Puber kedua, menghancurkan pernikahan Tatiana Ramos dan Brandon Wirawan. Ketika sang istri sibuk mengembangkan bisnis di luar negeri, suaminya yang ditinggal selama 2 bulan justru sedang mabuk kepayang dengan gadis muda yang usianya 10 tahun lebih muda dari istrinya.
"Kamu membiarkan dia menginap di kamar kita, mas? apa kamu sudah gilaa?"
"Siska tak punya kerabat di kota ini, dia sebatang kara. Ingatkah saat aku bertemu denganmu pertama kali, kamu juga sebatang kara Tatiana!"
Dengan dalih mirip dengan istrinya 10 tahun lalu, untuk pertama kalinya selama 10 tahun, Brand mendebat Tatiana.
"Maafkan aku Nyonya, tempat tinggal ku sedang diperbaiki..."
Mata Tatiana melebar, wanita itu bahkan mengenakan gaun tidurnya. Dia tidak tahan lagi, hanya dua bulan, dan itupun demi perusahaan mereka yang sempat merugi milyaran rupiah. Tapi begitu dia kembali, suaminya malah bermain api.
'Suami pengkhianatan dan bodoh seperti ini, aku benar-benar tidak butuh' geram Tatiana dalam hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Tatiana melihat ke sekitar ruangan itu, semua sekarang seperti bukan ruang kerja. Tapi seperti ruangan belajar anak manja. Piagam penghargaan dan semua tropi bisnis yang didapatkan oleh Tatiana, dia tidak tahu ada dimana semua barang-barang itu. Semua rak berisi boneka dan hiasan yang menurutnya sangat kekanak-kanakan. Bahkan sebagian besar ruangan ini yang tadinya berwarna putih, berubah menjadi berwarna pink.
Tatiana memandang ke salah satu dinding. Disana duku dia menggantung foto pernikahannya dengan Brandon. Tapi, sekarang juga sudah tidak ada.
Ceklek
"Sayang, ruangan ini..."
"Aku baru mau bertanya padamu!" sela Tatiana begitu Brandon masuk ke dalam ruangan itu.
Siska menyusul dengan tangan yang menarik ujung lengan jas Brandon. Tatiana melihat itu, tapi dia mencoba untuk pura-pura tidak melihatnya. Dia punya hal yang lebih penting yang harus dia pertanyakan pada suaminya.
"Kenapa kamu memberikan ruanganku pada sekertaris mu?" tanya Tatiana.
Nada suara itu masih normal. Dia belum meninggikan sama sekali nada suaranya, mesin sebenarnya dia yakin kalau tensinya sudah mulai naik. Karena kepalanya mulai terasa sakit, dia baru kembali setelah menyelesaikan masalah yang sebenarnya dibuat oleh suaminya. Tapi begitu kembali, suaminya memberinya banyak sekali kejutan yang membuatnya sakit kepala.
Brandon masih dengan wajah tenang, mendekati Tatiana, bahkan tangannya mencoba menyentuh lengan Tatiana. Tapi Tatiana menghindar.
"Jelaskan!" kata Tatiana dengan tegas.
"Aku tidak pernah bilang memberikannya. Ruanganku kan memang paling dekat dengan ruangan ini. Kamu akan pergi cukup lama, aku hanya meminjamkan ruangan ini pada Siska. Begitu kamu kembali, dia akan pindah di tempat sekertaris!"
"Hanya pinjam?" tanya Tatiana.
Emosinya sedikit tersulut, suaminya bilang hanya meminjamkan. Tapi, kalau hanya meminjamkan, apakah semua barang-barang Tatiana harus di keluarkan?
"Iya sayang, hanya aku pinjamkan sementara saja!"
"Lantas kenapa kamu memperbolehkan dia merombak seenaknya ruangan ini? dimana semua barang-barang ku?" tanya Tatiana.
Wanita genit itu mendekat, dan kembali menarik ujung jas Brandon.
"Tuan maaf, aku yang salah. Aku yang mengganti semua barang-barang disini. Kata tuan, aku boleh memasukkan apapun yang bisa membuat aku kerja dengan nyaman..."
"Memasukkan apapun, apa kamu harus menyingkirkan semua barang-barang ku?" sela Tatiana mulai kehabisan kesabaran.
Wanita genit itu bicara dengan nada suara yang sangat manja pada suaminya. Bahkan terus menempel pada suaminya. Tatiana mulai kehilangan kendali.
Brukk
"Maafkan aku nyonya, hiks... hiks...!"
Bahkan sekarang, Siska berlutut dan berakting sangat tersakiti di depan Brandon.
Brandon yang melihat itu, bukannya menenangkan istrinya. Malah membantu Siska untuk bangkit berdiri.
"Sudah... sudah, jangan menangis. Ayo bangun dulu!"
Dan wanita genit itu, bangun perlahan sambil merangkul lengan Brandon. Dan yang membuat Tatiana muak, suaminya bukannya menghindar, malah merangkul wanita genit itu dan mengusap lengannya dengan sangat lembut.
"Sudah jangan menangis ya!"
Tatiana hampir tak bisa percaya dengan apa yang dia lihat di depan matanya. Suaminya bahkan menyeka air mata wanita genit itu. Menyentuh wajahnya dengan tangannya. Tangan yang katanya seumur hidup hanya akan menyeka air mata Tatiana saja.
Tatiana masih berusaha untuk mengendalikan dirinya, melihat suaminya terang-terangan menyeka air mata wanita yang jelas-jelas tak ada hubungan kekerabatan dengan mereka sampai, suaminya bisa secara wajar melakukan hal itu. Brandon dalam sekejap menatap Tatiana.
Tatapan yang selama 12 tahun mereka kenal, selama 10 tahun mereka menikah, belum pernah Tatiana lihat sebelumnya.
"Kamu ini sebenarnya kenapa sih, Tatiana? haruskah kamu membuat Siska ketakutan dan menangis seperti ini?"
Dan suara itu, juga adalah suara yang selama 10 tahun belakangan ini tak pernah dia dengar. Suara tinggi yang terlihat seolah Tatiana berhak menerima ucapan dengan nada marah itu.
Hati Tatiana rasanya sakit sekali, istri mana yang tidak sakit hati, ketika suaminya membentaknya demi wanita lain. Apalagi, jelas-jelas Tatiana tidak salah, dia hanya bertanya dimana barang-barangnya. Barang-barang itu sangat berharga, dia dapatkan dengan kerja keras selama hampir 10 tahun.
"Kamu membentak ku?" tanya Tatiana dengan wajah tak percaya.
"Kamu keterlaluan! dia ini masih sangat muda, dia baru lulus kuliah. Perbandingan usianya denganmu saja 10 tahun. Kenapa menakutinya, hanya karena barang-barang tidak berguna itu!"
Tatiana diam, tadinya tangannya mengepal karena dia sangat kesal. Tapi mendengar ucapan suaminya, kalau barang-barang itu hanya barang-barang yang tidak berguna, dia... diam.
Tatiana menghela nafas panjang.
"Terserah, tapi singkirkan semua ini dalam satu jam. Kembalikan meja kerjaku dan posisinya seperti semula!"
Tatiana segera keluar dari tempat itu. Daripada amarah dan rasa kesal, dia lebih merasa sangat muak.
Saat dia keluar dari pintu, arah langkahnya hanya tertuju ke arah ujung koridor lantai 10 itu. Ada sebuah ruangan, yang biasa digunakan untuk dia istirahat, disana dindingnya terbuat dari kaca, dan banyak tanaman yang bisa menghasilkan udara bersih. Dia merasa sejak kembali dari luar negeri, sejak tiba di bandara. Dia terlalu banyak menghirup udara kotor.
Tatiana membuka ruangan itu, semuanya masih sama. Tatiana menghela nafas lega. Dia menatap ke arah pemandangan yang ada di depannya. Tak lama ponselnya berdering.
Senyum terukir tipis di wajahnya, ketika dia melihat nama siapa yang tertera di layar ponselnya itu.
"Halo..."
[Sudah sampai? sudah beritahu kabar baiknya pada suamimu? jangan khawatir tentang perusahaan Tatiana, dananya sudah disiapkan. Tinggal kamu bilang saja kapan kami bisa Investasi. Kami akan segera datang kesana]
"Aku belum beritahu mas Brandon, nanti saja!"
[Baiklah, tapi kamu baik-baik saja kan? nada suaramu...]
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir!"
[Jangan sampai lupa, kamu punya kami berdua. Jika ada masalah, ada yang menyakitimu...]
Suasana hati Tatiana sungguh tidak seburuk tadi. Dia terkekeh, dia bicara dengan orang yang bisa membuat suasana hatinya benar-benar menjadi lebih baik.
"Iya... iya, aku tahu. Aku akan langsung lapor pada kalian berdua!"
[Baiklah, jaga dirimu]
"Iya"
Dan baru saja Tatiana menutup panggilan telepon itu. Ponselnya kembali berdering. Kali ini, ayah mertuanya yang menghubunginya.
"Halo ayah!"
[Tatiana, ayah dengar kamu sudah kembali. Datanglah ke rumah nak, ayah sudah minta pelayan memasak makanan kesukaanmu. Makan siang lah bersama Brandon di rumah]
"Ayah sudah menghubungi Brandon?" tanya Tatiana. Dia sedang tidak ingin bicara pada suaminya itu.
[Ada apa nak? kalian bertengkar? jangan khawatir, nanti ayah marahi anak nakal itu]
"Tidak ayah, hanya saja dia sedang tidak bersamaku saat ini!"
[Baiklah, ayah akan hubungi dia. Atau mau ayah jemput nak?]
"Tidak ayah, aku akan pergi sendiri!"
[Sampai bertemu di rumah ya Mak]
"Iya ayah!"
Panggilan itu berakhir. Tatiana kembali menghela nafas panjang.
***
Bersambung...
Lagian ya Tatiana, jabatan mu di perusahaan itu sudah tidak ada lagi..
Apalagi status istri..
Walaupun baru kau & Yuli yg mengetahui..
Namun yg perlu kau sadari..
Di perusahaan itu bukan tempat mu lagi..
Dan menjauh dari orang² toxic adalah pilihan yg tepat hingga surat cerai keluar nanti..
Kau seharusnya sadar, kau bahkan tak diberikan kepercayaan mengelola keuangan darinya..
Bahkan kau tak pernah menerima nafkah dari nya..
Di mata nya kau bukan istri, Tatiana..
Kau hanya di perlakukan seperti sapi perah oleh nya..
Ternyata cinta membuat Tatiana buta..
Begitulah cinta tanpa menggunakan logika..
Di kibulin pasangan, manut² saja.. 🤭
Tapi Brandon itu LLP (Lugu² Paok) namanya Tatiana.. 🤣
Dia bukan lelaki, dia itu boti..
Ada pula suami, tapi peran nya seperti seorang istri..
Bini kerja banting tulang, dia cuma modal telur &:ongkang² kaki..
Astaghfirullah.. Kacau sekali jika dapat tipe suami seperti ini..
Lelaki, tp kelakuan nya kyk banci..😏
aq kasihan takut si buaya ke racunan ,,
Mana ada seorang Kk yg tega melihat adiknya di perlakukan kurang ajar..
Mana kelakuan suami nya sendiri yang minta di hajar..
Hanya karena rasa kasihan pada ayah mertua, maka Tatiana harus lebih sabar..
Agar ayah mertua tak terlalu terkejut saat Brandon & Tatiana bubar..
Karena jalan perpisahan mereka berdua sudah terbuka lebar..
mampooss buat Brandon
orang gila dimana nyari 4 millyar dalam berapa jam
mang sakit jiwa 🙄
yg bisanya cuman buka kaki buat para pria🙄
lagi spaneng nih k
masa ga ada kelonggaran mau nafas dulu🤣
apa pun masalahnya nangis terus siwalang sangit gak tega , gitu aja terus sampai jadi gembel 🤣🤣🤣🤣🤣