baik-baik dirumah. Jadi aku mohon berhentilah menangis" Nicho hendak menarik Abi kedalam pelukannya tapi Abi menjauh dan menghempaskan tangan Nicho.
"Kunci mobil" ucap Abi dan dengan bodohnya Nicho memberikannya begitu saja.
"Jangan berani mengikuti ku" ucapnya seraya berbalik meninggalkan Nicho dan Bima disana.
"Kenapa kau masih disini" Bima menyadarkan Nicho yang masih menatap kepergian Abi yang sudah tidak terlihat lagi
"Dia memintaku untuk tidak mengejarnya" jawabnya polos
"Idiot!"
"Istri mu itu sedang menangis dan dengan bodohnya kau memberikan kunci mobilmu"
"Oh shit!" Nicho mengumpat begitu menyadari kebodohannya
"Berikan kunci mobil mu"
"Tidak..kau juga sedang menggila. Aku yang akan menyetir" Bima melangkah
"Kau melupakan wanita itu. Urus saja dia, aku akan mengejar istri ku" Bima menghentikan langkahnya dan Nicho segera mendekat dan merogoh kantong celana Bima dan mendapat kan kunci mobil Bima disana
"Hati-hati dude" Nicho melambaikan tangan nya sebagai jawaban.
"Dimana Nicholas dan Abi?" Bima memutar tubuhnya untuk melihat wajah si sumber masalah
"Kau sudah sadar?" tanya Bima dengan wajah datar. Mauryn hanya menganggukkan kepalanya.
"Kali ini kau keterlaluan Mauryn" Bima menatapnya tidak suka
"Dimana kunci mobil mu?"
"Di dalam tas" jawab Mauryn
"Lalu dimana tas mu" kembali Bima bertanya karena ia tidak melihat Mauryn memegang tasnya.
"Disitu" Mauryn menunjuk meja tempat Abi dan Bima tadi. Bima segera melangkah mengambil tas Mauryn dan mencari kunci mobil Mauryn disana.
"Aku pinjam mobil mu" ucapnya begitu ia menemukannya.
"Pulang lah naik taxi"
"Tolong kau pesankan taxi untuknya" Bima berbicara kepada bartender yang beradu jawab tadi dengan Abi dan menunjuk Mauryn. Ia meletakkan beberapa lembar uang dan segera pergi begitu sang bartender menganggukkan kepalanya.
❤❤❤❤❤
Sampai diparkiran Nicho segera masuk kedalam mobil Bima dan melajukannya dengan cepat. Ia bernafas lega begitu melihat mobil Abi.
Abi melajukan kecepatannya begitu menyadari Nicho mengejarnya. Nicho terus mengejarnya dan Abi terus menaikkan laju kecepatannya. Nicho menurunkan kecepatannya agar Abi juga menurunkan kecepatannya tapi ternyata tidak. Abi tetap pada kecepatannya. Menyetir dengan keadaan menggila. Nicho membunyikan klaksonnya bertubi-tubi agar Abi menghentikan mobilnya. Tapi sialnya Abi mengabaikannya. Tidak terganggu sama sekali dengan bunyi klaksonnya. Yang ada dia di maki oleh pengendara lain karena merasa terganggu.
"Abi itu berbahaya, sayang" Nicho menurunkan kaca jendelanya setelah berhasil mensejajarkan mobil mereka dan untungnya kaca mobil Abi juga terbuka walau hanya sedikit. Abi diam tidak menghiraukan apa yang dikatakan Nicho.
"Bie, aku mohon turunkan kecepatanmu. Aku salah. Aku minta maaf, ok" Nicho membujuk Abi. Tapi Abi seolah tuli.
"Abi itu berbahaya, sayang"
"NICHO!!!"teriakan Abi membuat Nicho menoleh kedepan. Ia terpekik begitu melihat sebuah mobil yang sepertinya hilang kendali dari arah yang berlawanan. Ia segera menyenggol mobil Abi agar terhindar dari mobil tersebut.
"Rem Abi..Rem!!" teriaknya bertepatan dengan kecelakaan itu terjadi. Mobil Nicho beradu dengan mobil yang datang dari arah berlawanan itu.
"Abi...Nicho..." Bima segera berlari menghampiri.
T.B.C