"Sekarang topinya dulu, besok hatinya." Ucap El pada Diska.
AWAS SENYUM SENYUM SENDIRI DAN JADI BAPER!!
Cerita cinta ditahun 90'an.
Yg kangen cerita 90an silahkan merapat dan mengenang bersama masa-masa cinta monyet dan cinta pertama.
Diska Adalah Seorang Remaja Yang Ceria, senang membaca buku dan hobi membeli banyak buku dan Pandai membuat puisi Sementara Eldirga atau yang biasa dipanggil El Seorang Pria Cool dan Galak yang mempunyai hobi bermain gitar dan menciptakan lagu.
Diam Diam Mereka Saling Jatuh Cinta Namun Saling Gengsi.
Bagaimana Kelanjutannya? Simak Terus Kelanjutannya Ya.
Mohon Kritik dan Saran Yang Membangun Untuk Penulis Agar Lebih Berkreatif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shann29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PUTUS
“El, mampir dulu beli kado buat Airin ya,” ucap Diska sambil menepuk pundak El yang sedang fokus menyetir motor.
“Iya,” jawab El singkat, matanya lurus ke depan.
Motor mereka berhenti di deretan ruko yang masih ramai sore itu. Diska turun, melepaskan helm, dan hendak masuk ke sebuah toko hadiah kecil di pojokan.
“Dis,” panggil El pelan.
Diska menoleh. “Ya, El?”
El mengeluarkan dompet dari saku jaketnya, mengambil sebuah kartu ATM yang warnanya sudah agak pudar. Ia menatap Diska sebentar sebelum menyodorkannya.
“Pake ini buat beli kado Airin.”
Diska mengerutkan kening. “Nggak usah, El. Aku masih punya uang kok.”
El tersenyum samar, tapi matanya serius. “Pake aja. Lo bisa debit, PIN-nya tanggal, bulan, dan tahun kita jadian dulu waktu SMP.”
“El, nggak usah,” tolak Diska lagi, menunduk malu.
“Gue marah kalau lo nolak,” ucap El, nada suaranya tegas tapi matanya teduh.
Diska mendesah pelan. “El…”
“Pake, ya. Lo masih inget kan PIN-nya?”
Diska mengangguk kecil. “Iya.” Akhirnya ia mengambil kartu itu juga.
Begitu masuk toko, Diska menelusuri rak demi rak dengan hati campur aduk. Ia memegang satu per satu barang, tapi pikirannya melayang ke luar—ke arah El yang masih menunggu di motor. Setelah cukup lama memilih, ia berhenti di depan tas selempang kecil berwarna mocca. Sederhana tapi elegan.
“Pas buat Airin,” gumamnya sambil tersenyum kecil.
Ia membawa tas itu ke kasir, menggesek kartu debit, dan menekan PIN—tanggal yang dulu menjadi awal kisahnya bersama El. Sambil menunggu struk keluar, Diska menatap jendela kaca toko. Dari sana ia melihat El sedang menerima telepon. Wajahnya terlihat serius, bahkan sempat menunduk dalam.
“Siapa yang nelepon?” pikir Diska dalam hati. Ada sedikit perasaan yang tak nyaman di dadanya.
“Ini struknya, Kak,” suara kasir membuyarkan pikirannya. Diska tersenyum kecil dan keluar dari toko.
“Yuk, El,” katanya.
“Udah dapet?”
“Udah.”
“Beli apa?”
“Tas selempang kecil, warna mocca.”
El tersenyum tipis sambil menyalakan motor. “Bagus. Kayaknya Airin bakal suka.”
Diska ikut tersenyum, tapi hatinya masih menahan pertanyaan yang belum sempat keluar: siapa yang barusan menelepon El?
⸻
Setiba di rumah Airin, suasana sudah ramai dengan teman-teman mereka yang lain.
“Lama banget, Dis!” protes Airin sambil tersenyum lebar.
“Maaf, Rin. Happy birthday ya!” Diska langsung memeluk sahabatnya itu hangat-hangat. “Nih, buat lo.”
Airin membuka bungkus kado itu dengan antusias. “Wah! Ini tas yang udah lama gue incer! Lo tau aja, Dis.”
“Kan gue sahabat lo, masa gak tau apa yang lo suka,” jawab Diska sambil tertawa kecil.
Sementara Airin sibuk menunjukkan kado barunya ke teman-teman, Diska melirik El yang duduk agak di ujung teras. Lelaki itu tampak mengetik sesuatu di ponselnya dengan serius.
Ryan, yang duduk tak jauh dari Diska, memperhatikan arah pandangan gadis itu. Ia hanya menghela napas, tahu benar isi hati Diska yang tak pernah tenang kalau El bersikap dingin begitu.
Tiba-tiba ponsel El berdering lagi. Ia berdiri, keluar pagar, dan menjawab panggilan itu dengan wajah yang sama seriusnya seperti tadi.
Diska menunduk. Dadanya terasa sesak, tapi ia berusaha menahan agar tak kelihatan di depan teman-teman lain.
Ketika El kembali duduk di sebelahnya, Diska masih diam.
“Dis, lo sakit?” tanya El.
“Enggak,” jawabnya pelan.
“Terus kenapa?”
Diska hanya menatap meja. “Lo sembunyiin sesuatu dari gue, ya?” tanyanya nyaris berbisik.
El diam. Tak menjawab. Dan diamnya El, bagi Diska, justru menjelaskan segalanya.
⸻
Tak lama, Rizki memecah keheningan.
“Airin, sekarang umur lo tujuh belas dong?”
“Iya, akhirnya bisa pacaran terang-terangan sama Bima!” jawab Airin, tertawa.
“Besok nikah sekalian, Rin,” celetuk Rizki, membuat yang lain tertawa.
Tapi tawa itu tidak sampai ke El dan Diska.
“Kayaknya El sama Diska duluan deh yang udah dapet restu dari orang tuanya,” goda Airin.
Semua mata menoleh ke mereka, tapi keduanya diam. Hening.
“Kalian berantem, ya?” tanya Airin akhirnya.
Diska berdiri. “Gue balik duluan, Rin.”
“Dis! Diskaa!” panggil El, tapi Diska tidak berhenti.
Ia terus berjalan ke arah gerbang, hingga nyaris saja tertabrak motor yang melaju cepat.
“Diska!” El berlari menghampiri dan menarik tubuhnya ke tepi jalan. Napasnya memburu, matanya tajam menatap gadis itu.
“Bisa gak sih lo hati-hati? Ini jalanan rame!” suaranya meninggi, terdengar seperti marah, tapi di balik itu ada nada takut.
Airin dan teman-teman lainnya terkejut. Ryan melangkah maju, menengahi. “Udah, El. Jangan marahin Diska.”
“Gimana gue gak marah, Yan! Kalo nanti gue gak ada, siapa yang jagain dia?!”
Ryan menatap El tajam. “Udah, El. Lo tenang dulu.”
Diska menatap El dengan mata berkaca-kaca. Ia merasa kecil, lemah, dan bersalah sekaligus.
Airin menghampirinya, merangkul bahunya. “Dis, yuk ke rumah gue dulu.”
⸻
Di rumah Airin, Airin menyodorkan segelas air. “Minum dulu, Dis. Lo gak apa-apa kan?”
Diska mengangguk, tapi air matanya tetap menetes.
El berdiri tak jauh dari Diska, menatap pemandangan itu dengan rasa bersalah yang menyesak di dada. Ia menunduk, lalu menarik napas panjang.
“Kalian kenapa lagi, sih?” tanya Bima pelan.
Tak ada jawaban.
“Bisa tinggalin gue berdua sama Diska bentar gak?” pinta El.
Airin mengangguk. “Ayo, yang lain ke dalam dulu. Biarin mereka ngomong.”
⸻
Kini hanya El dan Diska di teras.
“Dis,” panggil El pelan.
Diska tidak menjawab.
“Lo udah lama gak marahin gue, ya?” tanya Diska pelan, masih menunduk.
El menghela napas. “Gue gak bermaksud marah, Dis. Gue cuma takut.”
“Gue ini beban lo, ya, El?” suaranya gemetar.
“Enggak. Lo itu hati gue. Jiwa gue, Dis.” El menatapnya sungguh-sungguh. “Gimana gue bisa nganggep lo beban, kalau justru lo alasan gue kuat sampai sekarang.”
Diska diam. Tak menjawab.
“Dis, jangan diemin gue gini. Please.”
Hening beberapa detik. Lalu, perlahan, Diska berkata, “Kita putus aja, El.”
El langsung mendongak. “Apa? Dis, lo ngomong apa sih?”
“Gue capek, El. Gue nyerah.”
“Gue gak mau nyerah.”
“Hubungan kita gak bisa kayak dulu lagi. Lo berubah, El.”
El berlutut di hadapannya. “Kalau gue salah, bantu gue benerin, Dis. Jangan ninggalin. Tatap mata gue, dan bilang lo bener-bener mau putus.”
Diska mendongak perlahan. Air matanya jatuh.
“Gue sayang sama lo, El. Tapi gue gak pernah tau apa yang lo sembunyiin dari gue. Masih ada cewek lain di hidup lo, ya?”
El menggeleng cepat. “Nggak. Yang nelpon gue tadi itu Papa, Dis. Bukan cewek lain.”
“Papa lo?”
El menunduk. “Iya. Gue gak mau lo khawatir, makanya gue diem. Tapi sumpah, gue gak bakal ulangin kesalahan yang dulu. Jangan curigain gue lagi, ya? Maafin gue.”
Diska terisak pelan, membelai kepala El yang masih berlutut di depannya.
El menggenggam tangannya. “Lo percaya gue kan, Dis?”
Diska mengangguk pelan. “Maaf, El.”
“Jangan bilang putus lagi ya.” El mencium punggung tangan Diska penuh sayang.
Diska tersenyum tipis. “Iya.”
⸻
Airin muncul membawa sepiring nasi. “Dis, makan dulu ya. Lo belum makan dari tadi.”
“Gue gak lapar, Rin.”
El mengambil piring itu. “Makan ya, Dis. Gue suapin.”
Diska tertawa kecil dan akhirnya menurut. El menyuapinya perlahan, penuh kelembutan, membuat suasana tegang tadi perlahan mencair.
Menjelang sore, El bersiap pamit. “Gue balik dulu, ya. Mau siapin tahlil buat kakek.”
“Hati-hati, El.”
El tersenyum. “Dan jangan bilang putus lagi, ya, Dis.”
“Iya.”
Saat El menyalakan motor, Diska memanggilnya. “El, bentar! Ini ATM lo.”
“Lo aja yang pegang.”
“Enggak, El.”
“Kenapa? Lo gak percaya gue?”
“Bukan gitu. Tapi… ya jangan aja.”
El menghela napas, lalu menerima kartunya kembali. “Gue balik dulu.”
Motor itu melaju pergi, meninggalkan Diska yang berdiri di depan pagar, menatap punggung El dengan perasaan campur aduk.
⸻
Malamnya.
Diska membuka ponselnya.
Diska: El… jangan marah. Aku gak bisa tidur 😔
El: Tidur, Dis. Udah malam.
Diska: Lo marah?
El: Enggak, Diska sayaaang.
Diska: Tapi aku beneran gak bisa tidur.
El: Besok tanggal merah, sekolah lo libur kan? Gue jemput pagi-pagi, olahraga bareng ya. Sekarang tidur, biar gak kesiangan.
Diska tersenyum. Tapi tak lama, ia kembali menatap layar dengan cemas.
“Dia beneran gak marah kan?” batinnya.
Tak lama kemudian, ponselnya berdering.
“Halo, El.”
“Masih belum tidur?”
“Masih baca buku.”
“Tidur, Diskaa. Udah malam.”
“Lo marah sama gue, ya?”
“Enggak, Diska. Gue sayang lo. Tidur ya.”
“Iya, El.”
“Besok pagi gue jemput.”
Senyum kecil muncul di bibir Diska sebelum akhirnya ia menutup matanya perlahan.
⸻
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali El sudah tiba di depan rumahnya.
“Masih muka bantal aja,” godanya sambil mengenakan helm ke kepala Diska.
“Lo sih diemin gue semalem, jadinya gue gak bisa tidur,” protes Diska sambil manyun.
Mereka berangkat. Tapi kali ini, Diska tak langsung memeluk El.
El menoleh. “Kenapa gak peluk?”
“Ngapain.”
“Gak semangat kalo gak ada yang peluk,” ucap El pura-pura cemberut.
Diska tertawa kecil, lalu akhirnya memeluk pinggang El erat-erat. “Udah, jalan.”
El tersenyum dan melajukan motor mereka menuju stadion.
Di sana sudah ada Ryan, Airin, Bima, dan Rizki. Mereka olahraga bareng, tertawa, bercanda, seperti masa-masa dulu.
Saat sarapan, El memesan bubur untuk semua orang. Tapi Diska menatap mangkuknya tanpa menyentuh.
“Kenapa gak dimakan, Dis?” tanya El.
“Ada seledrinya. Gue alergi,” jawab Diska.
Airin langsung menepuk keningnya. “Duh, maaf banget, Dis! Gue lupa bilang!”
“Santai aja, Rin,” ucap Diska.
El berdiri dan memesan ulang bubur tanpa seledri. “Lo harus makan.”
Saat bubur datang, Diska tersenyum lembut. “Makasih, El.”
Mereka duduk berdua di tepi taman setelahnya.
“Banyak hal tentang lo yang gue gak tau, Dis,” ucap El tiba-tiba.
“Apaan?”
“Lo alergi seledri, misalnya.”
“Tapi lo tau gue suka coklat, suka milkshake coklat,” jawab Diska.
El tersenyum. “Iya, itu gue inget.”
“Terus gue suka warna biru, suka buku, suka puisi,” lanjut Diska.
“Pantes kamar lo semua biru.”
Diska tersenyum dan menatap El. “Dan gue suka lo, El.”
El menatap balik. “Oh ya?”
“Iya, suka banget.”
El tertawa kecil, menunduk sebentar, lalu menatap langit biru yang cerah pagi itu.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, semuanya terasa ringan lagi.