NovelToon NovelToon
Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku

Status: tamat
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:254k
Nilai: 4.8
Nama Author: Dayang Rindu

Halo readers semuanya..!
Othor kembali dengan kisah rumah tangga yang penuh liku-liku. Perjodohan, penghianatan, dan banyak lagi kisah di dalamnya.

Kisah seorang gadis yang menikah karena perjodohan yang membawa pada kekecewaan. Harapan terakhir sang kakek cucu satu-satunya akan hidup bahagia bersama pria pilihan, putra dari asisten pribadinya.
Namun takdir kehidupan tak sejalan dengan apa yang ia harapkan.

Bram tak mencintai Habibah!

"Aku meminta hak ku sebagai seorang istri!" Begitu Habibah sudah tidak tahan ketika mendapati suaminya sedang bersama wanita lain.


Walaupun terus saja terjadi.

"Ternyata..." ucap Habibah di tengah guyuran air, dia tersenyum getir, menangis bersamaan membayangkan betapa hangatnya ciuman mereka. Dadanya bergemuruh seolah sedang terisi penuh dengan bara api.

"Ku rasa neraka tak hanya ada di perut bumi, tapi di dadaku." ucapnya pelan, mengadukan kekecewaan yang sudah sangat keterlaluan.

Bagaimana kisah Habibah selanjutnya?

Yuk baca>>

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayang Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Beri hak atau talak

Tidak sulit bagi Bram untuk menemukan Habibah, karena di kota ini dia hanya punya dua tempat, rumahnya dan rumah milik habibah.

Pria itu masuk dengan terburu-buru, tak peduli dengan apa yang akan terjadi atau yang sudah terjadi di kantor. Yang jelas ia khawatir dengan Habibah, perasaan bersalah dan banyak lagi perasaan yang lainnya.

"Habibah." panggilnya menaiki anak tangga dan menuju kamarnya. Tidak ada orang di sana, tapi ada tas di atas meja rias Habibah, juga melihat jas yang di pakai Habibah tergeletak di atas ranjang, dan gemercik air terdengar dari pintu kamar mandi yang tidak tertutup rapat.

Bram langsung membuka dan melihat gadis itu sedang memeluk diri sendiri di bawah guyuran air, menangis dan membiarkan tubuhnya kedinginan.

"Habibah." panggil Bram khawatir masuk dan memeluk tubuh yang yang menggigil karena pedih hatinya.

"Pergilah Mas, biarkan aku sendiri." ucapnya memberontak tak mau di peluk Bram.

"Kau bisa sakit." Bram terus memeluk dan mengajak keluar dari guyuran air, keduanya basah kuyup seperti sedang kehujanan.

"Aku sudah sakit Mas, kau tidak perlu mengkhawatirkan yang sudah terjadi. Kau yang membuatku sakit, dan itu kau sengaja."

"Aku tidak sengaja Habibah, aku tidak bermaksud_"

"Kau menikmatinya." potong Habibah tak mau mendengar penjelasan lagi, suara halus itu sedikit meninggi.

Bram terdiam dengan sejuta rasa bersalah, sepatah kata saja dia sulit untuk menjelaskan kepada Habibah.

Namun tak mengurungkan niatnya untuk membuat Habibah keluar dari kamar mandi tersebut.

"Lepas Mas."

Bram tak mau mendengar, menggendong dan membawanya keluar dengan keadaan sama-sama basah, mandi keduakalinya pagi ini.

"Untuk apa kau menghawatirkan aku, jika kau sendiri tidak pernah perduli." Habibah mendorong Bram agar menjauh.

"Aku peduli, walaupun aku tidak mencintaimu tapi aku peduli." jawab Bram semakin membuat Habibah marah.

"Ya, hanya aku yang mencintaimu Mas dan kau dengan seenak hatimu membuat aku terluka. Kau pergi meninggalkan aku padahal kita bekerja di tempat yang sama. Aku baru mengerti jika ternyata kau meninggalkanku karena kau ingin bermesraan dengan Larisa."

"Aku tidak bermaksud meninggalkanmu untuk bermesraan dengannya, dia mengatakan akan datang ke rumah dan aku segera pergi. Tapi ternyata..."

"Apakah ikatan halal yang kita miliki tidak cukup membuatmu tenang?" tanya Habibah dengan tangis masih tak mau berhenti.

Bram memandanginya, bahkan kemeja tipis yang basah itu tak terlewatkan dari pandangnya.

"Apakah memiliki istri tidak bisa membuatmu hanya melampiaskan hasrat mu kepadaku saja?" ucapnya meluapkan kekesalan juga kekecewaan.

"Aku tidak mencintaimu Habibah."

"Apakah hanya karena sebuah kata cinta kau di perbudak untuk melakukan dosa setiap waktu bersama Larisa, dan aku tidak berguna!"

"Habibah_"

"Aku rasa, aku tidak kalah cantik darinya." Habibah tertawa dengan air mata masih terus mengalir.

"Atau kau tertarik karena dia selalu memperlihatkan tubuhnya?"

"Dia menggoda mu?"

"Dia menyuguhkan semuanya?"

"Dia mengatakan aku menjajakan diriku padamu, dan kenyataannya malah sebaliknya."

Mata yang sembab itu tak lagi menangis, rambut yang tergerai basah dan berantakan itu masih di posisinya. Tapi, mendadak ia menarik kemeja yang basah itu hingga putus beberapa kancing, memperlihatkan tubuh bagian atas yang tak pernah tersentuh atau juga terlihat oleh siapapun. Tentu Bram sangat terkejut hingga membulatkan matanya.

Habibah mendekati Bram dengan sengaja, menatap tajam pria yang mendadak gugup dengan tingkah istri yang sedang marah.

"Kau tidak mencintaiku?" tanya Habibah terus mendekat hingga menempel di dada suaminya.

Bram menatap wajah cantik yang basah tersebut, menelan paksa ludahnya.

"Jawab Mas." ucapnya lagi, bahkan melonggarkan celana panjang hingga terlepas, menyisahkan celana pendek selutut.

"Ya." jawab Bram menahan dirinya untuk tidak bergerak, membiarkan Habibah terus merapatkan dirinya dengan kemeja yang terbuka.

"Aku lelah." ucapnya lagi mendekati wajah Bram hingga tak berjarak.

Bram beringsut dan menghindari Habibah yang menurutnya sedang sangat kacau. Namun diluar dugaan pula Habibah menarik lengan Bram, mencegah ia keluar dan kembali mendorong tubuh basah Bram.

Kali ini Bram membiarkannya, bahkan air di rambut panjang Habibah terasa mengalir di lengannya ketika dengan sengaja Habibah menempelkan miliknya didada Bram.

"Aku memberimu dua pilihan. Dan kau harus memilih salah satunya agar semuanya berakhir." ucapnya setengah berbisik.

"Apa?" jawab Bram pelan sekali.

"Aku meminta hak ku sebagai istri."

Membuat keduanya diam sejenak, terlebih lagi Bram yang semakin gugup dan khawatir.

"Kau berikan hak ku sebagai istri, atau kau berikan talak kepadaku saat ini juga."

"Habibah, kau sedang emosi. Tolong kendalikan dirimu dan pikirkan lagi apa yang baru saja kau ucapkan."

"Aku benar-benar menginginkannya. Kau berikan hak ku, atau kau berikan talak padaku. Agar semuanya usai Mas, kau bisa menikahi Larisa setelahnya." Habibah semakin berani mengusap-usap dada Bram dan sengaja menempel sempurna.

"Habibah kendalikan dirimu." pinta Bram lagi berusaha menghindar, sayangnya dinding tak mungkin bergeser, membuat keduanya semakin menyatu.

"Bukan aku Mas, tapi dirimu. Jika kau benar-benar tidak menginginkan aku maka katakanlah, agar aku bebas dari rasa cinta yang tidak berbalas ini."

"Habibah berhenti atau kau akan menyesal." kesal Bram tidak bisa menghindari tangan lentik Habibah bermain dan memeluk dirinya.

"Aku tidak akan menyesal. Berikan saja apa yang kau bisa." Habibah yakin sekali Bram akan mengucapkan kata talak hari ini, dia sudah siap, benar-benar siap.

Mata beningnya menantang, wajah cantiknya terlihat berani. Tak ada lagi rasa malu hari ini, bahkan wanita lainnya bertingkah seperti penggoda. Lagi pula, dia hanya butuh kepastian, Bram akan mempertahankan atau melepaskan.

Habibah terus mendesak dan memancing suaminya, hingga batas kesabaran Bram semakin menipis.

Bram membalik keadaan dan kehilangan kesabaran.

"Jangan menyesal karena sudah membuatku marah." geramnya dengan mata juga menatap tajam, membuat mata Habibah melebar sempurna.

Untuk pertama kalinya tangan kokoh Bram menyentuh dan mengunci tubuh mulus Habibah.

"Mas." Habibah mencoba menghindar karena ternyata keputusan Bram meleset dari dugaannya.

Bram tak mau mendengar, tak mau peduli dengan perlawanan tangan kecil Habibah, bahkan dorongan sekuat tenaga tak berarti apa-apa baginya.

"Mas aku mohon henti_"

Bram membungkam mulutnya dengan buas, membiarkan gadis kecil itu memberontak dan berusaha membebaskan diri. Namun semakin menantang baginya hingga akhirnya pasrah dan tidak berkutik di bawah Kungkungan tubuh hangat Bram.

"Mas." panggilnya dengan air mata mengalir, kedua tangannya di tekan ke atas.

"Kau yang memintanya." jawab Bram dengan wajah beringas menyerang dan menghujam mendapatkan segalanya.

Pagi menjelang siang itu terlewati dengan rasa yang bercampur aduk, bahagia dan luka, sedih juga entah apa lagi. Keduanya berbaring lelah di ranjang empuk yang berantakan.

Habibah menutup matanya sangat rapat, tak mau melihat bagaimana wajah pria yang dengan beringas mengambil miliknya yang berharga.

Menarik selimut dan bersembunyi memunggungi Bram yang sedang mengatur nafasnya. Dia menangis.

1
Nitnot
Luar biasa
Hana Nisa Nisa
top bgt
Hana Nisa Nisa
kerennnnnn
Hana Nisa Nisa
😭😭😭😭
Hana Nisa Nisa
deg degan ini
Hana Nisa Nisa
😍😍😍😍
Hana Nisa Nisa
gitu donghh
Hana Nisa Nisa
😚😚😚😚😚
Hana Nisa Nisa
okelah
Hana Nisa Nisa
tarik nafas dulu
Hana Nisa Nisa
suka
Hana Nisa Nisa
😑😑😑😑
Hana Nisa Nisa
nyimak dulu
Ayu Dwi S
konten tidak sesuai judul
Dayang Rindu: itu orang yang sengaja kak, dia bukan murni hanya menilai tapi ingin menjatuhkan. biasanya itu akun fake,
total 3 replies
Soraya
mksh y thor karyanya🙏👍
Soraya
knp sih sllu perempuan yang dibikin jatuh cinta duluan, smga karakter habibah ga lmh dn lby cm krna cinta
Soraya
permisi numpang duduk dl ya kak
Dayang Rindu: makasih kak Soraya 😍😍😍
total 1 replies
Desa Febri
ceritanya sngt bagus aku suka bngt
Sela Pertiwi
lah lee nya sama ku aja boleh gak. wkwkwkwkwkwwkwk
Dayang Rindu: boleh kak, 😁😁😁
mampir di Karya baruku ya, "Anak Kos di rumah sebelah"
total 1 replies
Dayang Rindu
jangan lupa Mampir di karya terbaru otor, " Anak Kos Di Rumah Sebelah, selingkuhan suamiku. "
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!