Langkah yang ku tempuh sudah terlalu jauh, tetapi sepertinya tidak berujung...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astirai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Mbok Jum menuju kamar
Renata untuk melihat kondisi Renata. Ternyata masih tidur pulas, tangan mbok
Jum menyentuh dahi Renata, dan betapa terkejutnya karena ternyata Renata demam
tinggi.
Mbok Jum buru-buru keluar
kamar dan menemui Bram di ruang tamu dengan wajah khawatir.
“Den Bram badan jeng Rena
panas tinggi.... gimana ya...?” tanya mbok Jum bingung
Bram buru-buru bangkit
“Boleh saya lihat mbok...?”
“Silakan den. Mari ikut simbok...”
Mbok Jum dan Bram buru-buru
ke kamar Renata. Bram sangat kasihan melihat kondisi Renata. Terlihat wajahnya
pucat dan ada bekas air mata di pipinya. Hati Bram tambah sakit melihatnya. Kemudian
tangannya terulur memegang dahi Renata. Bram kaget, ternyata benar Renata panas
tinggi.
“Mbok tolong siapin air hangat
dan handuk kecil untuk kompres ..”
‘Baik den...” Mbok Jum keluar,
menyiapkan yang diminta Bram. Sementara itu Bram terus memandangi wajah Renata.
Rennnn...aku sangat mencintaimu. Ijinkan aku membahagiakanmu. Aku ingin ada di
sampingmu selamanya. Kata Bram dalam hati sambil mengelus tangan Renata.
Setelah mbok Jum masuk
dengan membawa air kompresan, dengan telaten Bram mengompres dahi Renata. Mbok
Jum menunggu dan duduk di sebelah kaki Renata. Karena merasa ada sesuatu yang mengganggu tidurnya, lama-lama Renata membuka
matanya.
Dilihatnya ada sosok lain
yang duduk di dekat kepalanya. Setelah beberapa saat, Renata menyadari Bram
yang duduk di dekatnya sambil mengganti kompresannya.
“Rennn... kamu sudah bangun.?
Badan kamu panas. Kita ke dokter ya..?’ Kata Bram sambil menggenggam tangan Renata.
“Aku gak papa mas. Tadi
sudah minum obat, ntar juga baik kok..” Jawab Renata pelan.
“Jeng Rena harus ke
dokter ya. Badannya panas dari tadi siang. Simbok kuatir kalau ada apa-apa.?”
Mbok Jum meyakinkan Renata.
“Gak usah mbok. Buat tidur
juga sembuh kok..” Renata masih berkeras.
“Renata...tolong dech...
Jangan buat aku tambah kuatir. Kita ke dokter ya... please Ren...”
“Tapi mas...”
“Renata....kamu panas
tinggi... dan wajahmu pucat. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa. Kita harus ke
dokter...” Bram mencoba memaksa Renata.
Renata mencoba bangkit dari
tidur, tapi badannya terasa lemas sehingga tidak mampu bangkit, akhirnya Bram membantu
duduk.
“Ayo Ren...keburu malem. Kamu
harus dapat obat. Tolong...jangan keras kepala Ren...” Bram memohon karena
khawatir melihat kondisi Renata.
“Jeng Rena...benar kata
den Bram. Gimana nanti malem, simbok kuatir kalau ada apa-apa..”
“Mbok percaya dech. Rena
gak papa...” Renata tetap berkeras.
“Oke kalau tidak mau ke
dokter, biar aku malem ini nungguin kamu di sini. Takut ntar malem ada apa-apa,
kasihan mbok Jum sendirian.” Bram menjawab
dengan wajah serius. Renata memandang wajah Bram.
“Masss...” Renata akan
protes
“Tinggal pilih...ke
dokter atau aku duduk di sini semaleman nungguin kamu...!” Bram tetap berkeras.
“Jeng Rena nurutlah sama
den Bram. Kalau begini kan simbok jadi bingung. Biar simbok tilpun ibu saja ya.
Ibu kan pasti menyuruh ke dokter...” Kata mbok Jum putus asa.
“Mbok jangan kasih tau
ibu. Nanti ibu panik... Oke aku ke dokter...” Kata Renata pelan. Mbok Jum dan Bram
lega.
“Oke aku tunggu di bawah
ya, kamu siap-siap. Mbok tolong bantu Renata ya. “ Kata Bram sambil bangkit berdiri
dan melangkah keluar kamar.
Setelah di luar kamar,
sambil menunggu Renata siap-siap, Bram menghubungi om nya yang jadi dokter dan
buka praktek di klinik.
“Malem om...lagi banyak
pasien ya...”
“..........”
“Saya mau ke klinik om..”
“........”
“Bukan saya, tapi ada teman...yaaa...teman
istimewa lah, ntar om juga tahu....”
“......”
“Baik om, namanya Renata,
minta tolong ya om, biar gak kelamaan nunggu..”
“......”
“Baik om, ini bentar lagi
kami jalan ya om. Makasih om. Malem”
Renata berjalan menuruni
tangga dengan dituntun mbok Jum karena badannya lemas. Sampai di bawah, Bram mendekat
dan menggandeng tangan Renata.
“Mbok tinggal dulu ya...”
Kata Bram
“Ya den...hati-hati...”
Rupanya klinik yang
dituju lokasinya tidak terlalu jauh dengan rumah Renata. Hanya butuh waktu sekitar
duapuluh menit untuk sampai. Karena pasien kebetulan tidak terlalu banyak,
setelah menunggu sekitar sepuluih menit, nama Renata dipanggil oleh suster.
“Ren...boleh aku temani
ke dalam..?” Tanya Bram. Renata mengangguk. Dia merasa tidak punya alasan lain
untuk tidak menyetujui permintaan Bram. Selain karena sakitnya, hati dan
pikirannya pun sudah tidak bisa diajak kompromi.
“Malam om....” Bram
menyapa dokter setelah di dalam.
“Eeh..Bram, malam. Ini....?”
Tanya dokter sambil membuka kacamatanya.
“Ini Renata om... Ren ini
om Handoko adik papi” Renata mengulurkan tangannya untuk menyalami dokter Handoko.
“Ayo silakan duduk. Ada apa
ini....?” Tanya dokter Handoko setelah keduanya duduk.
“Dari tadi siang badan Renata
panas om...” Bram memberi penjelasan pada omnya.
“Ok silakan
tiduran...suster tolong ukur panas dan tensinya...”
Setelah suster melakukan
pengukuran panas dan tensi, dokter Handoko bangkit untuk melakukan pemeriksaan.
Suster menutup tirai pembatas, dokter memeriksa Renata dan mengajukan beberapa
pertanyaan. Setelah selesai, dokter kembali duduk di kursinya, Renata menyusul
duduk kembali di sebelah Bram.
“Gimana om hasilnya...?” Tanya
Bram penasaran karena melihat omnya menulis beberapa resep.
“Tidak ada yang terlalu
mengkhawatirkan. Sepertinya gejala anemia dan ada gangguan di lambung. Tensinya
sangat rendah. Perlu istirahat, jangan terlalu capek dan banyak pikiran. Atau ada
tekanan pekerjaan...?” Tanya dokter Handoko. Renata menoleh ke arah Bram dan Bram
mengangkat kedua bahunya.
“Oke..ini saya berikan beberapa
vitamin. Tapi tetap saja jangan banyak pikiran, karena itu yang memicu penyakit.
Dan upayakan makan yang benar-benar sehat ya... Istirahat yang cukup. Bram juga
kamu harus perhatikan itu...!” Kata dokter Handoko sambil tersenyum dan mengedipkan
sebelah matanya. Renata yang juga melihat hal itu menjadi tidak enak hati.
“Siap om. Makasih.”
“Naaahh... ini resepnya.
Silakan tebus di apotek. Untuk yang anti biotik dihabiskan. Semoga cepat sehat
ya..” Kata dokter Handoko lagi, sambil menyerahkan resep ke Renata.
“Baik dokter,
terimakasih..” Jawab Renata sambil menerima resep.
“Kami pamit om..” Bram
bangkit berdiri dan menyalami dokter Handoko, diikuti Renata. Dokter Handoko
pun menyalami Bram dan Renata.
“Salam sama papi dan mamimu
ya...”
“Ya om, ntar disampaikan .
Makasih om.. malemm...”
Bram dan Renata keluar
dari ruang praktek dan menuju apotik yang kebetulan juga satu areal dengan
tempat praktek dokter Handoko.
“Ren mana resepnya...”Kata
Bram meminta kertas resep ketika Renata hendak menuju ke kasir apotik.
“Biar aku saja mas...”
“Renata...kamu duduk saja.
Badanmu masih lemas. Mana...biar aku yang urus...”
next