Nial Percy adalah seorang CEO tampan dengan reputasi dingin, tertutup, dan selalu memegang kendali—tidak pernah melibatkan perasaan dalam hidupnya. Segalanya terukur. Hingga suatu malam, ia meminta satu hal pada orang kepercayaannya: Mencarikan seorang wanita dengan kriteria tertentu. Tanpa ikatan. Tanpa emosi. Untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun takdir menyelipkan sesuatu yang tak ia rencanakan. Queen Lexian Arresta—Gadis cantik dari keluarga terpandang yang tengah terjebak dalam perjodohan yang menyesakkan—tanpa sengaja mendengar percakapan itu. Dan dalam satu keputusan yang berani sekaligus nekat, ia menawarkan dirinya.
Apa yang seharusnya menjadi pertemuan tanpa makna justru menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit. Cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noire 23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Mobil mewah Nial terus melaju membelah jalanan kota Paris hingga akhirnya berbelok memasuki kawasan residensial elite yang sangat familier bagi Queen.
Di ujung jalan, gerbang besi menjulang tinggi milik mansion Axel Arresta sudah terlihat. Namun, atensi Queen seketika tersita oleh sebuah mobil sedan hitam mewah yang berada tepat di depan mereka.
Jantung Queen berdesir liar saat mengenali pelat nomor mobil tersebut. Penjaga gerbang tampak membungkuk hormat, membuka pagar lebar - lebar dan mempersilakan mobil itu masuk.
"Itu mobil Axel." gumam Queen. Kakaknya rupanya baru saja kembali dari suatu tempat.
"Aku tahu."
Queen menoleh, "Aku turun disini saja." tangannya refleks memegang sabuk pengaman. Namun, terlambat.
Ketika kalimat itu baru saja lolos dari bibir ranumnya, Nial justru mengulas senyum tipis. Alih - alih mengerem, kaki tegap pria itu justru menginjak pedal gas, melesat mulus melewati gerbang dan memasuki pelataran mansion mewah Axel tanpa beban sama sekali.
"Nial!" Queen menegang.
Citt.
Mobil sport Nial berhenti dengan presisi tinggi tepat di belakang mobil Axel yang baru saja mati mesinnya.
Melalui kaca depan yang jernih, Queen bisa melihat dengan jelas sosok kakaknya, Axel, melangkah turun dari pintu kemudi.
Pria itu mengancingkan jas formalnya, lalu gerakannya mendadak terhenti. Mata tajam Axel langsung melirik dingin ke arah mobil asing di belakangnya.
Ketakutan Queen semakin membubung. Ia buru-buru memutar tubuh menghadap Nial, bersiap membuka pintu. "Jangan membuka pintu untukku, aku bisa sendiri."
Nial melepaskan cengkeramannya dari setir, lalu bersandar santai pada kursinya. Ia menoleh lambat, menyunggingkan sebuah senyum miring yang luar biasa angkuh dan mematikan.
"Kalau begitu ... cium aku."
"Apa?!" Queen terkesiap, matanya membelalak sempurna.
Nial ini gila atau bagaimana? Jelas-jelas Axel masih berdiri di luar sana, hanya berjarak beberapa meter dari mobil mereka!
"Kau gila? ada Axel diluar."
"Aku tidak peduli," seolah keberadaan Axel Arresta di luar sana hanyalah angin lewat. Nial memajukan tubuhnya, memangkas jarak hingga tatapan elangnya mengunci mutlak manik mata Queen yang bergetar. "Atau ... mungkin aku harus menyapa Axel."
Queen meneguk ludah samar. Mengingat watak Nial yang tidak pernah main - main dengan ucapannya, Queen tahu pria ini benar - benar bisa nekat. Dengan jantung yang bertalu ekstrem dan pipi yang merona hebat, Queen akhirnya bergerak maju. Ia mendaratkan kecupan kilat di bibir Nial, bermaksud langsung menarik diri dalam hitungan detik.
Namun, Nial Percy bukan pria yang mudah dipuaskan.
Sebelum Queen sempat mundur, tangan kekar Nial sudah bergerak kilat mencengkeram tengkuk wanita itu. Ia memperdalam ciuman mereka selama beberapa detik—sebuah kecupan yang dalam, basah, dan penuh penekanan posesif, seolah sengaja ingin meninggalkan jejak binar merah di bibir Queen sebelum wanita itu turun.
"Nial—" Queen terengah saat Nial akhirnya melepaskannya dengan seringai puas.
"Turunlah." bisik Nial, ibu jarinya mengusap sudut bibir Queen yang sedikit basah.
Queen tidak menjawab. Dengan kesadaran yang hampir melayang dan wajah sewarna kepiting rebus, ia segera membuka pintu mobil dan turun, mencoba bersikap seberani mungkin di bawah tatapan mengintimidasi dari kakaknya.
Brak.
Begitu Queen berdiri di samping mobil, Axel langsung melangkah lebar menghampirinya. Tatapan Axel luar biasa tajam, bergantian menatap bibir Queen yang sedikit bengkak dan sosok pria di balik kemudi yang kini perlahan menurunkan kaca mobilnya.
Atmosfer di pelataran mansion itu seketika drop hingga ke titik beku. Dua pria dominan dengan aura kekuasaan yang sama - sama pekat kini saling melempar pandangan sedingin es.
"Kau diantar pulang oleh pria itu?" tanya Axel, suaranya rendah dan sarat akan nada menginterogasi, namun matanya tetap terkunci pada Nial.
Sebelum Queen sempat menjawab pertanyaan kakaknya, Nial sudah lebih dulu mematikan mesin, melepas sabuk pengamannya, dan membuka pintu kemudi.
Sosok tegapnya yang dibalut kemeja hitam kasual langsung menguarkan aura dominasi yang begitu pekat.
Queen memejamkan mata sejenak saat melihat Nial melangkah dengan tenang mengitari mobil lalu berhenti tepat dihadapannya dan Axel.
"Pria ini memang suka sekali mencari masalah." Jerit Queen dalam hati.
"Selamat pagi, Moretti." sapa Nial. Ia memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana, lalu mengulas sebuah senyum tipis yang tampak begitu angkuh sekaligus mematikan. "Akhirnya kita bisa bertemu secara langsung setelah sekian lama saling bertukar 'salam' lewat pergerakan saham."
"Moretti?" Queen mengernyitkan dahi dalam - dalam.
Ketegangan mencekam yang dibangun Nial buyar dalam sekejap saat Queen mendadak melangkah lebar, menghampiri pria itu lalu menggeplak pelan lengan kekarnya.
Ia sedikit berjinjit, menarik kerah kemeja Nial agar pria itu merunduk, lalu berbisik dengan nada mengomel yang tertahan.
"Aku tahu kau orangnya nekat, tapi aku tidak menyangka kau akan seberani ini sampai mengubah nama kakakku," desis Queen bersungut - sungut, menatap Nial dengan wajah sebal. "Namanya Axel, bukan Moretti atau apa pun itu. Jangan berulah di depannya!"
Nial yang mendapat geplakan dan omelan spontan itu seketika terdiam. Sudut bibirnya berkedut samar, menahan tawa sekaligus tidak habis pikir dengan kepolosan wanitanya yang sama sekali tidak tahu kalau 'Moretti' adalah sebutan kakaknya di dunia bawah.
"Masuklah, sweetheart. Di luar dingin."
"Jangan mengalihkan pembicaraan."
Sementara itu, Axel tetap mempertahankan wajah lempengnya yang sedingin es. Mendengar bisikan adiknya yang masih bisa tertangkap jelas oleh indra pendengarannya, Axel hanya memberikan anggukan yang teramat tipis pada Nial.
Sorot mata tajamnya kemudian beralih penuh pada Queen, "Masuk, Queen. Sekarang,"
Mendadak, ia tampak tertarik untuk berbicara berdua dengan pria di hadapannya itu.
"Baiklah, aku akan masuk. Tapi ingat ya!" Queen, menunjuk Axel dengan jari telunjuknya. "Axel, jangan coba - coba memukulnya. Aku sangat benci melihat wajah tampan Nial babak belur."
Mata Axel seketika membelalak, tidak percaya adiknya justru mengkhawatirkan wajah pria lain di depan kakaknya sendiri.
Belum sempat Axel protes, Queen sudah berbalik dan mengacungkan jarinya tepat di depan Nial.
"Dan kau, Nial! Jangan berani - berani menyentuh Axel. Kalau wajah kakakku sampai lecet sedikit saja, aku ... aku akan diomeli oleh istrinya."
Nial yang tadinya memasang wajah garang mendadak tertegun. Sudut bibirnya berkedut samar, menahan tawa akibat ancaman konyol wanitanya yang justru terdengar sangat menggemaskan di situasi ini.
"Intinya jangan buat babak belur wajah satu sama lain." Tanpa memedulikan dua pria alpha yang kini mendadak linglung karena ultimatumnya, Queen berbalik, dan melangkah lebar masuk ke dalam mansion sembari mengomel pelan. "Semoga dua pria keras kepala itu mengerti apa yang aku bilang tadi."
•••
"Apa yang mereka bicarakan?"
Dibalik pintu kayu mahoni yang kokoh, sosok yang baru saja mengancam Nial dan Axel, terlihat sedang sibuk sendiri.
Queen sama sekali tidak melangkah ke kamar. Begitu pintu tertutup rapat, ia langsung memutar tubuhnya secepat kilat.
Dengan gerakan super senyap, ia menempelkan seluruh permukaan telinga kanannya ke daun pintu, sampai pipinya ikut tertekan rata. Kedua tangannya terangkat, mencengkeram sisi pintu demi menjaga keseimbangan tubuhnya yang kini agak menungging.
"Kenapa pintu ini tebal sekali, sih?!"
Queen memejamkan mata, menajamkan seluruh indra pendengarannya demi menangkap getaran suara dari luar.
Sayangnya, yang terdengar hanyalah keheningan mutlak dan sesekali suara desau angin Paris yang menerpa salju.
Karena terlalu fokus mencari frekuensi suara di luar, Queen sama sekali tidak menyadari sayup - sayup langkah kaki yang mendekat dari arah pelataran.
Cklek.
Gagang pintu mendadak bergerak turun.
Jantung Queen seolah merosot ke lambung. Sebelum otak cerdasnya sempat memerintahkan tubuhnya untuk kabur, pintu mahoni besar itu sudah didorong ke dalam dengan kuat.
Brak!
"Aduh!"
Gubraakk!
Tubuh Queen mendarat dengan posisi setengah tiarap yang sangat tidak estetik di atas lantai marmer foyer.
Axel Arresta berdiri tegak di ambang pintu, sebelah tangannya masih memegang knop. Pria itu menunduk datar, menatap adik perempuannya yang kini hampir mencium lantai.
"Queen Lexian, apa yang kau lakukan?" tanya Axel, suaranya terdengar luar biasa lempeng tanpa riak.
Queen meringis pelan, buru - buru bangkit dan merapikan pakaiannya. Wajah cantiknya seketika merona merah padam karena malu setengah mati. Otaknya berputar ekstrem, mencari alasan paling logis di dunia agar harga dirinya tidak terjun bebas di hadapan sang kakak.
"Kau tahu, Axel ..." Queen menunjuk ke arah pintu. "T—tadi ... tadi aku melihat ada makhluk hitam besar yang berjalan di sela - sela pintu! Aku berniat menghadangnya agar tidak masuk ke dalam, tapi kau malah mendobrak pintu dari luar."
"Makhluk hitam besar?" Axel menaikkan sebelah alisnya, nada suaranya sarat akan sindiran halus. "Aku tidak tahu kalau adikku sekarang merangkap profesi jadi dukun pengusir makhluk halus,"
"D—dukun?" Queen hampir tertawa.
"Ya, dan aku punya ide!" sahut Axel lempeng, sama sekali tidak ada riak bercanda di wajah tampannya.
Queen meneguk ludah samar. "I–ide apa?"
"Kurasa kau harus segera mendaftarkan diri ke acara Ghost Hunter itu."
Queen berkedip bingung. "Apa?"
"Ghost Hunter." Axel mengulang dengan tenang. "Mereka biasanya membutuhkan orang yang bisa melihat keberadaan makhluk misterius yang tidak terlihat orang lain."
"Dengar ya, aku tidak bilang itu hantu!"
"Tapi kau juga tidak bilang itu manusia."
"Itu cuma ... makhluk hitam!"
"Menarik." Axel menyelipkan kedua tangan ke saku celananya. "Di luar sedang turun salju, suhu mendekati nol derajat, dan satu-satunya saksi mata makhluk hitam besar itu adalah dirimu."
Queen mulai merasa jebakan logika itu semakin sempit.
"Lupakan, itu mungkin kucing."
"Kucing sebesar apa?"
Queen terdiam.
Axel melanjutkan tanpa ampun. "Atau mungkin beruang?"
"Paris tidak punya beruang!"
"Nah, itu sebabnya aku menyarankanmu mendaftarkan diri ke acara Ghost Hunter."
Queen menatap kakaknya tidak percaya.
"Kenapa kau terdengar sangat serius saat mengejekku?"
Axel menggeleng tipis. "Aku tidak mengejek. Aku mendukung karier barumu."
"Karier baru apanya?" Queen tidak bisa menahan tawanya.
"Queen Lexian, pemburu entitas hitam misterius." Axel mengucapkannya dengan nada formal layaknya pembawa berita. "Memiliki kemampuan khusus mendeteksi makhluk gaib dari balik pintu mansion setebal sepuluh sentimeter.'"
"AXEL!"
"Jangan lupa mencantumkan kemampuan tambahanmu."
Queen menyipitkan mata curiga. "Kemampuan apa?"
"Menguping tanpa mendapatkan informasi apa pun."
Pria itu melangkah melewati Queen begitu saja, namun kalimat berikutnya sukses membuat Queen ingin tenggelam ke dasar bumi. "Lagipula, menguping dengan cara menempelkan kuping ke kayu setebal sepuluh senti tidak akan membuatmu mendengar pembicaraan kami, Queen. Kami bicara di dekat mobil, bukan di depan pintu."
Queen yang tertangkap basah seketika melongo. Namun, bukan Queen namanya jika langsung menyerah kalah begitu saja. Ia berkacak pinggang sembari membalas tatapan menyindir kakaknya dengan wajah super tidak terima.
"Aku tidak berniat menguping. Aku cuma berjaga - jaga! Lagipula, tidak mungkin juga kau dan Nial mengobrol pakai peredam suara di luar sana? Suara bas kalian itu menggelegar seperti guntur, harusnya bisa terdengar sampai ke dalam sini!"
Axel menghentikan langkahnya sejenak, menoleh sedikit ke belakang dengan tatapan tak habis pikir mendengar logika konyol adiknya.
"Peredam suara itu untuk pistol, Queen. Bukan untuk pita suara," sahut Axel, lalu kembali melanjutkan langkah lebarnya menuju ruang tengah.
"Masa bodoh! Intinya aku tidak menguping!" Queen menjatuhkan diri ke sofa tepat di sebelah Axel. "Sebagai adik yang baik, aku hanya ingin memastikan tidak ada ucapan Nial yang menyakitimu."
Axel yang sedang mengambil segelas air hanya melirik sekilas. "Jadi?"
Queen berkedip. "Jadi apa?"
"Kau ingin tahu apa yang kami bicarakan."
"Tidak. Eh ... ya, maksudku ... sedikit."
Axel mengangguk pelan. "Lalu kenapa tidak langsung bertanya?"
Queen langsung menegakkan punggungnya. "Aku akan tanya sekarang. Apa yang kalian bicarakan?"
Axel menyesap airnya dengan tenang. "Kami membahas bisnis."
"Oh."
"Investasi."
"Oh."
"Pasar saham."
"Baiklah." Queen mulai kecewa.
"Dan hubunganmu dengan Nial."
Tubuh Queen langsung bergerak maju beberapa senti. "Apa yang kau katakan?"
Axel meletakkan gelasnya di atas meja. Dengan santai. "Aku menyuruhnya mengakhiri hubungannya denganmu."
Deg!
Queen membeku.
Selama beberapa detik, ruang keluarga terasa sunyi. Lalu—
"APA?!" Teriakan Queen menggema sampai ke lorong lantai dua.
udah seminggu belum update😂😂😂😂
lanjut thor🥰🥰🥰
lanjut thor😄👍makin seru liat nial🥰