WARNING!! Novel ini mengandung Emosi Jiwa😎Jadi Komenlah sesuka hati kalian, jika itu pada pemeran😁
Maya harus menikah dengan pria dingin dan kejam bernama Carlen. Mereka terpaksa menikah karena permintaan sang kakek, dari Carlen.
Namun, siapa yang menyangka. Jika pernikahan Maya harus melalui banyak cobaan dan terjangan badai. Bukan hanya dari suami dan mertuanya saja, tapi dari pihak ketiga juga.
"Aku tidak akan pernah, mencintaimu! Dasar kau wanita rendah!" geram Carlen sambil mendorong tubuh Maya hingga jatuh dan mengenai pecahan beling.
Apakah rumah tangga mereka akan langgeng? Apakah cinta akan tumbuh di hati Carlen untuk Maya? Dan apakah, Maya bisa bertahan demi cintanya?
Simak hanya di Novel ini yuk!! JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN BESTIE🙏🏻😘DAN KOMENLAH YG BIJAK
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisyah az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Terbuka
Happy reading.......
Pagi hari mama Gisel sudah bangun. Dia berencana akan mengajak Rania untuk jogging, karena sudah lama sekali mereka tidak melakukan hal tersebut. Wanita itu pun keluar dari kamarnya, lalu dia berjalan menuju kamar putrinya.
Akan tetapi, saat dirinya akan mengetuk pintu kamar putrinya, dia mendengar seseorang seperti sedang mengaji di dalamnya. Itu membuat mama Gisel merasa penasaran, kemudian dia dengan perlahan membuka pintu tersebut yang ternyata tidak dikunci sama sekali.
Seketika hatinya tersentil saat melihat pemandangan yang ada di depannya. Di mana saat ini Rania tengah memakai mukena dan mengaji bersama dengan Maya, lebih tepatnya putrinya diajarin ngaji oleh Maya.
Mama Gisel terdiam, dia melihat bagaimana Rania yang tidak fasih dalam membaca Al-quran, dan dengan sabar Maya mengajarinya. Wanita itu lupa, entah kapan dia pernah membuka Al-quran, bahkan tidak pernah sekalipun wanita itu mengajarkan Rania mengaji, kecuali dulu saat pergi sekolah ke TPQ.
Setelah selesai mengaji, Rania pun menutup Al-qurannya, kemudian dia mencium tangan Maya. "Twrima kasih ya Mbak, sudah mengajarkan aku ngaji. Rasanya hati ini begitu tenang sekali, saat membaca ayat-ayat suci Al-quran," jelas Rania.
"Kamu benar. Di saat kita lagi sedih, saat kita lagi emosi, sebaiknya ambil wudhu dan membaca Al-quran saja, karena itu bisa membuat hati setiap manusia menjadi tenang. Itu juga selalu Mbak lakukan saat mas Carlen memarahi Mbak," jelas Maya.
Kemudian kedua wanita itu pun berpelukan satu sama lain. Mereka tidak sadar, jika di belakangnya ada mama Gisel yang tengah berdiri menatap ke arah mereka. Dia bisa melihat bagaimana kasih sayang Rania kepada Maya.
"Mbak tahu! Papah dan mamah tidak pernah mengajariku soal agama. Mereka hanya menyuruh kami untuk sekolah tinggi saja. Pernah sih belajar mengaji, tapi itu sudah lama sekali, saat umurku mungkin masih lima atau enam tahun, saat sekolah di TPQ. Sekarang semakin besar, bahkan jauh dari agama. Tapi saat Mbak masuk ke sini, aku seperti menemukan jalan yang lurus, tadinya seperti diombang-ambing di tengah lautan," kekeh Rania.
"Kamu adalah anak perempuan, Ingat! Satu langkah keluar dari rumah tanpa menggunakan hijab, maka satu langkah itu pula kamu menjerumuskan papah kamu ke dalam neraka. Dan anak itu bisa menjadi tali untuk orang tuanya masuk ke dalam surga. Alangkah tersesatnya orang tua, jika tidak mengajarkan anaknya agama. Tapi walau begitu, kamu harus tetap belajar agama, bisa mengaji, karena saat di akhirat kelak, walaupun orang tua kamu nanti diminta pertanggungjawabannya, kamu bisa menyelamatkan mereka," jelas Maya.
Mama Gisel yang mendengar itu tentu saja merasa tersindir. Sebagai orang tua, dia tidak pernah mengajarkan anaknya untuk mengaji dan shalat, hanya sekedar ucapan saja tanpa tindakan.
Mendengar ucapan Maya, mama Gisel merasa jika dirinya telah gagal menjadi seorang ibu, dan orang tua yang baik untuk kedua anaknya. Apa yang dikatakan Maya memang benar. Suatu saat nanti, di akhirat orang tua akan mempertanggungjawabkan semuanya, tentang apa yang berhubungan dengan anak dan juga dosa-dosanya.
Akan tetapi, yang selama ini mama Gisel kejar hanyalah harta dunia, tanpa memikirkan bagaimana perjalanan setelah kita sudah tidak ada lagi di muka bumi ini. Dia tidak pernah shalat dan mengaji, apalagi semenjak suaminya meninggal.
"Oh ya, Mbak, berarti Rania mau sekarang untuk berhijab. Boleh 'kan Rania minta diajarin Mbak Maya buat nutup aurat!" pinta Rania kepada Maya.
"Tentu saja! Mbak malah senang kalau kamu mau menutup auratmu..Setidaknya kamu menjaga pandangan dari yang bukan muhrim, sekaligus mengurangi siksaan orang tua kamu di atas sana," jelas Maya.
Kemudian mereka membuka mukena, lalu Rania meminta Maya untuk membuka sedikit bajunya, karena dia ingin melihat luka yang ada di pundak kakak iparnya. Sebab Rania sudah mengetahui, jika luka itu terjadi karena Maya menyelamatkan sang mama.
"Lukanya biar Rania kasih salep lagi ya, Mbak. Ini 'kan sudah mau sembuh, atau kita ke Dokter aja? Takutnya ada tulang yang retak, atau---"
"Tidak usah! Kamu ini kayak sama siapa aja. Lagi pula, lukanya juga sudah mau sembuh 'kan? Di oles salep aja nanti juga sembuh, sama dikompres air dingin," jelas Maya sambil tersenyum manis ke arah adik iparnya.
"Maak kenapa sih, malah menyelamatkan mama? Padahal 'kan selama ini mama juga jahat sama Mbak? Tidak pernah sekalipun dia menganggap Mbak di rumah ini," jelas Rania sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Maya yang mendengar itu seketika mengusap rambut Rania. Dia tahu jika gadis itu sangat menyayanginya. Bahkan melihatnya terluka karena disakiti oleh Carlen dan juga mamanya, membuat Rania tidak pernah menyukai sikap mereka.
"Jangan bicara seperti itu! Walau bagaimanapun, dia adalah mamanya kamu. Surga kamu. Ingat, surganya seorang anak itu, terletak pada kaki ibunya. Surganya anak laki-laki itu ada pada ibunya, sampai maut menjemput. Dan surganya perempuan itu terletak suaminya, jika dia sudah menikah. Jadi walau bagaimanapun jahatnya mama, dia tetaplah orang tua kamu. Kamu harus bersikap baik, sopan dan menghargainya.
Ingat, jangan pernah membentak! Nabi saja melarang kita untuk melawan kepada ibu," jelas Maya.
"Tapi Mbak, mama malah mengiyakan pernikahannya kak Carlen dengan mbak Freya? Itu kan namanya tidak benar?" rengut Rania.
Maya menghela napasnya dengan pelan, kemudian dia memeluk tubuh Rania. Memang pikiran gadis itu masih plin-plan, belum dewasa, sebab umurannya juga baru 20 tahun.
"Dengarkan Mbak! Nabi meminta seorang anak laki-laki untuk patuh kepada ibunya. Jika ibunya meminta dia untuk menikahi wanita lain, sedangkan dia sendiri mempunyai istri, atau malah meminta untuk menceraikan istrinya, maka tetap anak itu harus menurut untuk menurutinya. Atau jika putranya memiliki pacar, lalu ibunya meminta untuk memutuskannya, maka pria itu harus menurut. Karena surganya anak laki-laki itu, terletak pada kaki ibunya. Jadi apapun ucapan ibunya, harus dituruti. Kecuali dia mengajak pada jalan yang sesat, baru bisa untuk dibantah," jelas Maya.
Penjelasan Maya terus didengarkan oleh mama Gisel. Dia tidak pernah menyangka, jika wanita itu malah memberikan pengertian kepada Rania. Jika seharusnya Rania tidak bersikap seperti itu kepadanya. Padahal bisa saja Maya menghasut Rania untuk membenci dirinya.
Sedikit demi sedikit hati mama Gisel mulai terbuka, setelah dia mendengar penjelasan dari Maya. Karena memang sejatinya mama Gisel bukanlah orang yang jahat. Dia wanita yang lemah lembut, namun wanita itu terhasut oleh ucapannya Carlen yang tidak menyukai Maya.
Ada rasa penyesalan yang begitu dalam di hati mama Gisel, karena dia tidak pernah mengajarkan putra dan putrinya soal agama. Bahkan mereka hanya mengajarkan tentang mengejar harta dunia tanpa memikirkan akhirat.
Saat Rania dan juga Maya berbalik badan, karena mereka hendak keluar kamar. Tiba-tiba saja keduanya terpaku saat melihat mama Gisel tengah berdiri di ambang pintu.
"Mama!" kaget keduanya.
BERSAMBUNG.....
memaafkan boleh tp klo kembali lebih baik sendiri atau cari yg laen krn cam gak ada pembalasan buat suami yg zalim dan tega...
keledai aja nggak mau jatuh dua kali kedalam lbang yg sama
nggak usah pinter pinter
ogaahhh
nggak sudi.. najiiis" kalau jd rania aku jawab gitu