Baru saja menikah dengan suaminya, malam itu kedua ayah dan ibu mertuanya meninggal dunia usai menghadiri pernikahan Khadijah dan Revan.
Revan yang tidak terima dengan kematian orangtuanya menyalahkan Khadijah sebagai pembawa sial dalam keluarganya.
"Siapapun yang ada di dekatmu menjadi tumbal dalam kehidupanmu. Dari kedua orangtuamu tewas karena dirimu dan sekarang kedua orangtuaku juga meninggal di malam pengantin kita.
Mulai detik ini aku bersumpah akan menjadikan kamu budak di rumahku bukan lagi istriku. Apakah kamu paham?!" teriak Revan membuat gadis bercadar itu hanya bisa menangis pasrah.
Bagaimana kisah cinta mereka? apakah Revan sama sekali tidak mencintai istrinya hingga kehadiran seorang pria lain?
Khadijah tidak menginginkan masuk dalam keluarga kehidupan Revan yang merupakan putra dari seorang Sultan. Jika bisa memilih, ia ingin menikah dengan seorang pria idamannya yang merupakan putra kyai di mana dulu ia menuntut ilmu di sebuah pesantren yang ada di Suraba
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sindya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Makin Cinta
Sesaat Khadijah terdiam dengan tubuh yang hampir limbung kalau tidak dipegang kedua lengannya oleh suaminya. Revan mengajak Khadijah duduk di bangku taman. Ia kembali memeluk gadisnya yang terlihat syok namun tidak bisa menangis.
"Menangislah sayang atau kamu mau marah, marah saja....! Kalau bila perlu pukul aku atau tampar aku asalkan kamu tidak pergi dariku dan mematung seperti ini. Itu yang membuatku takut." Revan tidak sabar menunggu reaksi istrinya.
Tatapan mata Khadijah nanar ke depan lalu bangkit berdiri menuju ke dalam rumahnya. Revan hanya mengikutinya. Sepertinya Khadijah tidak ingin disentuh olehnya.
Khadijah menuangkan minuman air putih dari teko bening yang tersedia di atas meja makan lalu meminumnya beberapa teguk dengan membaca doa. Berulang kali gadis itu beristighfar.
Seakan sedang perang batin dengan dirinya saat ini antara marah, kecewa, sedih atau memaafkan, itu yang sedang berkecamuk di hati dan pikirannya saat ini.
Khadijah beralih ke kamar dan mengambil wudhu lalu sholat dua rakaat. Revan hanya memperhatikan tingkah istrinya seakan sedang menenangkan hatinya dengan ibadah sholat.
Usai sholat, Khadijah membaca Alquran dan ada bagian ayat yang membuat hatinya bergetar Khadijah akhirnya menangis. Revan mendekatinya memeluk wanitanya dengan tubuh yang masih terbalut mukena.
"Khadijah. Aku minta maaf atas kesalahan ayahku yang menyebabkan kamu menderita."
Khadijah menyeka air matanya lalu menatap wajah suaminya. Ia meletakkan kembali Al-Qur'an di tempatnya.
"Jangan menyalahkan dirimu atas kesalahan ayah mertuaku. Takdir memang merenggut nyawa kedua orangtuaku melalui ayahmu. Mungkin dengan cara itu, kita bisa dipertemukan.
Ayahku sangat hebat karena dia yakin pada ayahmu hingga menitipkan aku padamu. Kepada orang yang tepat untuk menjagaku seumur hidupnya. Aku berterimakasih pada Allah atas takdirNya, Allah telah mengirim kamu untukku," tutur Khadijah.
"Ya Allah....Khadijah! Hatimu terbuat dari apa? Aku hampir mati ketakutan tapi kamu dengan sabar memaafkan aku. Masya Allah," balas Revan makin pedih hatinya.
"Justru akulah yang seharusnya bersyukur dan berterimakasih pada ayahmu yang memberikan kamu pada pria berengsek sepertiku yang tidak tahu malu dan tidak tahu diri," lanjut Revan makin merasa bersalah namun rasa cintanya pada sang istri makin bertambah.
"Sudahlah sayang...! Jangan terlalu dipikirkan apa yang sudah terjadi...! Yang kita pikirkan saat ini bagaimana kita bisa memperbaiki kehidupan kita yang lebih baik lagi untuk ke depannya.
Manusia memang tempatnya salah dan khilaf. Yang tidak kenal dosa hanyalah malaikat. Kalau aku berharap menikah dengan pria sempurna, aku harus jadi malaikat dulu untuk mendapatkan malaikat juga. Sementara suamiku bukan malaikat tapi manusia," ucap Khadijah menenangkan hati suaminya.
"Masya Allah. Kamu makin membuatku merasa sangat tidak berharga di hadapanmu, Khadijah. Aku janji akan membahagiakanmu," ucap Revan lalu kembali memeluk istrinya.
"Terimakasih suamiku. Jangan sedih lagi ya, sayang ..! sekarang kamu tidak balik ke perusahaan lagi kan?" tanya Khadijah.
"Tidak sayang. Aku ingin bekerja di rumah saja menemani kamu. Kecuali ada yang penting, aku baru ke perusahaan," ucap Revan.
"Alhamdulillah. Akhirnya aku tidak kesepian. Kalau begitu, ayo temanin aku masak...! Aku mau masak makan siang untuk kita," ajak Khadijah yang saat ini sudah merasa lebih tenang setelah menunaikan sholat mutlak dua rakaat dan membaca Alqur'an.
Rasa sakit yang sempat menyesakkan dadanya tadi, hilang entah kemana. Allah mengangkat kesusahan hatinya yang pernah ia lewati di masa kecilnya. Sudah cukup dia menderita. Sekarang saatnya ia menatap hidupnya bersama pria pilihan ayahnya.
Terima atau tidak, beginilah skenario Allah mempertemukan jodoh hambaNya. Sakit memang namun akhirnya akan digantikan Allah dengan kenikmatan. Dan kamulah salah satu dari semua kenikmatan yang Allah berikan.
"Masya Allah. Ampunilah aku ya Allah telah kufur atas nikmat yang Engkau limpahkan padaku karena keangkuhanku. Lindungi dan sayangilah istriku. Dan pertemukan kami lagi di surgaMu nanti, ya Allah," batin Revan.
Ketika masak bersama, Khadijah selalu saja bercerita hal-hal yang lucu. Keduanya terkekeh seakan tidak pernah ada kejadian yang menyakitkan sebelumnya.
Setelahnya itu keduanya menikmati makan siang mereka dengan kembali terdiam. Jika Khadijah merasa tidak ada beban, jangan harap Revan merasakan hal yang sama dengan Khadijah.
Dia malah ingin menangis dan menjerit saat ini. Akhlak Khadijah yang sangat mulia karena memaafkannya begitu mudah membuat ia belum sepenuhnya merasa lega.
"Apakah kebaikan Khadijah adalah salah satu hukuman untukku?" batin Revan.
"Tangan kamu harus diterapi terus supaya cepat pulih...! Aku ingin sekali digendong oleh kamu seperti di film-film romantis itu saat kita bulan madu nanti," pinta Khadijah dengan nada manja.
"Temani aku ke rumah sakit setelah makan siang ya..!" pinta Revan.
"Iya sayang. Dengan senang hati. Tapi, apakah aku boleh minta sesuatu kepadamu?"
"It's ok. Katakan saja sayang...! Apapun akan aku lakukan untukmu selama itu logis," ucap Revan antusias.
"Maukah kamu menjadi imam sholatku?" pinta Khadijah.
"Mulailah dari sholat, insya Allah kita akan mendapatkan rahmat Allah. Tanpa Rahmat Allah, apapun yang kita lakukan menjadi sia-sia," lanjut Khadijah.
Revan menggaruk kepalanya lalu beralih mengusap lehernya yang terasa sangat kaku. Khadijah menautkan alisnya melihat perubahan sikap Revan.
"Apakah kamu tidak bisa sholat?"
"Aku hanya tahu tiga surah dan setiap bacaan gerakan sholat, aku tidak bisa," jujur Revan.
"Kalau begitu, sholat lah berjamaah di mesjid sambil belajar bacaan sholat," pinta Khadijah.
"Apakah kamu mau ajarin aku belajar sholat yang sempurna, sayang?"
"Insya Allah." Mengangguk sambil tersenyum.
Tidak lama kemudian azan dhuhur berkumandang. Khadijah segera ke kamarnya untuk menyiapkan baju koko untuk suaminya.
"Ayo ikuti aku, sayang...! Kita mulai dengan wudhu yang sempurna. Dari wudhu bisa menentukan kualitas sholat kita," ajak Khadijah.
Selang beberapa menit kemudian, Revan sudah mengenakan perlengkapan sholat dan berangkat ke mesjid tidak jauh dari rumahnya. Ia harus melewati jalan samping dapur karena lebih dekat dengan rumahnya ketimbang gerbang utama.
Setiap langkah kita menuju mesjid Allah menghitung setiap langkahnya berpahala. Besarnya satu pahala satu ke pahala saja jaraknya 500 tahun di akhirat.
Khadijah menunaikan sholat dhuhur sendirian di rumah. Khadijah merasakan berkah yang luar biasa ketika dia berusaha sekuat tenaga melawan dirinya sendiri dan memaafkan apa yang dilakukan oleh ayah mertuanya. Ia mendoakan keduanya hingga Allah mengangkat sakit hatinya apa lagi dendam di hatinya.
Di mesjid, Revan sedang khusu berdoa usai sholat. Imam mesjid yang sangat mengenal Revan mendekatinya. Melihat Revan yang terlihat begitu sedih membuat sang imam ikut kepo.
"Assalamualaikum, nak Revan...!" menepuk bahunya Revan lembut.
"Waalaikumuslam pak ustadz...!" Menyalami tangan pak ustadz Adi.
"Apa yang membuatmu datang ke mesjid. Selama ini bapak tidak pernah melihatmu ke mesjid. Apakah ada yang membuatmu tiba-tiba melangkah ke rumah Allah?" tanya ustadz Adi.
Revan mencurahkan isi hatinya dari pernikahannya dengan Khadijah hingga kecelakaan yang menimpa kedua orangtuanya Khadijah. Ustadz Adi mendengarnya dengan baik.
"Apakah karena itu kamu menangis?" tanya ustadz Adi.
"Iya ustadz. Istriku sudah memaafkan ayahku dan aku, tapi mengapa hatiku masih saja diliputi rasa bersalah walaupun bukan aku pelakunya. Hanya saja aku memperparah kondisi kejiwaannya istriku ketika aku dipaksa menikah dengannya," ucap Revan sambil terisak.
Mendengar pertanyaan Revan, ustadz Adi menasehati suami dari Khadijah ini.
"Bersyukurlah kepada Allah karena istrimu sangat tahu kalau batinmu tidak tenang kala ia sudah memaafkanmu. Itulah sebabnya ia memintamu sholat karena Allah yang akan membolak-balikkan hatimu. Belajarlah cara istrimu menyikapi masalah dengan mendekatkan diri pada Allah.
Itulah mengapa sholat dan sabar menjadi solusi yang terbaik yang Allah sendiri tawarkan bahkan diperintahkan langsung dalam Alquran pada hambaNya," jelas ustadz Adi membuat Revan mulai paham.
"Sekarang, pulanglah..! Kalau kamu berlama-lama di sini, istrimu akan cemas..! Ayo kita pulang bersama...!" ajak ustad Adi.