NovelToon NovelToon
Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / CEO / Selingkuh / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:42k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna mengira pernikahan 28 tahunnya hanya sedang lelah. Sampai ia melihat Hendra, suaminya, memeluk sekretaris muda di rumah sakit, bersama anak laki-laki yang memanggilnya Papa.
Selama ini Ratna bekerja diam-diam, mengurus mertua, anak, menantu, dan cucu, sementara uang keluarga mengalir ke apartemen perempuan lain.
Saat semua orang mengira Ratna terlalu tua untuk melawan, ia justru bangkit. Dengan bantuan Arga Wijaya, CEO dingin yang tak pernah banyak bicara, Ratna mulai merebut kembali harga dirinya.
Tapi semakin jauh ia melangkah, semakin banyak rahasia keluarga yang terbongkar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17 - Rumah yang Kehilangan Napas

Hendra pulang ke rumah setelah putusan dengan langkah berat.

Tidak ada aroma masakan.

Tidak ada suara Ratna dari dapur.

Tidak ada gelas teh hangat di meja kecil dekat sofa.

Rumah itu masih sama. Sofa yang sama. Jam dinding yang sama. Foto keluarga yang sama. Tapi entah kenapa terasa seperti tempat yang ditinggalkan setelah banjir surut. Barang-barang ada, tapi napasnya hilang.

Mama Sulastri duduk di ruang tengah, wajahnya ditekuk.

"Bagaimana?"

Hendra melepas sepatu.

"Sudah putus."

Mama Sulastri terdiam.

Raka yang duduk di meja makan langsung berdiri.

"Jadi benar-benar cerai?"

Hendra tidak menjawab. Ia berjalan ke dapur, membuka tudung saji. Kosong.

"Makan malam?"

Maya muncul dari kamar Bima.

"Aku pesan online. Tapi Mama Sulastri tidak mau makan karena katanya terlalu pedas."

Mama Sulastri langsung menyahut, "Memang pedas! Dulu Ratna tahu Mama tidak bisa makan sembarangan."

Maya menghela napas.

"Ma, aku sudah tanya tadi mau makan apa. Mama diam."

"Kamu menantu tidak peka."

Maya menutup mata sebentar.

Raka memijat pelipis.

"Sudah, jangan ribut."

Mama Sulastri memukul sandaran sofa.

"Ini semua karena ayahmu terlalu lembek. Harusnya dari awal Ratna diseret pulang. Perempuan kalau dibiarkan melawan, begini jadinya."

Hendra menatap ibunya.

"Ma, cukup."

Mama Sulastri terkejut.

"Kamu membentak Mama?"

"Aku lelah."

"Mama juga lelah! Sejak Ratna pergi, Mama tidak ada yang urus. Obat berantakan, makan tidak cocok, cucu rewel. Rumah seperti kapal pecah."

Kalimat itu membuat Hendra menoleh ke seluruh ruangan.

Ya.

Rumah itu memang berantakan.

Ada mainan Bima di lantai. Piring bekas makan siang masih di wastafel. Plastik belanja belum dibuang. Baju Raka menumpuk di kursi.

Dulu semua itu tidak pernah terlihat.

Bukan karena tidak ada.

Karena Ratna membersihkannya sebelum siapa pun menyadari.

Maya tiba-tiba berkata, "Mungkin memang selama ini kita terlalu bergantung pada Mama Ratna."

Raka menatapnya tajam.

"Kamu lagi-lagi mulai."

"Aku cuma bilang kenyataan."

"Kenyataannya Mama meninggalkan kita."

Maya tertawa pendek.

"Mas, Papa punya keluarga lain. Mama Ratna yang ditinggalkan duluan."

Raka terdiam.

Hendra menutup mata.

Ia tidak ingin mendengar itu dari menantunya. Namun ia tidak bisa membantah.

Bima keluar dari kamar membawa boneka kecil.

"Papa, Nenek Ratna kapan pulang?"

Raka berjongkok.

"Nenek... Nenek tinggal di tempat lain dulu."

"Kenapa? Bima nakal?"

"Tidak, Sayang."

Bima mulai menangis.

Maya langsung memeluknya.

Hendra melihat cucunya menangis dan merasa sesuatu menekan dadanya. Ia ingin menyalahkan Ratna. Ingin berkata Ratna tega pada anak kecil.

Tapi gambar di kepalanya berubah.

Alif memeluknya di rumah sakit.

Bima menangis di rumah.

Dua anak itu sama-sama memanggil keluarga yang tidak utuh.

Dan pusat semua kekacauan itu adalah dirinya.

Malamnya, setelah semua orang masuk kamar, Hendra duduk sendirian di meja makan. Ia membuka pesan pada Ratna.

Kolom chat mereka penuh pesan tak terjawab.

Ia mengetik.

"Ratna, rumah berantakan. Bima mencarimu."

Ia menghapus.

Terlalu menyalahkan.

Ia mengetik lagi.

"Aku tahu aku salah. Kita bisa bicara sebagai orang tua Raka?"

Ia menatap kalimat itu lama, lalu mengirim.

Centang dua.

Tidak dibalas.

Hendra menunggu.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Tiga puluh menit.

Tidak ada jawaban.

Akhirnya satu pesan masuk.

Bukan dari Ratna.

Dari Maya.

"Pa, mulai besok aku dan Bima tinggal sementara di rumah Mama. Aku butuh tenang. Mas Raka boleh ikut kalau mau bicara baik-baik, tapi aku tidak mau Bima terus melihat orang dewasa bertengkar."

Hendra berdiri dari kursi.

"Raka!"

Raka keluar dengan wajah panik setelah membaca pesan yang sama.

"Maya, kamu serius?" teriaknya ke arah kamar.

Maya keluar membawa koper kecil.

"Serius."

"Kamu mau meninggalkan aku juga?"

"Aku tidak meninggalkan. Aku menjaga anakku."

Mama Sulastri muncul dari kamar.

"Perempuan zaman sekarang gampang sekali pulang ke rumah orang tua. Tidak tahan sedikit."

Maya menatapnya.

"Maaf, Ma. Saya belajar dari Mama Ratna. Kalau terus ditahan, nanti saya juga hancur."

Mama Sulastri seperti ditampar.

Raka meraih koper itu.

"Maya, jangan begini."

"Mas, aku capek. Kamu boleh datang bicara kalau sudah bisa melihat masalah tanpa menyalahkan ibumu."

"Dia tetap ibuku."

"Dan aku tetap istrimu. Bima tetap anakmu. Tapi selama ini yang kamu bela hanya kenyamananmu."

Raka terdiam.

Bima keluar sambil memegang tas kecil. Matanya merah.

"Papa ikut?"

Raka seperti tersedak.

Maya tidak memaksa.

"Mas boleh pikirkan."

Ia membawa Bima keluar. Raka berdiri di tengah ruang, tidak mengejar. Mungkin karena gengsi. Mungkin karena bingung.

Hendra melihat pintu tertutup.

Satu per satu orang pergi.

Ratna.

Maya.

Bima.

Rumah itu semakin kosong.

Mama Sulastri duduk lemas di sofa.

"Hendra, kamu harus bawa Ratna pulang."

Hendra menatap ibunya.

Untuk pertama kalinya, ia tidak yakin itu mungkin.

Ponselnya bergetar.

Foto masuk dari salah satu teman reuni. Ratna tampak berdiri bersama Bu Laras dan Arga di restoran. Wajah Ratna tenang. Di sampingnya, Arga menatapnya dengan cara yang membuat Hendra ingin menghancurkan ponsel.

Temannya menulis:

"Hen, mantan istrimu kelihatan beda banget sekarang. Kamu yakin rela?"

Hendra menggenggam ponsel sampai buku jarinya putih.

Rela?

Ia tidak pernah berpikir perlu rela.

Selama ini Ratna selalu ada. Seperti meja. Seperti lampu. Seperti dinding rumah.

Baru setelah hilang, ia sadar benda yang dianggap biasa ternyata menahan seluruh bangunan.

Hendra menutup mata.

Dan untuk pertama kalinya setelah perceraian itu sah, ia merasa takut.

Ia mencoba menelepon Clara malam itu, berharap setidaknya ada satu rumah yang masih menerimanya sebagai pusat. Clara mengangkat setelah dering kelima.

"Mas, uang sekolah Alif jatuh tempo minggu depan."

Hendra memejamkan mata.

Bukan sapaan.

Bukan rindu.

Tagihan.

"Nanti aku pikirkan."

"Mas selalu bilang begitu. Kalau apartemen bermasalah, aku dan Alif bagaimana?"

Hendra menatap ruang tengahnya yang kosong.

Di rumah ini, semua orang juga bertanya bagaimana.

Tidak ada yang bertanya ia sanggup atau tidak.

Ia hampir tertawa pahit. Dulu Ratna yang menerima semua pertanyaan itu. Ratna yang menjawab dengan tindakan. Ratna yang membuatnya tetap terlihat sebagai kepala keluarga.

Sekarang semua orang langsung datang padanya.

Dan ia tidak sehebat yang selama ini ia pikirkan.

Setelah telepon berakhir, Hendra duduk sampai larut. Foto keluarga di meja ia balikkan menghadap bawah.

Ia tidak sanggup melihat senyum Ratna di sana.

Keesokan paginya, Raka mengetuk pintu kamar Hendra.

"Pa, aku mau ke rumah mertua. Jemput Maya."

Hendra menatap anaknya yang tampak kusut.

"Jemput atau bicara?"

Raka terdiam.

"Aku tidak tahu."

"Kalau kamu datang hanya untuk menyuruh dia pulang, dia mungkin tidak mau."

Raka menatap ayahnya, heran mendengar kalimat itu dari Hendra.

Hendra sendiri heran.

Semalam ia memikirkan Ratna. Semua cara ia dulu meminta Ratna pulang, meminta Ratna mengalah, meminta Ratna paham. Tidak satu pun benar-benar bertanya apa yang Ratna rasakan.

"Tanya dia capek atau tidak," kata Hendra akhirnya.

Raka menunduk.

"Mama bilang hal yang sama. Mulai dari tanya sudah makan atau belum."

Nama Ratna membuat ruangan hening.

Hendra ingin bertanya apakah Ratna membalas pesan Raka. Ia ingin tahu kabarnya. Tapi gengsi menahan lidahnya.

Raka pergi tanpa banyak bicara.

Hendra duduk sendirian lagi.

Rumah yang dulu penuh suara kini terasa seperti ruang tunggu untuk penyesalan.

Di dapur, Mama Sulastri memanggil pembantu harian yang baru dicoba Raka. Perempuan itu baru bekerja dua jam dan sudah dimarahi tiga kali karena teh terlalu tawar, nasi terlalu lembek, dan cara melipat kain tidak seperti Ratna.

Pembantu itu akhirnya meletakkan lap.

"Maaf, Bu. Saya tidak cocok."

Ia pergi sebelum dibayar penuh.

Mama Sulastri berteriak memanggil Hendra, tapi Hendra tidak keluar. Dari kamar, ia mendengar semuanya.

Dulu ia menganggap Ratna memang cerewet soal detail rumah.

Sekarang ia sadar, standar ibunya bukan tinggi.

Standar ibunya mustahil, dan Ratna bertahan di dalamnya selama puluhan tahun.

Kesadaran itu datang terlambat.

Seperti kebanyakan hal dalam hidup Hendra akhir-akhir ini.

1
adisty aulia
Karakter Ratna kuat meski telat sadarnya🙁🙁🙁
adisty aulia
🌺🌺🌺
adisty aulia
Suka alur ceritanya🌺🌺🌺
Nicky
Ratna memandang mantan suaminya? Raka? ga panggil mama lagi?
Nicky
Arga melamar Ratna lagi? mengajak menikah? bukannya di part² sebelum hamil ini sudah menikah di KUA dan pulangnya mereka yang menghadiri lanjut makan soto. Agak membingungkan ini KK author.
Nicky
ada part yg ga sinkron, mulai dr panggilan ibu yg di beberap bab sebelumnya setelah hasil tes DNA Bagas di ketahui sebagai anak Ratna, sudah panggil ibu, di bab ini malah bukan anak kandung, panggil nama saja dan baru mulai panggil ibu?
Endang Sulistia
pengen tampol keluarga hendra😤😤😤
Hertanti Mandanya Dhafin
novel yg keren saya suka sama bahasanya, authornya hebat 👍
Fia Ayu
Knpa up nya pelit banget, pertama rilis langsung banyak, lagi tegang2nya di gantung 😢
Fia Ayu
Lanjut kak,, penasaran weee
Fia Ayu
Wkwkwk
Fia Ayu
Sokor,
Klo sudah tiada
Baru terasa,,,,,, 💃
Fia Ayu
Tuman😏
Fia Ayu
Mampir,,, baru bab pertama dah bikin nyesek 😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!