Di bawah langit Las Angeles, Scarlett Langford bertarung melawan kemiskinan dengan kecerdasan dan percaya diri.
Demi mempertahankan harga dirinya di High School, gadis yatim ini nekat menciptakan sebuah kebohongan besar sebagai kekasih rahasia Millian Vale-Knight—Pria yang tak pernah ia temui.
Namun, takdir gemar bercanda.
Saat bekerja paruh waktu sebagai pelayan pesta borjuis, Scarlett terlibat bentrokan sengit dengan seorang pemuda kaya yang angkuh dan bermata heterochromia.
Tanpa rasa takut, Scarlett memaki pria tersebut seraya berteriak bahwa ia hanya takut jika pria itu adalah Millian Vale-Knight .
Scarlett tidak pernah tahu bahwa pria 'brengsek' yang baru saja ia maki di depan mukanya justru adalah Millian yang sesungguhnya.
Ketika tameng kebohongan menabrak realitas, akankah kepalsuan ini berubah menjadi jerat cinta, atau justru menjadi awal dari kehancuran Scarlett?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#31
Malam kian melarut, namun atmosfer di dalam tenda nomor B-4 justru terasa lebih panas dari kobaran api unggun yang mulai memudar di luar sana.
Scarlett Langford duduk bersila di atas matras tidurnya dengan wajah yang memerah sempurna, sedemikian merah hingga rasanya ia bisa memasak sebutir telur di atas pipinya sendiri.
Kedua tangannya meremas ujung kantung tidur dengan kekuatan yang sanggup merobek kain parasut tersebut.
Matanya menatap kosong ke arah langit-langit tenda, sementara otaknya terus-menerus memutar ulang rekaman kejadian gila beberapa menit lalu di atas rerumputan tebal.
"Astaga... aku benar-benar sudah tidak waras! Aku murahan sekali!" rutuk Scarlett setengah berteriak, menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi yang teramat pekat.
"Bagaimana bisa aku membiarkan bajingan arogan itu naik ke atas tubuhku dan... dan melakukan itu?! Oh, demi Tuhan, ciuman pertamaku! First kiss-ku yang berharga yang kujaga selama belasan tahun ini... lenyap begitu saja di tangan seekor kadal gurun!"
Delaney yang sedang berbaring di matras sebelahnya, spontan langsung bangun terduduk dan menutup kedua kupingnya rapat-rapat menggunakan bantal kecilnya.
Sejak Scarlett menghentakkan kaki masuk ke dalam tenda dengan napas ngos-ngosan, gadis San Marino itu tidak berhenti mengeluarkan rentetan sumpah serapah medis dan kebun binatang dengan kecepatan verbal yang mengagumkan.
"Scarlett, tolong pelankan suaramu sedikit," bisik Delaney dengan ekspresi ngeri sekaligus geli.
"Senior di tenda sebelah bisa mendengar semua sumpah serapahmu. Lagipula, kenapa kau harus sefrustrasi ini?"
"Bagaimana aku tidak frustrasi, Delaney?!" pekik Scarlett, berbalik menatap Delaney dengan mata yang berkilat panik.
"Si berandal Bel Air itu... dia benar-benar merampok sesuatu yang penting dariku dengan dalih 'kelepasan'! Kelepasan matanya sialan! Dia itu predator, berandal mesum, kadal gurun berdarah dingin—"
"Lett, hentikan! Aku benar-benar tidak percaya pada semua akting penolakanmu ini," potong Delaney, menurunkan bantal dari telinganya dan menatap Scarlett dengan pandangan menyelidik yang sarat akan keyakinan mutlak.
"Kau bilang kalian tidak berpacaran? Yang benar saja! Seluruh penghuni perkemahan ini melihat bagaimana kalian berkejaran, tertawa bersama, jatuh di rumput, dan... ya, adegan di bawah bintang itu. Kalian terlihat benar-benar seperti sepasang kekasih yang sudah menjalin hubungan sangat lama dan mendalam."
Delaney memajukan tubuhnya, menopang dagu dengan kedua tangan.
"Katakan padaku dengan jujur, Lett. Apa kalian sebenarnya hanya sedang marahan? Makanya kau terus-menerus tidak mau mengakui Kak Millian sebagai kekasihmu di depan aku? Kau sedang menghukumnya, karena Kejadian Di Bus itu, kan?"
"Marahan? Menghukumnya?!" Scarlett rasanya ingin pingsan mendengar analisis romantis Delaney yang melompat terlalu jauh ke dalam jurang imajinasi.
"Delaney, dengar aku baik-baik. Tidak ada kamus marahan di antara aku dan manusia batu itu. Yang ada hanyalah fakta bahwa dia adalah makhluk paling menyebalkan yang pernah diciptakan di muka bumi ini, dan aku bersumpah akan mencuci bibirku dengan sabun antiseptik sebanyak dua puluh kali besok pagi!"
Scarlett langsung menarik kantung tidurnya, membungkus seluruh tubuhnya hingga ke atas kepala seperti kepompong, mengabaikan kekehan tertahan Delaney yang menganggap reaksi histerisnya hanyalah bagian dari gengsi seorang gadis yang sedang merajuk pada kekasih kayanya.
...*******...
Sementara itu, kontras dengan suasana penuh kutukan di tenda putri, sudut area tenda mentor pria justru dipenuhi oleh gelak tawa yang sangat renyah dan tidak tahu malu.
Di bawah temaram lampu badai yang digantung di tiang penyangga, sekelompok mahasiswa senior masih duduk melingkar di atas kursi lipat sembari memainkan sebuah gitar akustik.
Namun, fokus utama malam ini sama sekali bukan pada lagu yang sedang dimainkan, melainkan pada sosok Millian Vale-Knight yang duduk di pojok dengan ekspresi wajah yang mendadak sangat kikuk—sebuah pemandangan langka yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah persahabatan mereka.
Arthur dan James bahkan harus memegangi perut mereka yang kaku karena tidak berhenti menertawakan sang pangeran Bel Air sejak lima belas menit yang lalu.
"Hahaha! Demi Tuhan, Millian!" James memukul paha Arthur dengan keras, air mata geli hampir menetes dari sudut matanya.
"Lihat wajahmu sekarang! Merah padam seperti bocah remaja yang baru saja tertangkap basah oleh ibunya saat sedang birahi di halaman belakang! Di mana hilangnya reputasimu yang dingin itu, hah?!"
Arthur ikut menimpali dengan petikan gitar yang sengaja dibuat sumbang untuk mengejek.
"Aduh, pangeran kita ternyata bisa bertindak nekat juga. Jatuh di rumput, mengurung tubuh gadisnya, lalu melakukan eksekusi di bawah saksi bisu hamparan bintang? Sangat puitis, Millian. Aku tidak menyangka seleramu bergeser menjadi se-melodramatis ini."
Clark, ikut menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyuman tidak percaya. Ia meletakkan cangkir kopinya ke atas meja lipat.
"Aku benar-benar masih tidak percaya. Seorang Millian Vale-Knight, mencium kekasihnya di tengah suasana alam terbuka dengan suhu ekstrem yang menusuk tulang seperti ini? Kau benar-benar sudah jatuh terlalu dalam pada gadis beasiswa itu, kawan."
Millian meremas kaleng soda kosong di tangannya hingga berbunyi nyaring, mencoba mengalihkan rasa gugup dan getaran aneh yang masih tersisa di ujung jemarinya.
Sumpah demi apa pun, Millian awalnya mengira adegan romantis liar yang ia lakukan di atas rumput tebal tadi luput dari perhatian karena sebagian besar mahasiswa sudah bergerak kembali ke tenda masing-masing.
Ia sama sekali tidak mengira bahwa hampir seluruh mata yang tersisa di lapangan, termasuk para sahabat setianya dan para mentor senior, menyaksikan setiap detik pergerakannya dengan sangat jelas dari kejauhan.
"Tutup mulut kalian," desis Millian dengan suara baritonnya yang direndahkan, mencoba mengembalikan wibawa dinginnya yang sudah runtuh tak bersisa.
"Aku hanya... aku hanya kehilangan kendali sesaat karena udara terlalu dingin. Itu refleks biologis normal."
"Refleks biologis katanya? Wah, pembelaan diri yang sangat berkelas dari seorang Knight," cibir James, menyenggol bahu Arthur yang kembali meledak dalam tawa rendah.
Kenyataannya, kehebohan yang terjadi di luar lingkaran pertemanan Millian jauh lebih masif.
Adegan ciuman mesra di bawah hamparan bintang yang dipersembahkan oleh Millian dan Scarlett malam itu benar-benar menjadi visual paling romantis dan tak terlupakan di sepanjang sejarah perkemahan mahasiswa baru Los Angeles.
Hampir seluruh mentor wanita dan mahasiswi yang sempat menyaksikan kejadian itu diam-diam dilingkupi oleh rasa iri dan dengki yang luar biasa besar terhadap nasib mujur Scarlett Langford.
Bagaimana mungkin seorang gadis miskin pinggiran yang baru masuk kampus bisa mendapatkan perlakuan se-intens dan se-protektif itu dari seorang pria kasta tertinggi seperti Millian?
Namun, di antara ratusan pasang mata yang dilingkupi rasa kagum dan iri, ada satu pasang mata yang menyala-nyala oleh api kehancuran.
Anna berdiri di balik bayangan pohon besar tak jauh dari lingkaran para mentor pria.
Tangannya mencengkeram kulit pohon hingga kuku-kukunya yang dilapisi riasan mahal terasa sakit.
Wajah cantiknya terdistorsi oleh kombinasi rasa malu pasca-penolakan dan kemarahan yang luar biasa pekat setelah melihat adegan ciuman tersebut dengan mata kepalanya sendiri.
Dinding arogansi dan kebanggaan masa kecilnya runtuh total.
Ciuman pertama di masa high school yang tadi ia banggakan di depan Scarlett ternyata sama sekali tidak ada artinya jika dibandingkan dengan intensitas tatapan mata Millian saat mengurung tubuh Scarlett di atas rumput tadi.
Millian tidak pernah menatap wanita lain dengan binar se-posesif itu.
"Suasana mesra dan romantis itu..." desis Anna dengan suara yang teramat sinis, air mata kemarahan mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Kau mengizinkan dirimu menyentuh barang murahan itu, Millian? Di depan umum?!"
Anna membalikkan tubuhnya dengan sentakan kasar, berjalan menembus kegelapan malam menuju tendanya sendiri dengan segenap dendam yang kian mengkristal di dalam dada.
Di dalam benaknya yang mulai dikuasai oleh kegilaan rasa kepemilikan, sebuah sumpah hitam telah tertanam dengan sangat kuat.
"Scarlett Langford... aku tidak akan pernah membiarkan seorang Millian Vale-Knight bersanding dengan gadis miskin dan murahan sepertimu seumur hidupku. Camkan itu baik-baik," lirih Anna keji, mengunci malam terakhir perkemahan dengan sebuah ancaman badai baru yang siap meledak begitu mereka kembali ke Los Angeles besok siang.
apa bisa up yg banyak biar aku semakin mager
pleaseeee
tinggal ketahap talking stage 🤣🤣🤣