Kenzo yang keras dan Anisa yang berani selalu tak akur, saling berselisih setiap hari. Namun saat terpaksa bekerja sama, benci perlahan berubah menjadi cinta manis yang tak disadari keduanya. Dari yang saling menentang, kini berubah menjadi tak bisa berpaling satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19. Bersama Saat Hujan Turun
Langit yang tadina mendung perlahan menggelap pekat, tak lama kemudian rintik hujan mulai turun jatuh membasahi bumi. Semakin lama hujan turun semakin deras, beriringan dengan petir yang sesekali menyambar di kejauhan. Hari itu jam pelajaran berakhir lebih awal, namun hujan seakan tak berniat reda dalam waktu dekat. Suara air yang menghantam atap dan jendela terdengar nyaring, menciptakan tirai putih tebal yang memisahkan ruang kelas dari luar.
Anisa berdiri di dekat jendela, menatap ke luar dengan wajah cemas. Ia tak membawa payung sama sekali, dan jalan pulang ke rumahnya cukup jauh. Jika diterjang hujan deras begitu, tentu pakaian dan buku-bukunya akan basah kuyup. Jantungnya berdebar cemas melihat air yang terus turun tanpa tanda berhenti.
Di belakangnya, Kenzo baru saja membereskan barang-barangnya. Saat menyadari Anisa yang masih berdiri mematung di dekat jendela dengan tas yang masih tersampir di bahu dan tak bergerak sedikit pun, ia seketika mengerti apa yang terjadi. Hatinya tersentuh ingin menolong, namun keraguannya kembali muncul. Bagaimana menyampaikannya agar tak terasa canggung? Apakah Anisa akan menerima tawarannya? Setelah berpikir sejenak, akhirnya Kenzo menarik napas pelan dan melangkah mendekat.
"Hujan tampaknya belum akan reda sebentar lagi," suara Kenzo terdengar lembut tepat di samping telinga Anisa, membuatnya sedikit menoleh terkejut. Kenzo berdiri tak jauh darinya, menggenggam sebatang payung lipat di tangan kirinya, sementara tangan kanannya merogoh tas dan mengeluarkan sebuah jas hujan lipat yang masih terlihat baru. "Kebetulan aku membawa dua. Sini... pakailah yang ini."
Anisa menatap benda yang disodorkan kepadanya, lalu mendongak menatap wajah Kenzo. Matanya tampak tak percaya namun terasa hangat menyelinap di dadanya. "Tapi... bagaimana denganmu? Kalau kau memberikannya padaku, nanti kau sendiri yang akan kehujanan."
"Aku membawa payung," jawab Kenzo tenang sambil sedikit mengangkat payung di tangannya sebagai bukti. Sudut bibirnya terangkat senyum tipis yang meneduhkan. "Rumahku searah dengan arah pulangmu. Aku bisa menemanimu sampai persimpangan besar di ujung jalan. Nanti dari sana kau sudah aman, dan aku bisa kembali menyeberang ke arah rumahku."
Anisa terdiam sejenak, menatap matanya yang jernih dan tulus. Tak ada keraguan sedikit pun di sana. Akhirnya ia mengangguk pelan, menerima jas hujan itu dengan jemarinya yang sedikit bergetar karena haru. "Terima kasih, Kenzo. Sungguh... terima kasih banyak."
"Mari kita berangkat," ucap Kenzo lembut.
Mereka pun melangkah keluar kelas beriringan. Hujan turun begitu deras hingga air seketika membasahi pelataran sekolah yang terbuka. Kenzo membuka payungnya yang berwarna biru tua itu, lalu dengan gerakan perlahan mengarahkan payung itu lebih condong ke arah Anisa. Sebagian besar payung melindungi tubuh Anisa, sementara bahu kiri Kenzo justru terbuka dan perlahan mulai basah terkena rintik hujan yang tertiup angin.
Anisa menyadarinya seketika. Ia berhenti melangkah dan menatap bahu Kenzo yang mulai basah. "Kenzo, payungmu... terlalu condong ke sini. Nanti kau kedinginan."
"Tidak apa-apa," jawab Kenzo pelan sambil tetap mempertahankan posisinya. "Aku lebih tahan dingin darimu. Tetaplah berjalan di bawah perlindungan payung agar kau tidak sakit."
Jantung Anisa berdebar lembut mendengar ucapannya yang begitu tulus. Tanpa disadari, ia pun perlahan menggeser posisinya sedikit mendekat ke arah Kenzo, membiarkan bahu mereka nyaris bersentuhan. Dengan begitu, payung itu cukup menutupi keduanya tanpa membuat salah satu kehujanan sepenuhnya. Kenzo menyadari hal itu, menoleh sejenak ke arah Anisa yang menunduk memandang jalan dengan pipi yang samar merona merah, lalu perlahan senyum tipis kembali terukir di wajahnya.
Langkah kaki mereka pun kembali berjalan beriringan di bawah payung yang sama. Di sekelilingnya hujan turun deras, angin berhembus membawa udara dingin, namun di ruang sempit di bawah payung itu terasa kehangatan yang perlahan menyelimuti hati mereka. Suara hujan seakan menjadi irama yang menenangkan. Sesekali bahu mereka bersentuhan, membuat jantung berdetak sedikit lebih cepat, namun tak ada yang menarik diri menjauh. Sebaliknya, kehadiran satu sama lain justru memberikan rasa tenang dan aman yang tak pernah dirasakan sebelumnya.
Mereka berjalan dalam diam yang tak lagi terasa berat atau canggung. Sesekali saling bercerita hal-hal kecil sepanjang perjalanan—tentang pelajaran, tentang teman-teman, tentang hal-hal sederhana yang pernah terjadi. Tanpa disadari, jarak yang harus ditempuh ternyata terasa begitu singkat. Tak lama kemudian mereka tiba di persimpangan besar seperti yang dikatakan Kenzo sebelumnya. Hujan pun perlahan mulai mereda, berganti menjadi rintik halus yang menyejukkan.
"Ini sudah cukup jauh," ucap Kenzo pelan sambil menutup payungnya. Ia menatap Anisa yang masih tampak terharu berdiri di hadapannya. "Dari sini kau sudah bisa melanjutkan perjalanan dengan aman. Jangan lupa segera ganti pakaian sampai di rumah agar tidak sakit."
Anisa menggenggam erat jas hujan yang dipinjamkannya, menatap Kenzo yang bahu kirinya tampak cukup basah terkena air hujan. Matanya berkaca-kaca menatapnya lekat-lekat, penuh rasa terima kasih yang tak cukup diungkapkan dengan kata-kata saja.
"Terima kasih banyak, Kenzo," ucap Anisa dengan suara yang lembut namun terdengar begitu dalam. "Hari ini... kau sungguh banyak menolongku. Dan... tolong jaga dirimu juga, jangan sampai jatuh sakit karena kehujanan tadi."
"Aku pasti baik-baik saja," jawab Kenzo sambil tersenyum lembut. "Pergilah. Hati-hati di jalan."
Anisa pun perlahan melangkah pergi, namun sesekali menoleh ke belakang. Dan setiap kali ia menoleh, ia melihat Kenzo masih berdiri di sana, tetap berdiri menatap punggungnya hingga benar-benar menjauh dan hilang di tikungan jalan. Hujan mungkin telah mereda, namun kenangan perjalanan singkat di bawah payung itu tetap membekas manis di hati Anisa. Di bawah derasnya hujan dan perlindungan payung yang sama, Kenzo tanpa banyak kata telah mengajarkannya satu hal: bahwa kehadiran seseorang yang tulus mampu menghalau dingin dan badai sekalipun, serta menumbuhkan kehangatan yang tetap terasa meski hujan telah lama berhenti turun.
BERSAMBUNG....