Mengerahkan segenap kekuatannya, Arya menyerang Alam Dewa!
Awalnya Arya ditugaskan para dewa untuk memburu Pangeran Kegelapan yang telah menciptakan berbagai teror di dunia. Namun, di balik tugas ini, ada konspirasi yang busuk!
Para dewa rupanya berusaha melenyapkan keabadian dan kekuatan sang ayah yang ada di dalam dirinya. Kelak Arya akan memimpin perang melawan para dewa. Di perang besar ini dia akan menunjukkan kehebatan dan kesaktiannya yang tiada tara!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SPK 25
Langkah kakinya terhenti setelah melihat seorang lelaki sedang menghadapi sekitar 50 orang berseragam prajurit. Tidak jauh dari tempat pertarungan tersebut, sebuah kereta kuda tampak sudah dikelilingi oleh belasan prajurit.
Tiba-tiba kembali terdengar jeritan tiga suara wanita dari dalam kereta kuda. "Tolong ... Tolong ...!"
"Diam kalian!" Hardik seorang prajurit.
Arya sudah memutuskan harus berpihak ke mana. Wanita yang berada di dalam kereta kuda itu harus ditolongnya terlebih dulu.
Sebuah ranting kering sebesar ibu jari yang teronggok tidak jauh dari tempatnya berdiri langsung diraihnya. Setelah itu Arya berlari melesat menuju kereta kuda untuk menyelamatkan wanita yang berada di dalamnya.
Tanpa menunggu lagi, Arya menyerang beberapa prajurit sekaligus dengan ranting di tangannya. Meski hanya ranting kering, nyatanya para prajurit yang diserangnya langsung tumbang terkena tebasannya.
Para prajurit lainnya terkejut dengan kemunculan Arya yang tiba-tiba dan langsung memberi serangan.
"Siapa kau? Jangan ikut campur dalam masalah ini?" bentak seorang prajurit.
"Seharusnya aku yang bertanya kepada kalian, tempat ini masih masuk wilayah kerajaan Kanjuruhan, Siapa yang memberi kalian ijin memasuki wilayah kerajaan lain? Aku tidak peduli kalian dari kerajaan mana, yang pasti aku tidak akan membiarkan kalian keluar hidup-hidup setelah berani memasuki tempat ini!"
Para prajurit itu berpandangan satu sama lain. Tampaknya mereka baru sadar jika sudah memasuki wilayah kerajaan Kanjuruhan. Dan pemuda itu, mereka menduga dia adalah penjaga batas wilayah terluar kerajaan Kanjuruhan.
"Jangan takut, jumlah kita jauh lebih banyak. Kita bunuh dia!" teriak seorang prajurit memberi semangat kepada temannya yang lain.
Arya tersenyum menunjukkan seringaian yang menyeramkan. Dalam satu kedipan mata, tubuhnya melesat sembari menebaskan ranting kayu di tangannya ke tubuh setiap prajurit yang ada di dekatnya.
Bugh! Bugh!
Meski terdengar pelan, namun tebasan yang dilakukan Arya mampu meremukkan tulang para prajurit yang bernasib sial. Mereka berteriak kesakitan dan bergulingan di tanah tidak karuan.
Satu persatu prajurit berhasil Arya lumpuhkan, sebagian luka parah dan ada juga yang mati di tempat. Pemuda tersebut mendekati kereta kuda yang tertutup rapat pintunya, dan menyisakan jendela kecil yang terbuka.
Di dalam kereta kuda itu, Arya melihat ada 3 wanita yang saling berpelukan dengan mimik wajah ketakutan.
"Jangan takut, aku tidak akan menyakiti kalian. Siapa para prajurit itu?"
"Tuan, tolong bantu suamiku dulu," jawab wanita setengah tua, yang diapit dua gadis muda.
Arya melihat jalannya pertarungan yang sedang terjadi. Seorang lelaki tua tampak berjibaku menahan gempuran puluhan prajurit yang mengeroyoknya. Tampak luka-luka sudah menghiasi tubuh lelaki tua tersebut. Itu terbukti dengan darah yang sedikit membasahi pakaiannya.
Arya mengambil sebuah pedang yang tergeletak di dekatnya. Tanpa pikir panjang, dia melesat membantu lelaki tua yang ternyata adalah Dharmaseta.
Dalam beberapa gebrakan saja, 4 orang prajurit sudah terkapar di tanah tak bernyawa dengan usus terburai keluar dari perut mereka.
Pemuda itu tidak menghentikan kebuasannya, gerakannya semakin cepat dan tak terdeteksi oleh para prajurit kerajaan Gandara yang kini sudah terpecah fokusnya. Satu persatu prajurit yang ada di dekatnya menjadi korban keganasannya, dan tidak ada satupun yang berhasil menghentikan serangannya.
Arya tidak peduli siapa yang dibantunya, yang dia tahu, dia harus menjaga kedaulatan kerajaan Kanjuruhan dari prajurit kerajaan lain yang berani memasuki wilayah teritorial kerajaan Kanjuruhan.
"Tenang, Paman ... Aku datang membantumu!" ucap Arya, setelah berhasil mendekati Dharmaseta.
Dharmaseta menoleh untuk melihat siap yang telah membantunya. Tanpa disadari, kelengahannya itu hampir membunuhnya. Sebuah tombak bermata tajam sudah terarah menuju perutnya dengan cepat. Untung Arya bergerak cepat menangkis tombak besi tersebut hingga terlepas dari tangan pemiliknya.
"Jangan lengah Paman!" seru Arya.
Dharmaseta terkejut melihat kecepatan pemuda yang sudah membantunya. Dalam dua gebrakan saja, dua sampai tiga prajurit kerajaan Gandara tewas dengan cara mengerikan. Kecepatan seperti itu tidak bisa dilakukannya, meski pengalamannya sebagai panglima perang tertinggi kerajaan Gandara sudah tidak diragukan lagi.
Selain itu, Dharmaseta juga merasa heran, Selama ini dia tidak pernah mendengar jika kerajaan Kanjuruhan punya pendekar, sehebat pemuda yang kini dilihatnya sedang melakukan pembantaian.
Sudah lebih dari 40 prajurit tewas di tangan Arya. Bahkan Dharmaseta sampai tidak melakukan apa-apa karena setiap prajurit yang mendekatinya tewas tanpa sempat menyerangnya. Arya memang sengaja melindungi Dharmaseta, karena darah yang mengalir keluar dari tubuh lelaki tua itu bertambah deras dari luka yang dideritanya.
Prajurit kerajaan Gandara yang tersisa hanya 12 orang bergerak mundur menjauh. Mereka ketakutan bagai melihat hantu di siang bolong, bahkan mungkin Dewa kematian.
"Kalau kalian berpikir untuk melarikan diri dari tempat ini, lupakanlah! Aku tidak akan melepaskan kalian hidup-hidup!"
Arya merentangkan kedua tangannya ke samping kanan kiri dengan tatapan tajam menatap para prajurit yang mulai berlari ketakutan. Dalam dua detik berikutnya, pemuda itu memajukan kedua tangannya lalu ditariknya perlahan.
Secara ajaib dan tidak dimasuk akal, belasan prajurit yang berlari menjauh itu seolah tertarik paksa. Mereka sudah berusaha melawan, tapi kekuatan yang menarik tubuh mereka seperti bukan kekuatan manusia biasa.
Apa yang Arya lakukan adalah mengeluarkan salah satu rangkaian ajian yang ada di dalam jurus kedua kitab Cambuk Api. Nama ajian yang mencengangkan itu bernama Jala Api Abadi.
Dharmaseta tidak bisa menahan matanya untuk tidak membelalak lebar. Sebuah pertunjukkan yang hanya bisa dilakukan oleh pendekar tanpa tanding kini terpampang jelas di matanya. 12 prajurit tertarik paksa hingga kaki mereka yang terseret menimbulkan siring dan jejak memanjang yang cukup dalam.
Setelah 12 prajurit kerajaan Gandara itu terkumpul menjadi satu, keluarlah serat-serat merah dari mulut Arya yang terbuka. Ratusan serat merah itu membentuk sebuah jala yang bergerak cepat mencakup semua prajurit lalu membakarnya hingga menjadi abu hanya dalam hitungan detik.
Arya kagum dengan apa yang baru saja dilihatnya. Tapi meskipun begitu, dia merasa tenaga dalamnya seperti terkuras cukup banyak setelah menggunakan ajian tersebut. Dia menduga, terkurasnya tenaga dalamnya itu dikarenakan dia belum menguasai jurus ketiga dan juga belum menyempurnakan semua jurus yang ada dalam kitab Cambuk Api.
Sesuai perintah Dewi Anjani, setelah menguasai jurus ketiga, dia harus menemui seseorang untuk menyempurnakannya.
Kedua bola mata Arya nanar menatap onggokan abu jasad belasan prajurit yang menumpuk sedikit menggunung.
Setelah menghela napas panjang, Arya membalikkan tubuhnya dan berjalan mendekati Dharmaseta yang masih shock melihat kekuatannya.
Setelah mengalirkan tenaga dalamnya ke tubuh Dharmaseta untuk menghentikan pendarahannya, Arya melepaskan tangannya yang menempel pundak lelaki tua itu.
"Paman sekarang sudah aman, silahkan lanjutkan perjalanan kembali!"
"Terima kasih atas bantuan yang sudah Pendekar berikan," ucap Dharmaseta. Dia masih terkagum-kagum dengan kekuatan yang dimiliki Arya.
"Tolong jangan cerita kepada siapapun tentang apa yang Paman lihat tadi. Aku harus pergi sekarang," balas Arya. Pemuda berambut merah itu melesat meninggalkan Dharmaseta sebelum lelaki tua itu membalas ucapannya.
"Benar-benar pendekar yang sederhana," gumam Dharmaseta dengan kepala menggeleng pelan.
Arya sendiri bukan tanpa alasan meninggalkan Dharmaseta begitu saja. Dia butuh beristirahat setelah menggunakan ajian Jala Api Abadi yang cukup menguras tenaga dalamnya.
Hari berganti begitu cepat. Setelah menempuh perjalanan selama sepekan, Dharmaseta akhirnya sampai di istana kerajaan Kanjuruhan.
Kedatangannya tanpa menggunakan seragam kebesaran Senopati Agung dan tanpa pengawalan militer kerajaan Gandara, tentu menimbulkan pertanyaan di benak prajurit kerajaan Kanjuruhan yang sudah mengenali wajahnya.
Mendengar kedatangan sepupu jauhnya itu dari seorang prajurit, Raja Gajayana bergegas menuju aula untuk menyambut kedatangan Dharmaseta.
***
Cerita ini adalah sekuel dari buku LEGENDA PENDEKAR DEWA API. BISA DIBACA DI F1ZZ0