NovelToon NovelToon
Penggoda Dalam Rumah

Penggoda Dalam Rumah

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Ammi Pooja

Dalam hidupku tak pernah menyangka bahwa dalam pernikahanku akan mengalami hal semacam ini.

Seandainya godaan itu datang dari wanita lain, mungkin saja aku tak akan segila ini. Tapi justru godaan itu datang dari wanita yang seharusnya aku hormati sebagai ibu dari istriku.

Aku hanyalah lelaki normal, lelaki biasa yang bisa saja khilaf dalam bertindak. Apalagi jika dihadapkan dengan godaan nyata setiap hari, godaan yang mampu mengikis kesetiaanku, godaan yang mampu menjegal keimananku.

Aku, Adarga Handanu ... lelaki biasa yang sedang berjuang keluar dari jeratan nafsu sang ibu mertua. Berhasilkan aku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ammi Pooja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 22 Akhirnya Dia Pergi

Teriakan histeris dari mulut wanita yang berjuluk ibu mertua itu kian melemah. Mungkin energi yang sedari tadi ia luapkan kini melemah. Ia menjatuhkan diri di lantai, bersandar pada dinding bercat biru muda.

Perlahan namun pasti, lelaki bertubuh atletis itu mendekati Bu Hera. Ia mengulurkan tangan yang kemudian ditepis kasar oleh wanita itu. Jangankan menerima uluran tangan dari Bobby, melihat wajah pria yang level kegantengannya di atasku itu saja dia tak mau.

"Hera, kenapa kamu jadi membenciku? Apa salahku sampai-sampai kamu meninggalkan aku?"

"Aku tidak sudi hidup miskin denganmu!"

"Apa karena aku miskin kamu meninggalkan aku?"

"Kamu itu bodoh, Bob! Orang tua kamu kaya raya, tapi malah mengajakku hidup melarat! Apa kamu pikir aku menikah denganmu karena ketampananmu?"

Bobby menurunkan satu lutut dan duduk setengah berjongkok menghadap ke arah Bu Hera. Ada kilatan rindu yang menggelora di mata sendu itu.

"Aku pikir kamu mau menikah denganku karena tulus mencintaiku," ucap Bobby seraya tangan kanan hendak memegang bahu Bu Hera, namun ia tepis kembali.

"Builshit! Makan, tuh, cinta!" Begitu ketus ucapan yang keluar dari mulut wanita tak berperasaan itu.

"Lalu? Demi apa kamu mau kunikahi? Harta?" Ada nada bergetar dalam suara Bobby, serasa ada luka dan kecewa yang ia coba tahan.

"Tentu saja karena ingin hidup bahagia dengan bergelimang harta. Bukan menderita di rumah kontrakan kecil."

"Jadi, kamu selama enam tahun lebih bertahan hidup denganku karena terpaksa?"

Wajah Bu Hera mendongak, menatap Bobby penuh kebencian. Mata dengan sorot tajam itu menatap nyalang ke arah pria di depannya.

"Ya, aku terpaksa. Aku benar-benar terpaksa hidup dengan laki-laki posesif seperti kamu! Aku lelah dengan ulahmu yang terus saja menganggapku jual diri ke pria-pria hidung belang!"

Mendengar itu, Bobby tersenyum sinis. Sedangkan aku yang sedari tadi menyaksikan percakapan pasangan beda usia itu justru cukup kaget mendengar pengakuan Bu Hera.

"Aku seperti itu karena aku melihat sendiri kamu selingkuh dari aku."

"Aku terpaksa! Aku ingin semua keinginanku terwujud, tapi kamu tak pernah mengerti keinginanku." Bu Hera menangkupkan wajah, ia menangis sesenggukan.

"Maafkan aku, Hera. Aku sudah berusaha membahagiakanmu, tapi ternyata usahaku tak ada artinya di matamu."

"Pergilah, Bob. Kamu bisa kembali jika sudah sukses atau paling tidak sudah bisa mewarisi harta dari ayahmu."

"Aku ingin kamu menemaniku dari nol, Hera. Kamu masih berstatus istriku, jadi ikutlah denganku. Kita akan mulai merintis usaha bersama-sama." Bobby mencoba membujuk Bu Hera.

"Kamu masih berharap aku sudi hidup susah denganmu?" tanya Bu Hera dengan sinis dan pandangan merendahkan.

Bobby mengambil napas dalam-dalam, kemudian berdiri tanpa suara lagi. Tapi kenapa Bobby bilang seperti itu, ya? Bukankah dia sudah kaya? Seharusnya, Bobby ke sini dengan mobil sport mewah miliknya, bukan malah dengan motor butut dan dandanan dekil semacam itu.

Apa maunya Bobby sebenarnya? Kalau ingin Bu Hera kembali bukan begitu caranya. Benar-benar tidak pakai otak, nih, ayah mertua. Tampang saja keren, tapi isi otak nol besar.

"Bikin empet aja tuh orang, pakai jurus kok macam itu." Tanganku mengepal geram, mulut tak henti-henti menggerutu gegara melihat adegan yang tak kunjung selesai juga.

Baiklah, sepertinya memang aku harus maju. Akan aku bilang ke Bu Hera bahwa Bobby sudah sukses dan jadi orang tajir melintir sekarang.

Baru saja hendak melangkahkan kaki, sebuah tangan menarik kaos bagian belakangku. Hampir saja aku terjengkang. Kutoleh segera arah tangan itu, ternyata ....

Arini justru melotot ke arahku dan memberi kode untuk kembali ke posisi awal. Dengan wajah garang ia juga memberi kode agar aku diam.

Ternyata wajah garang Arini didapat dari ibunya. Hanya bedanya, Arini jarang menunjukkan hal tersebut. Ia lebih suka bermuka manis, lembut, dan tenang. Tapi ... jika sudah marah, jangan tanya lagi seperti apa. Auman singa juga kalah oleh lengkingan suara yang memekakkan telinga.

"Dek, semua harus segera diakhiri. Mas sudah nggak tahan." Aku mencoba mengeluarkan uneg-uneg yang telah lama aku simpan seorang diri.

"Kita lihat, sebentar lagi ada kejutan baru." Dengan yakin Arini berujar.

"Apa?" tanyaku penuh tanda tanya.

"Mas Danu lihat saja nanti."

Wah, semakin penasaran saja aku. Kenapa banyak misteri yang tersimpan dalam kehidupan ibu mertuaku? Baiklah, akan aku lihat.

"Kamu ingat Niko? Anak yang kamu titipkan di panti asuhan." Suara berat itu menekan pada bagian akhir, membuat hera seketika terhenyak.

"Apa yang kamu tahu tentang Niko?" Bu Hera berdiri tegak, menatap tajam ke arah bola mata Bobby. Ada yang ingin ia temukan di sana, mungkin sebuah jawaban tentang Niko, anaknya.

Anaknya? Aku ikut terperanjat. Itu artinya Arini punya saudara. Kenapa aku baru tahu? Sedikit pun Arini tidak pernah menyinggung masalah keluarganya. Saat menikah yang aku tahu keluarganya adalah paman yang membesarkan dia.

"Apa kamu masih peduli dengan Niko?" Pertanyaan menantang dan sinis dilemparkan oleh Bobby.

"Aku sangat peduli dengan Niko. Bahkan ketika aku bekerja jadi pembantu di rumahmu, aku tetap mengunjungi dia." Air mata Bu Hera tiba-tiba telah bergulir deras, ada kesedihan mendalam di netra itu.

"Tapi setelah kamu meninggalkan aku, kamu juga meninggalkan dia tanpa kabar."

"Karena aku tidak bisa memberikan apapun kepadanya, karena aku takut kamu akan menemukan aku di kota itu! Tunggu, darimana kamu tahu aku punya anak bernama Niko?"

"Hahaha ... Hera, Hera. Kamu pikir aku tidak tahu apapun tentang kamu? Bahkan tentang Rahman pun aku tahu!"

Bu Hera terhenyak. Bola mata itu membulat dan ia menutup mulutnya yang membuka lebar. Sama seperti aku yang sedari menguping semua adegan itu, terkejut bertubi-tubi.

Aku toleh Arini, ingin memastikan bahwa ekspresinya pasti sama denganku. Tapi ... hish! Selalu seperti itu, menyebalkan sekali dia. Sedikit pun riak wajah tenang itu tak bergeming. Tak tersirat ada keterkejutan di raut muka manisnya itu.

Rasanya pengen aku gigit habis seluruh wajah Arini. Gemes sekali melihat dia yang tetap santai ketika menghadapi situasi menegangkan sekalipun seperti tadi.

Tapi aneh, kenapa Arini tidak terkejut sama sekali. Pasti ada hubungan antara dia dengan Bobby. Jadi, selama ini ia ketemuan dengan Bobby? Ya, sudahlah. Pikir nanti saja, lebih baik menonton adegan seru antara Bobby dan Bu Hera. Aku yakin, setelah ini Bu Hera akan pergi dari rumah ini.

Bu Hera dengan tatapan menyelidik menelusuri inci demi inci wajah Bobby. Lipatan di dahi dan sorot mata penuh rasa penasaran tampak jelas kulihat.

"Jadi, selama ini selain posesif denganku, kamu juga mencoba mengorek masa laluku?"

"Hera, aku posesif juga karena ulahmu. Kalau kamu bisa menjaga kehormatanmu sebagai wanita, aku tidak akan posesif. Kenapa kamu tidak bisa menghargai orang yang mencintaimu dengan tulus?"

Bu Hera terdiam. Pandangannya kini tertunduk. "Tolong katakan, di mana Niko? Selama ini aku merindukan dia. Terakhir aku ke panti asuhan, Niko sudah tidak ada. Ibu panti bilang, dia diadopsi orang." Kembali sedu sedan itu mengguncang bahu wanita yang ternyata masih ada sisa naruni.

"Oh ya? Sejak kapan kamu punya hati dan rindu dengan anakmu? Bukankah Arini juga anakmu? Dia rela menyimpan segala rasa sakit dan kecewa, dia rela menerimamu di rumah ini. Tapi apa balasan kamu?"

Isak tangis Bu Hera makin menjadi. Ia kini menjatuhkan tubuh di lantai. Aku yang melihat dia menangis pilu, berharap itu benar tangisan penyesalan dari hati. Semoga tidak ada akting film layar datar ikan terbang.

Bagaimana pun dia seorang ibu, sudah pasti dia punya sisi keibuan. Tapi benar kata Bobby, jika ia bisa peduli dengan Niko, kenapa tidak sayang dengan Arini, ya?

Kulihat Arini maju mendekati mereka. Dengan hati-hati aku menguntit di belakang Arini, buat berjaga-jaga melindungi wanitaku.

"Niko ada bersama Bobby, Bu. Selama ini keluarga Bobby yang telah merawat Niko. Kalau Ibu merindukannya, pergilah dengan Bobby."

Lagi-lagi Bu Hera sontak terperanjat mendengar penuturan Arini. Wajahnya mendongak, silih berganti menatap Bobby dengan Arini.

"Aku hanya kasihan Niko, ia anak baik tapi harus menjadi korban keegoisan ibunya sendiri." Dengan nada menyindir Bobby seolah menghakimi wanita yang masih berstatus istrinya.

"Bobby, benar yang dibilang Arini? Ini bukan akal-akalan kalian untuk membuatku pergi dari rumah ini, kan?"

"Hahaha ... apa kamu pikir Arini selicik kamu, Hera? Selama ini, justru Arini berjuang mengembalikan keutuhan rumah tanggamu dengan Rahman. Karena ia berharap kamu bisa berubah menjadi wanita yang jauh lebih baik lagi. Dan satu hal, Arini berjuang demi kelangsungan rumah tangga yang hendak kamu rusak." Dengan lantang dan jelas Bobby menegaskan semua.

Aku terbelalak. Barulah aku sadari, selama ini aku salah mengira Arini membiarkan aku dalam situasi yang sangat sulit. Ternyata Arini berjuang sendirian demi rumah tangga yang selama ini aku bina dengannya. Ya, Tuhan ... kenapa aku jadi lelaki yang lemah? Kenapa aku biarkan wanitaku menyelesaikan semua permasalahan seorang diri?

Baiklah, sekarang waktunya aku maju. Sudah saatnya lelaki sebagai imam berada di garda terdepan, melindungi istri yang sangat aku cintai.

"Benar kata Bobby, Bu. Arini anak ibu sendiri, anak kandung bukan anak tiri. Tak seharusnya ibu merusak kebahagiaan rumah tangga anak sendiri. Arini selama ini sudah berusaha tetap hormat kepada ibu, meski ibu berbuat dzolim di belakangnya." Aku menarik napas, mengambil jeda.

"Jujur, selama ini aku hidup dalam ketakutan. Seolah bayangan maut mencengkeram dan siap mencabut nyawaku," lanjutku.

"Maksud, Mas Danu?" Arini bertanya keheranan, begitu juga dengan Bobby yang mengangkat alis.

"Ya iyalah, Dek. Selama ini Mas dalam ketakutan karena setiap ribut denganmu selalu aku yang dijadikan sasaran!"

"Aku makin nggak ngerti dengan maksud Mas Danu."

"Ya Allah, Dek. Apa kamu nggak peka, selama ini Ibu ngancam mau menjadikan aku santapan dia! Kapan waktu juga nanya, kapan aku siap dimakan! Memangnya aku kambing guling, apa?" sungut penuh emosi.

Ubun-ubunku yang semula mendidih sekarang agak lega karena seluruh uneg-uneg itu akhirnya keluar juga. Biar si wanita licik itu tahu bahwa sikapnya selama ini menakutiku.

Tapi ... kenapa Bobby dan Arini menahan tawa, ya? Apa marahku lucu? Apa di wajahku ada sesuatu? Bergegas aku mencari cermin dekat kamar mandi, menatap wajahku yang ternyata masih tetap ganteng.

Ah, sudahlah. Mungkin saja bagi Bobby dan Arini aku ini meskipun marah tetap unyu, makanya mereka tertawa.

Aku lihat Bobby mengulurkan tangan ke arah Hera. "Ikutlah denganku. Niko sudah menunggumu." Dengan lembut ia mencoba membujuk Bu Hera yang masih terpuruk di lantai.

"Apa kamu tidak bohong?" Aku menangkap ada keraguan di mata itu.

"Baiklah, ini ada beberapa foto ketika Niko masih berusia remaja. Kamu pasti bisa mengenali." Bobby menyodorkan beberapa foto yang ada dalam gawainya.

Lelaki muda tampan dan seorang remaja. Ya, itu foto Bobby kala itu dan mungkin yang di sebelahnya adalah Niko.

"Iya, dia Niko jagoan kecilku. Pasti sekarang dia sudah dewasa. Bisakah aku ketemu dia?" Bu Hera memeluk kaki Bobby, ada harapan yang ia gantungkan di sana.

"Ikutlah denganku sekarang. Mandi dan bergantilah pakaian karena aku tak mau anakmu melihat ibunya dalam kondisi seperti ini."

"I-iya. Aku akan mandi dan berkemas." Dengan pancaran netra yang begitu semangat, Bu Hera bergegas menuju kamar hendak mengambil pakaian ganti.

"Tapi ingat, jangan pakai pakaian seksi. Arini sudah membelikan gamis dan hijab untukmu. Pakailah," perintah Bobby dengan nada tegas.

Bu Hera kini mengalihkan pandangan ke Arini, kemudian perlahan melangkah menuju Arini. "Apa semua ini rencanamu?"

Arini hanya terdiam. Hanya tatapan aneh yang ia berikan. Entahlah, mungkin saja perasaan Arini sedang bercampur aduk.

"Jika rencanamu membuat aku kembali ke ayahmu, maka jangan harap itu berhasil!" Nada ketus dalam penekanan suara itu membuat Arini tersenyum masam. Ada gurat kecewa dan sakit yang begitu dalam ia rasa.

Semua terdiam, membiarkan wanita yang berhati setengah batu itu berlalu untuk bersiap-siap enyah dari rumah ini.

Yeah ... akhirnya dia pergi. Dalam hatiku bersorak dan berjingkrak merayakan akhir yang membahagiakan.

Setelah ini aku dan Arini akan hidup bahagia tanpa gangguan dari nenek semlohai penggoda iman.

1
Surati
bagus
Cis Siu
yey
Sri Wahyuni
👍👍👍👍🌹🌹🌹💪💪💪😘😘😘
Soraya
kmu hrus jujur sm istri danu klo km gak mau rumah tangga kmu berantakan
Soraya
mampir thor
Ibuk Kumaiyah
Luar biasa
Nur Adam
smgt untuk krya mu thoor
Kistinnisa nisa
Danu kapan terbukanya sama arini kl disimpen sendiri terbuka dong kan jadi bikin sakit hati sendiri kl bener arini selingkuh kl ga bener waduh ngamuk ga tuh arini
Kistinnisa nisa
ngakak aku thor kenapa ga dari kemaren2 aja tuh ibu mertua nyium danu wkwkwkwkwk tersadar karena bibir ibu mertua
Atmita Gajiwi
😁😆😍
linay
ngakak aku. 😂😂🤣
linay
si danu mulut sm otaknya perlu di servis... 😅
rika mayanti
auto sadar lngsung ya nu,,takut disosor...Oalah nek2,,,msh z nyari kesempatan..punya mertua gitu lngsung kena sawan mantu cucu ny..
rika mayanti
Arini kok Yo goblok men to Yo. Danu ayo tegas....
MACA
semoga iman dan iminnya mas danu kuaattt💪
MACA
astogeh...ini ibu kandung rasa pelakor
Halis Imuh
jgn sampai Danu tergoda aplg sielingkah sm wNit aular itu thor aku ga relaaa
Ra_ca
Baru datang, ingin ku baca terus, mak
Ra_ca
Karya kak Ammi. otw maraton baca 😍😍
Vanny Kaunang
lucunya Danu hahahahaha
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!