NovelToon NovelToon
Melodi Air Mata Samudera

Melodi Air Mata Samudera

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:735
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Belasan tahun terjebak di dalam sel Abyssal Trench yang gelap dan pengap, Elara Nereida—seorang Siren yang tangguh—harus membayar mahal harga dari sebuah kenaifan. Cinta tulusnya pada Helios Marine justru berakhir tragis. Sang Merman ternyata telah beristri dan dengan tega mengurung Elara demi menutupi aib, membiarkannya kelaparan dan diasingkan oleh ras Siren-nya sendiri sebagai aib.

Ketika sebuah kekacauan besar menghancurkan penjara bawah air dan memberinya celah untuk lolos, Elara bersumpah tidak akan pernah meneteskan air mata lagi untuk masa lalu. Dengan kekuatan Siren yang telah lumpuh akibat racun, ia nekat naik ke daratan Kota Luminara untuk memulai hidup baru sebagai manusia.

Sanggupkah Elara bertahan di dunia baru tanpa kekuatannya? Dan di antara kutukan takdir serta perebutan kuasa para penguasa daratan, siapakah yang akhirnya akan memenangkan melodi terakhir dari hati sang Siren?

"Lautan telah membuangku, namun daratan akan bertekuk lutut di hadapanku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5. Sepasang Kaki Baru

"Kau tahu... aku sama sekali tidak punya teman atau siapa pun lagi di dunia ini," bisik Elara lirih, matanya menyiratkan kepedihan yang dalam. "Bahkan, aku sudah tidak memiliki tempat tujuan untuk pulang."

Monster itu terdiam sesaat, seolah memahami penderitaan mendalam yang dirasakan oleh keponakan Raja Siren tersebut. Melalui gerakan kepalanya yang perlahan, monster itu memberikan isyarat agar Elara mengikutinya pergi.

****

Namun, perkiraan Elara meleset. Sesampainya mereka di kawasan pantai pesisir barat, ketiga monster Nessie itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan naik ke permukaan, ataupun berenang menuju gua yang biasa menjadi sarang mereka.

"Eh? Kalian tidak naik ke atas?" tanya Elara kebingungan.

Bukannya menjawab, kawanan raksasa itu justru terus berenang lurus, membelah arus samudra yang kian dalam dan pekat. Tanpa pilihan lain, Elara hanya bisa pasrah mengayunkan siripnya, mengikuti ke mana pun ketiga makhluk berleher panjang itu membawanya pergi.

Perjalanan mereka ternyata memakan waktu yang sangat lama dan jarak yang teramat jauh. Fisik Elara yang belum pulih sepenuhnya pasca-penjara belasan tahun mulai mencapai batasnya. Karena kelelahan yang luar biasa, Elara akhirnya memutuskan untuk berenang naik dan merebahkan tubuh ringkihnya di atas punggung masif salah satu monster.

Tepat saat kawanan itu melewati sebuah celah bebatuan purba yang gelap, ketiga monster Nessie itu mendadak melesat maju secepat kilat.

Wushhh!

"Kyaaaaa!"

Pekikan Elara langsung tenggelam dalam gemuruh air. Ia refleks mencengkeram erat-erat lipatan kulit di leher sang monster, berusaha sekuat tenaga agar tubuhnya tidak terlempar.

Kecepatan mereka luar biasa gila. Hantaman arus laut yang begitu kencang membuat wajah Elara terasa perih bukan main—rasanya persis seperti ditampar oleh ribuan tangan tak kasat mata secara bertubi-tubi.

Beberapa jam pun berlalu di tengah siksaan arus bawah air. Elara yang sudah kelelahan lahir dan batin akhirnya tidak mampu lagi terjaga. Di atas punggung monster yang terus membelah kegelapan itu, sang Siren jatuh terlelap karena kepayahan.

Elara sama sekali tidak tahu bahwa ketiga monster Nessie itu tengah membawanya keluar dari wilayah lautan lepas. Mereka melewati jalur pipa air bawah tanah kuno yang menghubungkan samudra dengan sebuah danau air asin raksasa—tepat di area belakang kastil megah milik Jacob Salvatore, sang Raja Vampir penguasa Hutan Luminara.

Sejatinya, kawanan monster Nessie itu memang kerap bermigrasi pada malam-malam tertentu ke danau luas yang terisolasi tersebut. Dan malam bulan purnama yang bersinar penuh malam ini, adalah waktu yang sempurna bagi para monster laut untuk berburu mangsa daratan.

Elara sama sekali tidak menyadari ketika monster laut itu perlahan membawanya ke daratan rendah, lalu menjatuhkan tubuh ringkihnya tepat di tepi danau berkabut—tepat di bawah naungan sebuah pohon kesemek besar yang tengah berbunga lebat.

Bruk!

"Awss, sakit!"

Elara tersentak bangun, memegangi pinggangnya yang berbenturan langsung dengan tanah keras berlapis kelopak bunga. Sementara monster nessie itu kembali masuk ke dalam air danau.

Ia baru saja hendak memaki monster yang telah membuangnya dengan kasar, namun amarahnya mendadak surut. Atensinya teralih sepenuhnya oleh pemandangan asing di sekelilingnya, serta sebuah sensasi aneh yang mendadak membakar bagian bawah tubuhnya.

Elara menunduk, sepasang matanya membelalak horor saat melihat ekor dan sisik biru keperakannya mulai mengikis perlahan. Satu per satu, sisik-sisik pelindungnya rontok di atas tanah.

"Ah, tidak! Ekorku yang berharga!" jerit Elara panik, tangannya bergerak gemetar mencoba menahan sisik-sisiknya agar tidak lepas.

Namun, usahanya sia-sia. Detik berikutnya, rasa perih yang teramat sangat menghantam sarafnya. "Akh! Ternyata... ini sangat menyakitkan!"

Mungkin, jika ia adalah seorang Mermaid yang memang sudah terbiasa bolak-balik menginjakkan kaki di daratan untuk menyamar, ia tidak akan merasakan penderitaan sekutuk ini.

Namun bagi seorang Siren purba yang seumur hidupnya terikat pada air dalam, proses adaptasi mistis ini terasa seolah-olah daging ekornya sedang dikuliti hidup-hidup. Elara mencengkeram rumput basah di bawahnya, menahan jeritan agar tidak memecah keheningan malam di hutan asing tersebut.

Perlahan tapi pasti, rasa sakit itu mulai mereda seiring dengan ekor indahnya yang menyusut dan terbelah, bertransformasi sempurna menjadi sepasang kaki manusia yang putih mulus—kontras dengan tubuhnya yang penuh luka akibat penjara Merman.

Elara tercengang, menyentuh kulit baru di paha hingga jemari kakinya yang lentik. "Waw... memiliki sepasang kaki ternyata tidak terlalu buruk juga," gumamnya, sedikit terpukau dengan keindahan fisik barunya.

Namun, rasa takjub itu tidak bertahan lama. Saat Elara mencoba menegakkan tubuh dan bangkit berdiri, kedua kaki barunya mendadak terasa lemas bagaikan jeli tak bertulang.

Bruk!

Ia langsung ambruk kembali ke tanah. Elara mencoba sekali lagi dengan keras kepala, namun tubuhnya kembali terjatuh. Ia sama sekali tidak sanggup menopang berat badannya sendiri, apalagi berjalan menggunakan kaki rapuh ini.

"Sial! Apa sesusah ini hanya untuk sekadar berdiri?!" umpat Elara frustrasi.

Menyadari usahanya sia-sia, Elara memutuskan untuk tidak memaksakan diri. Dengan sisa tenaga yang ada, ia merangkak pelan di atas tanah, lalu menyandarkan tubuh polos tanpa sehelai benang pun itu pada dahan kokoh dari pohon kesemek besar di belakangnya.

Angin malam Hutan Luminara berembus konstan, menusuk permukaan kulitnya yang terekspos.

"Dingin sekali..." bisik Elara, tubuhnya mulai bergetar hebat karena hipotermia daratan. "Aku butuh pakaian. Tapi... jangankan mencari baju, aku bahkan belum terbiasa mengendalikan kaki bodoh ini."

Elara kembali mengedarkan pandangannya ke sekitar tempat asing itu. "Sebenarnya, aku sekarang ada di mana?" gumamnya lirih.

Begitu ia melongokkan kepala dari balik batang pohon kesemek yang besar, jantungnya seketika mencelos. Di kejauhan sana, tak jauh dari tempatnya merangkak, sebuah kastil megah berdiri dengan kokoh. Namun, arsitektur kunonya terlihat sangat suram dan mencekam di mata Elara.

"Astaga... Kastil milik siapa itu?" batinnya bergidik.

Elara sama sekali tidak tahu bahwa bangunan angkuh itu adalah milik penguasa tertinggi klan Vampir. Di laut, ia hanya pernah mendengar nama sang penguasa daratan tersebut, tetapi tidak pernah tahu seperti apa wujud kastilnya.

Namun, perhatian Elara seketika teralih total. Sepasang matanya menangkap siluet seorang pemuda bertubuh tegap dengan rambut biru terang dan manik mata merah yang sedang celingukan ke sana kemari. Pemuda asing itu tampak waspada, bergerak di area belakang kastil yang sepi dan berkabut.

Ilustrasi Edgard Blue

"Siapa dia?" Elara sempat tertegun selama beberapa detik, terpikat oleh guratan wajah pemuda itu yang luar biasa tampan.

Namun, aksi tiba-tiba sang pemuda pada detik berikutnya membuat jantung Elara berdetak dua kali lebih kencang. Ia buru-buru memalingkan wajahnya dengan pipi yang memanas hebat.

"Dia benar-benar gila!" jerit Elara dalam hati, merutuki nasib sialnya.

Bagaimana tidak? Pemuda tampan berambut biru itu dengan santai melucuti seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya tanpa beban. Elara menangkup wajahnya yang memerah karena malu.

Saking paniknya, Siren itu sampai tidak sadar bahwa kondisi tubuhnya saat ini sebenarnya sama sekali tidak jauh berbeda dengan pemuda itu—polos tanpa sehelai benang pun.

"Dia pasti pemuda gila! Berani-beraninya telanjang bulat tanpa tahu malu di tempat terbuka seperti ini. Bagaimana kalau ada orang lain yang melihatnya?" gumam Elara jengkel, sebelum batinnya berkhianat. "Padahal... proporsi tubuhnya sangat bagus—eh! Sial, kenapa aku malah mengagumi tubuh si gila itu?!"

Elara menepuk keningnya sendiri dengan kesal.

Elara yang naif tentang makhluk daratan tidak tahu bahwa pemuda itu adalah Edgard Blue, bangsawan Werewolf yang hendak bertransformasi penuh di malam bulan purnama.

Didorong rasa penasaran, Elara perlahan kembali membalikkan kepalanya untuk memastikan situasi. Namun, belum sempat ia mengintip dengan jelas, tubuhnya terlonjak kaget.

Darahnya mendadak berdesir dingin ketika mendapati sesosok serigala raksasa berbulu biru terang dengan sepasang mata emas yang menyala kini sudah berdiri tepat di hadapannya.

Grrrrmmm...

Suara geraman rendah yang sarat akan ancaman itu menggetarkan udara malam. Tampaknya, insting tajam Werewolf milik Edgard telah mengendus aroma asing dan merasakan kehadiran Elara sedari awal.

Di bawah siraman bulan purnama, serigala biru itu memamerkan deretan taringnya yang tajam, siap menerkam si penyusup wanita.

"Akhhh! Anjing gila!" pekik Elara histeris, refleks memundurkan tubuh lemasnya hingga punggungnya membentur keras batang pohon kesemek.

"Penyusup! Seorang wanita dari ras Siren berani sekali menginjakkan kaki di kastil pamanku," desis sesosok serigala itu. Suaranya bergema rendah di dalam kepala Elara, sarat akan otoritas mutlak.

Sisi serigala Edgard yang bernama Elias itu melangkah maju satu demi satu, sepasang mata emasnya menatap tajam ke arah Elara yang tengah bergetar hebat. "Bagaimana bisa kau datang kemari?!"

Elara tersentak bukan main saat menyadari bahwa serigala raksasa di hadapannya ini bisa berbicara. Padahal, sedetik yang lalu ia mengira makhluk berbulu biru terang itu hanyalah hewan buas liar yang tersesat di dalam hutan.

Menyadari situasi berbahaya ini, naluri kewanitaan Elara langsung mengambil alih. Dengan gerakan panik yang kikuk, ia sibuk menutupi bagian-bagian intim tubuh polosnya dari tatapan menelanjangi sang serigala jadian.

Elara memepetkan punggungnya semakin erat ke batang pohon kesemek, berusaha menyembunyikan rasa takutnya di balik gertakan keras.

"Aku hanya tidak sengaja terdampar di tempat terkutuk ini!" seru Elara parau, mencoba menstabilkan suaranya yang bergetar karena hawa dingin.

Ia balas melotot, menantang manik mata emas bersinar milik Elias. "Dan kau... Apa kau seorang Werewolf?! Jika iya, cepat tutup matamu itu, Keparat! Apa kau mau matamu itu kucolok, hah?!"

Ilustrasi Elara Nereida

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!