Darimu aku belajar mencintai dengan ikhlas, meski tak terbalas.
(Nama yang selalu menjadi perbincangan disepertiga malamku)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inar Hamzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Laki-laki yang beberapa jam lalu mendatangi rumah Bude’Aya, kini terlihat berbincang dengan beberapa santri tepat diteras masjid. Beberapa santri menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan agama juga tentang dunia kesehatan, mengingat Ibam adalah seorang perawat. Laki-laki yang mengenakan baju koko lengan pendek berwarna cream juga ditambah sarung hitam bergaris sebagai bawahan dan peci hitam penutup rambut hitam legamnya itu dengan senang hati dan bersabar dalam menjawab setiap pertanyaan yang diberikan padanya.
Setelah beberapa saat bersama, beberapa santri meminta pamit. Maka diteras masjid hanya menyisakan Ibam dan Rai. Dua pemuda yang ketampannya hampir setara itu, rasanya setiap berada dilingkungan pesantren selalu menjadi pusat perhatian dari para santriwati.
“Tadi sore aku kerumah Bu Haya.” Ucap Ibam yang membuka percakapan untuk kedua pemuda itu.
“Ngapain ?” Tanya Rai yang kini sibuk menatap taburan bintang di tengah gelapnya langit.
“Aku ngasih jamu buat Indara. dia lagi siklus.” Jawab Ibam dan mengikuti pandangan Rai.
Mendengar jawaban Ibam tatapan Rai beberapa saat dipenuhi kabut tebal, ia sepertinya tak terlalu suka Ibam begitu memperhatikan Indara. Dengan sekejap Rai mengalihkan pandangannya pada Ibam dan kembali menengadahkan kepala.
“Bam…” Panggil Rai.
“Hmm.” Jawab Ibam yang hanya berdehem.
“Bagaimana rasanya jika telah menemukan bintang yang kamu harapkan untuk menyinarimu namun juga diharapkan oleh orang lain ?” Tanya Rai tanpa menatap Ibam.
Terdengar helaan nafas yang berat dari Ibam sebelum menjawab pertanyaan Rai, “Entahlah Rai. Aku menginginkan hanya aku yang disinarinya, tapi aku juga tidak bisa memaksanya untuk ada buatku.” Jawab Ibam yang sepertinya tengah membayangkan sesuatu.
“Bam..” Panggil Rai kembali.
“kenapa ? Kamu lagi jatuh cinta ?” Tanya Ibam dengan beruntunnya.
“Entahlah Bam, aku tidak paham.” Jawab Rai sekenanya. “Yang aku inginkan saat Yang Kuasa menitipkan rasa cinta padaku untuk salah satu makhluk_Nya yang bernama perempuan. Aku menginginkan rasa cintaku tak pernah berubah pada_Nya, dan rasa cintaku pada makhluk_Nya tak melebihi rasa cintaku pada Yang Kuasa.” Jelas Rai kembali.
Ibam menyunggingkan senyum pada Rai dan menatap teman dari kecilnya itu. “Kamu sudah besar ternyata Rai.” Ujar Ibam dan merangkul pundak Rai.
“Bukan cuma aku Bam, tapi juga kamu. Kita sama-sama sudah besar. Semoga kita menjadi semakin dewasa.” Ucap Rai dan melirik Ibam dengan ekor matanya.
“Iya iya kita berdua.” Tegas Ibam kemudian.
“Pulang gih, kasian orang rumah nyari.” Ucap Rai dan melepas rangkulan Ibam.
“Iya udahlah, aku pamit Assalamualaikum.” Ucap Ibam dan mengenakan alas kakinya.
“Waalaikumussalam.” Jawab Rai yang juga berjalan meninggalkan masjid.
Setelah kedua laki-laki itu meninggalkan teras masjid, dari dalam masjid tampak seorang gadis cantik yang sedang memeluk lipatan mukenah juga Al-Qur’an kecil. Tatapannya begitu sendu, gurat matanya menyiratkan kesakitan yang tak tercermin. Matanya dihiasi dengan warna merah, sepertinya ia baru saja menumpahkan rasa sakit hatinya.
Gadis itu perlahan berjalan menuju tangga masjid. Pandangannya kini menatap langit yang sempat dipandang oleh Ibam dan Rai.
“Aku juga.” Ucapnya lirih.
“Aku juga, sudah menemukan bintang yang kuharapkan dapat menyinariku. Namun nyatanya ia seperti memilih orang lain untuk disinari.” Batinnya sambil menatap bintang yang seperti tak ingin berkompromi dengan keadaannya saat ini.
Dengan segera gadis itu meninggalkan area masjid dan berjalan menuju rumah.
Rai kini berada di dalam kamarnya. Dengan segera ia meraih ponsel dan mencari kontak Indara. Awalnya laki-laki itu ragu untuk mengirim pesan singkat pada Indara, ia takut jika akan mengganggu waktu istirahat Indara. Apalagi gadis itu tengah berada disituasi hati yang sedang labil.
Namun lagi-lagi hati Rai mengalahkan logikanya, dengan ragu ia mulai mengetik pesan yang ingin disampaikan pada Indara.
"Assalamualaikum Dara. Gimana kabarmu ?" Tanpa menunggu lama Rai segera mengirimnya pada Indara. Rupanya laki-laki itu takut akan berubah pikiran dan mengurungkan niatnya.
***
Indara yang tadinya berada dikamar langsung menuju meja makan untuk bergabung dengan yang lainnya. Gadis itu dengan segera mendaratkan tubuhnya disalah satu kursi dan tentunya di samping Bude’ Aya.
“Ibam jam berapa tadi kesini Ra ?” Tanya Bude’ Aya disela kunyahannya.
“Kurang tau bude’. Bu Titi yang nerima titipannya tadi.” Jawab Indara yang sedikit malu sembari membayangkan isi dari titipan Ibam.
“Sekitar jam empatan gitu sih Bu. Saya juga nggak perhatiin tepatnya jam berapa.” Timpal Bu Titi yang membantu Indara menjawab pertanyaan Bude’ Aya.
Bude’ Aya hanya mengangguk pertanda mengerti atas jawaban yang ditanyakan itu. Berbeda dengan Naura yang sedikit penasaran tentang hal apa yang membawa Ibam untuk bertamu sore-sore namun tak bertemu Indara.
“Memangnya mas Ibam ngapain bu ?” Tanya Naura pada Bu Titi yang masih sibuk menelan makanannya.
“Nganter titipan buat mbak Ara nak.” Jawab Bu Titi kemudian.
“Titipan ?” Tanya Naura pelan yang terkesan seperti bergumam.
“Iya Nau. Tadi kamu liat jamu di atas nakas samping tempat tidurnya Ara kan. Itu yang diantar Ibam tadi sore.” Celetuk Bude’ Aya dengan sedikit menyunggingkan senyum.
Indara hanya tersenyum malu menatap ibu dan anak yang sedang memandangnya dengan senyum yang tak kalah menggoda. Namun sedetik kemudian senyum Naura sirna.
“Mas Ibam perhatian sama dia, mas Rai juga. Betapa beruntungnya dia.” Ucap Naura dalam hati yang memperhatikan Indara tengah berusaha menghabiskan makanannya.
“Mau nambah mbak ?” Tanya Bu Titi saat melihat nasi di piring Indara kini sudah tandas.
“Nggak bu. Ini saja saya usahakan buat ngabisin.” Jawabnya langsung.
“Memangnya kenapa Ra ?” Tanya Bude’ Aya.
“Kalau lagi datang bulan biasanya saya nggak suka makan nasi bude’. Biasanya diganti sama ubi, jagung atau nggak kentang yang dikukus.” Jelas Indara sembari membereskan piringnya menuju dapur.
“Iya udah mbak cantik, kalau gitu besok akan saya carikan.” Ucap Naura yang sudah menghabiskan makanannya.
“Nggak usah Nau. Nggak apa-apa kok.” Tolak Indara dengan lembutnya.
“Ya udah, kamu istirahat aja lagi. Kalau nanti tambah sakit kasih tau bude’ ya.” Tutur bude’ Aya.
“Iya bude’. Kalau gitu Ara naik dulu.” Ucapnya dan meninggalkan yang lainnya disana.
Sesampainya di kamar, Indara terlebih dulu meraih buku yang belum tuntas dibacanya. Kemudian mengambil ponsel yang masih berada di atas nakas samping tempat tidurnya itu. Matanya memperhatikan pesan singkat dari Deru dan Rai. Ia membalas pesan Deru lebih dulu, karena Derulah yang mengirim pesan terlebih dulu dibanding Rai.
“Oh, iya sudah kak kalau gitu.” Balas Indara pada Deru.
Setelah membalas pesan dari Deru, jarinya beralih pada pesan Rai.
“Waalaikumussalam Rai. Iya Alhamdulillah sudah nggak kayak tadi sore.” Ketik Indara pada Rai dan ia juga menekan tombol kirim pada Rai.
Indara yang kini memegang buku ditangan kirinya dan ponsel ditangan kanannya. Ia lebih memilih untuk meletakkan ponsel tersebut kembali di atas nakas. Namun apa mau dikata, saat akan meletakkannya ponsel itu kembali berdering. Namun bukan dari Deru, Rai, maupun Ibam, melainkan dari sang mama. Rupanya Lestari melakukan panggilan suara dengan Indara.
“Iya halo ma. Assalamualaikum.” Ucap Indara membuka percakapan dengan mamanya.
Waalaikumussalam nak. gimana kabarnya ? Kamu sehat ?
“Iya ma. Alhamdulillah sehat, tadi sempat sakit perut sih. Tapi udah baikan. Mama sama papa sehat ?” Tanya Indara balik.
Iya kami sehat. Sakit perut kenapa ?
“Lagi siklus ma.” Jawab Indara pada Lestari.
Ohh, mama kira apa. Gini Ra, mama sama papa tadi sore ngobrol tentang kamu. Tentang yang sempat papa mama bicarakan ke kamu pas kamu diMalang. Gimana nak ? sudah ada jawaban.
Indara tak menyangka bahwa mama dan papanya akan meminta jawaban secepat ini. “Maaa, Ara belum ada kepikiran ma. Ara belum punya jawabannya ma.” Jawab Indara dengan lembutnya pada sang mama.
Iya nak mama sama papa tau itu. Tapi kamu pikirin baik-baik. Mama sama papa cuma ingin yang terbaik buat kamu.
“Iya ma, tapi kayaknya Ara belum bisa ngasih jawabannya dalam waktu dekat ini lagi.” Ucap Indara kembali.
Iya nggak apa-apa sayang. Ya udah kamu istirahat yah. Baik-baik ya. Assalamualaikum.
“Waalaikumussalam.” Jawab Indara mengakhiri panggilan teleponnya.
Ternyata saat Indara melakukan panggilan suara dengan sang mama, Rai membalas pesan Indara.
Syukurlah Dara. Kamu istirahat aja lagi yah.
Indara memang tak berniat membalas pesan Rai dan memilih meletakkan kembali ponselnya. Kemudian membuka buku yang sempat diambilnya tadi.