PERNAHKAH KALIAN MEMAKAN LOLIPOP?
BAGAIMANA RASANYA MANIS?
Eirina karamyka Aldirck seorang gadis manis yang menyukai lolipop.
MAU TAU KENAPA SUKA LOLIPOP?
NONTON LOLIPOP MANIS BY NILA EDRINA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 — RAHASIA PERTAMA
BAB 11 — RAHASIA PERTAMA
Malam semakin larut.
Jam dinding di kediaman keluarga Axlarta menunjukkan pukul 23.47.
Suasana rumah begitu sunyi.
Semua pelayan telah kembali ke kamar masing-masing.
Hanya suara angin malam yang sesekali terdengar dari luar jendela.
Di ruang kerja.
Mahendra masih duduk di kursinya.
Tatapan matanya terus tertuju pada secarik kertas yang berada di atas meja.
"Rahasia keluarga Aldrick akan segera terbuka."
"Siapa sebenarnya yang mengirim ini...?"
gumamnya pelan.
Tok...
Tok...
"Tuan."
Suara Asisten 01 terdengar dari balik pintu.
"Masuk."
Pintu terbuka perlahan.
"Asisten sudah menyelidiki kurir yang mengantar amplop tadi."
"Bagaimana hasilnya?"
"Kurir itu hanya disuruh seseorang. Ia juga tidak mengetahui siapa pengirimnya."
Mahendra menghela napas pelan.
"Lanjutkan penyelidikan."
"Baik, Tuan."
"Asisten juga menemukan satu hal lagi."
Mahendra mengangkat kepalanya.
"Apa?"
"Pria bertopi hitam itu terlihat beberapa kali berada di sekitar rumah sejak tiga hari terakhir."
"Tapi..."
"Ia sama sekali tidak mencoba masuk."
Mahendra mengernyit.
"Dia hanya mengawasi?"
"Iya."
Mahendra mulai berpikir.
Kalau pria itu ingin mencelakai Eiri...
Seharusnya ia sudah memiliki banyak kesempatan.
Namun kenyataannya...
Ia hanya mengawasi dari kejauhan.
"Jangan serang dia dulu."
"Awasi saja."
"Baik, Tuan."
Sementara itu...
Di kamarnya.
Eiri belum juga bisa tidur.
Ia duduk di dekat jendela sambil memandangi langit malam.
Tangannya masih memegang lolipop yang belum habis.
"Kenapa ya..."
"Aku merasa hidupku berubah begitu cepat."
Beberapa hari yang lalu...
Ia masih berjualan permen di pinggir jalan.
Kini...
Ia sudah menjadi istri seorang CEO.
Semua terasa seperti mimpi.
Tok...
Tok...
"Eiri."
Suara Mahendra terdengar dari luar kamar.
"Masuk saja."
Mahendra membuka pintu.
"Aku lihat lampumu masih menyala."
Eiri tersenyum kecil.
"Aku belum mengantuk."
Mahendra berjalan mendekat.
"Apa kepalamu masih sakit?"
"Sudah lebih baik."
Mahendra mengangguk lega.
"Lain kali kalau sakit, bilang padaku."
Eiri menatap wajah pria itu beberapa detik.
"Tuan..."
"Hm?"
"Kenapa Anda selalu mengkhawatirkanku?"
Mahendra tersenyum tipis.
"Karena sekarang kamu istriku."
Jawaban itu membuat pipi Eiri memerah.
"I-istirahatlah."
Mahendra segera keluar sebelum dirinya mengatakan lebih banyak.
Di balik pintu...
Ia menghela napas panjang.
"Hampir saja..."
Ia nyaris mengatakan bahwa alasan sebenarnya jauh lebih dalam daripada sekadar status suami istri.
Keesokan paginya.
Sinar matahari menerangi taman.
Eiri berjalan sendirian sambil membawa buku resep yang diberikan Marchel.
"Kalau aku bisa membuka kafe lagi..."
"Aku ingin membuat tempat yang lebih bagus."
Ia tersenyum kecil.
Tiba-tiba...
Seekor anak kucing putih muncul dari balik semak.
"Meong..."
Eiri langsung berjongkok.
"Halo..."
Ia mengelus kepala kucing itu dengan lembut.
Tanpa sadar...
Seseorang memperhatikannya dari balkon lantai dua.
Mahendra.
Sudut bibirnya terangkat.
"Dulu juga begitu..."
"Kamu selalu berhenti kalau melihat kucing."
Kenangan lama kembali terlintas.
Seorang gadis remaja memaksa Mahendra berhenti di tengah perjalanan hanya karena ingin memberi makan anak kucing.
Mahendra tersenyum sendiri.
"Tidak banyak yang berubah darimu."
Di ruang tamu.
Marchel baru saja datang membawa beberapa dokumen.
"Pagi!"
Melveri yang sedang membaca majalah menoleh.
"Pagi."
"Kau datang lagi?"
"Tentu."
Marchel tertawa.
"Aku bosan di kantor."
Melveri menggeleng sambil tersenyum.
"Kau memang tidak berubah."
Saat itu...
Eiri masuk ke ruang tamu sambil membawa secangkir teh.
"Pagi."
"Pagi."
Mereka bertiga duduk bersama sambil mengobrol ringan.
Tanpa sadar...
Melveri memperhatikan wajah Eiri.
Semakin lama...
Semakin terasa familiar.
"Aneh..."
gumamnya.
"Kenapa, Kak?"
tanya Eiri.
"Tidak..."
"Hanya saja..."
"Kamu mengingatkanku pada seseorang."
"Seseorang?"
"Iya."
"Waktu aku masih kecil."
Melveri mencoba mengingat.
Namun bayangan itu kembali kabur.
Ia hanya bisa melihat seorang anak perempuan kecil yang tertawa sambil memegang lolipop.
"Itu saja..."
Sore hari.
Di sebuah gudang tua di pinggir kota.
Pria bertopi hitam akhirnya membuka topinya.
Wajahnya mulai terlihat jelas.
Dialah Rivan Arkendra.
Di hadapannya terbentang banyak foto lama.
Foto Melveri.
Foto Marchel.
Foto Eiri.
Rivan menatap ketiga foto itu satu per satu.
"Kalian akhirnya berkumpul lagi..."
"Tapi..."
"Kalian sendiri belum menyadarinya."
Ia kemudian membuka sebuah map tua.
Di dalamnya terdapat surat wasiat milik ayah Eiri.
Rivan mengepalkan tangannya.
"Aku berjanji..."
"Akan menyelesaikan semua ini."
Namun sebelum sempat menutup map tersebut...
Sebuah panggilan telepon masuk.
"Ya."
Suara dari seberang terdengar pelan.
"Mereka mulai bergerak."
Rivan langsung berdiri.
"Kalau begitu..."
"Aku juga harus bergerak."
Telepon ditutup.
Tatapan Rivan berubah tajam.
Sementara itu...
Di kediaman Axlarta.
Mahendra berdiri di depan jendela ruang kerjanya.
Entah mengapa...
Hatinya merasa tidak tenang.
Ia memiliki firasat...
Bahwa sebuah rahasia besar...
Akan segera mengubah kehidupan mereka semua.
Bersambung ke BAB 12 — Tamu Tak Diundang.