Di dalam kamar kosnya yang sunyi, ia membuka kitab kuno peninggalan buyutnya, Ki Sarowang Prawangsa, seorang dukun legendaris yang konon menguasai ilmu-ilmu pengasihan paling berbahaya. Demi membuat Irawan kembali kepadanya sekaligus merasakan penderitaan yang sama, Lusi menjalani ritual Semar Mesem, dilanjutkan dengan puasa mutih dan Pati Geni—ritual yang dipercaya mampu mengikat hati seseorang, tetapi juga menjadikannya budak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Lusi berdiri di depan jendela kamarnya, menatap rintik air yang mengalir di kaca. Di luar, lampu jalan memancarkan cahaya kuning yang temaram, menciptakan bayangan-bayangan panjang di aspal basah. Jalanan Prawirotaman sepi hanya sesekali dilintasi motor yang melaju pelan, rodanya mencipratkan air dari genangan.
Di atas meja, tiga foto sudah disiapkan.
Dimas. Foto yang diambil dari akun Instagram-nya pose di depan kampus dengan topi bisbol andalannya, tersenyum lebar dengan dua jari membentuk huruf V. Foto ini diambil tiga bulan lalu, sebelum semuanya terjadi. Sebelum video itu.
Rendy. Foto dari akun Facebook-nya sedang memegang botol vodka di sebuah pesta, wajahnya merah, matanya setengah terpejam. Foto ini diambil seminggu sebelum malam di hotel. Seminggu sebelum ia ikut serta dalam kejahatan itu.
Bayu. Ini yang paling sulit didapatkan. Bayu hampir tidak pernah posting foto dirinya sendiri. Satu-satunya foto yang berhasil Lusi dapatkan adalah foto grup dari akun Irawan foto di kantin kampus, Bayu duduk di pojok, tatapan matanya yang tajam mengarah ke kamera. Lusi memotong foto itu, memperbesar wajah Bayu, dan mencetaknya.
Tiga foto. Tiga target. Tiga nyawa yang akan segera diikat.
Kitab Semar Mesem terbuka di halaman yang sama halaman ritual. Tapi kali ini, Lusi tidak membacanya lagi. Ia sudah hafal. Setiap kata. Setiap langkah. Setiap konsekuensi.
Termasuk konsekuensi yang sudah mulai ia rasakan.
Kekosongan itu masih ada. Lubang di dalam dadanya belum terisi. Setiap kali ia melihat Irawan hari ini melihat bagaimana laki-laki itu menatapnya dengan penuh pujaan, melayaninya seperti pelayan ia mengharapkan kepuasan. Tapi yang ia dapat hanyalah kehampaan. Seperti memakan makanan tanpa rasa. Seperti mendengar musik tanpa nada.
Apakah ini harga yang harus kubayar?
Apakah aku akan merasakan ini selamanya?
Ia tidak tahu. Tapi satu hal yang ia tahu: ia tidak akan berhenti. Tidak sebelum semuanya merasakan apa yang ia rasakan.
Ia menyalakan lilin satu per satu. Tujuh lilin merah, membentuk setengah lingkaran di lantai. Api mereka menari-nari, menciptakan bayangan-bayangan aneh di dinding kamar.
Lalu dupa cendana. Asapnya mengepul, memenuhi ruangan dengan aroma manis yang menusuk.
Bunga tujuh rupa. Kali ini ia tidak pergi ke makam. Ia membelinya di pasar tidak ada waktu untuk ritual lengkap. Tapi kitab mengatakan bunga segar bisa digunakan selama niatnya kuat.
Dan niat Lusi... sangat kuat.
Ia duduk bersila di depan lingkaran lilin. Ketiga foto diletakkan sejajar di depannya. Dimas di kiri. Rendy di tengah. Bayu di kanan.
"Sun amatek adjiku semar mesem..."
Mantra mulai mengalun. Suaranya pelan, tapi penuh kekuatan. Berbeda dengan ritual pertama yang penuh keraguan dan ketakutan, ritual kali ini dilakukan dengan keyakinan penuh. Dengan pengalaman. Dengan kekuatan yang sudah terlatih.
"Tumancep kumanthil ono ing sanubariku yoiku si jabang bayine Dimas..."
"...yoiku si jabang bayine Rendy..."
"...yoiku si jabang bayine Bayu..."
Tiga nama. Tiga jiwa. Tiga ikatan yang akan segera tercipta.
Api lilin berubah warna. Biru. Sama seperti sebelumnya.
Suhu di dalam kamar turun drastis. Napas Lusi membentuk kabut putih.
Dan di tiga tempat berbeda di kota Yogyakarta, tiga laki-laki tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh di dalam dada mereka.
Rumah Dimas, kawasan Benteng. Pukul 23.15.
Dimas sedang berbaring di kasurnya, menatap langit-langit kamar yang penuh stiker glow in the dark. Ia belum tidur selama tiga hari. Sejak pertemuan dengan Lusi di kantin sejak ia melihat mata Irawan yang kosong dan patuh ia tidak bisa menghilangkan wajah itu dari kepalanya.
Wajah Lusi.
Tapi bukan wajah Lusi yang dulu. Bukan wajah gadis pendiam yang selalu menunduk kalau diajak bicara. Bukan wajah korban yang mudah digertak. Tapi wajah yang berbeda. Wajah dengan mata yang memancarkan sesuatu yang tidak manusiawi. Wajah yang tersenyum dengan kemenangan yang dingin.
"Gue harus ngapain..." bisiknya pada diri sendiri. "Gue harus ngomong sama Rendy. Sama Bayu. Kita harus... kita harus..."
Tapi sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, sesuatu terjadi.
Dadanya tiba-tiba terasa panas. Seperti ada api kecil yang menyala di dalam rongga dadanya. Ia memegangi dadanya, kaget. "Apa-apaan..."
Dan kemudian, wajah Lusi muncul di kepalanya.
Bukan wajah Lusi yang menyeramkan seperti di kantin. Tapi wajah Lusi yang lain. Wajah yang tersenyum manis. Wajah yang menatapnya dengan lembut. Wajah yang... cantik?
"Cantik?" Dimas menggeleng keras. "Nggak! Nggak mungkin! Gue nggak mungkin mikirin dia! Dia... dia... dia korban kita! Dia..."
Tapi semakin ia menyangkal, semakin kuat wajah itu muncul. Semakin manis senyum itu terlihat. Semakin lembut tatapan itu terasa.
"Lusi..." bisiknya tanpa sadar. "Lusi... Lusi..."
Ia meraih ponselnya. Membuka galeri. Mencari sesuatu ia tidak tahu apa. Lalu ia menemukan satu foto. Foto Lusi yang dulu ia ambil diam-diam di kantin, saat Lusi sedang tertawa mendengar lelucon Rendy. Foto yang ia simpan untuk... untuk apa? Untuk bahan tertawaan? Untuk kenang-kenangan?
Sekarang, foto itu terlihat berbeda.
"Lusi..." bisiknya lagi. Kali ini dengan nada yang lebih lembut. Lebih... rindu.
Apartemen Rendy, kawasan Gajah Mada. Pukul 23.20.
Rendy sedang sendirian di apartemennya. Ia duduk di sofa, menatap layar TV yang menyala tanpa suara. Botol vodka setengah kosong di tangannya. Kepalanya berat. Matanya sayu.
Sejak malam di hotel itu, ia tidak pernah benar-benar tenang.
Bukan karena bersalah. Rendy tidak pernah merasa bersalah. Baginya, malam itu hanya hiburan. Hanya permainan. Hanya pelepasan stres setelah minggu yang panjang.
Tapi sejak tiga hari yang lalu, sesuatu berubah. Ia mulai... memikirkan Lusi. Bukan memikirkan dalam arti menyesal. Tapi memikirkan dalam arti... kangen?
"Kangen apaan, anjir." Ia meneguk vodka-nya lagi. "Gue kan cuma..."
Tapi belum selesai kalimatnya, dadanya terasa panas. Botol vodka di tangannya hampir terjatuh. Ia memegangi dadanya, napasnya memburu.
"Ada apa ini..."
Dan kemudian, seperti sedang menonton film, bayangan Lusi muncul di kepalanya. Tapi bukan bayangan Lusi yang tidak sadarkan diri di hotel. Bukan bayangan Lusi yang menangis. Tapi bayangan Lusi yang... tersenyum. Bayangan Lusi yang menatapnya dengan lembut. Bayangan Lusi yang... menyentuh pipinya?
"Lusi..." bisiknya.
Ia menggeleng keras. "Gue mabok. Ini pasti gara-gara mabok."
Tapi ia tidak mabuk. Ia tahu itu. Ia sudah minum lebih banyak dari ini sebelumnya dan tidak pernah berhalusinasi. Ini berbeda. Ini... nyata.
Ia meletakkan botol vodka-nya. Tangannya bergetar saat ia meraih ponselnya. Ia membuka kontak. Mencari nama Lusi. Tidak ada. Ia menghapusnya dua bulan lalu.
Tapi entah kenapa, ia ingin mendengar suara Lusi. Ingin melihat wajahnya. Ingin... dekat dengannya.
"Gue gila. Gue udah gila."
Tapi semakin ia menyangkal, semakin kuat keinginan itu tumbuh.
[BERSAMBUNG…]
Maaf ya, akhir-akhir ini author sedang kurang fit dan lagi drop, jadi belum bisa mengunggah bab selanjutnya. Mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah membuat kalian menunggu. 🙏
Terima kasih banyak untuk teman-teman yang masih setia membaca, memberikan dukungan, dan sabar menunggu kelanjutannya. Semoga author bisa segera pulih dan kembali update secepatnya.
Terima kasih atas pengertian dan doa kalian. Semoga selalu sehat dan bahagia. ❤️
📖 Hubungan semula adem, saiki malah kecut bagaikan asem. 🍋🗿
🐎 Semar Mesem? Jaran Goyang? Wah judule wis nggawe aku kelingan lagu. 🤣
🧙🏻♂️ Mbah... iki kudu jurus sing endi ben ending-e bahagia? 🚬😂
💘 Mugo-mugo tokoh utama ora nganti sambat "kok tresnaku dibuwang-buwang" maneh. 🥹
🍿 Gas lanjut moco... aku siap nyekseni gejrot plot twist-e. 🗿🔥