Kisah seorang mantan cassanova dan juga ketua mafia, diselingi komedi.
Baca dulu novel pertama author yang berjudul "My Ice Girls Saranghae..."🤗
Darren Ferguso seorang mantan play boy sejati memutuskan mengakhiri masa lajangnya dengan seorang gadis yang berhasil membuatnya bertekuk lutut.
Gadis unik yang membuatnya terpana akan kepandaiannya dalam bela diri. Gadis itu bukan gadis sembarangan.
Rasa bahagia tak mampu mereka sembunyikan, karena pernikahan mereka tinggal menghitung hari. Namun rona bahagia itu seakan sirna kala masa lalu Darren kembali ke dalam kehidupan pria itu.
Wanita yang berhasil membuat Darren mengeluarkan sisi liarnya sebagai seorang laki-laki.
"Darren aku merindukanmu!"
Tanpa menunggu lama wanita itu menubruk tubuh tegap pria berjambang tipis itu. Wangi lembut nan menggairahkan menguar dari tubuh wanita itu. Wangi yang sangat ia rindukan. Hingga membuat pria matang itu lupa diri.
Tanpa mereka sadari, seorang gadis mematung menyaksikan cal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AniitaLee_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ritual sebelum Perang
Malam harinya Darren dan anggota Dragon Fire lainnya melancarkan aksi mereka untuk memasuki kawasan terlarang. Yang Darren curigai sebagai tempat dimana Sona di sekap oleh pria dingin, yang sempat bertatap muka dengannya beberapa waktu lalu.
“Anta, siapa sebenarnya mereka? Kenapa kita dengan muda bisa membobol sistem keamanan mereka? Setahu gue, tidak ada organisasi yang membiarkan musuh atau lawan mereka masuk dengan mudah. Kecuali.....” ucap Darren terpotong.
“Kecuali apa bos?” sahut Anta ingin tahu.
“Kecuali ini sebuah jebakan!” ungkap Darren dengan wajah seriusnya.
Jika sedang mode serius, ketampanan Darren meningkat berkali-kali lipat. Jika ada kaum hawa yang melihatnya, pasti akan mimisan di tempat seperti yang ada di web series Terlalu Tampan.
Deg!
Semua anggota Dragon Fire menatap satu sama lain seperti membenarkan ucapan dari ketua mereka Darren.
“Lalu apa yang harus kita lakukan selanjutnya bos? Masak kita harus mundur sebelum menyerang? Padahal persiapan kita sudah matang,” ujar Koni yang merasa usahanya sia-sia.
Koni dan Pilki yang mendapat tugas mengecek seluruh persenjataan pun merasa kecewa jika misi mereka malam ini benar-benar tidak terlaksana.
Darren pun terdiam nampak berfikir sesaat. Pria berjambang tipis itu nampak menimbang-nimbang dengan segala kemungkinan terjadi.
“Anta, kira-kira posisi Sona berada dimana?” tanya Darren kepada Anta si ahli peretas.
“Menurut sinyal gue dapat, posisi nona Sona berada di sebuah mansion besar. Yang di jaga oleh 30 pasukan. Dari jumlahnya saja, kita bisa saja kalah bos."
Darren pun kembali terdiam. Otaknya bekerja keras untuk segera memberi jalan keluar atas masalah yang mereka hadapi. Setelah cukup lama berfikir akhirnya Darren membuat keputusan final.
“Baiklah, agar tidak memupuskan semangat kalian yang sudah berkobar. Misi kita malam ini tetap jalan, namun gue mau. Salah satu kalian tetap tinggal dan hubungi anggota lain yang masih tersisa. Suruh batalkan misi mereka di tanah air untuk membantu kita di sini. Mengerti?” tutur Darren dengan tegas.
“Siap! Mengerti bos!”
“Oke, sebelum kita berangkat lakukan apa yang ingin kalian lakukan. Misal ada yang ingin boker, apa pengen telepon emak, bapak, pacar atau selingkuhan. Mangga! Waktu dan tempat Di persilahkan.”
Tanpa menyahuti ucapan Darren dengan serentak mereka memenceti benda canggih milik mereka untuk menghubungi orang terkasih. Seperti tentara yang hendak maju ke medan perang.
“Emak, pidoana mugi-mugi Oska tiasa uih ka tanah air mak. Kin rencana na abdi bade melamar teteh Elis.” (Emak, doanya semoga Oska bisa pulang ke tanah air mak. Nanti rencananya saya mau melamar teteh Elis)
“*Ari m*aneh teh di mana ayeuna? Geura uih! Mun teu uih sok si Elis teh bakal di kawinkeun ku batur nembe nyaho maneh nya! ”
(Kamu teh dimana sekarang? Segera pulang! Kalau tidak pulang, sok si Elis teh bakal di nikahin sama orang lain baru tahu rasa kamu ya!”)
Omel emak Oska dengan logat sunda campurannya.
“Tong atuh mak! Antosan abdi uih!” (Jangan atuh mak! Tunggu saya pulang!)
~
“Biyunge, Koni kangen getuk goreng gaweane biyung.”
~
“Dek Sri, mamas bade mangkat nang medan perang. Doane nggih, mamas saged mantuk nang tanah air lan lanjutne pertunangane kita.”
(Dek Sri, mamas mau berangkat ke medan perang. Doanya ya, mamas bisa pulang ke tanah air dan melanjutkan pertunangannya kita.)
“Sepurone, sampean ki sinten nggih?” (Maaf, kamu ini siapa ya?)
“Loh, dek Sri iki mamas Pilki. Mosok sampean lali karo mamas to dek?Iki mas Pilki calon tunangane sampean yo.”
(Loh, dek Sri ini mamas Pilki. Masa kamu lupa sama mamas tah dek ? Ini mas Pilki calon tunangannya kamu ya.)
“Ngawur sampean ya! Kulo niki iseh sekolah ya durung duweni tunangan. Wah, keblinger sampean ki!
(Ngasal kamu ya! Aku ini masih sekolah ya belum punya tunangan. Wah, bingung kamu ini!)
Tut!
“Halo...halo Sri? Kok malah mati tah yo...yo!”
~
Disaat anggota yang lain sibuk memhubungi kerabat atau keluarganya, Darren malah memilih menyendiri sambil menatap foto Sona dalam ponselnya.
“Tunggu kedatanganku, aku akan segera membawamu pulang.”
Kemudian Darren memasukkan kembali ponsel miliknya dalam saku jaket anti peluru miliknya. Tak lupa Darren juga melapisi tubuhnya dengan rompi anti peluru. Untuk berjaga-jaga.
“Bagaimana? Apa kalian sudah siap?” tanya Darren sambil menatap ke arah wajah-wajah yang nampak asam bin kecut usai bertukar rindu dengan keluarga mereka.
“Siap bos!!” jawab semua anggota serentak.
“Untuk lo Oska! Pastikan Naomi berdiam di tempatnya, jangan sampai ia keluar dan merusak misi besar kita kali ini.”
“Siap bos! Laksanakan!”
“Bagus, semua bergerak.”
Darren pun memberi instruksi untuk memulai aksi mereka. Semua anak buahnya membawa senjata rangkap, serta amunisi yang penuh.
Amex berlalu lebih dulu karena tugasnya memastikan sekitar aman atau tidak, agar anggotanya yang lain bisa masuk lebih mudah.
Kali ini Amex menyamar sebagai Psg rokok yang sexy, berkat silicon yang baru saja ia beli. Buah melon palsu miliknya nampak menyembul seperti asli. Amex pun berjalan dengan centil sambil menjajakan rokok lokal jualannya.
“Oppa...oppa, rokoknya ?” ucap Amex dengan tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya menatap kearah penjaga gerbang sebuah tempat yang di kelilingi oleh pagar yang menjulang tinggi.
“Oh, boleh..boleh.”
Dengan gayanya yang menggemaskan Amex pun berhasil mengelabuhi para penjaga yang berkisar 6 orang itu. Ke enam orang itu pun mencoba rokok yang Amex jajakan. Tanpa mereka sadari, bahwa rokok itu sudah di selipkan obat bius di dalamnya.
Tak menunggu waktu lama, keenam pria berbadan tegap itu pun tumbang di tempat. Amex menyeringai puas. Lalu Amex pun meraih Handy talkie miliknya dan menghubungi Darren.
“Tes..satu..dua, oke! Bos.. Lokasi aman, kalian bisa maju sekarang!” ucap Amex setengah berbisik.
Maaf kalau isinya random y reader, karna otornya sedang random banget ini...🙏🤭
By your side, hadir
Saling dukung yuk, #By Your Side
Yuk saling dukung ^By Your Side^ jangan lupa mampir ya
halo kak yuk kita saling dukung #by side you