Nikah SMA
˚✧₊⁎❝᷀ົ≀ˍ̮ ❝᷀ົ⁎⁺˳✧˚✧₊⁎❝᷀ົ≀ˍ
Taksa Liam. Ketua OSIS tampan, berkarisma. Namun dingin dan cuek, tak tersentuh.
Iva Kayra. Supel, cerewet, cenderung pemalas, dan bukan gadis populer.
Mereka harus menikah di usia muda demi memperluas wilayah kekuasaan kedua orang tuanya, di dalam dunia bisnis.
Bagaimana kisah pernikahan mereka? Dengan sifat yang bertolak belakang, akankah keduanya bahagia dengan pernikahan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kafe *
Kafe berlantai dua dengan lantai dua dibuat outdoor, karena sengaja diperuntukan bagi perokok. Serta bagi para pengunjung yang ingin menikmati udara bebas. Kafe yang sama sewaktu mereka mampir ke sana waktu itu.
Iva berjalan mengikuti langkah Taksa dari belakang, dia memandang kafe tersebut sebentar. Walaupun masih tidak paham maksud dan tujuan lelaki mengajaknya ke sini, Iva terlalu malas untuk bertanya.
"Tunggu di sini!" Taksa berjalan meninggalkan Iva yang masih berdiri di sana.
Iva tidak menjawab, dia melihat barang pajangan yang terdapat di kafe tersebut sangat unik namun lucu dia menyukainya.
Tidak lama Taksa datang dengan kemeja putih serta apron yang sudah menggantung di lehernya, lelaki itu bahkan kini sudah mengenakan ikat kepala menghalau rambutnya yang sudah panjang agar tidak menghalangi pandangan.
"Kamu ganti baju sana, tuh di ruangan itu." Taksa menunjuk sebuah ruangan yang bertuliskan ruangan bos. Iva yang terhipnotis oleh ketampanannya, segera tersadar.
"Nggak mau ah, nanti ada bosnya lagi." dia menggeleng, menolak perintah Taksa.
Taksa berdecak, dia menarik lengan Iva dan menyuruhnya masuk ke dalam.
"Ada beberapa kaos di lemari sana," ucap Taksa lagi lalu dia menutup pintu membiarkan Iva berganti pakaian.
Tidak lama pintu terbuka dan Iva sudah berdiri di sana dengan kaos hitam kebesaran, gadis itu sengaja mengikat bagian perut kaos membentuk sebuah simpul agar tidak terlihat ke dodoran.
"Kok bau kamu?" tanya Iva, dia mencium aroma badan Taksa di kos itu.
"Memang punya aku," jawab Taksa, "Ayo!" dia melenggang menuju sebuah ruangan yang ada di bagian belakang kafe.
Lagi-lagi Iva tidak bertanya, dia tetap mengekori Taksa kemanapun. Keningnya berkerut saat beberapa pelayanan yang usianya diatas mereka menundukkan kepala hormat saat berpapasan dengan Taksa.
"Sore, Mas," sapa seorang lelaki yang Iva duga usianya sekitar dua puluhan lebih.
Lelaki itu memakai baju yang sama seperti Taksa, mungkin dia chef. Kalau dia chef lalu Taksa? Iva memandang Taksa, lelaki itu hanya mengangguk tanpa tersenyum menjawab sapaan lelaki tadi.
"Kita mau ngapain?" tanya Iva, ketika Taksa mulai mengeluarkan beberapa bahan dari dalam kulkas.
"Katanya mau belajar masak?" Taksa mengambil apron dan memakaikan di tubuh Iva.
"Ta_tapi, nanti yang punya kafe ini marah loh." ia memang tidak menolak saat Taksa memakaikan apron padanya, tapi dari tatapannya jika Iva tidak menyetujui ide Taksa ini.
Taksa berdecak, dia mengangkat sebelah tangannya berpegangan pada dinding di belakang Iva. Perlahan badannya maju mendekati wajah Iva. Gadis itu gelagapan, kedua matanya membulat saat wajah Taksa semakin dekat. Mau mundur sudah tidak ada ruang lagi di belakangnya.
"Jangan bawel!" sebelah tangan Taksa yang bebas menyentil keningnya, membuat bibir gadis itu mengerucut.
Taksa berbalik dia mulai menyiangi sayuran yang tadi diambil dari kulkas, kemudian memilah menjadi beberapa bagian.
"Kamu cuci sayuran ini, lalu potong seperti ini." Taksa mulai memberi arahan. Dengan ogah-ogahan Iva menuruti permintaan Taksa.
Redi yang bekerja sebagai chef di kafe itu, sebisa mungkin menahan bibirnya agar tidak tersenyum melihat kedua remaja yang sedang belajar memasak.
"Bos kenapa gadis cantik gitu dibuat cemberut?" Taksa menoleh, ia mengerikan bahu menanggapi ucapan Redi.
"Kenapa Abang manggil Taksa, Mas?" tanya Iva, dia mendekati lelaki itu.
"Karena memang Bosnya." Iva melongo, dia mendekatkan wajahnya pada Taksa dengan kedua mata memicing.
"Masa sih, kok kamu nggak ada tanda-tanda kalau kamu bos di sini?"
Taksa memutar bola matanya malas, "Iva kayra katanya mau belajar masak," ucap tegas Taksa.
Iva terjingkat kaget, dia segera menegakan tubuhnya.
"Ay-ay kapten!" Iva memberikan hormat ala-ala hormat upacara bendera.
"Jadi mana nih yang harus aku kerjain, Pak Bos?" ia menaik turunkan kedua alisnya seraya tersenyum pada Taksa.
Dia tahu sekarang, dari mana Taksa pandai memasak. Ternyata dia memiliki sebuah kafe dan lelaki itu terjun langsung ke dapur mengurus menu makanan di sana.