NovelToon NovelToon
Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka

Status: tamat
Genre:Romantis / Romansa Modern / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 5
Nama Author: Astirai

Langkah yang ku tempuh sudah terlalu jauh, tetapi sepertinya tidak berujung...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astirai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Mbok Jum menuju kamar

Renata untuk melihat kondisi Renata. Ternyata masih tidur pulas, tangan mbok

Jum menyentuh dahi Renata, dan betapa terkejutnya karena ternyata Renata demam

tinggi.

Mbok Jum buru-buru keluar

kamar dan menemui Bram di ruang tamu dengan wajah khawatir.

“Den Bram badan jeng Rena

panas tinggi.... gimana ya...?” tanya mbok Jum bingung

Bram buru-buru bangkit

“Boleh saya lihat mbok...?”

“Silakan den. Mari ikut simbok...”

Mbok Jum dan Bram buru-buru

ke kamar Renata. Bram sangat kasihan melihat kondisi Renata. Terlihat wajahnya

pucat dan ada bekas air mata di pipinya. Hati Bram tambah sakit melihatnya. Kemudian

tangannya terulur memegang dahi Renata. Bram kaget, ternyata benar Renata panas

tinggi.

“Mbok tolong siapin air hangat

dan handuk kecil untuk kompres ..”

‘Baik den...” Mbok Jum keluar,

menyiapkan yang diminta Bram. Sementara itu Bram terus memandangi wajah Renata.

Rennnn...aku sangat mencintaimu. Ijinkan aku membahagiakanmu. Aku ingin ada di

sampingmu selamanya. Kata Bram dalam hati sambil mengelus tangan Renata.

Setelah mbok Jum masuk

dengan membawa air kompresan, dengan telaten Bram mengompres dahi Renata. Mbok

Jum menunggu dan duduk di sebelah kaki Renata.  Karena merasa ada sesuatu yang mengganggu tidurnya, lama-lama Renata membuka

matanya.

Dilihatnya ada sosok lain

yang duduk di dekat kepalanya. Setelah beberapa saat, Renata menyadari Bram

yang duduk di dekatnya sambil mengganti kompresannya.

“Rennn... kamu sudah bangun.?

Badan kamu panas. Kita ke dokter ya..?’ Kata Bram  sambil menggenggam  tangan Renata.

“Aku gak papa mas. Tadi

sudah minum obat, ntar juga baik kok..” Jawab Renata pelan.

“Jeng Rena harus ke

dokter ya. Badannya panas dari tadi siang. Simbok kuatir kalau ada apa-apa.?”

Mbok Jum meyakinkan Renata.

“Gak usah mbok. Buat tidur

juga sembuh kok..” Renata masih berkeras.

“Renata...tolong dech...

Jangan buat aku tambah kuatir. Kita ke dokter ya... please Ren...”

“Tapi mas...”

“Renata....kamu panas

tinggi... dan wajahmu pucat. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa. Kita harus ke

dokter...” Bram mencoba memaksa Renata.

Renata mencoba bangkit dari

tidur, tapi badannya terasa lemas sehingga tidak mampu bangkit, akhirnya Bram membantu

duduk.

“Ayo Ren...keburu malem. Kamu

harus dapat obat. Tolong...jangan keras kepala Ren...” Bram memohon karena

khawatir melihat kondisi Renata.

“Jeng Rena...benar kata

den Bram. Gimana nanti malem, simbok kuatir kalau ada apa-apa..”

“Mbok percaya dech. Rena

gak papa...” Renata tetap berkeras.

“Oke kalau tidak mau ke

dokter, biar aku malem ini nungguin kamu di sini. Takut ntar malem ada apa-apa,

kasihan mbok Jum sendirian.”  Bram menjawab

dengan wajah serius. Renata memandang wajah Bram.

“Masss...” Renata akan

protes

“Tinggal pilih...ke

dokter atau aku duduk di sini semaleman nungguin kamu...!” Bram tetap berkeras.

“Jeng Rena nurutlah sama

den Bram. Kalau begini kan simbok jadi bingung. Biar simbok tilpun ibu saja ya.

Ibu kan pasti menyuruh ke dokter...” Kata mbok Jum putus asa.

“Mbok jangan kasih tau

ibu. Nanti ibu panik... Oke aku ke dokter...” Kata Renata pelan. Mbok Jum dan Bram

lega.

“Oke aku tunggu di bawah

ya, kamu siap-siap. Mbok tolong bantu Renata ya. “ Kata Bram sambil bangkit berdiri

dan melangkah keluar kamar.

Setelah di luar kamar,

sambil menunggu Renata siap-siap, Bram menghubungi om nya yang jadi dokter dan

buka praktek di klinik.

“Malem om...lagi banyak

pasien ya...”

“..........”

“Saya mau ke klinik om..”

“........”

“Bukan saya, tapi ada teman...yaaa...teman

istimewa lah, ntar om juga tahu....”

“......”

“Baik om, namanya Renata,

minta tolong ya om, biar gak kelamaan nunggu..”

“......”

“Baik om, ini bentar lagi

kami jalan ya om. Makasih om. Malem”

Renata berjalan menuruni

tangga dengan dituntun mbok Jum karena badannya lemas. Sampai di bawah, Bram mendekat

dan menggandeng tangan Renata.

“Mbok tinggal dulu ya...”

Kata Bram

“Ya den...hati-hati...”

Rupanya klinik yang

dituju lokasinya tidak terlalu jauh dengan rumah Renata. Hanya butuh waktu sekitar

duapuluh menit untuk sampai. Karena pasien kebetulan tidak terlalu banyak,

setelah menunggu sekitar sepuluih menit, nama Renata dipanggil oleh suster.

“Ren...boleh aku temani

ke dalam..?” Tanya Bram. Renata mengangguk. Dia merasa tidak punya alasan lain

untuk tidak menyetujui permintaan Bram. Selain karena sakitnya, hati dan

pikirannya pun sudah tidak bisa diajak kompromi.

“Malam om....” Bram

menyapa dokter setelah di dalam.

“Eeh..Bram, malam. Ini....?”

Tanya dokter sambil membuka kacamatanya.

“Ini Renata om... Ren ini

om Handoko adik papi” Renata mengulurkan tangannya untuk menyalami dokter Handoko.

“Ayo silakan duduk. Ada apa

ini....?” Tanya dokter Handoko setelah keduanya duduk.

“Dari tadi siang badan Renata

panas om...” Bram memberi penjelasan pada omnya.

“Ok silakan

tiduran...suster tolong ukur panas dan tensinya...”

Setelah suster melakukan

pengukuran panas dan tensi, dokter Handoko bangkit untuk melakukan pemeriksaan.

Suster menutup tirai pembatas, dokter memeriksa Renata dan mengajukan beberapa

pertanyaan. Setelah selesai, dokter kembali duduk di kursinya, Renata menyusul

duduk kembali di sebelah Bram.

“Gimana om hasilnya...?” Tanya

Bram penasaran karena melihat omnya menulis beberapa resep.

“Tidak ada yang terlalu

mengkhawatirkan. Sepertinya gejala anemia dan ada gangguan di lambung. Tensinya

sangat rendah. Perlu istirahat, jangan terlalu capek dan banyak pikiran. Atau ada

tekanan pekerjaan...?” Tanya dokter Handoko. Renata menoleh ke arah Bram dan Bram

mengangkat kedua bahunya.

“Oke..ini saya berikan beberapa

vitamin. Tapi tetap saja jangan banyak pikiran, karena itu yang memicu penyakit.

Dan upayakan makan yang benar-benar sehat ya... Istirahat yang cukup. Bram juga

kamu harus perhatikan itu...!” Kata dokter Handoko sambil tersenyum dan mengedipkan

sebelah matanya. Renata yang juga melihat hal itu menjadi tidak enak hati.

“Siap om. Makasih.”

“Naaahh... ini resepnya.

Silakan tebus di apotek. Untuk yang anti biotik dihabiskan. Semoga cepat sehat

ya..” Kata dokter Handoko lagi, sambil menyerahkan resep ke Renata.

“Baik dokter,

terimakasih..” Jawab Renata sambil menerima resep.

“Kami pamit om..” Bram

bangkit berdiri dan menyalami dokter Handoko, diikuti Renata. Dokter Handoko

pun menyalami Bram dan Renata.

“Salam sama papi dan mamimu

ya...”

“Ya om, ntar disampaikan .

Makasih om.. malemm...”

Bram dan Renata keluar

dari ruang praktek dan menuju apotik yang kebetulan juga satu areal dengan

tempat praktek dokter Handoko.

“Ren mana resepnya...”Kata

Bram meminta kertas resep ketika Renata hendak menuju ke kasir apotik.

“Biar aku saja mas...”

“Renata...kamu duduk saja.

Badanmu masih lemas. Mana...biar aku yang urus...”

1
Amarantha Chitoz
makasihhhh
Amarantha Chitoz
lanjutin....
Amarantha Chitoz
sasa bisa aza....
Amarantha Chitoz
selamat
Amarantha Chitoz
smoga lancar
Amarantha Chitoz
lanjuttt
Amarantha Chitoz
hati2
next
Amarantha Chitoz
siippp next
Amarantha Chitoz
positif
Amarantha Chitoz
hamil....????
Amarantha Chitoz
jangan2 hamil ya, mudah2an
Amarantha Chitoz
sedih kannnn
Amarantha Chitoz
next yaaaaaa
Amarantha Chitoz
up.....
Amarantha Chitoz
ribet
Amarantha Chitoz
sembuh ya...
Amarantha Chitoz
stop lebay
Amarantha Chitoz
siiiipppp.. lanjut
Amarantha Chitoz
next lah
Amarantha Chitoz
ayo mulai pelan2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!