NovelToon NovelToon
Ana Uhibbuka Fillah

Ana Uhibbuka Fillah

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:311.9k
Nilai: 5
Nama Author: Erisna Aisyah

Dia Aisyah, seorang santriwati di pesantren tempatku mengajar. Gadis anggun nan jelita, yang mampu membuatku terpana pada saat jumpa pertama. Bukan karena kecantikan wajahnya yang membuatku kagum, tapi ketaatan pada-Nya lah yang mampu membuatku ingin selalu dekat dengannya.

Cerita ini hanya fiksi ya, hanya merupakan pemikiran dari author. Jangan lupa like, comment, and vote ya. Author akan sangat berterima kasih untuk hal itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erisna Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Ar-Rahman

Harus kuekspresikan seperti apa wajahku ini? Karena rasa senang yang kian mendera di dalam hati. Dan akhirnya, aku hanya mengulum senyum sedari tadi.

Aku tidak boleh terlalu puas, karena ini baru permulaan dari ujian yang Ayah Aisyah berikan. Tapi setidaknya, ini bisa membuatku semakin bersemangat.

Kulihat, Gus Ilyas menjadi murung. Kasihan dia, padahal sudah mati-matian menahan takut. Aku memang mengamatinya tadi, mengamati gerak-geriknya. Takut kalau sampai terjadi apa-apa, karena sepertinya dia memang fobia terhadap belut.

Kudengarkan perkataan Ayah Aisyah, yang menuju pada ujian sesi kedua. Tapi sempat bingung juga, saat beliau mengatakan ...,

"Sebutkan alasan, kenapa aku bisa memberi ujian menangkap belut pada kalian, dan bukan ujian yang lainnya. Dalam bentuk tertulis, supaya tidak ada yang mencontek," tegasnya.

Memang apa alasannya?

Belut adalah hewan yang cukup menggelikan, menurutku. Tapi memang kaya akan gizi, dan sangat benyak manfaatnya untuk kesehatan.

Nina, adik semata wayangku juga sangat menyukai belut. Dulu Ayah sering membelikannya untuknya. Tapi entah kalau sekarang.

Dia sendiri sekarang sudah duduk di kelas tiga SMA, sebentar lagi ujian, katanya. Jadi kangen sama dia, hiks.

Apa mungkin karena ini, karena tingkat gizinya tinggi? Entahlah. Manding aku tulis sebisaku saja. Cukup kami saja yang tahu.

Sambil menunggu Ustadz Ibrahim mengoreksi jawaban kami, kami pun segera berganti pakaian dengan pakaian yang kami pakai sebelumnya.

Sekitar satu jam kemudian, Ayah Aisyah mengumumkan lagi siapa pemenangnya. Dan kali ini, wajahnya terlihat begitu masam, saat melihat kami berdua. Ada apa?

Pertanyaanku terjawab, saat beliau membuka mulutnya dan mengatakan,

"Kalian berdua begitu mengecewakan."

Deg, kami berdua saling pandang, terkejut mendengarnya. Kenapa?

"Pertanyaan semudah ini saja kalian tidak tahu, benar-benar membuatku kecewa. Sepertinya kalian berdua memang tidak ada yang cocok untuk putriku. Batalkan saja semua usaha kalian!" Tegas beliau, sukses membuat pertahananku luruh.

Kenapa? Kenapa, Ya Allah? Padahal aku sudah berharap sekali pada beliau, ingin segera meminang putrinya. Mendapat restu darinya. Tapi kenapa malah seperti ini?

Tes. Embun yang sedari tadi menggantung di sudut mata, kini meluncur dengan sempurna, mengenai kedua tangan yang saling terpaut di bawah perut.

Yang tengah menahan getaran dada yang kian membuncah, merasakan kepedihan yang kian mendalam. Apa aku benar-benar akan ditolak?

Segera kuusap bekasnya di pipi dengan cepat, takut kalau sampai tertangkap basah oleh Ustadz Ibrahim. Kenapa aku jadi secengeng ini?

Kulirik Gus Ilyas di sampingku. Dia memang tadi sempat terkejut, tapi sekarang terlihat sedikit tenang. Apa dia tidak benar-benar menginginkan Aisyah?

Benar-benar tidak tahu dengan jalan pikiran anak Abah Yai yang satu ini. Seperti menganggap suatu pernikahan dengan hal untuk main-main.

Kudengar Ustadz Ibrahim menghela nafas sejenak, kemudian meneruskan perkataannya.

"Tapi setelah kupikir-pikir, mungkin kalian memang belum mengerti dengan bab ini. Bab tentang kehidupan dalam berrumahtangga. Baiklah, mengingat Aisyah yang memang menyukai salah satu dari kalian, lebih baik kita teruskan sesi ketiga. Ini yang benar-benar akan menentukan siapa yang terpilih." Kali ini, Ustadz Ibrahim mengatakannya dengan sungguh-sungguh.

"Yang terakhir ini, tolong bacakan surat Ar-Rahman secara bil-ghaib. Dan tunjukkan keistimewaannya. Dimulai dari Gus Ilyas, masuk ke ruang baca saya." Perintahnya, Gus Ilyas pun segera mengikutinya.

Sedangkan aku di sini, masih terus memikirkan maksud dari Ustadz Ibrahim tadi.

Surat Ar-Rahman. Memang cukup istimewa, dengan diulangnya satu ayat yaitu ''Fabiayyi Alaa'i Rabbikumaa Tukadzdzibaan" sebanyak tiga puluh satu kali. Yang artinya: Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Kalau tidak salah, banyak yang mengatakan kalau surat Ar-Rahman merupakan pengantinnya Al-Qur'an.

Dan kalau kita perhatikan dalam Al-Qur'an, surat ke tiga puluh satu adalah surat Luqman. Dan pada ayat ke tiga puluh satu, ayat tersebut mempunyai arti,

"Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebahagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur." (QS. Luqman, ayat 31)

Berarti, maksud dari surat Ar-Rahman adalah untuk selalu bersabar dan bersyukur kepada-Nya. Begitu menurutku. Seperti halnya yang terdapat dalam surat Luqman ayat 31. Semoga kali ini aku benar dalam menjawab.

Setelah sekitar setengah jam, Gus Ilyas keluar. Wajahnya terlihat masam, tapi segera tersenyum saat melihatku. Dan itu terlihat sangat ... aneh.

"Kang Yusuf disuruh masuk ke dalam," ucapnya. Aku pun segera memasuki ruang baca yang dia maksud.

Kulihat, Ustadz Ibrahim sedang membaca Al-Qur'an. Kemudian segera menghentikannya, setelah mendengar aku menutup pintu.

"Duduk," katanya, tanpa menoleh. Menegangkan sekali.

"Sudah wudlu, 'kan?" tanyanya, aku sedikit terkejut, tapi segera mengangguk saat beliau menoleh ke arahku.

"Bacakan surat Ar-Rahman dengan bil-ghaib," ucapnya, aku pun segera menurutinya.

Kubaca surat Ar-Rahman dengan khusyuk. Alhamdulillah, aku memang sudah hafal sejak satu tahun lalu, beserta artinya. Sekitar lima belas menit kemudian, aku selesai.

Sempat terlihat, Ustadz Ibrahim menyunggingkan sedikit senyuman. Semoga ini pertanda baik, hatiku berkata.

"Jelaskan keistimewaannya,"

Aku pun segera menjelaskan, seperti yang ada dalam pikiranku tadi.

Terlihat beliau tersenyum puas, kemudian berkata, "Bacakan itu untuk putriku nanti, di depan penghulu." Kemudian senyumannya benar-benar mengembang.

Deg. Jadi, aku benar-benar diterima? Batinku menjerit.

"Maksud Ustadz?" Aku bertanya memastikan.

"Aku ... menerimamu," ucapnya.

Bagai bunga yang tengah bermekaran. Harum semerbak menebar keseluruh penjuru. Menciptakan sensasi yang begitu menenangkan.

Aku ... terpaku. Mendengar ucapannya barusan. Benar-benar sulit digambarkan, betapa bahagianya hati ini.

"Alhamdulillah, Ya Allah. Alhamdulillah."

Berulang kali aku mengucap syukur, sampai-sampai Ustadz Ibrahim geleng-geleng melihatnya.

"Tidak salah, kalau Aisyah memilihmu. Ternyata kamu benar-benar serius ingin meminangnya." Aku mengangguk mendengar ucapannya.

"Segera tamui Ayahmu, datanglah untuk segera mengkhitbah secara resmi," ujarnya kemudian.

Aku pun mengangguk kembali, tak sanggup berkata apa-apa.

Ayah, dengarlah kabar bahagia ini. Anakmu akan segera menikah, dengan seorang wanita yang begitu menyejukkan hati. Aku yakin, Ayah pasti menyukainya.

Ibu, terima kasih untuk semua do'a-do'amu di atas sana. Aku yakin, engkau pasti bahagia dengan ini.

Kami pun segera keluar ruangan. Terlihat Gus Ilyas tengah duduk di sofa, ditemani secangkir teh dan juga nastar di depannya.

Senyumku benar-benar tak bisa berhenti mengembang. Kulihat Gus Ilyas menggelengkan kepala berulang kali.

Biar saja, dia begitu. Tidak tahu orang lagi bahagia, apa?

"Gus Ilyas, saya sudah memutuskan, kalau Yusuf yang jadi pemenangnya." Ustadz Ibrahim berkata, setelah duduk dan berulang kali menghela nafas. Merasa tidak enak, mungkin.

Gus Ilyas pun mengangguk pasrah, kemudian tersenyum kearahku.

"Jaga Aisyah dengan baik, Kang. Aku memang sudah menyerah dari tadi, sebelum sesi ini dimulai," ucapnya, terdengar begitu pilu.

"Pasti!" jawabku, mantap.

Kami pun segera pulang, setelah berpamitan pada Ayah dan Ibu Aisyah. Dalam perjalanan, Gus Ilyas hanyut dalam kebisuan.

***

Bersambung

1
Cah Dangsambuh
alamaaaaaaak langsung ngejungkel deh dah di ubun ubun tiba tiba ada penghalang🤣🤣🤣
Cah Dangsambuh
pak ustadz ngajak bicara selain pada murid pada hatinya juga hehe baguuuuus bet
Cah Dangsambuh
awal yg bagus aku langsung suka pa lagi ini pasti banyak ilmu yg di tebar ,,,maaf baru baca soanya baru nemuin 🙏🙏🙏
Nurfa Vita
koq gk ada kelanjutan ya thoor...yusuf aisyah
Nurfa Vita: untuk cerita yusuf ada lanjutan apa ndak thor
total 2 replies
Kontri Onti
ko paragrafnya diulang ulang thor ..maaf kalau langsung mungkin jadi ga bolak balik bacanya
Erisna Aisyah: ini tulisan pertama saya kak, dua tahun lalu, jadi masih berantakan😁
sekarang saya sedang fokus menulis di aplikasi Fizzo. Judul yang sudah tamat, "Dipaksa Menikah" dan "Dipaksa Menikah 2"
untuk yang saat ini sedang saja tulis dan sedang berlangsung, judulnya Pesona Si Gadis Desa ☺
silakan mampir jika berkenan...
total 1 replies
Qeyfa Alisya
assalamualaikum
Erisna Aisyah: waalaikumsalam
total 1 replies
Hida Hida
perjuangan untuk mendapatkan Aisyah aja susah,tp kenapa harus poligami...aku paling ga suka cerita ustadz yang poligami... meskipun di boleh kan tp unsur pertama kebanyakan mereka yang berpoligami itu karena nafsu 😑
Raina Wahab
jangan ada poligami yaa thor ,,,please 🙏🙏
Erisna Aisyah
mampir juga di karyaku yang baru dengan judul HIJRAH (Ajari Aku Mengenal-Nya) 😊
affiyahmikayla
aisyah nangis kh🤣
affiyahmikayla
waduh
affiyahmikayla
lanjuutt thorr
Zaskia Nada
Masyaallah baru tadi ana minta untuk lanjutin ceritanya eh alhamdulillah mbaknya langsung up lagi ceritanya,pokoknya semangat yh mbak untuk lanjutin ceritanya😊
Erisna Aisyah: Alhamdulillah😇 kebetulan stok part sudah ada, jadi begitu ada penyemangat bisa langsung up. tapi mohon maaf, untuk part selanjutnya mungkin agak lama. lagi nyoba nulis cerbung lainnya🤗😊
total 1 replies
affiyahmikayla
semangat up thoorr😍
Erisna Aisyah: makasih🤗
total 1 replies
Zaskia Nada
pliss mbak lanjut ceritanya,walaupun upnya mau berapa bulan lagi insyaallah akan saya tunggu😊
Erisna Aisyah: insya allah, kak 😊 makasih buat sarannya😍
total 1 replies
Evi Andriani
Iyo yg lain solusinya 😩😩😩😩😩
Koleksi Azzahra
Jngan poligami dong thor
Ada solusi terindah thor selain poligami.
Siti Maimunah
lnjt
Noer Soeryantie
paling males beginini kalau baca sekitaran ustadz ustadzah...POLIGAMI terrrooossss...ga ada apa kalau cari solusi selain harus menikah lagi...bye bye lah ...jadi males baru mau di faforitin eh malah suruh POLIGAMI....maaf ya..
Hamzasa
baru baca..suka ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!