Layani aku kapan pun di mana pun aku mau sebagai mana layak nya seorang istri yang baik sampai waktunya tiba aku akan menceraikan mu.
Arinda Maharani gadis 18 tahun, yang terpaksa menggantikan mempelai wanita untuk menikah dengan anak majikan ibu nya.
Bagas Airlangga Kusuma 30 tahun pria arogan ,keras kepala dan juga tempramen. Mau tidak mau ia harus menikah dengan anak dari pembantu karena di tinggal kan kekasih nya di saat pernikahan mereka kurang dua hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vhauna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bagas dan intan
Hari-hari berlalu tak terasa seminggu sudah Bagas tidak pernah pulang ke rumah semenjak malam itu.
Sempat beberapa hari lalu ia menghubungi Arin mengatakan bahwa ia sedang menangani proyek di luar kota tepat nya di Kalimantan. Namun benar tidak nya hanya yang maha kuasa yang tahu.
Setiap malam Arin tidur di kamar Bagas. Kamar yang akhir-akhir ini selalu ia gunakan istirahat bersama Bagas. Tidur dengan posisi saling berpelukan usai melakukan kegiatan suami istri yang membuat nya begitu merindukan lelaki tersebut.
Ingin rasanya Arin menghubungi Bagas terlebih dahulu, namun ia urungkan niat nya takut mengganggu kesibukan Bagas.
Setiap hari nya Arin di sibukkan dengan kegiatan menanam berbagai macam bunga di taman yang berada di area belakang rumah yang juga terdapat kolam renang yang berukuran tidak terlalu besar namun sangat pas untuk model rumah nya yang minimalis.
Saat tengah membuang daun-daun yang sudah kering, konsentrasi nya harus bubar saat ponsel yang ada di saku daster nya bergetar. Dan ada nomor yang tidak ia kenal mengirimkan pesan yang mengatakan bahwa saat ini Bagas sedang berada di apartemen yang juga berada di Jakarta.
Tapi bukan nya pak Bagas bilang kalau saat ini ada di Kalimantan. Arin mencoba mengabaikan pesan tersebut namun pikiran dan hati nya tidak sejalan lagi.
Karena rasa penasaran dan ingin membuktikan kebenaran pesan tersebut akhirnya Arin meminta kepada pak Eko selaku supir pribadi nya , untuk mengantarkan menuju alamat tersebut.
"Pak ,tolong anterin ke alamat ini bisa ,gak pak?" Arin menunjuk kan ponsel nya memberi tahu alamat yang ada di pesan tersebut.
"Bisa ,nduk ayo bapak antar."
"Makasih ya ,pak."
Sejak menerima pesan tersebut perasaan nya tidak nyaman. Ia merasa selama ini Bagas memang telah berbohong saat mengatakan sedang berada di luar kota.
Setelah sampai di apartemen yang di maksud, Arin langsung menuju lobby lalu bertanya kepada petugas yang berjaga. Kemudian baru lah Arin menuju lantai tempat kamar tersebut berada.
Walaupun ia merasa ketakutan menggunakan lift. Namun rasa penasaran nya mampu mengalahkan rasa takut nya. Sehingga walaupun kakinya bergetar ia tetap bersikap biasa saja. Karena di dalam lift tersebut terdapat beberapa orang yang mungkin juga penghuni apartemen tersebut.
Ini kali pertama nya untuk Arin memasuki area apartemen. Apa lagi apartemen tersebut terbilang elit. Tak hanya sekali , Arin bahkan dari tadi melihat beberapa artis selebriti yang pernah ia lihat di Tv berseliweran di sana.
Sesampainya di lantai 27 akhirnya pintu lift terbuka.
Ting....
Lantas Arin keluar lalu mencari letak nomor apartemen yang di maksud. Kemudian ia menekan passcode puntu tersebut sesuai dengan yang ada di pesan tadi lalu pintu pun bisa di buka.
Duh ,kok berasa seperti maling, sih.
Setelah berhasil memasuki apartemen tersebut namun Arin tidak mendapati satu orang pun di sana.
Berhubung hanya ada dua kamar di sana , kemudian Arin membuka salah satu nya dan lagi-lagi ia tidak mendapati siapapun di sana.
Duh maksud nya apa sih.
Dan yang terakhir ia membuka pintu kamar ke dua. Seketika badan nya mendadak kaku, bibir nya bergetar, mata nya mulai memanas.
Ia mendapati suami nya tengah bermesraan dengan Intan dalam posisi Intan duduk di pangkuan Bagas sembari berciuman.
"Astagfirullah." hanya kata tersebut yang spontan lolos dari bibir Arin menyaksikan hal yang tak sepantasnya ia lihat. Nafas nya mendadak sesak, mata nya terasa gelap, hati nya seketika remuk.
"Arin...?" Bagas begitu terkejut saat mendapati Arin sudah berdiri di tengah pintu menatap nya dengan tatapan penuh luka.
Tanpa berpikir panjang, Bagas langsung mendorong Intan hingga terjengkang ke belakang. "Ini pasti semua jebakan kamu sialan." ucap Bagas penuh Amarah kemudian ia berlari mengejar Arin.
"Rin, tunggu...!" Bagas berteriak sembari mengejar Arin.
"Lepas ,pak...Arin mau pulang. Maaf Arin ganggu bapak." ucap nya saat Bagas berhasil menarik tangan nya.
"Kalau mau pulang ayo saya antar."
"Gak perlu , pak. Arin ke sini sama pak Eko. Jadi Arin bisa pulang sama pak Eko."
"Enggak, Kamu harus pulang dengan saya. Saya harus jelaskan sama kamu."
"Apa penting nya, bapak menjelaskan sesuatu yang bukan urusan Arin."
Tak ingin berdebat di sini akhirnya tanpa basa-basi lagi Bagas menarik Arin sampai di Area pakir mobil nya.
"Pelan ,pak kaki Arin sakit."
"Tidak perduli akan keluhan Arin lantas Bagas mendorong Arin masuk ke dalam mobil nya."
"Kita bicarakan di rumah." ucap nya. sembari mengemudikan sendiri mobil nya.
Di dalam perjalanan semua saling membisu, Bagas hanya fokus mengemudi sementara Arin menoleh ke samping melihat bangunan-bangunan tinggi yang selalu ia kagumi.
Karena Bagas mengemudi dengan kecepatan penuh akhirnya hanya tiga puluh menit saja ia sampai di kediaman nya yaitu rumah tempat tinggal nya bersama Arin.
Kemudian mereka keluar dari mobil dan jalan beriringan menuju kamar mereka.
"Rin, tolong dengar kan saya dulu." pinta Bagas sembari menarik tangan Arin untuk duduk di ranjang mereka. Sesampainya di kamar.
"Kenapa lagi ,pak?"
"Ini semua jebakan Intan. Saya tidak melakukan hal apapun dengan nya."
"Untuk apa bapak menjelaskan kepada Arin. Toh Arin bukan siapa-siapa nya pak Bagas. Mau melakukan hal apa pun itu, itu bukan urusan Arin."
"Kamu istri saya."
Arin tersenyum getir mendengar Bagas mengakui nya sebagai istri.
"Kita hanya suami istri dalam akta nikah saja ,pak. Bukan sungguhan. Arin hanya bapak nikahi untuk mendapatkan perusahan. Arin hanya bapak nikahi sebagai pemuas nafsu bapak saja. Bapak ingat ,kan waktu pertama kita menikah. Bapak hanya meminta Arin untuk melayani na*su bapak saja. Dan yang Arin tahu itu akan terus berlaku sampai bapak berhasil mendapatkan kedudukan di perusahaan lalu setelah itu baru bapak akan melepas kan Arin. Bukan kah itu tidak lebih dari budak na*su saja ,pak?" mata Arin berkaca-kaca mati-matian ia berusaha untuk tidak menangis namun nyata nya ia tidak sanggup.
Bagas terdiam. Mulut nya terasa kelu, apa yang Arin ucap kan benar ada nya. Baru kali ini ia merasa benar-benar jahat. Gadis se polos Arin hanya seperti boneka mainan untuk nya.
"Jadi, nggak ada yang perlu bapak jelasin sama Arin. Arin bukan siapa-siapa di sini." Dan akhirnya air mata itu tumpah dari pelupuk nya yang indah. Ia tak kuasa menahan rasa yang menyeruak dari dalam dada nya.
"Saya memang jahat." Bagas tertunduk dan hanya kata tersebut yang keluar dari bibir nya. Seolah mengakui betapa buruk nya sikap nya terhadap Arin.
"Arin tahu ,seminggu lalu setelah kita makan malam, mbak Intan lah yang menghubungi bapak, sampai-sampai bapak panik dan pergi. Dan bapak bilang ada urusan. Saat itu Arin mungkin bisa menerima, tapi jujur tadi saat Arin melihat dengan mata kepala Arin sendiri bapak bermesraan dengan mbak Intan ,Arin gak kuat ,pak...Arin sakit lihat bapak dengan wanita lain. Arin jahat kalau harus iri sama mbak Intan yang memang dia lah wanita yang memiliki hati bapak."
"Arin gak kuat pak... Gak kuat. Arin seperti orang yang begitu mencintai pak Bagas." teriak nya histeris. "Arin jahat ,kalau harus membenci mbak Intan yang saat ini hamil anak bapak."
"Entah memiliki keberanian dari mana ,sehingga ia berani mengatakan hal tersebut terhadap Bagas."
Mendengar pengakuan gadis tersebut tiba-tiba saja Bagas menarik nya ke dalam pelukan nya. "Berikan saya waktu, saya akan menyelesaikan masalah saya dengan Intan."
Arin menggelengkan kepala nya. "Gak perlu ,pak. Di sini memang seharus nya Arin yang harus lebih tahu diri."
"Begitu pun dengan saya. Awal nya saya benci sama kamu saat awal-awal pernikahan kita. Tapi setelah tahu kamu mengandung anak saya, anak kita, saya merasa begitu bersalah dan saya ingi selalu dekat dengan mu dan melindungi mu."
"Terlambat ,pak.... Sekarang lebih baik segera nikahi mbak Intan. Kasian kalau anak kalian lahir di luar nikah. Arin tunggu pengajuan cerai kita." ucap nya lalu meninggalkan Bagas begitu saja ia menuju kamar nya.
Entah mengapa Bagas tidak sanggup mendengar kata tersebut keluar dari bibir Arin. Ia benar-benar bodoh mudah sekali di jebak eh Intan sampai-sampai ia membohongi Arin. Bahkan tak hanya sekali dua kali. Sering kali Bagas tidak pulang ke rumah hanya untuk bersama Intan.
Dan Arin ia menangis sesenggukan. Ia benar-benar tidak rela dan merasa sakit yang teramat dalam mengingat kelakuan Bagas dan Intan tadi. Katakan ia serakah, ia ingin memiliki Bagas sepenuhnya namun ia sadar itu semua tidak akan mungkin.