Jawadwipa yang tenang setelah perang yang berakhir 300 tahun yang lalu. Kedamaian terasa selama waktu itu. Namun sayangnya, kematian Maharaja Prabu Jimbaran membawa sebuah gejolak besar. Adiknya Prabu Kertorasa menggantikannya. Namun dia bukan pemimpin yang baik.
Dengan segala siasatnya, dia mengamankan posisinya. Membunuh banyak pendekar hebat adalah salah satunya. 15 pendekar Aatma yang sudah mendekati Moksa menjadi incaran fitnahnya.
Dalam masa sulit yang terselubung oleh kedamaian itu, seorang pendekar muda muncul. Tidak ada yang tahu asal-usulnya. Pendekar ini membakar untuk menunjukan keadilannya. Tidak bisa ditahan oleh apapun. Dia sangat licin seperti belut sawah,lincah seperti elang dan kuat seperti seperti badak!
***
Berlatar di sebuah dimensi yang mirip bumi. Mengambil latar waktu yang sama dengan masa kejayaan dari Majapahit dan awal dari datangnya saudagar-saudagar timur tengah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iyota, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22 | Bandoso dan Niatnya
Bandoso tergesa-gesa keluar dari kediamannya. Sakin tergesa-gesanya,dia sampai lupa menaiki kereta kencananya. Dia pergi bersama 4 orang pengawal kepercayaannya, mereka berasal dari prajurit terbaik di kota ini.
Semalam ketika dia terbangun dari tidurnya, berita mengejutkan sampai di telinganya. Seorang pemuda bertanggung jawab atas berhasilnya pembasmian siluman yang menyerang kota dan atas terbakarnya Alas Widuri. Meski hanya seperempat bagian Alas saja yang terbakar, tetapi itu tetap kerugian besar.
Langkah kaki ramping Bandoso terus terarah ke sebuah penginapan, satu-satunya penginapan di kota ini. Cukup lama untuk mencapai wilayah sekitar gerbang utara, apa lagi untuk mencapai Penginapan Bunga Lotus. Meski seharusnya dia hanya 45 menit, tapi kaki rampingnya tidak mendukung untuk terus berjalan cepat.
"Kenapa aku malah berjalan seperti ini!?" umpatnya kesal karena menyadari kebodohannya.
Di depan Penginapan banyak orang yang berkumpul. Mereka adalah orang-orang yang tinggal di sekitar gerbang barat.
"Pahlawan… Pahlawan kami terimalah pemberian kami ini…"
"Pahlawan~! Nikahi aku~"
"Tuan pahlawan, terimalah pertunangan dengan putri kami."
Berita tentang pemuda tampan yang menyelamatkan kota, terutama gerbang barat kota, dari serangan siluman. Banyak hasil bumi yang diletakan di depan bangunan penginapan. Bahkan ada beberapa yang menyerahkan diri dan putri mereka.
"Mengapa banyak sekali rakyatku di sini? Dan apa-apaan hasil bumi?" kata Bandoso geram. Dia merasa ketidakadilan yang dilakukan oleh rakyatnya sendiri. Bandoso perlu usaha lebih untuk mendapatkan seorang selir, tapi pemuda yang baru akan menerima terimakasih darinya sudah mendapatkan banyak wanita dengan satu tindakan penyelamatan.
"Buatkan jalan untukku." kata Bandoso agak lirih.
Kalimat Bandoso langsung dilaksanakan para pengawalnya. "Beri Jalan! Bupati Bandoso ingin memasuki penginapan."
Dalam wilayahnya, Bupati adalah raja. Meski jika Adipati datang dia juga akan menjadi seorang bawahan, tapi setidaknya dia bisa menjadi raja walau sebenarnya dirinya hanya seorang tuan tanah.
Para warga menyingkir dan memberi jalan untuk bupati mereka. Bandoso dengan jalan angkuh dia melangkah kan kakinya yang terbungkus kain batik. Pengawal setianya mengikuti dari belakang. Pintu dengan dua daun pintu dibukakan oleh dua pengawal yang cekatan.
Para resepsionis dan penjaga merasa heran ketika keributan di luar penginapan tiba-tiba hening.
"Apa mereka sudah sadar jika tuan muda yang menyelamatkan kota datang bersama salah satu anggota Partai Sembilan Pedagang?" kata salah seorang penjaga. Tapi tak lama setelah pertanyaannya dilontarkan, pintu masuk kedalam penginapan terbuka.
"Dimana ruangan pemuda yang menyelamatkan kotaku?" tanya Bandoso. Dia percaya, dia bisa mendapatkan apapun hanya dengan jabatannya, meski dia agak kesulitan mendapatkan selir karna wajahnya yang sedikit lain dengan pria kebanyakan.
"Maaf, Tuan Bupati. Tapi nona Lakshita dari Partai Sembilan Pedagang melarang kami memberi informasi apapun tentang pemuda yang Tuan maksud." kata salah resepsionis kepada Bupati Bandoso dengan bahasa sesopan yang dia bisa.
"Berapa wanita itu membayar untuk tutup mulut?" kata Bandoso agak kesal dengan kalimat yang dikatakan oleh wanita yang menjawabnya.
"300 Batu Mana merah! Berapa yang berani kau keluarkan untuk membuat wanita itu buka mulut." seorang wanita dengan pakaian sutra mewah. Wajahnya cantik dan sangat menawan dilapisi kulit kuning langsat. Matanya lebar dan alisnya lentik. Rambutnya disanggul dengan beberapa dibiarkan terurai.
"Cantik." sebuah kata tak sengaja keluar dari bibir Bandoso. Matanya membulat dan mulutnya terbuka tak dapat tertutup.
"Berapa yang akan kau berikan untuk membuat wanita ini buka mulut." wanita ini mengulangi pertanyaan yang sama. Kali ini sang wanita sudah berada di dekat sang resepsionis.
Bandoso kembali mendapatkan kesadarannya. Dia berpikir untuk mencari alasan yang pas untuk menyelamatkan dirinya. Wanita didepannya saat berpengaruh jika memang benar dia mengeluarkan 300 Batu Mana merah.
"Ti-tidak, bukan seperti itu maksudku. Aku hanya bertanya berapa gajinya, aku meminta dia untuk menjadi dayang di rumahku. Begitu bukan nona?" Kata Bandoso berkelit. Butuh beberapa waktu lainnya untuk membuat Bandoso paham dengan siapa dia berbicara kali ini. Dia yakin jika wanita cantik di depannya ini adalah Lakshita yang disebutkan oleh sang resepsionis.
Keempat pengawalnya sudah mengambil sikap waspada meski masih terlihat hanya tegak berdiri tanpa ada tanda akan melakukan serangan. Lakshita dapat melihat jika ada perubahan sikap dari keempat orang itu. "Jangan biarkan orang-orangmu bertindak bodoh." kata Lakshita memberikan peringatan.
"Mohon maaf Nona, tapi bisakah anda membiarkan pria ini bertemu dengan pemuda yang telah menyelamatkan kota kecilku ini?" Bandoso tidak ingin terlihat menjadi lebih buruk. Busur cintanya sudah membidik sasarannya. Dia juga memberi tanda kepada keempat pengawalnya untuk kembali siaga.
"Tuan Bupati, apa dayaku ini. Pemuda itu bahkan belum membuka matanya, bagaimana aku bisa membiarkan orang-orang menemuinya? Dirinya terlalu lemah untuk itu." Lakshita bukan orang baru masuk ke dalam situasi seperti ini. Orang kuat selalu diikuti oleh politik. Menurutnya, Abimayu memiliki sifat yang terlalu awam, bahkan untuk dunia persilatan. Meski Abimayu berhasil membuat Lakshita penasaran dengan latar belakang Abimayu, tapi sikapnya yang langsung menolong warga kota meski dia sendiri baru beberapa jam singgah di kota ini, membuat Lakshita yakin hal itu.
"Ayolah Nona, aku ini pria yang baik. Aku hanya ingin memberikan beberapa hadiah untuk pemuda berjiwa pahlawan itu." bujuk Bandoso. Dia mencoba memperlihatkan dirinya tidak memiliki maksud lain dan terlihat seperti Bupati yang baik kepada pahlawan yang menyelamatkan kotanya.
"Sekali lagi maaf kan aku Tuan. Pemuda itu benar-benar belum sadarkan diri. Dia terlalu berlebihan dengan ajiannya dan memaksakan tubuhnya terlalu berat." kata Lakshita memberi alasan yang jujur dan benar. " Tolong berikan dia ruang untuk memulihkan diri. Aku berjanji aku akan memberitahu anda jika pemuda itu sudah bangun."
"Apakah aku bisa memegang janjimu? Bagaimana setelah pemuda itu terbangun, anda meninggalkan kota ini?" Bandoso mencoba membuat wanita di depannya berada dipihak yang salah, walaupun dia tahu dengan siapa dia berbicara. "Tolong lah Nona, jangan mempersulit pria ini untuk berterima kasih."
"Sekali lagi maaf Tuan. Anda bisa memegang janjiku sebagai Chandrawinata. Jika aku mengingkari janjiku, anda bisa meminta diskon 10% di setiap pembelian di Toko Chan seumur hidup Tuan." kata Lakshita memberikan solusi. Sebagai anggota keluarga Chandrawinata, dia belum pernah mengingkari janjinya.
10% mungkin terdengar kecil. Tapi tidak untuk toko Chan. Rumah dagang yang sudah ada di seluruh benua Nusantara ini memiliki sistem potongan harga yang kejam. Dengan 10% itu saja bisa membuat penghematan luar biasa besar. Itu bisa digunakan untuk memperkuat prajurit kotanya.
"Dan anda bisa memiliki ini. Lelang akan dilaksanakan satu bulan lagi di kota Mojokerto. Partai Sembilan Pedagang akan mengeluarkan 200 koleksinya untuk lelang ini. Dengan ini anda bisa mendapat salah satu barang diantara 30 barang pertama." Ditang Lakshita terdapat sebuah kartu berwarna perak. "Anda juga tidak perlu bertanding harga dan mendapatkan barang itu secara percuma. Anggap saja ini adalah kompensasi atas waktu anda yang terbuang disini."
Bandoso menerima kartu itu dengan tangan gemetar. Dia sudah mendengar jika lelang yang dilaksanakan oleh Partai Sembilan Pedagang adalah lelang yang paling dinanti. Selain bisa dijadikan tempat membeli barang, membangun koneksi bukanlah hal mustahil di lelang itu. Kesempatan ini juga dapat digunakan sebagai cara untuk membuat keluarganya menjadi keluarga bangsawan pendekar.
"N-Nona, anda tidak perlu khawatir. Saya akan menerima kehadiran pahlawan kapan saja di kediaman saya. Pintu gerbang rumah saya terbuka dengan lebarnya untuk kedatangan nona dan tuan Pahlawan. Kalau begitu, kami permisi. Masih banyak hal yang perlu kami benahi setelah apa yang terjadi kemarin." Bandoso beranjak dari tempat penerimaan tamu penginapan. Dia khawatir jika dirinya lebih lama lagi disini, Wanita itu berubah pikiran.
"Permisi Nona." Bandoso pergi meninggalkan penginapan setelah memberi salam. Saat keluar dari penginapan, para warga masih ada di depan penginapan.
"Rakyatku, di mohon untuk meninggal kan penginapan. Pemuda yang menyelamatkan kota kita perlu ruang untuk memulihkan diri. Mohon untuk pengertiannya." Bandoso membubarkan kumpulan rakyatnya dan diikuti oleh bubarnya warganya.
Sementara di dalam penginapan, seorang pemuda terlihat turun di tangga. "Siapa yang mencariku?"
berenang di karang aneka warna...
setiap chapter kan kami ikut,
jgn pernah bosan pada kami yang rajin membaca....
Semangat....semangat.....selalu.
nah ini semua cincin semesta abimanyu bisa di liat orng lain bahkan di obok2 isinya....