NovelToon NovelToon
Dokter Bedah Level Dewa

Dokter Bedah Level Dewa

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Dokter / Tamat
Popularitas:483.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Novi

Ardi Pratama pernah menjadi dokter bedah yang menjanjikan — sampai ia dijebak masuk penjara, diceraikan istrinya, dan kehilangan hak asuh kedua anaknya. Keluar dari balik jeruji dengan tangan kosong, yang tersisa hanyalah foto lusuh Gatra dan Sari yang selalu ia genggam.

Tapi di malam paling gelap dalam hidupnya, di tengah operasi transplantasi jantung yang nyaris gagal, sesuatu yang mustahil terjadi — sebuah panel virtual muncul di hadapannya.

[Sistem Modifier Aktif]
[Poin Modifikasi: 100 PM]
[Upgrade skill tersedia. Pilih sekarang.]

Satu klik. Skill bedahnya melonjak dari Pemula ke Lanjutan. Jantung pasien yang sekarat kembali berdetak.

Sejak malam itu, Ardi bukan lagi dokter biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 019: Teknik Sandwich — Pisau Bedah Baru

Dan Ardi tidak berniat mundur dari salah satunya.

Pagi berikutnya, ia berdiri di ruang briefing bedah jantung RS UNAIR.

Di depan layar besar, gambar CT angiografi Pak Gunawan diputar berulang. Aorta pria itu seperti jalan tua yang retak di banyak sisi. Diseksi panjang, lengkung aorta rapuh, tekanan darah sulit dikendalikan, riwayat diabetes, ginjal mulai menurun. Usianya enam puluh delapan tahun, pensiunan hakim Pengadilan Negeri yang dulu dikenal keras pada kasus korupsi.

Sekarang hidupnya bergantung pada pembuluh darah yang bisa pecah kapan saja.

Dokter Hasan berdiri di samping layar dengan wajah serius.

“Teknik Sandwich bukan prosedur yang biasa kita lakukan di Jawa Timur,” katanya kepada tim. “Risikonya tinggi. Kalau aliran darah ke cabang utama terganggu, pasien bisa stroke di meja operasi. Kalau anastomosis bocor, kita kehilangan dia.”

Beberapa dokter muda menelan ludah.

Hasan menoleh kepada Ardi.

“Saya tahu kemampuan Anda, Dokter Ardi. Tapi saya harus bertanya langsung. Anda siap mengambil bagian inti?”

Pertanyaan itu bukan meragukan. Itu tanggung jawab.

Ardi melihat gambar aorta di layar. Di atasnya, panel sistem yang hanya bisa ia lihat muncul perlahan.

[Kasus terdeteksi: Diseksi aorta kompleks dengan kebutuhan Teknik Sandwich.]

[Rekomendasi peningkatan keterampilan:]

[Operasi Jantung Tanpa Henti: Pemula -> Mahir. Biaya: 150 PM.]

[Operasi Diseksi Aorta: Menengah -> Lanjutan. Biaya: 50 PM.]

[Total biaya: 200 PM.]

[Saldo PM saat ini: 710.]

Ardi tidak langsung memilih.

Ia memikirkan Damar, botol Bronkosol, laporan yang belum selesai, dan anak kecil yang tertidur memeluk helm ayahnya. Lalu ia memikirkan Pak Gunawan di ruang rawat, seorang pria tua yang masih sadar dan tadi berkata kepada Hasan, “Kalau memang ada kesempatan, saya ingin melihat cucu saya lulus SD.”

Setiap PM adalah amunisi.

Tetapi amunisi yang tidak dipakai untuk menyelamatkan nyawa hanya angka kosong.

Ardi memilih konfirmasi.

[Peningkatan berhasil.]

[Operasi Jantung Tanpa Henti: Mahir.]

[Operasi Diseksi Aorta: Lanjutan.]

[Saldo PM: 510.]

Dalam satu tarikan napas, peta anatomi di layar berubah di kepala Ardi. Bukan gambarnya yang berubah, tetapi cara ia melihatnya. Jalur aliran darah, titik tekanan, area yang harus dijaga tetap perfusi, urutan penjepitan, sudut jahitan yang bisa mengurangi turbulensi, semua bergerak seperti simulasi hidup.

“Saya siap,” kata Ardi.

Operasi dimulai pukul sembilan lewat dua puluh.

Ruang operasi dingin. Lampu bedah menyala putih tajam. Tim perfusi berdiri siap, anestesi memantau tekanan, dan setiap alat tersusun dengan jarak yang presisi. Di balik kain steril, tubuh Pak Gunawan tampak kecil dibandingkan beban risiko yang dibawanya.

Hasan memulai pembukaan dengan tangan stabil. Ardi berdiri di sisi kanan, memperhatikan setiap perubahan tekanan, setiap warna jaringan, setiap tetes darah yang muncul terlalu cepat.

Pada tahap awal, semua berjalan sesuai rencana.

Lalu masalah muncul saat mereka mencapai bagian lengkung.

“Dindingnya lebih rapuh dari CT,” gumam Hasan.

Satu area anastomosis mulai merembes.

Tekanan darah turun sedikit.

Dokter muda di belakang Hasan menahan napas.

“Kalau kita pakai teknik standar, tarikan jahitan bisa merobek,” kata Ardi.

Hasan meliriknya. “Alternatif?”

Ardi mengulurkan tangan. “Benang 5-0. Felt strip lebih tipis. Jangan tarik lurus. Kita buat lapisan tumpang ganda, tapi sudut jahitannya digeser mengikuti arah aliran, bukan melawan aliran.”

Salah satu asisten berkedip. “Itu bukan langkah standar Teknik Sandwich, Dok.”

“Betul,” kata Ardi.

Hasan menatap bidang operasi, lalu menatap Ardi. Dalam matanya ada hitungan cepat antara risiko mengikuti protokol dan risiko menerima modifikasi dari dokter yang belum punya nama besar di literatur.

“Lakukan,” kata Hasan.

Ruang operasi menjadi lebih sunyi.

Jarum pertama masuk.

Ardi tidak bergerak cepat seperti saat menjahit luka wajah Rania. Di sini kecepatan bukan pameran. Setiap gerakan harus cukup lambat untuk menghormati jaringan rapuh, tetapi cukup pasti untuk tidak membuang waktu perfusi.

Jarum kedua masuk dengan sudut miring.

Felt strip tipis menahan tekanan tanpa mencekik pembuluh.

Lapisan pertama mengunci. Lapisan kedua menutup celah. Saat aliran diuji perlahan, rembesan yang tadi membuat semua orang menegang tidak muncul lagi.

Hasan yang memegang suction sempat berhenti.

“Ini...” suaranya pelan. “Ini bukan teknik standar.”

Tidak ada yang bergerak.

Hasan mendekatkan pandangan ke anastomosis itu.

“Tapi hasilnya lebih bagus.”

Kalimat itu seperti palu kecil yang jatuh di hati semua orang di ruang operasi.

Dokter muda yang tadi ragu kini menatap jahitan Ardi seperti melihat diagram dari jurnal masa depan.

Tahap berikutnya berlangsung lebih lancar.

Ardi menerapkan prinsip yang sama pada cabang berikutnya: bukan sekadar menumpuk graft seperti sandwich kaku, tetapi menyesuaikan tumpang tindih mengikuti vektor aliran. Hasan cepat menangkap pola itu. Dalam lima belas menit, mereka tidak lagi tampak seperti dua operator yang baru bekerja bersama; mereka seperti dua tangan dari pikiran yang sama.

Tekanan stabil.

Perfusi otak terjaga.

Tidak ada kebocoran besar.

Ketika aliran akhir dibuka, monitor menunjukkan irama yang bersih.

Anestesi mengangkat suara, “Tekanan stabil. Saturasi baik.”

Hasan menahan napas beberapa detik, lalu mengangguk.

“Kita tutup.”

Operasi selesai setelah berjam-jam yang terasa seperti satu garis panjang di atas jurang.

Di ruang observasi, Pak Gunawan dipindahkan ke ICU dengan kondisi stabil. Tidak ada stroke akut. Tidak ada perdarahan masif. Aorta yang tadi seperti jalan retak kini memiliki jalur baru yang rapi dan kuat.

Hasan melepas masker di ruang ganti, wajahnya basah oleh keringat.

Ia tidak langsung bicara.

Ardi mencuci tangan, membiarkan air mengalir di sela jarinya sampai rasa tegang perlahan turun.

“Ardi,” kata Hasan akhirnya.

Ardi menoleh.

Hasan memegang sketsa cepat yang ia gambar selama operasi, menandai sudut jahitan dan tumpang tindih graft.

“Kita harus menulis paper tentang ini.”

Rudi, yang menunggu di luar ruang operasi sebagai penghubung UGD, langsung mengangkat kepala. “Paper?”

Hasan tidak melihat Rudi. Matanya tertancap pada Ardi.

“Kalau data follow-up Pak Gunawan bagus, ini bukan hanya laporan kasus. Ini modifikasi teknik. Kalau bisa, kirim ke Lancet.”

Lancet.

Nama itu membuat ruangan terasa lebih luas dari tembok RS UNAIR.

Panel sistem muncul.

[Misi Emas selesai: Operasi Teknik Sandwich.]

[Hadiah: 200 PM + Kartu Derivatif.]

[Milestone inovasi teknik bedah terdeteksi.]

[Hadiah tambahan: 200 PM.]

[Saldo PM: 910.]

[Kartu Derivatif x1 diperoleh.]

Ardi menatap panel itu, lalu melihat sketsa di tangan Hasan.

Di luar sana, Bronkosol menunggu sebagai perang besar.

Di meja operasi ini, sebuah pisau bedah baru baru saja lahir.

“Kita tulis,” kata Ardi.

Hasan mengangguk. “Malam ini saya kirim data operasi. Anda tulis bagian teknik. Saya akan bantu struktur akademiknya.”

Beberapa jam kemudian, sebelum Ardi kembali ke Soetomo, Hasan sudah mengirim foto sketsa, ringkasan operasi, dan catatan hemodinamik awal ke emailnya.

Di Jakarta, kabar itu bergerak lebih cepat daripada yang mereka duga.

Ketika Ardi membuka ponselnya di parkiran RS UNAIR, sebuah pesan dari Profesor Sri Mulyani masuk.

Dokter Ardi, saya mendengar Surabaya melakukan modifikasi Teknik Sandwich hari ini. Jika ada naskah awal, kirimkan kepada saya. Saya ingin melihatnya lebih dulu.

Ardi menatap pesan itu lama.

Panggung yang lebih besar tidak lagi menunggu di kejauhan.

Panggung itu mulai menyalakan lampunya.

1
Visitor6812
benar...belum married udah sekamar aja...udah itu koq gak pernah shalat kalo Islam atau ke gereja kalo kristen..
Visitor6812
baru kali ini baca novel online authornya sangat kompeten baik dalam segi penulisan yg tdk pernah salah,pemaparan kisah yg seolah nyata,jika penulis tidak tau jelas mengenai dunia kedokteran mustahil bisa menceritakan hal berkenaan dgn kedokteran lumayan detail dan bagus.....dan yg paling utama novel ini berkualitas jauh dari bahasan esex2 murahan
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
burem kim🤣🤣🤣🤣
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
cerita seperti ini yang berkualiti.. 👍
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
keren banget ceritanya
Sisca Zippo
menyala dr ardi 😍👍
Te HUTU
👍👍
Te HUTU
👍
Sisca Zippo
seruu auto pake google translate 😄
Te HUTU
👍👍
Te HUTU
👍
Dadang Ruminta
💪thorrrr
Rusli Kocu
gak usah sok sokan bahasa inggrislah emang semua ngerti
Halik M
membaca dialog menggunakan bahasa asing,mata jadi berkunang² ngga tau artinya ,cuma bisa pasrah saja🤣🤣
Nofal Fauzi
MasyaAllah, ceritanya makin seru saja
Visitor6496
lanjt
TIEL
mampir novel gua cuy
Yaya Rusdaya
pake bahasa indonesia donk thor
Yusri Pasilia
yeeee Indonesia Menang....hahaha
seperti menonton langsung teganggg brooo🤣🤣🤭🤭🤭
Yusri Pasilia
kerennn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!