NovelToon NovelToon
Atas Trauma Kakakku, Aku Hancurkan Kau Lewat Pamanmu

Atas Trauma Kakakku, Aku Hancurkan Kau Lewat Pamanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:954
Nilai: 5
Nama Author: Hello Ketty.

Bertahun-tahun Sarah disiksa suaminya hingga trauma berat dan akhirnya memilih untuk pergi. Adik kembarnya, Sera, datang untuk membalas dendam. Mengetahui suami kakaknya licik dan telah merampas seluruh harta kakaknya, Sera berjanji akan mengambil kembali semua hak milik kakaknya—meski harus merangkak naik ke atas ranjang Sean, paman dari suami kakaknya yang berkuasa.

Berhasilkah rencana Sera? Bisakah ia mengambil kembali segala hak milik kakaknya? Atau penyamarannya akan terbongkar, menjatuhkannya ke dalam bahaya yang jauh lebih mengerikan di tangan keluarga yang kejam dan penuh kelicikan itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hello Ketty., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

"Sean, antar Ayah dulu ke rumah sakit ya. Ayah mau periksa jantung."

"Baik, Ayah. Sebentar Sean naik ke atas dulu ambil ponsel," ujar Sean.

Semua orang sudah bubar usai pembicaraan soal tawaran yang diberikan Kakek Adiguna pada cucunya tadi.

Di lantai atas, Sera ternyata dari tadi menunggu di lorong, langsung tersenyum saat melihat kedatangan Sean.

"Paman..." panggil Sera.

Sean menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah gadis itu. "Ada apa, Sarah?"

"Paman mau ke mana?" tanya Sera.

"Mau keluar sebentar sama Kakek ke rumah sakit. Kau butuh sesuatu?"

Sera terdiam sejenak sepertinya bukan waktu yang tepat untuk mengutarakan niatnya.

"Ada apa?" tanya pria itu lagi.

"Paman... Boleh tidak aku minta sesuatu?"

Tanpa berpikir Sean langsung mengangguk karena dia lagi buru-buru. "Kau minta apa?"

"Boleh aku---"

Tiba-tiba Adrian muncul dari arah belakang. "Kau minta apa sama Paman?" tanyanya dengan nada jelas tidak senang melihat mereka berbicara berduaan.

Ucapan Sera langsung terhenti.

"Ah... Tidak jadi, Paman," ucap Sera membatalkan niatnya.

"Ya sudah kalau begitu," ujar Sean singkat. Ia pun langsung beranjak masuk ke dalam kamarnya mengambil ponsel, lalu kembali turun melewati mereka berdua.

Begitu Sean pergi, Adrian langsung menatap istrinya dengan penuh amarah. "Katakan! Apa tadi yang ingin kau minta sama Paman Sean!"

"Aku tidak meminta apa-apa," jawab Sera singkat dan berniat melangkah pergi mengabaikannya.

Melihat tingkah laku istrinya yang seakan tak peduli dan mengabaikannya, Adrian semakin meluap murka.

"Berani-beraninya kau mengabaikan aku saat bicara, Sarah!" Bentaknya mulai kehilangan akal.

Adrian langsung mengangkat tangannya dan menarik rambut Sera dengan kasar.

"Aaaah!" pekik Sera kesakitan merasakan perih yang menjalar di kulit kepalanya.

Tangan Sera mengepal, ingin sekali rasanya dia meninju wajah Adrian. Namun ia segera menahan diri. Takut kalau dia ketahuan.

Tahan, Sera! Kalau kau sampai memukulnya sekarang, kau akan menunjukkan jati dirimu yang sebenarnya. Kalau itu terjadi, Adrian bisa saja mulai curiga dan semua rencana balas dendammu akan hancur berantakan.

"Mas... Kau menyakitiku, Mas..." ucap Sera sambil mencoba melepaskan tangan Adrian yang masih mencengkeram rambutnya.

Adrian justru tersenyum puas melihat Sera yang menderita. "Sakit? Akhir-akhir ini semua orang mengadu padaku kalau kau sudah mulai berani melawan. Benar begitu?"

Ia semakin mengencangkan tarikannya.

Seandainya bukan karena misi balas dendamku, sudah lama aku mencincang tubuhmu, batin Sera menahan rasa sakit yang luar biasa.

"Mas... Kalau kau menyakitiku dan Paman Sean tahu, kau bisa tamat," ucap Sera mengancam menggunakan nama Sean.

Benar saja, begitu mendengar nama itu, Adrian langsung melepaskan cengkeramannya dengan kasar.

 

"Berani kau mengancamku sekarang! baiklah... Karena ada Paman Sean di sini, kau jadi selamat. Seandainya tidak ada dia, wajahmu pasti sudah babak belur lagi," ujar Adrian sambil menunjuk wajah Sera, sebelum akhirnya berbalik pergi meninggalkan wanita itu.

Sera memegangi kepalanya yang terasa perih bekas tarikan kasar pria itu. Jadi begini rasa sakit yang selama ini kau berikan pada kakakku...

Lihat saja! Aku bersumpah akan membalasnya jauh lebih sadis dari ini semua, batinnya penuh dendam.

Sera pun melangkah masuk ke dalam kamar Adrian. Sekali lagi ia mengendus-enduskan udara di ruangan itu, seakan sangat membenci aroma tubuh Adrian yang terasa melekat di mana-mana.

_____

Di rumah sakit Pelita Harapan. Dokter Dion baru saja selesai memeriksa kondisi jantung Adiguna.

Karena Dion adalah salah satu dokter spesialis jantung yang menangani pria tua itu.

"Bagaimana dengan kondisi jantung saya, Dokter?" tanya Adiguna setelah pemeriksaan selesai.

"Kondisi jantung Tuan lumayan stabil. tolong banyak istirahat dan jangan terlalu banyak berpikir," ujar Dokter Dion.

"terima kasih, Dokter."

"Sama-sama, Tuan. Mau saya antar keluar?" tawar Dion.

"Tidak usah, kebetulan saya ke sini juga bersama putra saya." Tolak Adiguna halus

Ting!

Bersamaan itu, ponsel Dion bergetar pelan. Ia segera meraihnya dan membuka pesan yang masuk.

“Dion, aku sekarang ada di lobi rumah sakit. Aku sengaja datang ke sini, mau mengajakmu makan sebentar di luar.”

Begitulah bunyi pesan yang dikirimkan dari Sarah barusan.

Dion langsung membalas: “Baiklah, kamu tunggu saja di sana. Aku akan segera turun kebawah.”

Dion langsung membalas pesan dari Sarah.

Tiba-tiba ucapan Adiguna yang baru saja Dion dengar berputar kembali di ingatannya.

“Aku datang ke sini bersama putraku.”

Dion terdiam terpaku. Putranya... berarti Sean Vergantara! Dan sekarang Sarah kembaran Sera istri asli Adrian sedang menunggu di lobi.

Jantungnya berdegup kencang. Ia segera berusaha menyembunyikan kegelisahannya di hadapan pria tua itu.

“Oh ya, Tuan... Kalau begitu izinkan saya mengantar Tuan sampai ke depan. Atau... di mana putra Tuan berada sekarang? Biar saya panggilkan sekalian,” tawar Dion.

“Tidak usah, terima kasih banyak Dokter. Saya masih sanggup berjalan sendiri. Kalau soal Sean... sepertinya dia sedang sibuk menerima telepon, kira-kira berada di area lobi,” jawab Kakek tenang.

Lobi! Sarah juga ada di sana!

“Baiklah, kalau begitu silakan Tuan.”

“Terima kasih atas bantuannya, Dokter.”

Setelah melihat punggung Kakek Adiguna menjauh keluar ruangan, Dion langsung berbalik arah.

Ia mengambil jalan pintas yang lebih cepat, lalu berlari sekuat tenaga menuju lobi. Dion takut kalau sampai Sean justru tidak sengaja bertemu langsung dengan Sarah yang asli.

Jika itu terjadi, pasti Sean akan segera menyadari sesuatu yang tidak beres.

Perbedaan antara Sarah dan Sera terlalu mencolok.

Sarah yang asli masih memiliki sedikit memar harus di wajahnya bekas penganiayaan Adrian beserta keluarganya.

Sedangkan Seta kulitnya mulus bersih tanpa satu pun noda bekas siksaan. Jika mereka bertemu sekarang, semua rencana akan hancur lebur dan identitas Sera akan terbongkar.

 

Dion mencoba menghubungi nomor Sarah, namun tak ada jawaban. Ternyata Sarah sudah memasukkan ponselnya ke dalam tas dan kebetulan ponselnya disetel senyap.

Sean yang tadi sempat bicara di luar rumah sakit kini melangkah masuk kembali lewat lobi. Dan bersamaan, Sarah berdiri tepat di tengah lobi menunggu kedatangan Dion.

Sean berjalan lurus, tak sengaja pandangannya langsung melihat sosok Sarah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!