Satu malam dengan seorang Mafia sama dengan maut?
Myra Mahira tak pernah menyangka liburan singkat di Bali akan mempertemukannya kembali dengan Al—anak laki-laki menyebalkan yang dulu menghilangkan cincin peninggalan ibunya.
Namun Al bukan lagi bocah badung yang ia kenal. Kini ia adalah Silas Al Wolfe, pria tampan, dingin, dan penuh rahasia yang mampu membeli apa pun dengan kekuasaan dan uang.
Saat hidup Myra hancur karena hutang 500 juta, Silas menawarkan jalan keluar yang tak pernah ia bayangkan.
Sebuah kesepakatan yang seharusnya berakhir dalam semalam berubah menjadi pernikahan yang tak pernah Myra inginkan. Dibawa ke New York membuatnya tahu siapa Silas Al Wolfe sebenarnya.
Bagi Silas, Myra bukan sekadar istri. Dia adalah obsesi yang tak akan pernah ia lepaskan.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OMM — BAB 06
WHO ARE YOU, SILAS?
Sebisa mungkin Myra menahan senyumnya saat dia memiliki harapan yang besar. -‘Ayo marahlah dan habisi aku, agar aku tidak perlu ikut denganmu. Ayo...’ batinnya saat kedua matanya semakin melebar gugup ketika Silas melangkah mendekat.
Wajah tampannya yang garang dan angkuh itu menelusurinya. Namun sedetik kemudian, tangan kanannya terangkat, ibu jarinya mengusap sisa muntahan di sudut bibir Myra.
“Mereka akan membawakan mu obat.” kata pria itu yang kembali berbalik dan berjalan menaiki tangga jet berwarna putih itu.
Myra memejamkan matanya. Ia pikir pria itu benar-benar akan marah dan menendangnya pergi. “Menyebalkan.” gumamnya pelan.
Dari ambang pintu masuk jet. Pria kemeja hitam dengan noda muntahan di bagian belakangnya itu, menoleh seolah menunggu Myra yang benar-benar mengikuti langkahnya.
Dengan wajah malas dan kesal, wanita itu menatap sinis Silas tanpa peduli akan tatapan anak buah Silas yang begitu mengancam.
“Minggir!” kesalnya hingga menerobos kasar sisi tubuh Silas.
Pria itu hanya menatapnya datar hingga langkah Myra terhenti saat di dalam jet pribadi itu para pria sangar duduk memenuhi hampir keseluruhan kursi dan menatap ke arah Myra yang nampak tegang.
Wanita itu menelan ludah, kedua matanya terbuka lebar penuh keraguan hingga ia reflek bergerak mundur namun punggungnya menabrak dada Silas.
“Why?”
Ia langsung berbalik menatap gugup sekaligus marah ke pria itu.
“Ak-aku tidak bisa ikut. Kursinya sudah penuh.” ucapnya.
Sekilas Silas menatap ke anak buahnya yang masih duduk di sana, lalu kembali menatap Myra.
“Kursi kita ada di depan. Jangan khawatir, mereka anak buah ku. Mereka akan patuh padamu selagi kau menjadi seorang betina yang baik.”
Tatapan Myra begitu mematikan. Penuh amarah dan kebencian namun Silas tak peduli dan masih menunggu hingga Myra terpaksa berbalik badan lalu berjalan maju melewati mereka semua.
Sementara Silas mengikutinya dari belakang dengan langkah santai.
-‘Siapa kau sebenarnya.’ pikir Myra yang tak peduli lagi hingga ia segera mempercepat langkahnya lalu duduk di kursi vip. Meski sedikit kesusahan karena kedua tangannya yang terikat ke belakang.
Silas menoleh, menatapnya lalu berjalan melewatinya ke arah kamar mandi. Meraih bathrobe putih dari tangan seorang pelayan cantik di sana.
Myra melihat semua itu. Ia mencoba melepaskan ikatan di tangannya.
“Excuse me!” panggilnya ke sang pelayan yang akhirnya menatapnya, lalu Myra tersenyum sehingga pelayan tadi menghampirinya.
“Anda butuh sesuatu, Nyonya?”
“Ya. Bisa kau melepaskan ini? Tolong.” pintanya penuh harapan sembari menunjukkan kedua tangannya yang masih diikat.
Dengan wajah ragu dan takut. Pelayan itu menggeleng. “Maafkan aku, Nyonya. Aku tidak bisa, permisi.”
“Hei, Hei! Wait, please— ”
Myra menggertak saat pelayan tadi pergi begitu saja dan tidak peduli. Sementara kini, dia benar-benar akan terjebak.
“Aku harus apa?” ia mencoba tetap tenang meski nafasnya memburu.
Tak sesekali Myra menoleh ke arah jendela yang hanya ada pemandangan awan saja. Meski pemandangan pertama kali dari dalam pesawat, tetap saja Myra merasa tertekan.
Ia bersandar memejamkan matanya.
Tak lama Silas datang dan duduk di sampingnya hanya mengenakan bathrobe putih. Namun pria itu terlihat lebih segar dari sebelumnya.
Seolah tak peduli. Myra masih enggan membuka mata.
“Kau tidak akan bisa tidur.” ucap Silas terus terang seraya menoleh, menatapnya datar.
Myra tak menjawab, seakan-akan dia benar-benar tidur. Namun Silas tak kenal kekalahan. Pria itu memberi isyarat ke pelayan untuk datang membawa sebotol wine.
Pelayan itu juga berlutut sembari menuangkan wine itu sehingga belahan dadanya nampak menyumbul keluar.
“Thanks.” ucap datar Silas yang meraih gelas tersebut, sementara pelayan tadi melangkah pergi seraya tersenyum.
Keheningan hanya berlaku beberapa detik saja saat Myra mulai mendengar suara Silas yang melontarkan kata-kata menjijikan.
Saat Myra mencoba mengintip dari ekor matanya. Ia terkejut dan langsung memejamkan matanya lagi. -‘Dia benar-benar gila.’ pikirnya.
Sadar akan hal itu. Silas meliriknya, menyeringai licik lalu menyuruh wanita cantik itu turun dari pangkuannya dan pergi.
-‘Apa sudah selesai? Atau mereka pindah?’ batin Myra yang mulai berkerut alis.
Tak lama tubuhnya menegang, jantungnya berdegup kencang ketika sebuah tangan kekar membelai dari pundak polosnya ke bawah dan hampir menyentuh dadanya saat melewati, lalu turun ke pinggang.
Hendak menyingkir, tangan Silas langsung menarik lengan Myra lebih dekat.
“Sikapmu membuatku semakin menyukai mu. Bagaimana jika aku mendengarkan suaramu sekali lagi.” bisiknya penuh sensual hingga Myra membuka matanya dengan wajah marah.
“Menjijikkan. Lepaskan aku!”
Pria itu melepaskannya dan masih menahannya sambil tersenyum devil disaat Myra marah dan kesal.
Bukannya melepaskannya. Dengan nakal, tangan kanan Silas bergerak menyentuh leher Myra, mengusapnya lembut dan menggoda hingga tubuh Myra panas dingin, terbuai dalam sentuhan-sentuhan itu.
Seperti seseorang yang hilang sadar. Myra memejamkan matanya dengan bibirnya terbuka saat tangan Silas semakin turun dan turun menyentuh area-area sensitifnya.
“Hahh~ ”
Nafas Myra mengalun pelan.
Sementara Silas memperhatikannya begitu lekat dan dekat. Saat hampir menyentuh area terlarangnya, Myra langsung menunduk dengan nafas tersengal.
“Please.... No..” pintanya samar-samar dengan suara suaranya yang serak, tidak berdaya. “Aku mohon hentikan. Hentikan...”
Pria itu menatapnya diam. Gerakan tangannya berhenti sebelum benar-benar menyentuh area itu.
Tatapan mereka bertemu cukup lama. Sehingga tangan Silas kembali menyentuh leher Myra dan mencium bibir ranumnya cukup dalam.
Seperti wanita yang lelah. Myra hanya pasrah menerima ciuman serta lumatan tersebut.
Dan benar saja. Silas melepaskannya, kembali duduk tegap menatap lurus sembari sesekali meneguk segelas wine. Sedangkan Myra hanya diam menatap lurus penuh rasa prihatin pada dirinya sendiri.
“Setelah 18 tahun cincin itu hilang, dan sekarang kau datang dengan tingkah yang lebih menyebalkan.” sindir Myra menyeringai miris menoleh ke arah jendela.
Silas mendengarnya. Ia hanya menoleh sejenak saja.
“Setidaknya aku bukan pria seperti yang kau kencani.” balas Silas yang masih menatapnya tanpa berpaling sehingga Myra yang kaget ia menoleh, lalu dia tersenyum tak percaya.
“Kau benar-benar membuntutiku?” tegasnya. “Who are you?”
Dengan menatap penuh amarah, Myra masih duduk namun badannya hampir sepenuhnya menghadap ke arah Silas.
Pria itu meletakkan gelas wine nya, tak lama ia menoleh, menatap datar dan tajam sehingga Myra langsung gelagapan sendiri.
“I know you.... ” kata Silas dengan mode serius. “... Itu sebabnya aku membawamu.”
Pria itu kembali menatap lurus. “Jangan berpikir ingin tahu siapa diriku sekarang. Aku yakin kau tidak akan menyukainya.”
Mendengar itu, Myra tak bisa berkata-kata selain diam memperhatikan wajah pria itu dari samping.
Hidung, mata, alis, semuanya masih sama. Namun sikapnya sedikit berubah.
Myra menoleh ke kanan, ke arah kursi belakang, dimana para pria sangar masih ada di sana. Dan mereka semua adalah anak buah Silas yang kini membuat Myra curiga hingga berkerut alis tanpa berpaling menatap wajah tampan Silas.