NovelToon NovelToon
Pegasus From Diamond Planet

Pegasus From Diamond Planet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:388
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Saat Planet Diamond runtuh menjadi abu akibat amukan monster legendaris Typhon, sebuah pengorbanan darah terakhir mengirim dua benih harapan ke Planet Bumi. Namun, badai dimensi memisahkan takdir mereka secara kejam.
Alan, bocah Pegasus berusia tujuh tahun yang cerdas, terdampar di danau sebuah kastil kuno. Ia ditemukan oleh Jacob, sang Raja Vampir penguasa malam yang mematikan. Di dunia yang dipenuhi predator berdarah dingin, Alan harus bertahan hidup, menyembunyikan sayapnya, dan tumbuh bersama seorang Pangeran Vampir misterius.
Sementara itu, di belahan kota seberang, seorang bayi perempuan berambut seputih salju terlahir dari kristal pualam ajaib di tengah hutan. Dirawat oleh sepasang petani miskin yang menamainya White Crystal, bayi itu menyembunyikan rahasia besar: setiap kali kulitnya menyentuh air, udara musim panas mendadak membeku menjadi es.
Dua penyintas terakhir. Dua klan bumi yang saling bertolak belakang—Vampir yang dingin dan Petani yang naif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Keberanian Bocah Bernama Alan

"Mengapa struktur luarnya menyerupai kristal murni, tetapi memiliki bentuk seperti telur makhluk hidup?" ucap Jacob seraya berlutut satu kaki, mengulurkan jemarinya yang pucat untuk meraba permukaan benda misterius itu.

Meskipun usia hidupnya di dunia ini telah mencapai hampir lima abad, baru kali ini Jacob menyaksikan fenomena seaneh ini jatuh dari langit.

Ada rasa heran yang berbaur dengan secercah kegelisahan yang menyelinap di relung hatinya. Sebagai seorang pemimpin klan, dia sadar betul bahwa segala sesuatu yang tidak diketahui asalnya bisa saja menjadi ancaman besar bagi kelangsungan hidup kelompoknya.

CRACK!

Tepat saat telapak tangan sedingin es milik Jacob bersentuhan dengan permukaan batu, sebaris garis retakan bercahaya keemasan muncul.

Retakan itu menjalar cepat bagai jaring laba-laba, membelah cangkang kristal merah itu menjadi dua bagian. Kejutan tidak berhenti di sana; bongkahan kristal padat itu mendadak melenyap, menguap ke udara bagai embun pagi yang tersapu fajar, menyisakan sesosok anak laki-laki yang terbaring di tengah lingkaran rumput.

Anak itu memiliki kulit yang teramat putih dan bersih—nyaris menyamai kepucatan khas bangsa Vampir. Namun, yang membuat Jacob dan seluruh pengawalnya menahan napas adalah penampilan fisik bocah tersebut.

Rambutnya seputih salju murni, dan di punggungnya, sepasang sayap berbulu putih yang megah terkepak lebar secara refleks, menghalau sisa-sisa energi merah di sekitarnya.

Bocah itu berdiri tegak dengan kelopak mata yang masih terpejam erat, merentangkan sayap indahnya seolah sedang menyerap sisa atmosfer Bumi.

Tak lama kemudian, sayap-sayap megah itu berpendar redup, menyusut secara ajaib dan menghilang sepenuhnya ke dalam punggungnya tanpa meninggalkan bekas luka sedikit pun.

Saat perlahan sepasang kelopak matanya terbuka, tampaklah sepasang iris mata berwarna ungu jernih yang memancarkan kilau kecerdasan yang mendalam.

Raja Jacob, Gustav, dan seluruh pengawal yang menyaksikan pemandangan supranatural itu terpaku di tempat mereka berdiri. Mereka seolah membeku, terpesona sekaligus terintimidasi oleh sosok menawan bin asing yang baru saja keluar dari rahim batu kristal tersebut.

Menyadari situasi ini terlalu sensitif untuk menjadi konsumsi publik, Jacob segera mengangkat tangannya, memberikan isyarat tak terbantah.

"Kembali ke pos kalian masing-masing. Rahasiakan apa yang kalian lihat hari ini, atau kepala kalian yang akan menjadi taruhannya."

Dalam sekejap, puluhan penjaga berzirah hitam melesat pergi dengan kecepatan supernatural, menyisakan keheningan di tepi danau antara sang Raja Vampir, Gustav, dan anak kecil misterius berambut putih itu.

"Paman... tempat ini di mana?" tanya anak itu, suaranya terdengar lirih namun stabil.

Mata ungunya berputar, mengamati arsitektur kastil batu hitam di hadapannya dengan tatapan polos yang penuh rasa ingin tahu.

Jacob tidak langsung menjawab. Pria abadi itu justru berdiri tegak, bersedekap sembari melayangkan tatapan menyelidik yang tajam menembus manik mata sang bocah.

"Makhluk apa sebenarnya dirimu? Apakah kau sejenis demon, atau malaikat yang jatuh dari langit?"

Alan mengernyitkan dahinya yang kecil, menaikkan sebelah alisnya dengan raut kebingungan yang nyata. Dia mengerjap-ngerjapkan mata, sama sekali tidak merasa tertekan oleh tatapan intimidasi dari sang penguasa Luminara.

"Apa maksud Paman dengan demon atau malaikat? Aku tidak mengerti istilah-istilah itu."

"Aku bertanya kepadamu, Bocah," Jacob mengulangi kalimatnya dengan nada suara yang sengaja diturunkan satu oktav, bergaung berat dan menekan udara di sekitar mereka.

Sang Raja Vampir jelas telah kehilangan kesabaran dan tidak ingin lagi membuang waktu dengan teka-teki anak kecil. "Sebutkan identitasmu, dan mengapa kau bisa berada di dalam kristal magis yang jatuh ke danau kastilku?"

"Namaku Alan. Aku berasal dari tempat bernama Planet Diamond," ucap Alan dengan nada yang sangat tenang, sebuah ketenangan yang tidak biasa bagi seorang anak berusia tujuh tahun yang baru saja terlempar ke dunia asing. "Bangsa kami disebut sebagai klan Pegasus."

Alan menarik napas pendek sebelum melanjutkan, tatapannya sesaat meredup menatap rumput di bawah kakinya. "Aku datang ke tempat ini bersama bayi perempuan, anak dari Paman Edmond. Namun, pusaran dimensi tampaknya memisahkan kami saat mendarat. Ayahku, bersama Paman dan Bibiku, mengorbankan seluruh sisa energi kehidupan mereka untuk membuka gerbang ruang dan waktu. Mereka melakukannya demi menyelamatkanku dari amukan monster legenda bernama Typhon yang menghancurkan planet kami. Bangsa kami sudah berada di ambang kepunahan... dan mungkin, kini hanya aku yang tersisa di semesta ini."

Alan berbicara dengan susunan kalimat yang sangat lancar dan terstruktur rapi, jauh melampaui kapasitas linguistik anak-anak manusia di Bumi pada umumnya.

Kecerdasan kognitif bangsa Pegasus memang berada di tingkat yang luar biasa tinggi sejak mereka dilahirkan. Saat mengakhiri penjelasannya, Alan terdiam sejenak, sebuah kedutan kecil di bibirnya menahan rasa rindu yang mendalam pada sang ayah yang tewas bersimbah darah.

"Planet Diamond? Pegasus?" gumam Jacob, menatap Alan dengan dahi yang berkerut dalam, mencoba mengingat-ingat seluruh literatur kuno yang pernah dibacanya selama empat ratus tahun hidup. "Aku belum pernah mendengar nama faksi atau wilayah itu di belahan dunia mana pun."

"Wajar jika Paman tidak tahu. Kemungkinan besar planet kami berada di galaksi atau dimensi yang sepenuhnya berbeda dengan tempat ini," sahut Alan tenang, sebelum kemudian mendongak menantang mata Jacob.

"Ngomong-ngomong, aku juga tidak tahu apa nama planet tempatku terdampar saat ini, Paman?"

"Ini adalah planet Bumi," jawab Jacob singkat. "Tempat di mana miliaran manusia fana, dan segelintir makhluk supernatural sepertiku, menjalani kehidupan."

"Jadi... Paman ini siapa? Paman termasuk ke dalam jenis makhluk apa?" tanya Alan, rasa penasarannya yang murni sebagai ilmuwan kecil Pegasus mulai terusik.

Jacob bersedekap, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang terkesan dingin dan meremehkan. "Aku? Kau serius ingin tahu identitas makhluk yang berdiri di depanmu ini, Bocah? Kau mungkin akan menangis ketakutan dan memohon untuk dikembalikan ke tempat asalmu, jadi jangan menyesal setelah aku memberitahumu."

Jacob terkekeh pelan, sebuah tawa merendahkan yang biasanya sanggup membuat lutut manusia bergetar hebat. Namun, reaksi Alan justru di luar ekspektasi.

Bocah berambut putih itu tidak mundur selangkah pun; matanya justru melebar penuh minat, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda terintimidasi oleh hawa gelap yang menguar dari tubuh Jacob.

"Kenapa aku harus takut? Paman sama sekali tidak terlihat menakutkan atau mengerikan bagiku," jawab Alan polos.

Mendengar kalimat Alan membuat tawa Jacob seketika terhenti. Sang Raja Vampir merasa ego dan harga dirinya tertantang, sekaligus merasa terhibur oleh kelancangan luar biasa dari bocah asing ini.

Selama empat abad lebih memimpin klan malam di Luminara, belum pernah ada satu pun makhluk—baik manusia, penyihir, maupun bangsa serigala— yang berani melontarkan kalimat bahwa sosoknya "tidak menakutkan".

"Kau memiliki tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi ya, Bocah kecil," bisik Jacob, suaranya mendadak berubah menjadi desisan tajam.

SWOOSHH!

Dalam sekejap mata—sebuah kecepatan absolut yang bahkan tidak akan bisa ditangkap oleh retina mata manusia terkuat sekalipun—tubuh jangkung Jacob sudah berpindah posisi. Tanpa menimbulkan suara gesekan angin, dia kini sudah berdiri tepat di hadapan Alan, hanya menyisakan jarak beberapa sentimeter di antara ujung hidung mereka.

Hawa dingin yang pekat, sedingin es kutub yang mampu menusuk hingga ke dalam sumsum tulang, tiba-tiba terpancar masif dari tubuh sang Raja.

Jacob sedikit menundukkan tubuhnya, mendekatkan wajah pucatnya ke arah telinga Alan. Perlahan, dia membuka bibirnya, memamerkan sepasang taring runcing berwarna putih susu yang tampak mematikan, siap untuk merobek urat leher apa pun.

Pada detik yang sama, sepasang mata Jacob yang semula berwarna hitam tenang, kini bermutasi, berubah warna menjadi merah darah menyala yang berkilat kejam di balik bayangan kabut sore.

"Aku adalah pemangsa puncak di planet ini, Alan. Aku hidup dengan cara menghisap darah makhluk hidup, dan detak aliran darah di jantungmu saat ini terdengar seperti melodi musik yang manis bagi indra berburuku," bisik Jacob, suaranya berat dan bergetar, memberikan tekanan psikologis yang mematikan. "Sekarang katakan padaku... apa aku masih terlihat tidak menakutkan di mata kecilmu itu?"

Alan tidak bergeming. Dia tidak memalingkan wajah, tidak melangkah mundur, bahkan tidak berteriak histeris layaknya anak-anak fana.

Bocah dari Planet Diamond itu justru mendongakkan kepalanya secara mantap, menatap lurus ke dalam manik mata merah darah milik Jacob dengan iris ungu indahnya yang tetap jernih tanpa riak ketakutan.

"Paman hanya terlihat memiliki struktur anatomi yang berbeda, bukan menakutkan," jawab Alan dengan nada suara yang pelan namun sarat akan ketegasan. "Di planet asalku, monster Typhon yang membantai klan kami memiliki belasan kepala ular yang menyemburkan lautan api hitam dan memakan jantung bangsa kami hidup-hidup. Mereka jauh lebih buruk dan mengerikan dari sekadar pria bertaring dan bermata merah seperti Paman."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!