Blurb :
"Saya harus menikahi Hanin Minggu depan," ucap Ammar dengan berat hati.
Mereka sama-sama terdiam membisu selama beberapa waktu.
"Selain itu ... saya juga mohon izin untuk menghapus kontakmu dari ponsel ini," lanjutnya seakan ingin menghapus semua jejak tentang Nadeen.
Sepintas, kita bisa memilih jodoh yang kita impikan. Menjalin hubungan dengan seseorang yang kita katakan memiliki kecocokan. Namun, berbagai kemungkinan masih bisa terjadi di luar keinginan.
Jangan bersedih, Nadeen. Allah akan mengatur semua menjadi seindah-indahnya kisah cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Cincin itu
“Bisakah Pak Ammar ikut ke ruangan saya sebentar?” tanyanya sambil kembali menunduk. Ammar menganggukkan kepalanya lalu mengikuti Nadeen dari belakang.
Nadeen mempersilakan Ammar untuk duduk, sementara pintu sengaja ia biarkan terbuka dengan lebar.
“Tekanan darah yang meningkat drastis adalah fase yang paling buruk pada penderita hipertensi,” terang Nadeen sambil membuka kembali catatan kesehatan Bu Sarah.
“Saya benar-benar tidak mengerti, sejak keluar dari rumah sakit ini ibu saya terlihat murung. Dan hari ini saya berencana mengantarnya pulang ke Yogja, tapi tiba- tiba saja keadaannya menjadi seperti ini.”
“Naiknya tekanan darah salah satunya bisa terjadi karena kondisi medis tertentu. Pada orang yang memiliki riwayat penyakit hipertensi, melonjaknya tekanan darah cenderung lebih rentan terjadi. Selain itu, tekanan darah juga bisa dipengaruhi oleh perilaku atau kondisi tubuh, seperti saat menangis, berolahraga, dan stres. Faktor usia juga bisa menjadi pemicu tekanan darah tinggi. Hal ini terjadi karena pembuluh darah cenderung mengalami pengerasan di usia lanjut.”
“Lalu, apa yang harus saya lakukan sekarang?” tanya Ammar sambil meremas jari-jari tangannya.
“Salah satu usaha bisa kita lakukan dengan cara mengubah pola makan Bu Sarah. Beri dia makanan yang mengandung banyak potassium seperti buah pisang, tomat, kentang, dan lain-lain. Karena itu bisa membantu menurunkan tekanan darahnya, tapi jangan berikan dia makanan yang mengandung garam berlebih,” pesan Nadeen pada Ammar.
“Baiklah, terima kasih banyak, Dokter ... Nadeen.” Ammar menatap sekilas lalu menunduk sambil mengangguk.
Nadeen menghela napasnya sambil tersenyum. “Jangan panggil saya Dokter, karena saya masih koas di sini.”
“Saya... sungguh tidak menyangka, kamu akan menjadi seorang Dokter, Ukhty ….”
Nadin kembali tersenyum dengan tatapan matanya yang sangat kosong. “Keputusan ini saya ambil setelah mama meninggal dunia karena kanker.”
Ammar kembali menatap Nadeen sambil menghela napas karena merasa sedikit menyesal. “Iya, saya mendengar kabar bahwa saat itu kamu membawa ibumu berobat ke luar negeri. Namun, sejak itu tidak ada hal apa pun lagi yang aku dengar? Apalagi kabar duka tentang ibumu. Saya benar-benar menyesal.” Ammar kembali menundukkan kepalanya menunjukkan bela sungkawa.
“Tidak apa-apa, itu sudah lama berlalu.”
Tanpa sengaja, pandangan Ammar terpaut pada cincin yang tersemat di jari manis Nadeen. “Kamu ... sudah menikah?” tanya Ammar sedikit bimbang.
Gadis itu tersipu sambil mengangguk pelan. “Satu langkah lagi menuju pernikahan, jika tidak ada aral melintang,” jawab Nadeen. Dia berusaha menutupi cincin pengikat pemberian Aris dengan telapak tangannya. “Mohon doanya saja.”
“Selamat, Ukhti.” Tak ada kalimat lain yang pantas ia ucapkan saat ini. “Semoga diberi kelancaran dan saya akan datang jika mendapat undangan.” Senyumnya lebar akan tetapi hambar.
“InsyaAllah.”
Perasaan Ammar, sama persis seperti perasaan Nadeen tiga tahun lalu. Ketika lelaki itu tiba-tiba memutuskan akan segera menikahi Hanin.
Tak lama Aris datang mengetuk pintu yang terbuka. “Silakan masuk, Kak,” sahut Nadeen sambil berdiri dari duduknya.
“Ini Pak Ammar, anaknya Bu Sarah, Kak.” Nadeen mempersilakan mereka ngobrol lebih banyak karena dia harus kembali bekerja. “Dan Pak Ammar bisa tanya banyak hal tentang kesehatan Bu Sarah pada Dokter Aris karena sebelumnya, dialah yang bertanggung jawab. Saya harus kembali ke UGD.” pesan Nadeen pada Ammar sebelum keluar dari ruangan itu.
Ammar kembali melihat cincin yang sama melingkar di jari manis Aris saat mereka mengobrol tentang kesehatan ibunya. Dia hanya bisa menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan.
****
Di ruangannya, Bu Sarah tersenyum bahagia ketika Nadeen datang menghampiri.
“Alhamdulillah, akhirnya ibu bisa bertemu dengan dokter Nadeen lagi,” ucapnya semringah.
Sementara Nadeen sengaja memasang wajah yang sedang berpura-pura marah.
“Apa-apaan ini, Bu? Nadeen benar-benar tidak senang melihat ibu saat ini,” jawabnya sambil pura-pura sibuk mengecek selang infus lalu mengeluarkan tensi meter untuk memeriksa tekanan darahnya seperti biasa. Nadeen pun memasang stetoskop di telinganya lalu menempelkan di dada Bu Sarah.
Setelah mencatat semuanya, Nadeen duduk di samping Bu Sarah yang sudah mulai terlihat sedih karena kata-kata yang diucapkannya.“Ibu kan sudah berjanji, saat kita bertemu lagi, ibu dalam keadaan sehat dan hati ibu bahagia, kenapa malah seperti ini?” Nadeen menatap Bu Sarah sambil mengerucutkan bibirnya.
Bu Sarah hanya membalas tatapan Nadeen tanpa bicara apa pun. Lalu, ia menoleh ke arah Ammar yang tengah duduk sambil menunduk. Mata Ammar hanya fokus pada buku yang dibacanya.
“Ammar! Ini dokter Nadeen yang umi ceritakan kemarin.”
Ammar melirik sambil tersenyum. “Iya, Umi, Ammar sudah mengenalnya sejak lama,” ucap Ammar lalu kembali membaca buku yang masih terbuka.
Sesaat setelah itu, ketukan pintu terdengar dari arah luar. “Assalamualaikum ….” suara salam yang diucapkan oleh seseorang yang Nadeen kenal, membuatnya menoleh ke arah pintu.
“Hanin …!?” Nadeen bangkit dari posisi duduknya. Tersenyum sambil menatap sahabat yang masih berdiri mematung karena hampir tak percaya.
“Na-Nadeen …?” tanya Hanin dengan mata berkaca-kaca. Hanin mendekat lalu meraba wajah sahabatnya yang tidak berubah sedikit pun. “Kamu benar-benar Nadeen, kan?” ucapnya sambil merangkul tubuh Nadeen yang berdiri di depannya.
Hanin tak kuasa menahan tangisnya. Ia yang merasa begitu kehilangan dan tak pernah berhenti merindukannya selama ini tiba-tiba bertemu seperti sedang berada dalam mimpi. “Aku tidak sedang bermimpi?” lirihnya seraya terisak.
Nadeen menggelengkan kepalanya dengan cepat untuk meyakinkan Hanin. “Iya, ini aku. Aku Nadeen.” Suaranya pelan dan tercekat.
Akhirnya, mereka meminta waktu untuk bicara berdua di taman. Ada begitu banyak hal yang ingin Hanin bicarakan saat ini. Begitu pun dengan Nadeen.
“Nad, kamu sudah melupakanku?” tanya Hanin ketika mereka duduk berhadapan di bangku taman.
“Siapa bilang aku melupakanmu? Aku rindu serindu-rindunya.”
“Tapi kamu menghilang tanpa kabar selama ini? Apa kamu membenciku?”
Nadeen membuang napas sambil mengerutkan dahinya. “Benci? Hey, kenapa aku harus membencimu? ucap Nadeen sambil menatap Hanin lalu meluruskan pandangannya ke arah lain.
“Kamu harus tahu bahwa aku pernah menunggumu sangat lama di hari wisuda. Aku tidak ingin pulang sebelum melihat wajahmu. Namun ... karena kesehatan mama tiba-tiba memburuk, aku dan Papa harus membawanya pulang ke Bandung. Aku menyesal karena tidak bisa menghadiri resepsi pernikahanmu, maaf, ya, Nin.” Nadeen meremas tangan Hanin sambil menatapnya.
“Mama ...!” Hanin terhenyak mengingat ibunya Nadeen yang entah kapan terakhir mereka bertemu. “Bagaimana keadaan Mama? Di mana dia sekarang?”
“Waktu itu, kami membawanya ke Singapura untuk berobat. Namun, ternyata Allah lebih sayang padanya. Tolong dimaafkan jika semasa hidupnya, Mama ada salah sama kamu, Nin.”
Sontak, Hanin segera menatap mata Nadeen dengan lekat. Tangisnya kembali pecah. “Mamamu meninggal, kamu tidak mengabari aku? Tega sekali kamu, Nad. Teman macam apa kita ini?”
“Minta doanya saja buat Mamaku. Hanya doa yang paling berarti buat Mama saat ini.”
Semangat, Kak. 😍😍
sabar menunggu ala2 nadeen 😙😙😙
aku menanti cepat lah cepat lah