NovelToon NovelToon
SIAPA YANG MENYIMPAN NAMAKU?

SIAPA YANG MENYIMPAN NAMAKU?

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:45
Nilai: 5
Nama Author: Omni Tales

"Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata." Nio tidak memiliki identitas, gender yang jelas, maupun ingatan masa lalu. Dia hanya hidup bersama pendar layar monitor dan residu informasi yang dibuang orang lain.
Ketika sebuah kasus anomali mendatangi meja kerjanya, Nio menemukan bentuk kejahatan yang tidak biasa: seseorang sedang mencabut sejarah manusia hingga tak bersisa. Di balik berkas-berkas mati yang membusuk dalam sistem, sebuah teror berinisial Zero mulai mengawasi setiap geraknya. Berpacu dalam kesepian dan ketakutan, Nio harus memilih: membongkar rahasia yang terkunci, atau menjadi lembaran kosong berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Omni Tales, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebocoran di Gedung Arsip

Peringatan tiga puluh menit di layar monitor menyisakan desakan waktu yang mencekik dada.

Nora meremas ujung mantel Nio, napasnya memburu dengan air mata yang menetes di pipinya.

"N-Nio... t-tolong... kita harus selamatkan Milo... aku tidak bisa hidup kalau Milo benar-benar hilang..." rintih Nora pasrah.

"Tenang. Mengikuti kemauan Zero secara mentah-mentah sama saja menyerahkan leher ke pisau jagal," sahut Nio dingin.

"T-tapi... pesan itu bilang... dalam tiga puluh menit eksistensi Milo dicabut total!!" jerit Nora histeris.

Nio mencengkeram kedua bahu Nora, menatapnya tajam hingga cewek itu terdiam dengan tubuh gemetar.

"Dengar. Zero butuh jangkar fisik untuk menghapus data cetak Milo dari dokumen kependudukan sebelum sistemnya mengunci," tegas Nio.

"J-jangkar fisik...?" ulang Nora dengan suara bergetar dan bibir membiru.

"Arsip fisik kependudukan daerah di basement Gedung Rekam Medis dan Sipil Kota," pangkas Nio cepat.

'Cih! Bajingan itu mau mengalihkan perhatian gue ke Sektor Sembilan, sementara dia melumat dokumen fisik Milo!' batin Nio.

Kael melangkah mendekat sambil memanggul tas perkakas berat berisi alat peretas sinyal dan tang pemotong.

"Aku ikut, Nio. Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi kepungan anak buah Zero sendirian," ujar Kael mantap.

"Paman jaga jalur komunikasi di luar. Gedung arsip itu kedap sinyal radio," perintah Nio santai.

"Nio... aku mau ikut masuk... aku mau ikut menyelamatkan Milo..." bisik Nora memohon sambil menunduk.

"Lu ikut gue masuk. Tapi ingat, ikuti instruksi gue tanpa bantahan sedikit pun," pangkas Nio dominan.

"Ngh... i-iya Nio... aku janji... aku pasrah pada semua perintahmu..." sahut Nora tunduk total.

Lima belas menit kemudian, sebuah mobil tua berhenti di gang gelap di samping Gedung Arsip Sipil.

Bangunan beton era lama itu berdiri megah, dibalut keheningan pekat dengan pendar kuning lampu jalan yang redup.

Nio membongkar kunci pintu darurat basement menggunakan kawat baja tipis dengan gerakan satset.

Klek!

Pintu besi itu terbuka pelan, menyebarkan aroma kertas lapuk dan kelembapan udara yang menyengat hidung.

Mereka menyusup masuk ke dalam lorong basement yang gelap, hanya diterangi senter kecil dari ponsel Nio.

"Senyap sekali di sini, Nio... seperti tidak ada orang..." bisik Nora merapat, memeluk lengan kiri Nio.

"Keheningan ini cuma residu jebakan. Tetap berada di belakang gue," sahut Nio rendah.

Jemari Nio meraba tekstur kertas kosong di sakunya, memastikan presensinya tetap fokus di tengah kejanggalan.

Mereka melangkah menelusuri deretan rak arsip raksasa berdebu yang membentang seperti labirin beton.

Ribuan berkas kependudukan lama tertata rapi, mewakili riwayat hidup warga kota yang pernah mencatatkan sejarah.

"Sektor dokumen kependudukan lahir tahun 2010... di sebelah sana," tuju Nio menunjuk lorong empat.

Nora menahan napas saat jemari Nio menarik salah satu map cokelat tebal berlabel Milo Ross.

Namun, begitu map itu dibuka, lembaran kertas di dalamnya tampak telah terkikis cairan asam berbau tajam.

Tinta nama Milo perlahan memudar, terhapus secara fisik bagaikan tinta yang tersapu air hujan sebelum sempat mengdry.

"N-tidak... TIDAK!! KERTASNYA MEMUDAR, NIO!!" jerit Nora histeris sambil memegang kepala dengan kedua tangannya.

"Arsip fisik ini sengaja disirami agen pengikis kimiawi berjangka!" desis Nio menggeram.

'Setan! Zero menyuntikkan larutan amorf ke dalam pipa pendingin ruangan ini!' batin Nio terkaget.

Bip! Bip! Bip!

Mendadak, lampu darurat merah di sepanjang lorong basement menyala berkedip-kedip dengan gema sirine tajam.

Suara langkah kaki berderap cepat terdengar dari dua ujung lorong arsip, mengepung posisi mereka secara presisi.

"Lapor, target masuk ke perangkap Sektor Empat! Kunci seluruh pintu terisolasi!!" teriak suara bariton dari pengeras suara.

"N-Nio!! KITA TERKEPUNG!! BAGAIMANA INI?!" pekik Nora panik, menangis kencang sambil memeluk Nio erat-erat.

Nio menepis kepanikan itu, menarik lengan Nora lalu berlari cepat menembus celah antar-rak arsip.

Plak! Plak! Plak!

Suara tembakan berperedam menghantam rak besi di belakang mereka, memercikkan bunga api dan debu kertas.

"Tembak kakinya!! Zero minta pakar data itu ditangkap hidup-hidup!!" seru anggota tim pemburu bertopeng.

"Cih! Dijadikan kelinci percobaan lagi?! OGAH!!" umpat Nio menyeringai sinis di tengah pelarian.

Nio menarik sakelar pipa pemadam kebakaran di dinding lalu menghantam segelnya menggunakan siku tangannya.

Brak!!

Semburan air bertekanan tinggi campur busa kimia menyembur keras, membasahi lorong dan menyilaukan mata para pengejar.

Anak buah Zero berteriak terdesak saat busa pemadam membakar mata mereka dan melicinkan lantai beton.

"Nora! Panjat rak nomor enam sekarang!!" perintah Nio sambil mengangkat pinggul Nora dengan dorongan kuat.

"Ngh... N-Nio... tinggi banget..." rintih Nora merintih ketakutan, namun tetap memanjat pasrah sesuai arahan.

Nio menyusul bergerak cepat, berdiri anggun di atas puncak rak besi setinggi tiga meter tanpa rasa takut.

Dari atas rak, Nio melihat empat pria bertopeng hitam sedang meraba-raba di tengah kepulan busa putih bawah.

Nio melepaskan kabel daya utama yang menggantung di plafon lalu menjatuhkannya tepat ke dalam genangan air.

Crrzzzzt!! Spark!!

Sengatan listrik ribuan volt meliuk-liuk di atas lantai, melumpuhkan seluruh tim pemburu dalam seketika.

Jeritan kesakitan dan kejang-kejang bergema singkat sebelum keempat orang itu pingsan terkulai lemas.

Nora gemetar hebat melihat pemandangan di bawahnya, menatap Nio dengan kekaguman yang bercampur rasa takut.

"P-penaklukan yang luar biasa... k-kamu benar-benar tidak tersentuh, Nio..." bisik Nora mengagumi dominasi pria itu.

"Gak usah lebay. Kita belum selesai," sela Nio datar sambil melompat turun ke area kering.

Nio menangkap tubuh Nora yang melompat pasrah dari atas rak, menahannya dalam dekapan rapat sebelum melepaskannya.

Nora tersipu dengan napas memburu, sepenuhnya berada di dalam kendali emosional sang pakar data mati.

Nio kembali mengambil sisa lembaran dokumen Milo yang belum sepenuhnya lebur oleh asam kimia.

Di bagian pojok bawah kertas, sebuah stempel mikro transparan memantulkan pendar merah senter Nio.

"Ini bukan sekadar stempel kependudukan. Ini koordinat fisik enkripsi sekunder milik Zero," gumam Nio.

"A-apa artinya itu, Nio?" tanya Nora mengusap sisa air matanya.

"Zero tidak menyimpan server utama Milo di Stasiun Induk. Dia menyimpan inti datanya di tempat ini," jawab Nio.

Nio menunjuk sebuah brankas baja tua yang tertanam di balik dinding beton tempat penyimpanan dokumen rahasia.

Brankas itu terkunci dengan sistem kunci biomekanis lama yang membutuhkan dekoder frekuensi tinggi.

Namun, saat Nio mendekati brankas tersebut, suara dengung frekuensi radio mendadak berbunyi nyaring di dalam sakunya.

Ponsel Nio bergetar hebat, memperlihatkan panggilan dari nomor tak dikenal yang memaksa terhubung otomatis.

"Nio... karya favoritku. Kau berhasil menemukan brankas tempatku menyimpan ingatan adik kecil itu," sapa suara Zero.

"Sentuhan asam kimiawi yang membosankan, Zero," sahut Nio dingin tanpa menunjukkan kelemahan sedikit pun.

"Haha! Tapi kau terlambat. Brankas itu dipasangi peledak termit. Satu sentuhan salah, seluruh sejarah Milo musnah," ancam Zero.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!