Ketika Zilia mengetahui kekasihnya menikah dengan wanita lain, hidupnya seketika berubah.
Belum sempat menyembuhkan luka, ia justru dijodohkan dengan Rafael, pewaris keluarga Darmawan yang nyaris tidak dikenalnya. Namun, siapa sangka jika Vio datang kembali dan bersumpah akan merebutnya, sementara Rafael terang-terangan bahwa Zilia sebagai calon istrinya.
Di antara cinta lama, perjodohan, kecemburuan, dan rahasia keluarga, Zilia tidak pernah menyangka, bahwa pria yang awalnya hanya dianggap sebagai pengganti, justru akan menjadi lelaki yang mengubah seluruh hidupnya.
Akankah Zilia mendapatkan kebahagiaan? Atau justru ujian hidupnya semakin berat.
Penasaran? yuk ikuti jalan cerita mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Di dalam kamar, Zilia dan Rafael sama-sama dapat mendengar samar percakapan dari dapur.
Rafael yang sedari tadi bersandar di dekat pintu hanya tersenyum tipis.
"Sepertinya keluargaku lagi jadi bahan gosip."
Zilia berdecak pelan.
"Bukan keluargamu. Orang kaya memang selalu jadi bahan pembicaraan."
Rafael melirik Zilia.
"Kalau begitu, kamu bangga dong. Sebentar lagi jadi bagian dari keluarga itu."
Zilia langsung mendelik.
"Belum tentu."
Rafael mengangkat sebelah alis.
"Masih mau kabur?"
"Aku cuma bilang belum tentu."
"Padahal tanggal nikah sudah ditentukan."
"Itu urusan orang tua."
"Kalau kamu kabur..."
Rafael sengaja menggantung ucapannya.
"Kenapa?"
"...aku tinggal cari kamu."
Zilia mendengus.
"Emangnya aku buronan?"
"Bukan."
"Terus?"
"Calon istriku."
"Dasar."
Rafael terkekeh kecil.
Di luar kamar, obrolan Ibu Sari rupanya masih berlanjut.
"Eh iya, Bu Retno. Zilia pulang buat wisuda, kan?"
"Iya."
"Hebat ya. Dulu banyak yang meremehkan dia."
"Eh sekarang malah diterima di perusahaan besar. Makanya aku bilang sama anakku, jangan kalah sama Zilia."
Ibu Retno hanya tersenyum.
"Setiap anak punya jalan rezekinya masing-masing, Bu."
"Betul sih."
"Tapi ya namanya orang tua, pasti ingin anaknya hidup enak. Tinggal dapat suami kaya, hidupnya langsung berubah."
Mendengar kalimat itu, Rafael spontan menoleh ke arah Zilia.
"Lihat."
"Doa ibu-ibu ternyata sama."
Zilia memukul pelan lengan Rafael.
"Diam."
"Aku serius."
"Aku juga serius. Jangan bikin suara."
Rafael menahan tawanya.
Tak lama kemudian, terdengar suara kursi digeser.
Ibu Sari tampaknya bersiap pamit.
"Ya sudah, Bu Retno. Saya pulang dulu."
"Iya, hati-hati di jalan."
"Salam buat Zilia, ya."
"Nanti saya sampaikan."
Suara pintu depan terbuka, lalu menutup kembali.
Beberapa detik kemudian, langkah kaki Ibu Retno terdengar mendekati kamar Zilia.
Tok... tok... tok...
"Zilia."
"Iya, Bu."
"Ibu masuk, ya."
Zilia sontak melotot ke arah Rafael.
"Kamu sembunyi!"
"Di mana?"
"Pokoknya sembunyi!"
Rafael justru tersenyum santai.
"Aku ini calon menantu, bukan pencuri."
"Rafael!"
Belum sempat Rafael menjawab lagi, gagang pintu perlahan mulai diputar.
Zilia hanya bisa memejamkan mata sejenak, berharap ibunya tidak salah paham melihat Rafael masih berada di dalam kamarnya.
Klik...
Pintu kamar perlahan terbuka.
Ibu Retno masuk sambil membawa sepiring buah yang baru saja dipotong.
Namun, langkahnya langsung terhenti.
Tatapannya bergantian mengarah kepada Zilia dan Rafael.
Rafael masih berdiri santai di dekat jendela.
Sementara Zilia tampak salah tingkah.
"Bu...," ucap Zilia pelan.
Ibu Retno tersenyum kecil.
"Lho, Rafael masih di sini?"
Rafael mengangguk sopan.
"Iya, Bu."
"Maaf, tadi Bu Sari belum pulang, jadi Zilia menyuruh saya masuk ke kamar dulu."
Mendengar jawaban jujur itu, Zilia langsung melotot ke arah Rafael.
Bukannya dibantu, malah mengatakan semuanya apa adanya.
Ibu Retno justru terkekeh.
"Ibu sudah tahu."
"Kok... tahu?" tanya Zilia dengan wajah memerah.
"Tadi waktu Ibu lewat depan kamar, suara kalian berdua kedengaran."
Zilia spontan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Memalukan. Malu banget."
Rafael malah tersenyum lebar.
"Berarti kita nggak perlu sembunyi-sembunyi lagi."
"Siapa yang sembunyi sama kamu?"
Ibu Retno menggeleng geli melihat mereka.
"Kalian ini, ketemu lima menit saja sudah saling adu mulut."
Rafael tersenyum tipis.
"Soalnya kalau Zilia diam, rumah jadi sepi, Bu."
"Huh."
Zilia mendengus pelan.
Ibu Retno kemudian meletakkan piring berisi buah di atas meja.
"Nih, dimakan dulu."
"Terima kasih, Bu."
"Terima kasih, Bu," sahut Rafael hampir bersamaan.
Keduanya saling berpandangan.
"Lho, kompak juga kalian."
Ucapan Ibu Retno membuat Zilia semakin salah tingkah.
"Bu...."
"Apa?"
"Nggak usah diledekin."
Ibu Retno kembali tersenyum.
"Ibu senang melihat kamu mulai banyak tersenyum lagi."
Kalimat itu membuat Zilia terdiam.
Baru kali ini ia menyadari, sejak bertemu Rafael, hari-harinya memang lebih sering diisi perdebatan daripada tangisan.
Melihat suasana menjadi hening, Rafael sengaja mengubah topik.
"Bu."
"Iya, Nak?"
"Kalau saya menginap semalam di sini, boleh?"
Zilia langsung membelalakkan mata.
"Hah?"
Rafael menoleh santai ke arahnya.
"Aku kan bawa koper."
"Itu bukan alasan!"
"Hotel di sekitar sini lumayan jauh."
"Itu juga bukan alasan!"
Rafael kembali menatap Ibu Retno.
"Saya tidur di ruang tamu saja, Bu. Sumpah, nggak akan ganggu Zilia."
Ibu Retno berpikir sejenak.
Sebelum beliau sempat menjawab, Zilia buru-buru memotong.
"Bu, jangan diizinin."
"Kenapa?" tanya Ibu Retno.
"Nanti dia makin besar kepala."
Rafael terkekeh.
"Bukannya besar kepala. Aku cuma pengin lebih dekat sama calon ibu mertuaku."
"Rafael!"
"Iya, iya... calon."
Melihat tingkah keduanya, Ibu Retno hanya bisa menggeleng sambil tersenyum.
Dalam hati, ia mengakui satu hal.
Sejak Rafael datang, rumah yang biasanya sunyi kini dipenuhi tawa dan perdebatan kecil yang justru menghangatkan suasana.
Belum sempat suasana kembali tenang, terdengar suara motor berhenti di depan rumah.
Tak lama kemudian, seseorang memanggil dari luar pagar.
"Zilia!"
Zilia langsung menoleh ke arah jendela.
"Itu suaranya Rara."
"Kayaknya sama Edo juga."
Tanpa menunggu lama, Zilia segera berlari keluar kamar.
"Aku keluar dulu."
Rafael mengangguk pelan.
"Iya."
Begitu tiba di teras, senyum Zilia langsung mengembang.
"Rara!"
"Edo!"
Rara spontan memeluk sahabatnya itu.
"Kangen banget!"
"Aku juga."
Edo yang berdiri di samping mereka ikut tersenyum.
"Gimana, calon wisudawan?"
"Masih hidup."
"Cih, masih bisa bercanda."
Ketiganya pun tertawa bersama.
Ibu Retno yang melihat mereka dari dalam rumah ikut tersenyum.
"Masuk dulu, Nak."
"Iya, Bu."
Rara dan Edo melepas alas kaki sebelum masuk ke ruang tamu.
"Bu Retno, apa kabar?"
"Baik."
"Syukurlah Bu."
Baru saja mereka duduk, langkah kaki Rafael terdengar dari arah lorong.
Ia keluar dari kamar dengan tenang.
Rara dan Edo sontak menoleh bersamaan. Keduanya saling berpandangan.
"Lho..."
Rara berkedip beberapa kali.
"Zil..."
"Itu..."
Edo ikut menatap Rafael dari ujung kepala hingga kaki.
"Jangan bilang...."
Zilia langsung menghela napas.
"Aduh."
"Kenalin. Dia itu Rafael."
Rafael tersenyum ramah.
"Halo."
"Saya Rafael."
Rara menutup mulutnya, berusaha menahan senyum usil.
"Jadi..."
"Ini calon suamimu?"
"Iya." Sahut Rafael tanpa canggung.
Rara langsung menyikut pelan lengan Zilia.
"Wah..."
"Cepat juga."
"Baru kemarin patah hati."
"Sekarang udah ada penggantinya."
"Rara!"
"Apa? Aku cuma bilang fakta."
Edo ikut tertawa kecil.
"Pantesan tadi Bu Retno senyum-senyum terus."
Rafael yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.
"Jangan salah paham. Saya ke sini cuma mengantar Zilia. Terus belum sempat pulang. Karena ditahan sama..." Rafael melirik ke arah Zilia.
"...pemilik rumah."
"Hah?"
Zilia langsung melotot.
"Aku kapan nahan kamu?"
"Tadi. Supaya nggak kelihatan tetangga."
Rara langsung menatap Zilia dengan senyum yang semakin lebar.
"Ooo... gitu."
"Bukan begitu maksudnya!"
Semua orang di ruang tamu tertawa.
Sementara Zilia hanya bisa memegang dahinya.
Ia tahu, mulai detik itu juga, Rara pasti tidak akan berhenti menggodanya selama beberapa hari ke depan.
Suasana ruang tamu dipenuhi gelak tawa.
Rara yang memang usil sejak zaman kuliah tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menggoda sahabatnya.
"Zil."
"Apa lagi?"
"Jujur deh."
"Apa?"
"Kalian berdua lucu juga."
Zilia langsung mendelik.
"Lucu dari mana?"
"Dari cara kalian berantem. Kelihatannya capek, tapi kok malah bikin gemas."
"Ehem."
Rafael sengaja berdeham.
"Akhirnya ada yang mengerti."
"Jangan geer."
Zilia langsung memotong.
Rafael hanya tersenyum tipis.
Edo yang sejak tadi memperhatikan keduanya ikut bersuara.
"Jujur ya. Dari tadi aku lihat. Kalian saling balas terus. Tapi nggak ada yang benar-benar marah. Itu tandanya sudah mulai nyaman."
Wajah Zilia langsung memerah.
"Kalian ini ngomong apa, sih?"
Rara tertawa.
"Kalau sama Vio dulu..."
"Kamu lebih banyak diam."
"Tapi sama Rafael...bkamu jadi lebih hidup."
Ucapan itu membuat suasana mendadak sedikit hening.
Nama Vio kembali disebut.
Raut wajah Zilia berubah.
Rafael menangkap perubahan itu.
Tanpa berkata apa-apa, ia mengambil segelas air di atas meja lalu meletakkannya di depan Zilia.
"Minum dulu."
Zilia menoleh.
"Terima kasih."
Rafael hanya mengangguk pelan. Rara memperhatikan perhatian kecil itu. Dalam hati ia mulai memahami. Rafael mungkin bukan laki-laki yang pandai mengucapkan kata-kata romantis.
Namun tindakannya menunjukkan bahwa ia selalu memperhatikan Zilia.
Tak lama kemudian, Edo membuka map yang dibawanya.
"Oh iya."
"Hampir lupa."
"Apa itu?"
"Toga sama undangan wisuda."
"Kampus tadi membagikan tambahan undangan."
"Ini buat kamu."
Edo menyerahkan sebuah amplop kepada Zilia.
"Terima kasih."
Zilia membuka amplop itu.
Di dalamnya terdapat beberapa kartu undangan untuk keluarga.
"Untung."
"Aku jadi bisa kasih ke Bu Retno."
Rara tersenyum.
"Terus buat ayahmu?"
Zilia mengangguk pelan.
"Papa bilang beliau juga akan datang."
"Syukurlah."
"Semoga besok jadi momen yang membahagiakan."
Rafael yang sedari tadi diam akhirnya berkata,
"Bukan cuma ayahnya."
Semua orang menoleh.
"Aku juga akan datang."
Zilia spontan mengangkat kepala.
"Kamu?"
"Iya."
"Bukannya kamu kerja?"
"Aku sudah atur jadwalku."
"Bagaimanapun juga... aku ingin melihat calon istriku memakai toga."
Zilia langsung salah tingkah.
"Kamu nggak usah datang juga nggak apa-apa."
Rafael tersenyum tipis.
"Itu bukan pertanyaan."
"Itu keputusan."
Rara menahan tawanya.
Ia berbisik pelan kepada Edo.
"Fix."
"Yang satu keras kepala."
"Yang satu lebih keras kepala lagi."
Edo mengangguk setuju.
"Kita tinggal nunggu siapa yang menyerah duluan."
Mereka kembali tertawa.
Di sisi lain, Rafael seolah merasakan ada seseorang yang memperhatikan rumah itu.
Ia melirik ke arah jendela.
Sorot matanya langsung berubah tajam.
Sebuah mobil hitam terparkir tidak jauh dari pagar.
Meski kaca mobilnya cukup gelap, Rafael tahu siapa pemiliknya.
"Vio."
Ucapnya pelan.
"Ada apa?" tanya Rara.
Rafael kembali tersenyum tipis.
"Tidak ada."
Ia tidak ingin merusak suasana.
Namun beberapa menit kemudian, Vio akhirnya turun dari mobil.
Langkahnya tegas menuju pagar rumah.
Tok... tok...
Suara ketukan pagar membuat semua orang menoleh.
"Aku lihat dulu."
Zilia berdiri dan berjalan ke arah teras.
Begitu membuka pagar, napasnya langsung tertahan.
"Kamu lagi?"
Vio menatap Zilia lekat-lekat.
"Aku cuma ingin bicara sebentar."
"Aku sudah bilang, tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan."
"Ada."
"Belum selesai."
Zilia menggeleng tegas.
"Bagiku sudah selesai."
"Silakan pulang."
Belum sempat Vio menjawab, Rafael sudah berdiri di samping Zilia.
Ia tidak berkata apa pun.
Hanya berdiri sejajar dengan calon istrinya.
Sikap itu saja sudah cukup membuat Vio merasa tersaingi.
"Kamu lagi."
Ucap Vio dingin.
Rafael membalas tatapannya tanpa gentar.
"Aku memang di sini."
"Ini bukan kantor."
"Bukan juga rumahmu."
Vio menyeringai tipis.
"Tapi perempuan yang berdiri di sampingmu itu orang yang kucintai."
Rafael tetap tenang.
"Dulu mungkin. Sekarang, dia adalah perempuan yang sudah memilih menutup masa lalunya."
"Aku tidak pernah memberi kesempatan padamu untuk menjawab atas nama Zilia."
Balas Vio.
Rafael mengangguk pelan.
"Benar."
"Lalu biarkan dia sendiri yang menjawab."
Kedua pria itu serempak menoleh kepada Zilia.
Suasana mendadak hening.
Rara dan Edo yang berdiri di balik pintu ikut menahan napas.
Zilia menarik napas panjang.
Tatapannya lurus kepada Vio.
"Vio. Aku pernah mencintaimu. Itu kenyataan yang tidak akan kuingkari. Tapi cinta saja tidak cukup untuk membangun masa depan.
Kamu memilih menikah dengan orang lain.Apa pun alasannya, keputusan itu sudah mengubah jalan hidup kita."
Vio tampak ingin menyela.
Namun Zilia mengangkat tangannya, meminta ia mendengarkan sampai selesai.
"Aku tidak membencimu. Tapi aku juga tidak ingin kembali. Aku sudah lelah hidup dalam penyesalan. Mulai hari ini... berhentilah mengejarku. Aku ingin menjalani hidupku dengan tenang."
Ucapan itu membuat wajah Vio perlahan memucat.
Untuk pertama kalinya...
Ia melihat ketegasan dalam mata Zilia.
Bukan amarah.
Bukan kebencian.
Melainkan sebuah keputusan yang telah benar-benar bulat.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Akhirnya Vio mengembuskan napas panjang.
"Kalau itu pilihanmu... aku akan pergi hari ini. Tapi ingat satu hal, Zilia. Aku tidak berhenti mencintaimu."
Setelah mengatakan itu, Vio berbalik menuju mobilnya.
Ia masuk ke dalam, lalu perlahan meninggalkan rumah Ibu Retno.
Zilia tetap berdiri memandang mobil itu hingga menghilang di ujung jalan.
Rafael tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Ia hanya berdiri di samping Zilia.
Menemani dalam diam.
Karena ia tahu...
Ada perpisahan yang tidak membutuhkan air mata, tetapi tetap meninggalkan luka yang dalam.
awas y thor kalo gk update
suka ceritanya
awas ya thor kalo gak nyampe end
tak jewer kamu thor😄