NovelToon NovelToon
YANG MULIA, MOHON JANGAN PAKSA AKU !

YANG MULIA, MOHON JANGAN PAKSA AKU !

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Istana/Kuno / Balas Dendam / Reinkarnasi
Popularitas:412
Nilai: 5
Nama Author: Bunga_Persik98

Ye Ning, putri sah Menteri Sayap Kiri, hanya ingin membangun kerajaan bisnis, mengumpulkan kekayaan, dan membawa kemakmuran bagi keluarganya. Namun semua menjadi berantakan ketika Tuan Muda Bai datang dan mengacaukan rencananya. Di saat yang sama, Putra Mahkota Li Yan, pria yang dahulu menolak perjodohan dengannya, tiba-tiba berkata bahwa ia akan menceraikan istrinya.

Di antara ambisi, cinta, dan pengkhianatan, Ye Ning harus memilih: tetap menjadi wanita pebisnis yang bebas atau terjerat dalam permainan politik yang mengancam keselamatan keluarganya.

Mampukah Ye Ning melindungi orang-orang yang dicintainya ketika dua pria paling berpengaruh di kekaisaran mulai menginginkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga_Persik98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 : TEROR MIMPI

Di sebuah jalan yang ramai, manusia berlalu-lalang. Terlihat seorang pria berpakaian lusuh, dekil, dan berjalan terseok-seok tanpa menggunakan alas kaki. Ia merintih,

"Lapar... lapar..."

tetapi tidak ada yang peduli padanya. Bahkan saat ia meminta belas kasihan kepada para pedagang makanan, tidak ada satu orang pun yang merasa kasihan. Ia malah diusir, dicaci maki, dan dihina sebagai pengemis kotor.

Saking laparnya, ia tidak melihat ada batu kecil di depan kakinya hingga menyebabkan dirinya terjatuh ke tanah yang berdebu. Ia terbatuk karena debu yang beterbangan akibat tubuhnya membentur tanah, lalu merasa sedikit putus asa. Namun, saat sedang meratapi nasibnya, dari atas kepalanya ia melihat sebuah tangan yang bersih dan cantik terulur ke arahnya.

Pria itu sedikit segan, tetapi tangan tersebut menarik lengannya dan membantunya berdiri. Lalu ia memandang wajah penolongnya dengan malu-malu. Betapa terkejutnya ia karena wajah itu terasa sangat familiar dalam ingatannya. Namun, karena penampilannya begitu kotor dan lusuh, wanita itu sama sekali tidak mengenalinya.

Tanpa banyak bicara, wanita tersebut memberikan sebungkus mantou dan sebotol air kepadanya.

"Habiskan, ya. Jika kamu butuh pekerjaan, kamu bisa datang ke keluarga Xiao."

Wanita itu tersenyum sambil menyerahkan sebuah token pengenal kepadanya.

Belum sempat pria itu mengatakan apa pun, dari belakang terdengar suara seorang pria memanggil wanita tersebut agar segera naik ke kereta.

"Ning'er, ayo naik. Kita harus ke utara."

Wanita itu menoleh ke belakang, melambaikan tangan kepada pengemis tersebut, lalu berlari menghampiri kereta.

Pria pengemis itu menatap nanar ke arah kereta yang perlahan menjauh. Setelah kereta itu menjauh, ia duduk disudut lorong dan membuka bungkusan mantou itu. Tiga mantou yang masih hangat dan besar, Li Yan langsung melahap mantou tersebut sambil menangis hingga tersedak.

Setelah menghabiskan dua mantou dan meminum airnya, tekat hidupnya mulai muncul. Ia menggenggam token pengenal itu dengan penuh harap, ia lalu berjalan menuju kediaman keluarga Xiao dan berharap setidaknya masih bisa hidup dan tidak kelaparan lagi.

Saat tinggal beberapa langkah lagi mencapai gerbang kediaman keluarga Xiao, ia ditabrak seseorang dan merasakan sesuatu menusuk perutnya. Ia meraba bagian itu dan melihat telapak tangannya dipenuhi darah.

Ia terkesiap dan tubuhnya mendadak limbung hingga jatuh ke tanah. Mantou yang tadi diterimanya berhamburan. Dengan air mata menetes, ia mencoba meraih makanan itu.

"Tidak..."

"TIDAKKKK!!"

Li Yan terbangun dari tidurnya dengan napas memburu. Wajahnya dipenuhi keringat.

"Yang Mulia... Yang Mulia, ada apa?" tanya Sun Ling dengan nada khawatir.

Li Yan terkejut melihat Sun Ling, lalu berteriak mengusirnya.

"KENAPA KAU DI SINI? PERGI! PERGI! WU AN! WU AN! USIR WANITA INI!"

Sun Ling terperanjat. Wu An segera masuk ke kamar dan memberi hormat kepada Sun Ling, kemudian memintanya keluar. Awalnya Sun Ling menolak, tetapi Wu An berkata bahwa saat ini Putra Mahkota tidak ingin diganggu.

Li Yan segera turun dari tempat tidurnya. Ia berjalan menuju teko teh di atas meja dan meminumnya dengan tergesa-gesa hingga sebagian air membasahi pakaiannya.

"Yang Mulia," sapa Wu An.

"Mulai sekarang aku tidak ingin wanita itu berada di kamarku. Kau mengerti?" perintah Li Yan.

Wu An mengangguk hormat, lalu menutup pintu dari luar dan membiarkan Li Yan beristirahat.

Sun Ling kembali ke kamarnya. Baru saja sampai, ia langsung menyapu jatuh seluruh teko dan cangkir teh di atas meja dengan sekali ayunan tangan.

"Aarrkhhh!!"

"Yang Mulia, tenang... tenang... jangan marah. Nanti Putra Mahkota mendengar," ujar pelayan pribadinya.

Mendengar itu, Sun Ling semakin kesal dan menyuruh pelayannya berlutut.

Wang Momo, pengasuhnya, datang. Melihat kekacauan itu, ia memerintahkan para pelayan di luar untuk membersihkan kamar, lalu menyuruh mereka semua pergi dan menutup pintu.

Saat suasana sudah sepi, Wang Momo bertanya dengan hati-hati.

"Yang Mulia, ada apa? Kenapa bisa semarah ini?"

Sun Ling menjawab,

"Sejak Li Yan bangun dari koma, ia seperti menjadi orang lain. Bahkan ia menatapku dengan jijik dan tidak ingin melihatku."

"Yang Mulia, sst.. Anda tidak boleh memanggil Putra Mahkota seperti itu," nasihat Wang Momo.

Sun Ling akhirnya menutup mulut dan mendengus pelan.

"Apakah Yang Mulia mengetahui sesuatu? Atau ia mulai mencurigai sesuatu?" tanya Wang Momo sambil berbisik.

"Tidak mungkin. Aku selalu melakukannya dengan rapi. Tidak mungkin ada yang bocor."

Mendengar itu, Wang Momo sedikit lega. Jika Li Yan mengetahui rencana Sun Ling, maka keluarga Putri Mahkota akan tamat.

"Bagaimana dengan gadis itu?" tanya Sun Ling.

"Oh, Putri Menteri Xiao? Sejak kejadian pembunuhan itu, ia sudah tidak pernah keluar rumah selama lima hari."

Sun Ling tersenyum tipis.

"Terus awasi dia. Laporkan semua pergerakannya kepadaku."

"Tapi bagaimana mungkin Yang Mulia menyukainya? Padahal sebelumnya beliau menolaknya demi Putri," ujar Wang Momo penasaran.

Sun Ling mendengus.

"Namanya juga lelaki. Selalu penasaran terhadap wanita. Apalagi gadis itu dekat dengan Bai Zhilan dan bahkan berteman dengan Li Wen."

Wang Momo hanya mengangguk pelan.

** Keesokan Harinya**

Li Yan sedang berlatih pedang bersama pengawal pribadinya saat Zhilan datang dan memberi hormat.

Li Yan menyuruhnya menunggu dan sengaja mengabaikannya selama hampir satu jam.

Namun, Zhilan tidak marah sama sekali. Ia hanya berdiri santai sambil mengamati latihan Li Yan dengan saksama.

Melihat Zhilan tetap tenang membuat Li Yan semakin kesal.

"Kenapa hidup ini tidak adil? Ia mendapatkan segalanya, baik kekuasaan maupun wanita sebaik Ye Ning."

Karena kesal, Li Yan melemparkan sebuah tombak ke arah Zhilan, lalu langsung menyerangnya dengan pedang.

Namun, Zhilan mampu menangkis serangan itu dengan baik.

Saat pedang hampir mengenai lengannya, Zhilan mundur selangkah dan menggunakan gagang tombak untuk menahan serangan tersebut.

Pertarungan berlangsung cukup sengit. Jika orang lain melihatnya, mereka mungkin mengira Putra Mahkota sedang berlatih dengan penuh semangat bersama Zhilan.

Namun, sambil menangkis serangan demi serangan, Zhilan tahu bahwa setiap serangan Putra mahkota dipenuhi oleh amarah.

Jika ia tidak cukup piawai menghindar dan bertahan, mungkin sekarang ia sudah terluka. Dan Putra Mahkota pasti akan berdalih bahwa semua itu hanyalah kecelakaan.

Li Yan terus menyerang tanpa henti, tetapi Zhilan tidak membalas sedikit pun. Ia hanya menghindar dan menahan setiap serangan.

Barulah Li Yan menyadari bahwa bukan hanya kemampuan pedang Zhilan yang luar biasa, tetapi kemampuan memainkan tombaknya pun sama hebatnya.

Akhirnya Li Yan menghentikan latihan itu. Ia bertepuk tangan sambil tersenyum.

"Kemampuanmu sungguh mengagumkan."

"Terima kasih, Yang Mulia. Anda hanya bermurah hati kepada saya," jawab Zhilan.

Li Yan hanya tersenyum, lalu mengajak Zhilan masuk ke dalam. Namun, saat berjalan lebih dulu, senyum di wajah Li Yan perlahan menghilang dan berganti dengan raut wajah datar dan dingin.

Sedangkan Zhilan, yang berjalan di belakangnya, sama sekali tidak dapat melihat perubahan ekspresi tersebut.

1
Marini Dewi
menarik
BUNGA PERSIK: Terima kasih atas supportnya ya 😍.. Aku senang sekali
total 1 replies
BUNGA PERSIK
Ini karya baru, mohon dukungannya. Maaf kalau masih agak berantakan, beneran masih newbie. 😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!