Rose tidak menyangka jika selama sepuluh tahun ia telah menikah dengan mahluk gaib dan memiliki anak dari pernikahan mereka.
Mungkinkah itu yang membuat Rose Akhirnya susah mendapatkan jodoh di dunia nyata???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Ruqyah
Aku berjalan mengendap-endap meninggalkan rumah agar ibu tidak melihatku.
Kupecepat langkahku menuju ke sungai yang tidak jauh dari rumahku. kuambil kalung kecil berwarna hitam dan segera akan kulemparkan namun tiba-tiba seseorang menariknya dan mengambilnya dari tanganku.
"Jangan bodoh Ros, kamu sudah dibutakan cinta mahluk astral itu, kalau kau terus menerus seperti ini maka kau sendiri yang akan menderita, sadarlah!" hardik lelaki tua itu
Aku hanya diam menatap lelaki yang kini menarikku dan membawaku pulang kerumah.
**Wuushhh!!
Angin kencang berhembus membuat bambu-bambu yang ada di sekitar sungai bergoyang-goyang membuat suana menjadi mencekam.
Mbah Kliwon segera melepaskan tanganku dan duduk bersila sambil membaca mantera.
Sebuah bola api berhasil menghantam tubuh Mbah Kliwon hingga terhempas mengenai pohon bambu.
"Keluarlah kau mahluk kep*rat!, aku tahu kau datang untuk membawa pergi istrimu bukan, jangan mimpi, langkahi dulu mayatku!" ancam Mbah Kliwon
Kulihat beberapa mahluk halus mulai menampakkan dirinya didepan Mbah Kliwon, lelaki itu seperti kewalahan melawan makhluk-makhluk hitam dan berbulu itu.
"Pergi dari sini Ros, cepat!!" teriak Mbah Kliwon
Aku bingung antara menolong lelaki tua itu atau pergi meninggalkannya. Namun aku tidak tega melihat makhluk astral itu mengeroyok lelaki tua itu.
Aku berusaha mengumpulkan keberanian dan ku tarik lengan Mbah Kliwon dan membawanya lari bersamaku.
"Kau tidak usah menolongku Ros, aku tidak papa, yang penting kau cepatlah pulang karena kalau mahluk itu berhasil membawamu sekarang maka kau tidak akan bisa kembali untuk selamanya, pakailah kalung ini dan pergilah!" ucapnya sambil memberikan Jimat yang tadi akan aku buang aku segera memakai kalung itu dan berlari meninggalkan Mbah Kliwon
Laki-laki itu kembali tersungkur dan memuntahkan darah segar ketika sesosok mahluk yang lebih besar dan menyeramkan muncul dan menyerangnya dengan kilatan cahaya berwarna merah.
"Jangan pergi Ros!" teriak seseorang menahan langkahku, aku segera menoleh kearah suara yang aku kenal.
Aku tersenyum dan segera berlari menghampiri suamiku Barra.
"Pergi Ros!!, dia tidak seperti yang kau lihat, dia Gondoruwo!, pergi!!" teriak Mbah Kliwon membuatku menghentikan langkahku dan menatap lekat lelaki tampan didepanku yang badannya mulai ditumbuhi bulu-bulu panjang.
"Kau bukan Mas Bara," ucapku lirih dan pergi berlari meninggalkan tempat itu.
**Aarrgghh!!!
Ku dengar erangan Mbah Kliwon, namun aku berusaha menutup telingaku agar aku tidak iba dan kembali menolongnya.
"Apa kau akan meninggalkan aku Ros, aku Barra suami kamu, pulanglah bersamaku karena rumahmu bukan disini, tapi di istanaku," ucapnya mencoba meraih tanganku
Akan tetapi seperti ada kekuatan yang membuatnya terpental ketika menyentuhku.
"Buang kalung itu Ros, buang!!" perintah Barra
Aku seperti terhipnotis tatapan mata itu, dan berusaha mengeluarkan kalung itu dari leherku.
**Greep!!
Seseorang langsung menarik lenganku, membuat Mas Barra menjadi murka.
Ia kemudian mengeluarkan sebuah bola-bola api untuk menyerang Sunny, tapi dengan tenang pemuda itu langsung membaca ayat kursi sehingga membuat suami gaibku berteriak kepanasan.
"Hentikan dia Ros!!" teriak Barra
Kulihat wajahnya sudah menghitam, begitu juga dengan mata dan tubuhnya, aku menagis dan mulai iba padanya.
"Hentikan Sun!" ucapku memohon
Sunny menghentikan bacaannya dan kini menggenggam jemariku erat.
"Harusnya kamu sadar Ros, walaupun dia itu suami kamu tapi kalian berbeda alam jadi mustahil untuk kalian bisa bersama, bukan hanya manusia yang menentang pernikahan kalian tapi alam juga tidak merestui hubungan kalian, sadar Ros!" ucapnya membuatku semakin terisak
"Sekarang pulanglah," ujar Sunny dan mengajakku pulang.
Setibanya dirumah, kulihat Kyai Abdullah dan para santrinya sudah datang kerumahku.
"Assalamualaikum," sapaku lesu
"Waalaikum salam,"
Ibu segera menyambutku dan menggandengku menemuimu Kyai Abdullah.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu bisa pulang dengan selamat, sekarang kamu mandi dulu setelah itu ambil air wudhu," tutur Kyai Hasan
Aku hanya mengangguk dan ibu mengantarku menuju kamar mandi.
Selesai mandi aku langsung menemui Kyai Hasan.
"Pakai mukena itu!"
Aku segera memakai mukena yang sudah dipersiapkan oleh Kyai Hasan, dan aku duduk didepan mereka.
Acara Ruqyah pun dimulai, ku dengar suara lantunan ayat-ayat suci mulai dibacakan, membuat kepalaku terasa sakit, dan sangat sakit. Setelah aku mengalami sakit kepala yang cukup menyiksaku kini kurasakan rasa mual yang membuatku ingin memuntahkan seluruh isi perutku.
"Huek...hueek!!" aku berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkan isi perutku namun rasanya susah sekali
"Ayo keluarkan Ros, keluarkan semuanya!" ucap Kyai Abdullah sambil terus berdoa
Ibu kemudian membantuku memijit tengkuk dan pundakku.
"Minumlah!" ucap Kyai Abdullah memberikan segelas air putih padaku.
Segera ku habiskan air itu hingga membuat perutku kembali mual dan akhirnya aku bisa memuntahkan sesuatu yang hampir mirip dengan ari-ari (plasenta bayi).
Rasanya tubuhku sangat lemas sekali setelah mengeluarkan benda itu hingga membuatku tidak sadarkan diri.
"Bangun Ros, bangun!!" ku rasakan ibu menepuk-nepuk pipiku untuk menyadarkan aku
"Haus," ucapku lirih
Sunny datang membawakan segelas air untukku dan aku langsung meminumnya sampai habis.
"Selama Ros tinggal bersama mahluk itu pastilah dia sudah memakan makanan dari dunia gaib, dan sekarang semuanya sudah berhasil dikeluarkan, semoga setelah ini Ros akan kembali hidup normal seperti yang lainnya," ku dengar suara Kyai Hasan berbicara dengan ibuku
"Jangan lupa selalu mandi dengan air Bidara dan berikan minuman ini padanya, selalu isi ulang botolnya dan jangan sampai habis baru diisi," ucap Kyai Abdullah pada ibuku
"Jika Air dan sabun Bidaranya habis segera hubungi ustadz Yahya, karena hanya dia yang menjualnya," ucap Kyai Abdulloh
"Terus Ros gimana Pak Kyai?" tanya Ibu
"Sebentar, biar Ustadz Yahya akan memeriksa kondisi Ros dulu, monggo Tadz," ucap Kyai Abdulloh
Seorang Ustadz muda menghampiriku dan duduk di sebelahku.
"Bangunlah, dan sekarang buka matamu!" ucapnya lirih
Aku segera membuka mataku dan jantungku seperti hendak meloncat keluar ketika melihat mahluk menyeramkan didepanku.
"Sekarang mata batin kamu sudah aku buka, supaya kamu bisa melihat wujud asli suami kamu," ucapnya menunjuk makhluk yang sangat menyeramkan didepanku.
Walaupun akhir-akhir ini aku sering melihat penampakan makhluk-makhluk gaib, namun mahluk ini lebih menyeramkan dari yang sebelumnya.
"Dia adalah Barra Aryo Kusumo, putra dari Raja Jin yang menguasai Rumah Belanda, lihatlah wajah aslinya Ros," tambahnya lagi
Aku menatap sekilas makhluk yang menatapku sendu itu, walaupun wujudnya begitu menyeramkan tapi tatapannya padaku begitu lembut, dan hanya Barra yang memiliki tatapan itu.
"Sekarang apa kamu masih ingin hidup bersamanya atau kau ingin lepas darinya?" tanya ustadz Yahya membuatku terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan darinya.
"Sekarang lihatlah wanita disebelahnya!" perintahnya lagi
"Dia adalah Sukma Melati Permaisuri permaisuri suamimu!" ucapnya lagi
Aku melihat sesosok wanita berambut panjang dengan wajah pucat dan mata menghitam. Ia bukan lagi Sukma yang cantik yang dulu aku lihat, tapi sesosok kuntilanak dengan wajah yang menyeramkan.
"Sekarang saya tanya sekali lagi apa kau masih ingin hidup bersama mahluk astral itu atau kau ingin lepas darinya!" tanyanya dengan nada tinggi
"Apa kau mau berbagi suami dengan mahluk halus itu, apa kamu mau jadi pelakor yang merebut suami Sukma melati?" tanyanya membuat luka dihatiku kembali menganga, mengingat pernikahan Barra dan Sukma yang begitu membuatku merasa sakit hati.
"Sekarang katakanlah, jangan hanya menangis," ucapnya membuat aku semakin sedih
"Jawab Ros, katakan kau ingin lepas dari suami astralmu itu, katakan Ros," ucap ibu
Ku tatap wajah ibuku, dan satu persatu semua yang ada disana, dan terakhir ku tatap sosok mahluk halus didepanku. Saat aku menatap Sukma aku melihat tatapan penuh kebencian padaku, namun berbeda dengan Barra dia seperti masih ingin bersamaku, dia tidak ingin aku meninggalkannya, tatapan matanya seakan berkata padaku agar aku kembali padanya.
rindu kok sama genderuwo