Dirga dan Asha..
Keduanya menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih saat duduk di bangku sekolah, Asha adalah cinta pertama Dirga begitu juga Dirga yang cinta pertama Asha.
Keduanya saling mencintai satu sama lain, bahkan mereka bermimpi untuk menikah suatu hari nanti.
Namun takdir berkata lain..
Orangtua Dirga menentang hubungan Asha dengan Dirga, meminta Asha untuk pergi dengan memberikan sejumlah uang kepada asha.
Asha pun pergi meninggalkan Dirga tanpa penjelasan yang jelas..
Lima tahun berlalu..
Asha kembali Ke Jakarta..
Asha berpikir semuanya sudah berubah, termasuk Dirga..
Namun takdir kembali mempertemukan Dirga dan Asha, bukan sepasang kekasih tapi Bos dan juga asisten pribadinya.
apakah mereka akan kembali bersatu ? atau justru sudah ada orang lain yang mengisi hidup mereka ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Caramel_Machiato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Pagi hari Dirga sudah mengirimkan pesan di grup nya
[Dirga : Hari ini gue mau istrirahat, nggak nerima tamu satu orangpun]
[Reza : Istirahat atau berduaan sama mantan ? ]
[Bayu : Feeling gue sih berduaan ]
[Kevin : Kalau ngobrol harus kepala dingin, Dir ]
Dirga hanya membacanya, dan meletakkan ponselnya kembali
Dirga masih merebahkan tubuhnya di ranjangnya..
Sambil menatap langit-langit kamarnya, Dirga terus berpikir
" Gimana caranya biar dia cerita ? "
Dirga memejamkan matanya sejenak..
Tok. Tok.. Tok..
Dirga langsung membuka matanya, dan turun dari ranjang
" Ya " Dirga membuka pintu kamarnya
" Pagi Pak, Dirga " sapa Asha yang sudah berdiri didepan pintu
" Pagi, kamu mau kemana ? "
" Oh ya saya mau izin buat ke pasar pak "
" Ngapain ? "
" Mau belanja buat masak, mumpung hari libur "
" Sendiri ? "
" Iyah, naik ojek online mungkin pak "
" Kamu tunggu sini "
Dirga langsung kembali menutup pintu kamarnya lagi
Asha pun merasa bingung
Di kamar Dirga langsung mencuci wajahnya dan mengganti pakaian
" Nah kan rapih "
Kemudia Dirga langsung membuka pintu kamarnya, ia melihat Asha yang masih berdiri ditempat yang sama
Asha mencium aroma parfume yang cukup kuat
" Pak Dirga mau kemana ? "
" Temenin kamu "
" Temenin saya ke pasar ? "
" Iyah, kenapa ? Ada yang salah ? "
Asha tersenyum kecil..
" Pak Dirga ke pasar pakai celana panjang dan jaket ? Sayang atuh bajunya "
" Kenapa memangnya ? "
" Ya nanti celanya kotor Pak, terus nanti gerah juga kalau pak Dirga pakai jaket "
" Oh gitu, yasudah saya ganti dulu "
Dirga kembali menutup pintu kamarnya dan Asha tersenyum sambil mengangguk
Tak lama Dirga pun keluar dengan pakaian yang berbeda
" Gini ?" tanya Dirga dan Asha mengangguk
Segera keduanya pun turun bersama..
Saat berjalan menuju garasi, Asha melihat motor yang terparkir disana
" Kita naik motor aja, gimana ? "
Dirga menatap motor miliknya yang terparkir disana
" Nggak naik mobil aja ?"
" Cuma ke pasar, ngapain naik mobil ? "
" Yaudah kalau begitu "
Dirga dan Asha pun langsung naik ke atas motor Dirga..
Sebelum pergi, Dirga menarik kedua tangan Asha agar memeluk dirinya
" Nanti jatuh "
Asha terpaku..
" Hmm " Asha mengangguk
Segera Dirga melajukan motornya..
Asha sesekali tersenyum, ia masih ingat persis bagaimana ia dan Dirga berkeliling dengan motor Dirga
Dirga memperhatikan Asha dari spion motornya
Gadis itu terus tersenyum sepanjang jalan, dan tanpa sadar Dirga pun tersenyum
Sekitar tigapuluh menit, mereka pun sampai di pasar tradisional
" Pak Dirga mau ikut masuk ? "
Dirga menatap ragu, namun akhirnya ia pun mengiyakan
" Iyah "
" Yaudah ayo "
" Sha, tunggu "
" Kenapa ?"
" Jangan panggil Pak, Dirga aja "
Belum sempat Asha menjawab, Dirga sudah lebih dulu berjalan.
" Lucu " ucap Asha tersenyum kecil dan mengejar Dirga
Asha dan Dirga berhenti di salah satu penjual ikan
" Kamu mau makan apa ? " tanya Asha
Dirga pun diam sambil berpikir
" Udang sepertinya enak, Sha "
" Yaudah nanti aku masakin udang tepung ya "
Dirga mengangguk
" Pak udangnya mau 1 kg ya, sekalian di bersihin. Berapa ? "
" 90 ribu aja neng "
Saat Asha hendak mengeluarkan uang, tapi Dirga sudah lebih dulu membayar dengan uangnya
" Ini mas kembalinya " ucap si bapa
" Dir, ko kamu yang bayar ? '
" Nggak apa apa "
Sambil menunggu, Dira memperhatikan sekelilingnya
" Sha.."
" Ya, kenapa ? "
" Kamu bisa bikin ayam yang kemarin malam kita makan ? "
Asha tertawa kecil
" Dirga, itu cuma ayam goreng. Ya kali aku nggak bisa "
" Kamu mau ? "
" Boleh kalau kamu nggak keberatan, Sha "
" Yaudah nanti kita beli yah "
Setelah udang mereka selesai, mereka berpindah ke penjual ayam yang tidak jauh dari penjual sebelumnya
" Ibu, ayamnya mau satu yah "
" Oke cantik "
" Potong 8 aja ya Bu "
"Oh iyah neng "
Dirga pun ikut bersuara
" Berapa bu ?"
" Lima puluh ribu aja ganteng "
Dirga pun membayarnya kembali
" Cantik sama Ganteng, cocok " ucap si Ibu sambil membersihkan ayam yang mereka beli
Asha hanya tersenyum
" Udah nikah neng ? "
" Belum bu "
" Ohh pacar berarti yah, cepetan nikah atuh nanti pasti anaknya cakep ini "
Asha dan Dirga hanya tersenyum
Setelah ayam mereka selesai, si Ibu penjual pun memberikan kepada Asha
" Biar aku aja yang bawa Sha " Dirga mengambil dari tangan Asha
" Tapi kamu udah bawa udang, Dirga "
" Nggak apa apa, udah kamu pilih aja apa yang mau kamu beli "
Mendengar debatan kecil Asha dan Dirga, ibu penjual ayam itu kembali menggoda
" Duh baru pacaran aja udah perhatian gini apalagi udah nikah nanti "
" hehe permisi Bu "
Asha langsung mengajak Dirga untuk pergi
Mereka berkeliling dari satu penjual ke penjual lainya, hingga semua yang Asha butuhkan selesai di beli
Saat hendak pulang, Dirga melihat gerobak bubur tak jauh dari motor mereka.
" Sha "
" Ya, kenapa ? "
" Sarapan dulu ya, lapar "
" Oh yaudah "
Mereka pun menghampiri gerobak bubur itu..
" Pak dua yah makan disini "
Ucap Dirga lebih dulu
" Campur mas ? "
" Yang satu jangan pakai daun bawang, kerupuknya di pisah "
" Yang satu campur "
" Oh siap mas "
Asha tak menyangka jika Dirga masih mengingat hal kecil itu
Asha dan Dirga pun duduk sambil menunggu bubur mereka
" Masih inget ternyata " ucap Asha pelan dan Dirga hanya diam
Penjual bubur itu meletakkan dua mangkuk bubur di depan keduanya lengkap dengan sate pendampingnya
Asha mengambil satu tusuk sate telur puyuh, dan di letakkan di mangkuk Dirga
" Dulu ada cowok yang ngambek gara gara nggak kebagian telur puyuh "
Tanpa sadar Dirga tersenyum..
Mereka menikmati bubur mereka tanpa pembicaraan
Mungkin lebih tepatnya keduanya sedang mengingat masa lalu mereka
Walaupun sudah tujuh tahun berlalu..
Kenangan diantara mereka berdua masih teringat jelas bagi Asha maupun Dirga
Mungkin bisa jadi tak pernah salah satu dari mereka yang melupakannya