Kehidupan punya kenyataan, karena hidup terus mengikuti takdir. Seperti kehidupan yang dijalani oleh gadis bernama Jingga. Di saat usianya masih remaja, dia harus kehilangan ibunya.
Namun Jingga tak pernah menyerah untuk menjalani kehidupannya. Walaupun dia harus menerima kenyataan bahwa ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita yang tidak dia sukai.
Beruntung saat dia berusia dewasa, dia dipertemukan dengan seorang laki-laki yang sangat mencintainya. Hingga tak butuh waktu lama untuk Jingga menyandang status sebagai istri dari seorang manager restoran bernama Ken. Namun lagi-lagi dia harus menelan pil pahit, saat suaminya harus menikahi seorang gadis yang sedang mengandung anak dari suaminya.
Jingga berusaha mempertahankan rumah tangga yang baru dibangun, dia juga rela harus berbagi suami dengan wanita lain. Tetapi, kehidupan Jingga yang sebenarnya baru dimulai saat itu, saat dia harus rela melihat rumah tangganya yang hancur. Sampai dia berada dititik keputusasaan, hadirlah seorang laki-laki tampan bernama Ray Alfendra. Seorang pengusaha muda yang tampan, dengan ketulusannya dia bisa membawa Jingga pada kebahagiaan yang diimpikan Jingga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuriyyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Ken seperti biasa menjalani hari-harinya. Dia mulai berusaha menekan egonya, untuk tidak terus menekan Resti. Walaupun dipikirannya masih saja terganggu tentang ayah dari bayi yang dikandung Resti, tetapi hatinya seolah berkata bahwa itu memang darah dagingnya.
Setelah sampai ditempat kerjanya, Ken segera masuk kedalam restoran. Lagi-lagi dia harus bertemu dengan mantan kekasih Resti. Dia melihat Dafa yang juga baru datang untuk masuk ke restoran itu.
"Kita bertemu lagi," ucap Dafa tersenyum.
"Ngapain kamu ada disini?" tanya Ken dengan suara yang lebih terdengar ketus.
"Oh saya ada disini tentu untuk makan, Pak manager," jawab Dafa dengan sengaja menekankan nada diakhir ucapannya.
"Apa kamu punya masalah sama saya? Kelihatannya kamu tidak menyukai saya. Apakah ini ada hubungannya dengan Resti yang menikah dengan saya, jadi kamu tidak terima? Atau malah dengan bayi yang dikandung Resti? Bukankah itu anak kamu?" ucap Ken langsung mencerca Dafa dengan banyak pertanyaan.
Dia sangat kesal dengan laki-laki yang ada dihadapannya itu. Jelas sekali Dafa menunjukan ketidaksukaannya pada Ken.
Dafa diam mendengar semua pertanyaan yang dilontarkan padanya. Bagaimana mungkin Ken mengira bahwa dia ayah dari bayi yang dikandung Resti. Sontak saja ucapan Ken memancing sisi emosi Dafa, yang memang dari kemarin tidak bisa dia kontrol.
"Apa maksud kamu? Bukankah kamu yang sudah menghamili Resti disaat dia masih mempunyai hubungan denganku? Dengan teganya menyakiti istri kamu, dan sekarang kamu malah membuat fitnah seperti itu huh!" teriak Dafa sambil mencengkram kerah baju yang dipakai Ken.
"Ya bisa aja kan, kalian sekongkol hanya untuk menjebak saya, agar saya menikahi wanita yang sudah hamil hanya karena kamu tidak bertanggung jawab atas perbuatan kamu," balas Ken santai. Bahkan dia tak terpancing sedikitpun.
"Asal kamu tahu, aku bukanlah orang yang mudah melakukan hal kotor yang menjijikan seperti yang kamu lakukan. Aku jadi kasihan sama Jingga yang mempunyai suami seperti kamu, harusnya dia tak menikahimu," ucap Dafa marah dan langsung memberi pukulan pada wajah Ken.
Seketika Ken tersungkur, ujung bibirnya sobek dan mengeluarkan darah. Dia berusaha berdiri untuk membalas apa yang dilakukan Dafa, tapi baru saja dia ingin memukul balik Dafa, tiba-tiba karyawan laki-laki di restoran itu segera menahan ken.
Setelah mendengar suara keributan dari luar, beberapa karyawan segera keluar untuk melerai perkelahian yang ternyata salah satunya adalah Ken, manager mereka.
"Lepaskan saya!" bentak Ken pada karyawan yang berusaha menahan Ken. Sedangkan karyawan itu tak berani menjawab, dia memilih diam dan tetap menahan Ken.
Tiba-tiba Citra datang dengan wajah kagetnya. Bagaimana bisa Ken dan Dafa bisa berkelahi seperti ini? Pikirnya.
"Pak, saya mohon tolong jangan berkelahi seperti ini lagi!" ucap Citra sambil melihat kearah managernya.
"Saya juga tidak akan begini, kalau dia tidak membuat masalah dengan saya!" ucap Ken sambil menunjuk kearah Dafa yang wajahnya memerah karena menahan amarah.
"Aku tidak salah dengar, bukannya kamu sendiri yang membuat masalah dengan saya, pagi-pagi begini!" ucap Dafa tersenyum sinis.
"Kamu...!" teriak Ken lagi yang memberontak dari cekalan karyawannya agar bisa menghajar Dafa.
"Stop! Hentikan Pak! Kamu juga Dafa!" ucap Citra dengan nada tinggi sambil menatap kearah Ken dan Dafa secara bergantian.
"Ini tempat bukan untuk adu otot, jadi saya mohon hentikan! Kalian bawa pak Ken masuk kedalam, biar saya yang bicara sama Dafa," ucap Citra pada rekan kerjanya.
Beberapa karyawan segera membawa masuk Ken, namun Ken terus berontak.
"Lepaskan saya! Saya bisa sendiri!" bentak Ken.
Merekapun melepaskan cekalan pada tangan Ken, karena mereka tak berani membantah perintah managernya itu.
"Daf sebenarnya apa yang terjadi sampai-sampai kamu memukul Ken?" tanya Citra penasaran.
"Dia yang membuat masalah lebih dulu. Aku datang kesini hanya untuk makan, tapi dia malah mengatakan hal yang tidak masuk akal," jawab Dafa yang masih kesal.
"Tidak masuk akal gimana?" tanya Citra lagi.
"Masa dia bilang, kalau istri keduanya itu hamil anak aku," jawab Dafa.
"Ha! Maksud kamu Resti?" tanya citra tak percaya.
"Iya. Memang siapa lagi istri keduanya," jawab Dafa yang mengusap kasar wajahnya.
"Memangnya kamu kenal sama Resti?" tanya Citra yang semakin kaget dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Ya, dia itu mantan aku. Dia mutusin aku begitu aja dengan alasan akan menikah dengan laki-laki yang dicintainya yang merupakan ayah dari bayi yang ada dalam kandungannya," jelas Ken yang sontak membuat Citra tak percaya bahkan dia sampai menutup mulutnya yang menganga.
"Apa!" pekik Citra tak percaya.
"Udahlah aku balik aja," ucap Dafa yang segera berbalik menuju kemobilnya.
"Dafa tunggu!" teriak Citra berusaha mengejar Dafa yang akan segera pergi.
"Apa?" tanya Dafa cepat.
"Aku mau, kamu ceritain semuanya," jawab Citra yang masih penasaran.
"Sudahlah, aku mau pulang. Nanti dilain waktu aku pasti ceritain semuanya," balas Ken dan segera melajukan mobilnya.
"Dafa! Ish, aku pengen dengernya sekarang," gerutu Citra namun percuma karena Dafa sudah pergi menjauh. Akhirnya dia hanya menghembuskan nafas kasarnya, dan segera masuk kedalam.
...----------------...
"Kak, tadi aku ketemu suaminya Resti saat aku mau makan direstorannya," ucap Dafa setelah dia berada dirumahnya.
"Terus?" tanya Ray tak mengerti.
"Dia bilang bahwa Resti itu hamil anak aku. Dia mengira aku dan Resti sengaja menjebaknya," jawab Dafa kesal.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Ken sambil mengerutkan keningnya.
"Aku tidak tahu. Yang jelas dia sangat marah, dan terus mengatakan hal yang tidak aku lakukan," jelas Dafa.
"Terus kamunya gimana?" tanya Ray lagi.
Dafa melirik kesal kearah Ray. Kenapa kakaknya itu bertanya 'terus, terus' berulang kali.
"Ya aku pukul aja dia. Jelaslah, siapa yang tidak emosi jika difitnah seperti itu," jawab Dafa.
"Apa! Kamu memukulnya? Baru aja kemarin kamu membuat keributan saat di mall, dan sekarang kamu membuat masalah lagi," ucap Ray yang tak habis pikir dengan adiknya itu.
Tak Bisakah dia berhenti membuat masalah dengan Resti dan suaminya itu.
"Sudahlah Kak, aku kan cuma ngasih tahu aja. Bukan minta Kakak buat nyeramahin aku," balas Dafa kesal dan segera pergi kekamarnya.
Ray terdiam, bukannya Dafa yang sejak pulang langsung mengoceh padanya. Dan sekarang dia malah bilang begitu, pikir Ray kesal.
Ray sedikit penasaran dengan apa yang baru saja dia dengar dari Dafa. Kenapa suaminya Jingga bisa berpikir bahwa Dafa yang membuat Resti hamil. Bukan dia membela adiknya, tapi memang dia tahu betul bagaimana adiknya itu. Dafa tak mungkin melakukan hal yang tidak baik, apalagi sampai membuat seorang wanita hamil.
mampir ya
lanjutan ceritanya harus dobel lho tho, kalian lama nggak up nya
semoga urusan real nya cpt kelar
dan bisa update lagi 💞