Andini Putri Azalia, seorang gadis cantik dan lucu yang baru saja tamat SMP dan akan segera masuk ke SMA. Dia memilih Sekolah berbasis agama di luar kota dan di terima di sana.
Beberapa hari menjalani kegiatan sekolahnya, dia mulai bisa beradaptasi dengan lingkungannya. Disitu pula dia berkenalan dengan seorang kakak kelas yang bernama Aidan. Awalnya mereka hanya berteman biasa, sampai akhirnya Andin menganggap Aidan sebagai kakak angkatnya, karena dia tak punya saudara di sana. tapi seiring berjalannya waktu, tumbuh cinta diantara keduanya.
Namun cinta mereka tak bisa bersatu begitu saja setelah kehadiran Nita sahabat Andin. Tak hanya Nita yang akan muncul, tapi akan banyak cowok dan cewek yang akan hadir meracoki hubungan percintaan mereka.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka ke depannya yah?? apakah akan tetap menjadi saudara angkat atau malah jadi sepasang kekasih yang bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmatul Yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Di Mesjid Aidan,
Aidan yang lagi asyik telfonan sama Caca harus mengakhiri obrolan mereka, karena hujan turun dengan derasnya diiringi suara petir dan kilat yang saling bersambutan. Sehingga membuat Caca mulai susah mendengar suara Aidan dengan jelas. Mereka memang tinggal di satu bumi dan satu langit yang sama, namun hujan masih belum turun di tempat Aidan.
Tak lama setelah menelfon dengan Caca tadi, tiba-tiba ponsel Aidan mati. Ini bukan hal baru bagi nya, karena memang batrei ponsel nya itu sudah soak. Jadi tak bisa bertahan lama saat di pakai. Sering kali Aidan menelfon dalam keadaan ponsel masih tersambung kabel charger yang jelas-jelas sangat berbahaya.
Aidan segera meraih charger dan mengisi daya batrei ponselnya tersebut, lalu kembali berbaring di kasurnya. Saat sedang asyik-asyik bersantai, Aidan mendengar suara angin bertiup kencang. Dia segera melihat keadaan sekitarnya melalui jendela kaca kamarnya. Sepertinya sebentar lagi di luar akan terjadi badai. Sedang fokus menyaksikan pemandangan luar kamar, Aidan tiba-tiba melihat seperti ada bayangan benda bergoyang di bagian sudut luar kamarnya.
Apaan sih yang goyang-goyang kayak bayangan orang lagi berdansa itu? atau jangan-jangan itu maling yang mencari kesempatan saat hari mau badai ya, gumam Aidan penasaran.
Kemudian dia mengintip perlahan-lahan ke arah bayangan tersebut dengan penuh rasa cemas. Alhasil, dia dibuat kaget sendiri dengan kain jemurannya mulai jatuh beberapa helai.
Astaughfirullahal 'adzim ... ternyata ini bayangan dari baju-baju ku yang ada di jemuran ini, padahal jantung udah serasa mau copot juga. Untung aja gak ada yang lihat aku, kalau sempat ada yang lihat, pasti aku malu dikirain separoh laki-laki, lirih Aidan.
Kemudian dengan cepat, dia segera mengangkat semua jemurannya itu. Takutnya kalau di biarkan, nanti bisa terbang semua.
Rintik hujan mulai berdatangan mengiringi kencangnya angin. Aidan bergegas masuk kembali ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya lebih rapat lagi, supaya tak terbuka di tiup angin.
Setelah semua beres, dia kembali ke kasurnya. Kasur tempat yang paling nyaman menurut Aidan untuk mengistirahatkan tubuhnya dari segala aktifitas yang dijalaninya setiap hari.
🌸🌸🌸🌸🌸
Di Rumah Jihan,
Ternyata hujan di tempat Jihan sudah lebih dahulu turun di banding tempat Aidan. Langit Jihan dan langit Caca menurunkan hujan di waktu yang sama. Jihan dan Dina juga bertahan di dalam kamar, karena mereka tak ada pilihan lain. Ingin menyalakan televisi, namun dilarang oleh bu Rundum, takut nanti tersambar petir.
Mereka berdua sibuk dengan ponsel masing-masing. Jihan sibuk mengedit foto-fotonya untuk di posting ke media sosialnya, sedangkan Dina sibuk chat entah dengan siapa.
"Duuoorrr"
Suara petir menyambar dengan sangat dahsyatnya. Sepertinya, dia sudah mengenai sesuatu di luar sana. Seketika Jihan dan Dina sama-sama berteriak dengan kerasnya, karena kaget mendengar suara letusan itu. Tak sadar ternyata ponsel mereka masing-masing sudah terlempar dari tangannya.
Jihan segera beranjak pergi dari kursi depan meja riasnya menuju ke kasur. Dengan gemetar dia melangkahkan kaki sambil mengambil ponselnya yang tergeletak di atas lantai.
Huufftt, untung aja nih ponsel gak apa-apa. Kalau tadi hancur, entah kapan lagi aku dapat gantinya, gumam Jihan.
"Ponsel lho gak apa-apa Jihan?" tanya Dina.
"Kenapa lho cuma nanya ponsel gue aja Din? padahal gue hampir mati saking kagetnya," lirih Jihan.
"Hehehehe, sama kok kita nya. Jantung gue juga serasa mau copot. Bukan karena petir nya sih, tapi karena teriakan lho yang sukses juga bikin ponsel gue melayang," ucap Dina.
Bu Rundum mendengar teriakan kedua anak gadisnya itu dan segera menuju kamar mereka.
"Kalian pada kenapa? teriak kok kencang banget?" tanya bu Rundum.
"Hehehe gak ada bu, kita cuma kaget sama petir tadi aja," jawab Jihan.
"Itu makanya, kalau orang tua ngomong di dengar! jangan main ponsel kalau lagi hujan di tambah petir kayak begini. Untung aja gak kalian yang kesambet petir itu tadi," cerewet bu Rundum.
"Iyaiya tante, gak lagi kok. Nih kita mau tidur," jawab Dina.
Setelah puas ngomel-ngomel, Bu Rundum meninggalkan kamar Jihan dan kembali ke ruang tamu. Di sana sudah ada ayahnya Jihan yang sedang bersantai.
🌸🌸🌸🌸
"Gue jadi takut ah mainin ponsel. Gue mau tidur aja, omongan ibu itu emang ada benarnya juga" kata Jihan.
"Iyaa, sama gue juga mau tidur aja," ucap Dina.
Mereka berdua pun mengambil posisi ternyaman untuk tidur. Tak butuh waktu lama, Jihan sudah terlelap dalam tidurnya, namun tidak untuk Dina. Dia masih belum tidur, karena dia di ganggu oleh suara getaran dari ponselnya saat akan memejamkan mata. Dia kembali mengotak atik ponsel tersebut dari balik selimut. Ternyata ads sebuah pesan singkat dari nomor baru tapi tak asing bagi dirinya.
'Assalamu'alaikum bidadari ku'
Yaa, begitu isi pesan singkat tersebut. Dina membacanya berulang kali dengan senyuman yang terukir manis di wajahnya. Dia memastikan pesan itu adalah dari Fadil, mantan kekasihnya di kampung. Dina segera membalas pesan tersebut.
'Wa'alailkumussalam Bang'
Kemudian Dina memeluk ponselnya ke dada. Dia terus saja tersenyum mengingat kenangan manisnya dengan Fadil saat masih jadi pasangan kekasih. Dina terbuai dengan hayalan-hayalan indahnya.
Tring ....
Ponsel nya bergetar lagi. Itu sepertinya pesan singkat yang baru masuk lagi.
'Gimana kabarnya sayang? boleh Abang nelfon kamu?Abang udah lama nih gak dengar suara kamu'
Dina semakin tak karuan. Dia seakan-akan tak percaya kalau mantan terindahnya itu masih ingat dengannya dan kembali menghubunginya.
'Iya Bang, telfon aja'
Dina membalas dengan cepat. Setelah beberapa saat pesan terkirim, ponselnya kembali bergetar. Tapi ini bukan nada pesan masuk lagi melainkan sebuah panggilan suara masuk.
Deg ... deg ... jantung Dina bergetar hebat. Dia masih ragu-ragu ingin menjawab telfon tersebut. Sampai satu panggilan tersebut menjadi terlewat. Tapi panggilan itu tak putus satu kali saja. Fadil kembali menghubungi Dina dan kali ini Dina dengan sigap dan yakin untuk menjawab.
"Hallo, assalamu'alaikum Din," sapa Fadil.
"Wa'alaikumussalam Bang," jawab Dina.
"Apa kabar sayang? Abang ganggu waktu kamu gak?" tanya Fadil.
"Alhamdulillah baik Bang. Gak ganggu kok bang. Abang sendiri gimana?" jawab Dina.
"Alhamdulillah Abang baik juga nih. Abang sekarang lagi di Kota nih. Kamu lagi dimana?" kata Fadil.
"Oh yaa?? aku di rumah Bang. Ngapain Abang ke kota?" ucap Dina.
"Iyaa sayang. Abang mau pergi beli sesuatu nih. Bisa gak temenin Abang besok?
"Hmmm gimana ya bang? aku emang libur Sekolah sih besok," kata Dina.
"Abang tau kamu libur, makanya Abang datangnya malam ini. Biar besok bisa pergi sama kamu," ajak Fadil.
Akhirnya mereka berdua larut dalam obrolan yang sudah lama tak pernah mereka lakukan lagi.
🌸🌸🌸🌸🌸
Malam semakin larut. Hujan masih saja turun tapi tak sederas tadi lagi. Aidan kemudian mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Dina, sebab sudah dari tadi matanya susah untuk di ajak kompromi.
Saat melakukan panggilan pada Dina, ternyata panggilan Aidan menunggu. Dia mencoba menghubungi Dina dua kali, namun masih saja panggilannya menunggu.
Kenapa nomor dia menunggu ya? siapa yang di telfon nya tengah malam begini? gumam Aidan.
Aidan pun teringat sama Caca, dan segera dia mencari kontak Caca. Namun yang terjadi tak jauh beda dengan Dina. Panggilan Aidan pun tak tersambung, karena Caca sibuk telfonan sama Angga.
Hmmm kalau ini sih pasti lagi nelfon sama Angga tuh. Gak bikin heran gue kayak ke si Dina. Gerutu Aidan.
🌸🌸🌸🌸
Satu jam berlalu, Aidan kembali menghubungi Dina. Tapi masih saja panggilannya tak bisa tersambung dengan Dina. Panggilannya masih menunggu.
Ahh, ngapain sih dia. Kalau kayak gini pasti bukan sama keluarga nya dia telfonan. Jangan-jangan dia selingkuh di belakang aku, gerutu Aidan sambil menebak-nebak penuh kesal.
🌸🌸🌸🌸
Bersambung....
aku sudah boom like ya, mampir yuk keceritaku
Dia Untukku. Terimah Kasih.