Warning!
(Kram perut yang disebabkan membaca cerita ini tidak ditanggung BPJS, Jika gejala berlanjut hubungi Otor)
Bianca Nataniasunny seorang gadis mandiri dan sedikit arogan harus menjalani pernikahan tanpa cinta dengan seorang pria bernama Skala Prawira yang tak kalah arogan seperti dirinya. Kedua mahkluk itu sama-sama mengincar warisan dari keluarga mereka dan sepakat untuk melakukan kerjasama.
Menikah tidak membuat mereka lantas dengan mudah saling mencintai. Pertengkaran yang berujung kekonyolan menjadi santapan mereka sehari-hari.
"Kalau gue Anaconda loe Piranha Amazon," ~ Ska.
"Hah...ogah gue sehabitat sama loe," ~ Bian.
Tanpa Skala dan Bianca sadari jeratan takdir masa lalu telah mengikat keduanya.
_
_
_
Note :
JANGAN PLAGIAT ATAU TAMBAL SULAM!
INGAT AZAB
Carilah Rezeki yang halal dengan mencari ide sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinasya mahila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Pesta Dadakan
Polisi turun dari mobilnya diikuti beberapa orang berpakaian serba putih dengan apron yang menempel dan celana panjang hitam, orang-orang itu dengan cekatan mengeluarkan barang-barang dari dalam truk, mata Bian terbelalak, ia menatap Skala yang bersedekap santai.
Seorang laki-laki terlihat mendekat ke arah Skala, Bian yang juga masih bingung memilih membelah kerumunan ibu-ibu yang berdiri menonton dari pagar rumah Bu Dewan, ia mengucapkan permisi untuk mendekat ke arah sang suami.
"Ada apa?" tanyanya heran.
Laki-laki yang merupakan bodyguard sekaligus sekretaris Prawira terlihat menundukkan kepalanya ke Bian, "Satu jam lagi tuan besar dan keluarga akan datang kemari, beliau berkata akan merayakan syukuran rumah baru tuan muda dan nona."
"Apa?" mata gadis itu membulat memandang tak percaya ke arah Skala yang terlihat biasa saja mendapat kejutan seperti itu.
Para pelayan sibuk menata meja, kursi dan hidangan yang dibawa, bahkan koki dari rumah sampai datang ke sana untuk memasak secara live. Ibu-ibu geng blok perumahan perlahan mendekat ke arah Bian dan Skala yang sudah berdiri minggir agar orang-orang suruhan kakeknya bisa mulai bekerja menata halaman rumahnya menjadi lokasi pesta.
Skala menurunkan tangannya melihat para ibu-ibu yang menamakan dirinya Sultini blok kamboja itu mendekat, cucu kesayangan Prawira itu menundukkan sedikit kepalanya menyapa dan tersenyum ramah.
"Oh ini ya suami mba Bianca," ucap Bu Eli yang langsung menyambar tangan Skala.
Tak ingin kalah dari kembarannya Bu Erin juga merebut tangan laki-laki itu dari genggaman kakaknya," Salam kenal ya saya Bu Erin.
Bingung, Skala memandangi Bu Eli dan Bu Erin bergantian," Wah ibu berdua kembar ya?" tanya Ska seraya tertawa.
Mendapat sambutan ramah, Ibu-ibu blok kamboja itu langsung berebut untuk menyalami Skala, mereka berdesakan sampai Bian terdorong dan terpojok ke pagar. Gadis itu memilih menyingkir sambil merapikan gaun berwarna merah dress code arisan mereka tadi.
Mata Bian melihat dua orang laki-laki berjalan hampir beriringan, jelas yang satu adalah sang sekretaris Bayu, tapi Bian tidak mengenal pria di samping Bayu.
Skala masih disibukkan dengan kerumunan ibu-ibu dan juga mba Barbie yang menyusul keluar setelah membereskan pekerjaannya, kepala Ska terlihat menoleh ke arah dua laki-laki yang mendekat ke istrinya, mendapati Beni yang ada disana ia terlihat sedikit khawatir jika pria itu membeberkan harga rumah yang dia beli ke Bianca.
Melihat beberapa hidangan dan kursi sudah tertata rapi, Ska mempersilahkan para ibu itu untuk masuk ke dalam, sementara ia cepat-cepat menghampiri sang istri.
"Kalian diundang juga?" tanya Ska.
Beni dan Bayu mengangguk, duo B itu terlihat saling pandang, mereka kemudian memperkenalkan diri satu sama lain.
Tak lama beberapa mobil mewah tiba, Bian yang sudah berbaur dengan geng Sultininya menatap satu persatu orang-orang keluar dari sana, semua keluarga Prawira datang, bahkan keluarganya juga diundang, melihat sang tante Nuna langsung berlari mendekat.
"Apa uncle Brian tidak ikut?" tanya Bian ke sang ponakan.
"Onty, apa Onty pernah lihat oma mengijinkan uncle Brian ikut pesta?" celoteh Nuna yang langsung meninggalkan tantenya untuk berlari mendekat ke meja yang berisi sajian potongan buah-buahan dilengkapi dengan sebuah dispenser cokelat.
"Dasar wanita jahat," gumam Bian.
Salma memang tidak pernah mengizinkan anaknya Brian untuk datang ke suatu acara, alasannya Ia malu dengan kondisi Brian.
Beberapa dari mereka duduk di kursi yang telah ditata, Prawira bersama Nataniel memilih masuk ke dalam rumah bersama Skala, melakukan room tour di rumah seharga dua puluh miliar milik cucu dan anaknya itu.
Suasana pesta itu meriah karena ibu-ibu geng blok Kamboja, mereka secara bergantian menyumbangkan lagu, Bian yang duduk satu meja dengan Tama dan Felisya terlihat ikut menggerakkan bagian atas badannya mendengar lagu dangdut yang dibawakan para emak rempong tetangga barunya.
Tama berdiri meninggalkan meja untuk mengambil makanan, seketika Feli langsung menyerang Bian dengan pertanyaan yang mengganggu pikirannya, sekaligus berusaha membuat Bian cemburu.
"Apa Ska masih sering mengigau dan menangis saat tidur?" tanya Feli yang mendapat balasan tatapan tajam dari Bian.
"Untuk apa dia mengigau dan menangis? dia selalu tidur nyenyak di pelukanku," dusta Bian.
Hati Feli mencelos, tapi gadis itu masih terlihat berusaha menimpali Bian, "Baguslah, karena trauma masa kecilnya dia sering mendapat mimpi buruk, mengigau dan menangis jika mimpi itu datang, kecuali ada orang yang bersamanya, Ia seolah sadar itu hanya mimpi dan menjadi tenang."
"Hah... apa kamu secara tidak langsung ingin bilang kalau kamu pernah tidur dengannya?" cibir Bian.
Felisya hanya terdiam karena mendapati suaminya sudah kembali ke meja mereka.
Suasana pesta itu meriah, bahkan sekretaris Ska menyumbangkan suara emasnya dengan menyanyikan sebuah lagu cinta, melihat Beni selesai menyanyi Nuna langsung berdiri dari kursinya, berteriak ke arah sang tante.
"Onty Bian mau nyanyi!" anak itu menjerit membuat semua orang memandang ke arahnya.
Bian tersenyum dengan penuh percaya diri gadis itu maju ke depan, membawakan sebuah lagu tanpa maksud apa-apa tapi malah terdengar seperti sindiran di telinga orang yang mendengarnya.
Akhirnya ku sadari bila diri ini
Telah masuk dalam permainanmu
Kini ku sadari bukan hanya diriku
Yang telah menjadi sandaran hatimu
Tak pernah kau sadari bila dirimu
Telah menghancurkan perasaanku
Bagaimana tidak, kekasih yang ku sayangi
Ku lihat bermanja di peluk yang lain
Dua cinta dalam satu hati
Tak bisa aku terima
Dua cinta dalam satu hati
Skala mengerjapkan matanya melihat gadis bergaun merah yang tengah berdiri menyanyi itu, ternyata Nuna jujur bahwa suara Bian memang bagus, melihat cucunya yang terbengong melihat penampilan Bian, Prawira meminta sekretarisnya untuk memanggil Nuna.
Anak itu berjalan mendekat ke arah prawira, tersenyum hangat sambil menggerak-gerakkan bagian atas badannya. Ya, beberapa menit yang lalu dia berbisik ke telinga Prawira jika Ia berhasil membuat Skala terbengong menatap tantenya laki-laki tua itu harus memberinya uang jajan.
"Kakek tidak bawa uang tunai, bagaimana ini?" ucap Prawira.
"Tenang kek, transfer saja." Nuna meraih ponsel di tasnya, memperlihatkan nomor rekening di layar ke Prawira.
Prawira mengangguk ke sang sekretaris, pria bertubuh besar itu dengan cekatan membuka mobile banking dari ponselnya, memasukkan nomor rekening Nuna untuk mengirimkan sejumlah uang.
Mata Nuna terbelalak mendapat pesan informasi kredit ke dalam rekeningnya, angka dua dengan enam angka nol dibelakangnya diberikan Prawira kepadanya. Bocah itu melompat-lompat kemudian mencium pipi Prawira.
"Makasih, kakek the best," ucapnya sambil terus melompat-lompat sambil menatap layar ponselnya.
Bian yang sudah bisa menebak kenapa Nuna terlihat seperti itu tersenyum menatap ke arah Prawira. Tiba-tiba gadis itu teringat akan sahabat sekaligus pengacaranya, Bian keluar pagar sedikit menjauh dari pesta untuk menelpon Melanie. Ia meminta temannya itu datang, awalnya Melanie menolak dan berkata sedang pergi berkencan, tetapi Bian memaksa sampai akhirnya Melanie mengiyakan permintaannya.
Bian mematikan ponselnya, saat hampir berbalik untuk masuk ke dalam rumahnya kembali, seekor kucing angora berwarna putih abu-abu terlihat bermain dibawah kakinya. Gadis itu berjongkok sambil membelai lembut bulu kucing itu.
"Halo puss, kamu pasti kabur ya?" ucap Bian.
Samar terdengar suara seorang laki-laki memanggil sebuah nama, "Lico, hei Lico Lico."
Laki-laki itu mendekat ke arah Bianca yang memilih berdiri menggendong kucing itu, laki-laki itu dan Bian saling bersitatap dan melempar senyum. Tangan laki-laki itu mengadah meminta Bian untuk memberikan kucing bernama Lico itu kepadanya.