NovelToon NovelToon
Legacy Of Soryu: In The Name Of Love And Blood

Legacy Of Soryu: In The Name Of Love And Blood

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Istana/Kuno / Balas Dendam
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: AzhuraAstra

Sembilan belas tahun lalu, Ryuichi Soryu ditemukan tewas dengan cara yang mengguncang jagat dunia bisnis Indonesia.

Berita kematiannya menjadi tajuk utama di seluruh kanal media pada saat itu, memicu kepanikan massal hingga membuat saham-saham di bawah naungan Soryu Group terjun bebas ke titik terendah.

Polisi menutup kasus itu dengan dalil "perampokan biasa" sebuah narasi yang tak masuk akal bagi siapa pun yang mengenal konglomerat berdarah Jepang itu.

Yang membuat kasus pembunuhan itu semakin terlihat jangal adalah tak ada satupun barang berharga yang hilang, tak ada satu pun saksi mata dikejadian perkara, seolah nyawa sang konglomerat hilang begitu saja.

Bagi sang putra, kematian ayahnya itu bukan sekadar tragedi. Itu adalah luka yang membekas di hidupnya selamanya.

Sekarang dirinya sedang mencari sang pelaku dan menyeretnya menuju kehancuran yang setimpal dengan apa yang dia dan ayahnya rasakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

𖣂|Bab 4 Keluarga Adama yang Aneh|

...|Legacy of Soryu|...

...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...

Pengeras suara mall tiba-tiba berbunyi. Nama Nabhila Hera Adama terdengar jelas menggema di seluruh area.

Nana langsung berdiri. "Itu nama aku."

"Iya," jawab Davian sambil ikut bangkit. "Ayo, saya antar."

Bara tetap duduk. Ia meletakkan gelas tehnya di meja, lalu mengambil rokok dari dalam saku jasnya.

Nana menoleh ke arahnya. "Makasih banyak ya, Om."

"Hmm."

Nana mengerucutkan bibir. "Itu 'hmm' yang mana lagi?"

"Yang artinya pergi sebelum orang tuamu menunggu terlalu lama."

Nana menahan senyum kecil. Namun sebelum berbalik, ia malah kembali menatap Bara beberapa detik lebih lama.

"Aneh deh..." gumamnya pelan.

"Apa lagi?" tanya Bara datar.

Nana tampak ragu sesaat, lalu tersipu malu. "Om sebenarnya ganteng, loh. Tapi sayangnya jomblo!"

Davian langsung batuk kecil, berusaha menahan tawanya.

Sementara Bara terdiam beberapa detik, ekspresinya berubah dari datar ke kaku.

Nana yang mulai malu buru-buru membuang muka. "Yaudah, aku pergi dulu! Bye-bye, Om ganteng!"

Davian malah menyeringai tipis. "Wah, Wakadanna ternyata masih laku juga ya!"

Bara melotot. "Diam, Davian."

"Saya cuma terharu, Wakadanna. Biasanya orang takut duluan sebelum sempat memuji Anda."

"Kalau kau masih bicara sepatah kata lagi, kuputus bonusmu bulan ini."

Davian langsung berdeham formal. "Baik, Wakadanna. Saya memilih diam."

Nana yang berjalan di depan akhirnya gagal menahan tawa kecilnya sambil menutupi wajah yang mulai memerah.

...-Ruang Pusat Informasi-...

...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...

Di depan ruangan pusat informasi, seorang ibu paruh baya langsung maju sebelum Nana benar-benar berhenti berjalan.

"NANA!"

Ibu Nana—seorang wanita dalam balutan dress putih bermotif bunga, dengan rambut disanggul rapi, ia langsung memeluk putrinya erat-erat. Tangannya menggenggam punggung Nana seolah takut putrinya akan hilang lagi.

"Kamu kemana saja?! Mama telepon berkali-kali!"

"Ponselku ketinggalan di mobil, Ma."

"Kamu tahu Mama sampai minta tolong security? Mama pikir kamu..." Suara ibunya pecah, ia tidak jadi menyelesaikan kalimatnya.

"Maaf, Ma. Maaf..."

Di samping sang ibu, berdiri seorang pria muda dengan kedua tangan terselip di saku jaket kulitnya. Rambut hitamnya yang sedikit panjang terlihat berantakan. Ia memiliki garis rahang yang tegas dan alis tebal yang saat ini terangkat, menampilkan ekspresi antara lega, kesal, dan amarah yang tertahan.

"Nana," panggilnya dengan suara berat.

"Kak Shu—"

"Tadi kamu ke mana saja?" Shu memotong cepat.

"Aku..."

"Aku meneleponmu sampai dua puluh kali."

"Ponselku ketinggalan di—"

"Di mobil. Iya, Mama sudah mengatakannya." Shu menatap adiknya dengan sorot mata seorang kakak yang terlalu lelah untuk marah, namun terlalu lega untuk tetap bersikap dingin.

"Kamu ini benar-benar selalu membuat orang khawatir."

"Maaf, Kak."

"Hanya maaf?"

"Maaf sekali."

"Nana..."

"Maaf sekali, sangat minta maaf!"

Shu mengembuskan napas panjang. Ia mengangkat tangannya dan menepuk kepala adiknya satu kali sebagai bentuk teguran sekaligus perhatian.

"Lain kali, jika ingin pergi ke mana pun, beri tahu kami lebih dulu. Kamu sudah dewasa, seharusnya mengerti posisi Mama dan Papa yang sangat mengkhawatirkanmu."

"Iya, Kak," jawab Nana pelan.

Di belakang mereka, Ayah Nana berdiri sedikit terpisah dari anggota keluarga lainnya. Ia mengenakan kemeja batik dengan rambut yang mulai memutih di bagian pelipis. Sejak awal, matanya mengamati Davian sebelum akhirnya beralih pada sosok yang berdiri di kejauhan.

Bara rupanya telah menyusul dan kini berdiri sekitar tiga meter di belakang Davian. Dengan kedua tangan tersembunyi di saku celananya, ia mempertahankan ekspresi wajah yang datar dan tidak terbaca.

Selama dua detik, tatapan antara Ayah Nana dan Bara bertemu secara langsung. Ayah Nana kemudian segera mengalihkan pandangannya kembali kepada Nana. Gerakan tersebut tidak terlihat natural sama sekali; perpindahan pandangannya terlalu cepat dan tampak seperti upaya sengaja untuk memutus kontak mata dengan Bara.

Bara mencatat reaksi tersebut dalam diam.

Ibu Nana perlahan melepaskan pelukannya, meski kedua tangannya masih bertumpu pada bahu sang putri. Ia menoleh ke arah Davian dengan mata yang masih tampak berkaca-kaca.

"Terima kasih ya, Mas. Sudah mau nolong Nana."

"Saya hanya bantu membawa Nana ke sini, Bu," kata Davian dengan senyum yang ramah dan profesional. "Tapi yang pertama kali menemukan dan menolong Nana itu atasan saya." Dia menoleh sedikit ke belakang. "Tuan Baraziven Soryu."

Ibu Nana mengikuti arah pandangannya. Bara berdiri di sana, tidak bergerak sama sekali.

"Oh!" Ibu Nana melangkah maju. Tangannya sempat terangkat seolah hendak menjabat tangan Bara, namun sempat ragu sejenak setelah melihat ekspresi Bara yang datar dan dingin. Akhirnya ia hanya membungkuk kecil.

"Terima kasih banyak, Mas. Saya benar-benar berterima kasih. Kalau tidak ada Mas, putri saya tidak tahu—"

"Tidak perlu," kata Bara datar.

"Tapi..."

"Sudah selesai. Yang penting dia tidak kenapa-kenapa."

Ibu Nana tersenyum canggung. "Iya. Iya, syukurlah." Dia menoleh ke suaminya. "Ayah, ini Mas yang nolong Nana tadi."

Ayah Nana berjalan mendekat hanya beberapa langkah. Matanya menatap Bara, kali ini jauh lebih lama. Dan di dalam tatapan itu seperti ada sesuatu yang sulit dijelaskan.

"Terima kasih," katanya.

"Tidak perlu," ulang Bara.

Ayah Nana tidak menambahkan apa pun. Tangannya hanya bergerak ke bahu istrinya-sebuah isyarat halus, hampir tak terlihat. Tapi Bara melihatnya.

"Kita pulang," kata ayah Nana ke istrinya. "Sekarang."

Ibu Nana mengangguk. "Iya, ayo." Dia menoleh lagi ke Davian, lalu ke Bara. "Sekali lagi terima kasih."

"Mama, nanti di jalan aja." Shu sudah berjalan ke arah yang berbeda, satu tangan di punggung ibunya.

Ibu Nana menurut. Mereka mulai berjalan menjauh. Nana, yang sedang ditarik pelan oleh kakaknya, menoleh ke belakang.

"MAKASIH YA, OM!" suaranya nyaring menembus keramaian. "SEMOGA CEPET DAPET JODOH!"

"NANA." Shu menarik lengannya lebih keras.

Nana menutup mulutnya, tapi dari jarak yang semakin jauh, masih terlihat bahwa bibirnya membentuk kata-kata yang ditahan oleh tangan Shu yang sudah naik menutupi separuh wajahnya.

Davian berdiri di samping Bara, mereka sempat terdiam beberapa detik. "Wakadanna," katanya akhirnya.

"Hmm."

"Anak itu bicaranya ngawur banget."

"Hmm."

"Itu 'hmm' setuju?"

Bara tidak menjawab. Tapi di sudut bibirnya ada lengkungan sangat tipis yang berlangsung hanya kurang dari satu detik.

Davian memperhatikannya. "Wakadanna.... Anda senyum?"

"Tidak."

"Saya lihat sendiri loh!"

"Sepertinya kau perlu kacamata baru."

"Saya pakai kacamata ini saja!"

"Sepertinya minusnya susah bertambah."

Davian menghela napas. Dia meluruskan kacamatanya yang sebenarnya tidak perlu diluruskan. "Baik, Wakadanna."

"Tapi saya lihat sendiri tadi."

"Davian."

"Iya, Wakadanna. Saya akan diam."

***

Mata Bara masih terpaku pada satu titik di tengah keramaian yang kian menjauh yaitu punggung ayah Nana.

Pria berkemeja batik itu berjalan di samping istrinya, meletakkan satu tangan di punggung bawah sang istri sembari sedikit menundukkan kepala. Bagi orang awam, itu adalah postur seorang suami yang protektif. Namun bagi Bara, ada anomali dalam interaksi singkat mereka tadi.

Tatapan pria itu bukan sorot mata seorang ayah yang berterima kasih kepada penolong anaknya. Itu adalah tatapan seseorang yang mengenali sesuatu dari masa lalu, namun terperangkap dalam keraguan untuk meresponsnya.

Bara sedikit mengerutkan kening. "Davian."

"Ya, Wakadanna?"

"Adama Group," ujar Bara sembari memasukkan tangannya ke saku jas. "Berapa lama mereka beroperasi di Jakarta?"

Davian segera mengakses data di tabletnya. "Berdasarkan catatan publik, perusahaan itu berdiri sekitar dua puluh lima tahun yang lalu. Namun, akselerasi bisnis mereka baru terlihat sangat signifikan dalam sepuluh tahun terakhir."

Bara tidak langsung menanggapi. Sesuatu di pikirannya mulai bekerja, menyusun kepingan informasi yang terasa tidak selaras.

"Cari tahu lebih dalam mengenai latar belakang keluarga ini," perintah Bara.

"Dalam rangka apa, Wakadanna? Kerja sama bisnis atau hal lain?"

"Informasi saja."

Davian melirik ke arah keluarga Adama yang kini telah hilang di balik pintu keluar. "Bukan karena gadis tadi kan, Wakadanna?"

"Bukan."

"Syukurlah. Karena kalau benar karena dia, saya hanya ingin mengingatkan bahwa dia mendoakan Anda cepat dapat jodoh. Jadi saya pikir—"

"Davian."

"Baik, Wakadanna. Investigasi keluarga Adama akan segera saya proses."

Bara memutar tubuhnya. "Kita pulang sekarang."

Davian berjalan di belakang, jemarinya sibuk mengetik instruksi pada tablet.

Di depannya, Bara melangkah dengan wajah yang kembali dingin dan kaku. Namun di balik ekspresi datar itu, dua pikiran besar sedang beradu di dalam kepala Bara.

Pertama, tatapan Ariessendy Adama yang terlalu sarat akan pengenalan untuk ukuran orang asing.

Kedua, sosok yang sembilan belas tahun lalu membunuh ayahnya. Setelah sekian lama tidak meninggalkan jejak, orang yang sama kini terdeteksi mulai bergerak kembali dengan target yang jelas: Bara Soryu.

1
Alia Chans
Hadir Thor
Komen pertama , like + bunga🌹 , semangat😉
AzhuraAstra: Terimakasih 🫡
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!