Demi rasa iba, Arhan menikahi Dira, seorang gadis yatim piatu yang baru kehilangan kedua orang tuanya. Dira mengira pernikahan itu adalah awal dari kehidupan yang penuh kasih sayang. Nyatanya, ia hanya dijadikan istri untuk mengurus rumah, melayani suami, dan merawat ibu mertuanya.
Lima tahun berlalu tanpa kehadiran buah hati. Dira terus menyalahkan dirinya karena dianggap mandul. Ia tak pernah tahu bahwa setiap hari Arhan memberinya pil KB yang dikemas sebagai obat penyubur agar ia tak pernah mengandung.
Ketika alasan "mandul" itu digunakan Arhan untuk menikahi wanita yang sejak dulu dicintainya, hati Dira hancur. Lebih menyakitkan lagi, ia tak sengaja mendengar percakapan yang mengungkap bahwa selama ini dirinya hanyalah seorang babu yang sengaja dipertahankan sampai wanita pujaan Arhan kembali.
Namun, semua kebohongan memiliki waktunya untuk terbongkar. Saat rahasia pil KB akhirnya terungkap, penyesalan mulai menghantui Arhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sidang Perceraian
Dua bulan Kemudian
Ruang sidang itu terasa begitu dingin bagi Dira. Bukan karena pendingin ruangan yang menyala sejak pagi, melainkan karena kenyataan yang harus ia hadapi hari ini. Lima tahun pernikahan yang selama ini ia pertahankan dengan segala daya dan pengorbanan, kini berada di ambang akhir.
Dira duduk dengan kedua tangan bertaut di atas pangkuannya. Wajahnya terlihat tenang, jauh lebih tenang dibandingkan malam-malam panjang yang pernah ia lalui sambil menangis sendirian di kamar. Di hadapannya duduk Arhan, pria yang pernah ia kasihi sepenuh hati. Karena telah berkedok untuk menjadi pahlawannya dulu.
Hakim mempersilakan Dira menyampaikan alasan mengapa ia mengajukan gugatan cerai.
Dira menarik napas panjang. Manik beningnya menatap lurus ke depan sebelum akhirnya berhenti pada sosok Arhan.
"Saya mengajukan perceraian karena rumah tangga ini sudah tidak bisa dipertahankan lagi, Yang Mulia."
Suara Dira terdengar pelan, namun cukup jelas memenuhi ruangan.
"Selama lima tahun pernikahan kami, saya berusaha menjadi istri yang baik. Saya mengurus rumah, memasak, membersihkan rumah, merawat ibu mertua saya saat beliau sakit, dan memenuhi kebutuhan suami saya semampu saya."
Dira tersenyum tipis, senyum yang justru tampak menyakitkan.
Pandangan Arhan mulai berubah. Untuk pertama kalinya ia tidak berani menatap mata Dira secara langsung.
"Saya hidup bersama seseorang yang tidak pernah benar-benar menginginkan saya sebagai istrinya. Saya hanya menjadi orang yang mengurus rumah, menjaga ibunya, menyiapkan kebutuhannya, dan memastikan hidupnya berjalan nyaman."
Suara Dira mulai bergetar.
"Saya merasa lebih seperti pembantu yang tinggal di rumahnya daripada seorang istri."
Kalimat itu membuat dada Arhan terasa sesak.
"Saya tidak pernah meminta kemewahan. Saya tidak pernah meminta kehidupan yang sempurna. Saya hanya ingin dicintai dan dihargai sebagai seorang istri."
Setetes air mata jatuh membasahi pipinya.
"Namun selama lima tahun, saya terus menunggu sesuatu yang tidak pernah saya dapatkan."
Dira mengusap air matanya dengan cepat.
"Karena itu saya memilih mengakhiri pernikahan ini. Bukan karena saya membenci suami saya, tetapi karena saya sudah terlalu lelah berharap."
Suasana kembali hening.
Tidak ada kemarahan dalam suara Dira. Tidak ada teriakan. Tidak ada makian.
Yang ada hanyalah luka panjang yang akhirnya menemukan keberanian untuk diucapkan.
Setelah Dira selesai berbicara, ruang sidang kembali diliputi keheningan yang menyesakkan.
Arhan masih duduk di kursinya dengan tubuh membeku.
Tidak ada amarah.
Tidak ada tuntutan.
Tidak ada kebencian.
Namun justru ketenangan itulah yang terasa paling menyakitkan.
Hakim kemudian mengalihkan pandangan kepada Arhan.
"Apakah saudara tergugat ingin memberikan tanggapan?"
Arhan mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya langsung jatuh pada sosok Dira yang duduk beberapa meter darinya.
Wanita itu tampak jauh berbeda.
Dulu Dira selalu menatapnya dengan penuh harapan.
Kini tidak ada lagi harapan itu.
Yang tersisa hanyalah ketenangan dan kelelahan.
Arhan menelan ludahnya susah payah.
"Saya..." suara Arhan terdengar serak.
Untuk pertama kalinya ia kesulitan mencari kata-kata.
Hari ini Dira benar-benar berdiri di hadapannya untuk pergi.
"Saya tidak pernah berniat menyakiti Dira," ucap Arhan lirih.
Kalimat itu membuat Dira tersenyum tipis.
Senyum yang tidak mencapai matanya.
"Masalahnya bukan niat, Mas."
Suara Dira terdengar lembut.
"Kadang seseorang bisa terluka bukan karena dipukul atau dimarahi. Kadang seseorang terluka karena terus diabaikan."
Jantung Arhan seolah diremas kuat.
Dira melanjutkan.
"Selama lima tahun saya hidup sebagai istri Mas. Tapi saya tidak pernah merasa menjadi pilihan Mas."
Arhan menundukkan kepalanya, ia teringat bagaimana Dira selalu menunggu di ruang tamu saat dirinya pulang larut malam.
Terbayang bagaimana Dira berlari membawakan obat ketika ibunya sakit.
Terbayang bagaimana wanita itu selalu tersenyum setiap kali ia bersikap dingin.
Dira memberikan segalanya.
Sedangkan dirinya hanya menerima.
"Kalau saya melakukan kesalahan, saya minta maaf," ucap Arhan pelan.
Dira menggeleng.
"Tidak semua luka bisa sembuh dengan kata maaf, Mas."
Kalimat itu menghantam Arhan lebih keras daripada teriakan.
Sebab Dira benar.
Ada luka yang tercipta sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun hingga akhirnya menghabiskan seluruh rasa cinta yang dimiliki seseorang.
Hakim kembali memberikan kesempatan mediasi terakhir.
"Apakah saudara penggugat tetap ingin melanjutkan gugatan perceraian ini?"
Semua mata tertuju pada Dira.
Wanita itu menunduk sesaat.
Di dalam hatinya terlintas begitu banyak kenangan.
Hari pernikahannya.
Hari-hari saat ia mencoba menjadi istri terbaik.
Malam-malam ketika ia menangis sendirian.
Dira mengangkat wajahnya.
Pandangannya bertemu dengan Arhan untuk terakhir kalinya.
Tidak ada lagi cinta yang mengikat.
Tidak ada lagi harapan yang menahan.
Hanya ada keikhlasan.
"Saya tetap ingin bercerai, Yang Mulia."
Sementara Dira justru merasa beban besar yang selama ini menghimpit dadanya perlahan terangkat.
Hari itu, bukan hanya pernikahan mereka yang berakhir.
Tetapi juga penantian panjang seorang wanita yang selama lima tahun berusaha dicintai oleh orang yang salah.
Hakim ketua membuka berkas yang berada di hadapannya sebelum akhirnya membacakan putusan.
"Setelah mempertimbangkan seluruh fakta persidangan, keterangan para pihak, serta alat bukti yang diajukan, maka majelis hakim berpendapat bahwa rumah tangga antara penggugat dan tergugat telah mengalami perselisihan yang berkepanjangan dan tidak lagi dapat dipertahankan." Suara hakim terdengar tegas.
Tok!
Palu telah diketuk. Tegas menggema memenuhi ruang persidangan yang tampak dipenuhi dengan ketegangan.
Hari ini perceraian Arhan dan Dira benar-benar selesai.
Bu Mira yang menyaksikan kemudian berdiri dan langsung memeluk erat tubuh Dira yang masih membeku ditempat. "Semoga dengan ini kehidupan yang bahia menghampiri mu."
Dira mengangguk, air mata menggenang dipeluk matanya, rasa sakit dan tangis didalam rumah itu kini telah berakhir.
Sementara Arhan masih menundukkan wajahnya. Kenangan bersama Dira kini memenuhi benaknya, Dira yang selalu menyemangatinya, jatuh bangun Arhan berjuang Dira selalu ada disampingnya. Sampai dengan Arhan berhasil menjadi direktur diperusahaan besar berkat adanya Dira yang selalu ada disampingnya ketika dia lelah.
Bukan perasaan lega yang kini pria itu rasakan, tapi Arhan merasa sebagian hidupnya kini telah hilang dibawa oleh kepergian Dira dan mendiang ibunya, bayangan rumah yang suram dan sepi tanpa kehadiran dua wanita itu kini terasa bagai mimpi buruk yang terus menghantuinya.
Bersambung