Lin Ye terbatuk memuntahkan darah hitam dan terbangun di tanah pemakaman Sekte Pedang Surgawi.
Dantiannya telah hancur lebur, menjadikannya tumpukan sampah yang selalu dihina oleh para kultivator lain.
Angin malam yang dingin berhembus membawa aroma dupa busuk dan aura kematian yang sangat pekat di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30
Lin Ye langsung menggunakan Langkah Hantu Bayangan, tubuhnya berkedip sejenak di udara dan dalam sepersekian milidetik ia telah bermanifestasi tepat di depan wajah Chu Zhen.
Kecepatan ini sama sekali tidak bisa diikuti oleh mata telanjang maupun kesadaran spiritual Chu Zhen yang sedang dalam proses membakar jiwanya.
Sebelum energi ledakan keemasan di dalam tubuh Chu Zhen mencapai titik kritisnya, Lin Ye menempelkan telapak tangan kanannya tepat di atas dada pria tua itu.
"Domain Kematian Mutlak: Pembekuan Ruang dan Waktu," bisik Lin Ye dengan tenang.
Seketika itu juga, energi Yin Sempurna yang berwarna hitam legam meledak dari telapak tangan Lin Ye dan langsung menyelimuti seluruh tubuh Chu Zhen.
Cahaya keemasan yang tadinya sangat menyilaukan dan panas itu tiba-tiba meredup dan berhenti berfluktuasi secara instan.
Proses ledakan Inti Emas yang seharusnya menghancurkan gunung itu membeku di tengah jalan, ditekan oleh hukum elemen Yin murni yang memiliki tingkat dominasi jauh lebih tinggi.
Mata Chu Zhen membelalak lebar, keputusasaan yang lebih gelap dari malam tanpa bintang langsung menelan sisa-sisa kewarasannya.
Ia menyadari bahwa ia tidak bisa lagi mengendalikan tubuhnya sendiri, bahkan untuk mati secara terhormat dengan membawa musuhnya pun ia tidak diizinkan.
"T-tidak... biarkan aku mati... biarkan aku membunuhmu!" rintih Chu Zhen dengan bibir yang bergetar hebat di bawah tekanan energi hitam yang membekukan tubuhnya.
Lin Ye menatap wajah keriput yang basah oleh air mata darah itu dengan pandangan yang benar-benar kosong, tidak ada rasa kasihan sedikit pun yang tersisa di hatinya.
"Aku sudah berjanji kepada cucumu bahwa aku akan mengirimkan jiwamu untuk menemaninya di dalam botol siksaku," jawab Lin Ye dengan nada datar.
Pusaran energi di telapak tangan Lin Ye berputar dengan sangat ganas, langsung menembus ke dalam dada Chu Zhen dan mencengkeram jiwa pria tua itu.
Sebuah jeritan yang tidak terdengar oleh telinga fisik namun mengguncang alam roh meledak saat Lin Ye menarik paksa jiwa Tetua Agung tersebut keluar dari raganya.
Bersamaan dengan itu, Lin Ye menyedot seluruh energi dari Inti Emas Chu Zhen yang hampir meledak tadi, mengalirkannya langsung ke dalam dantiannya yang lapar.
Tubuh fisik Chu Zhen langsung berubah menjadi debu es berwarna kelabu yang tertiup angin malam, tidak menyisakan tulang atau darah sedikit pun di atas tanah.
Di telapak tangan Lin Ye, sebuah bola jiwa yang memancarkan cahaya keemasan redup sedang meronta-ronta dengan sangat ketakutan.
Lin Ye segera mengeluarkan Botol Penampung Jiwa dari dalam cincin penyimpanannya, botol yang sama tempat ia menyiksa jiwa Chu Yan.
Ia membuka sumbat botol giok itu dan membiarkan jiwa Chu Zhen melihat reuni keluarga yang sangat mengerikan di dalamnya.
Di dalam penjara api hitam itu, jiwa Chu Yan yang sudah sangat lemah dan transparan sedang menjerit kesakitan akibat siksaan yang tidak pernah berhenti.
"K-kakek?! Apakah itu kau?! Kakek tolong aku! Selamatkan aku dari api iblis ini!" jerit jiwa Chu Yan saat merasakan kehadiran kakeknya.
Jiwa Chu Zhen bergetar hebat karena kesedihan yang tak terbatas saat melihat penderitaan cucu yang selama ini ia lindungi dengan segala cara.
Namun sebelum jiwa Chu Zhen sempat menjawab, Lin Ye langsung menekan jiwa pria tua itu masuk secara paksa ke dalam botol giok tersebut.
"Nikmatilah reuni keluarga kalian di dalam nyala api neraka selama ribuan tahun ke depan," ucap Lin Ye sambil menutup sumbat botol giok itu dengan sangat rapat.
Ia mengusap permukaan botol giok itu dengan senyuman puas, menyadari bahwa ia telah memenuhi sumpahnya untuk membalas dendam dengan cara yang paling sempurna.
Lin Ye kembali menyimpan botol jiwa itu ke dalam ruang penyimpanannya, lalu memutar tubuhnya untuk melihat kondisi pertarungan di langit.
Pertarungan itu sudah tidak bisa lagi disebut sebagai sebuah pertempuran, melainkan hanya sisa-sisa akhir dari sebuah pembantaian massal.
Tidak ada satu pun tetua pelataran dalam yang masih melayang di udara, semuanya telah berubah menjadi tumpukan daging cincang dan hujan darah yang menutupi atap istana.
Jenderal Wu An dan Jenderal Darah Kutukan sedang sibuk memakan sisa-sisa jiwa yang bertebaran, memperkuat aura pertengahan Alam Pembentukan Inti mereka.
Puluhan ribu prajurit bayangan melolong panjang ke arah bulan purnama yang tertutup awan, merayakan kemenangan mutlak sang kaisar mereka.
"Kembalilah ke dalam bayanganku," perintah Lin Ye dengan suara yang menghentikan lolongan mengerikan tersebut dalam sekejap mata.
Seluruh pasukan bayangan, termasuk kedua jenderal mengerikan itu, seketika berubah menjadi kabut hitam dan melesat masuk kembali ke dalam bayangan di bawah kaki Lin Ye.
Keheningan absolut kembali menyelimuti Puncak Awan Emas yang kini telah kehilangan seluruh penghuninya, hanya menyisakan bau anyir darah yang sangat kental dan menyengat.
Sekte Pedang Surgawi yang dulunya merupakan penguasa tak tertandingi di wilayah ini telah dihentikan detak jantungnya hanya dalam waktu satu malam oleh seorang pemuda yang mereka sebut sampah.
Lin Ye melangkah perlahan menjauhi mulut gua kawah, kakinya melayang beberapa inci di atas tanah agar tidak menginjak genangan darah yang menjijikkan.
Ia berjalan menuju arah Istana Awan Emas yang megah, bangunan utama tempat di mana seluruh kekayaan dan pusaka berharga milik sekte ini disimpan selama ribuan tahun.
Sistem di dalam benaknya langsung memunculkan peta tiga dimensi dari bangunan tersebut, menandai lokasi Paviliun Harta Karun dengan titik cahaya merah yang terang.
"Menghancurkan sekte hanyalah langkah pertama, menjarah seluruh sumber daya mereka adalah fondasi yang akan membantuku menaklukkan benua ini," gumam Lin Ye dengan mata yang berkilat tamak.
Ia berdiri di depan pintu perunggu raksasa dari Paviliun Harta Karun, yang masih dilindungi oleh formasi penyegel tingkat tinggi yang sangat kuat.
Namun, formasi yang kehilangan energi dari para tetua yang mengendalikannya hanyalah cangkang kosong yang menunggu untuk dihancurkan.
Lin Ye memusatkan energi Yin Sempurna ke tangan kanannya dan meninju pintu perunggu itu dengan kekuatan ledakan yang luar biasa.
Suara dentuman yang sangat memekakkan telinga bergema saat pintu perunggu tebal itu jebol dan terlempar ke dalam paviliun, menghancurkan beberapa rak kayu di dalamnya.
Lin Ye melangkah masuk ke dalam ruang harta karun yang sangat luas tersebut, matanya langsung disambut oleh kilauan cahaya dari jutaan batu spiritual, senjata pusaka, dan pil obat mujarab.
Tumpukan batu spiritual tingkat tinggi menggunung seperti bukit kecil di setiap sudut ruangan, memancarkan energi Yang murni yang langsung membuat danau spiritual Lin Ye bergetar kegirangan.
Botol-botol pil tingkat bumi yang bisa memicu perang antar sekte berjajar rapi di atas rak-rak kristal, menunggu untuk diklaim oleh penguasa barunya.
Buku-buku manual bela diri dari berbagai elemen tersimpan di dalam peti-peti giok berlapis emas, menyimpan kebijaksanaan dari ribuan kultivator masa lalu.
Tanpa basa-basi sedikit pun, Lin Ye membuka ruang penyimpanan tak terbatas milik sistem dan mulai menyedot seluruh harta karun itu seperti sebuah badai lubang hitam.
Ribuan pedang spiritual, jutaan batu energi, dan ratusan botol pil berharga langsung berterbangan masuk ke dalam ruang penyimpanannya tanpa sisa sedikit pun.
Bahkan rak-rak kayu spiritual yang berharga mahal dan permadani sutra emas di lantai paviliun itu pun tidak luput dari penjarahannya yang sangat bersih.
Dalam waktu kurang dari setengah jam, Paviliun Harta Karun yang menjadi kebanggaan Sekte Pedang Surgawi itu telah berubah menjadi ruangan batu kosong yang tidak memiliki nilai apa pun.
Lin Ye tersenyum puas melihat hasil jarahannya, sumber daya ini sudah lebih dari cukup untuk mendukung kultivasinya hingga mencapai puncak Alam Jiwa Baru Lahir.
Ia berjalan keluar dari paviliun yang kosong itu, melangkah menuju tebing tertinggi dari Puncak Awan Emas yang menghadap langsung ke arah hamparan dunia luar.
Angin fajar yang sangat dingin mulai berhembus kencang, membawa serta bau darah dari puncak gunung menyebar ke seluruh penjuru hutan dan lembah di bawahnya.
Sinar matahari pagi perlahan menyingsing dari ufuk timur, memancarkan cahaya keemasan pertama yang menembus awan-awan kelabu sisa pertempuran.
Cahaya mentari itu menyinari sosok pemuda berjubah hitam legam yang berdiri tegak di tepi tebing, rambut panjangnya berkibar pelan tertiup angin fajar.
Di bawahnya, hamparan wilayah Benua Awan Ilahi terbentang luas tanpa batas, dipenuhi oleh kekaisaran, sekte-sekte kuno, dan berbagai kekuatan besar yang belum menyadari kelahiran seorang raja iblis baru.
Mata Lin Ye memancarkan kilatan ambisi gelap yang sangat menakutkan, ia tidak lagi merasa puas hanya dengan membalas dendam pada sebuah sekte kecil di pinggiran benua ini.
Ia menginginkan seluruh dunia kultivasi ini berlutut di bawah bayangannya, menyerahkan jiwa mereka untuk menjadi bahan bakar bagi keabadiannya yang mutlak.
"Sekte Pedang Surgawi hanyalah batu pijakan pertamaku," bisik Lin Ye kepada angin pagi yang menerpa wajah pucatnya.
"Mulai hari ini, nama Lin Ye akan menjadi tabu yang mengundang keputusasaan di telinga setiap kultivator yang berani bernapas di bawah langitku."
Lin Ye merentangkan kedua tangannya, dan sepasang sayap kabut berwarna hitam pekat langsung bermanifestasi dari punggungnya dengan lebar mencapai belasan meter.
Ia menghentakkan kakinya dan melesat terbang meninggalkan reruntuhan berdarah Puncak Awan Emas, meluncur membelah langit pagi menuju pusat dunia kultivasi yang lebih luas.
Legenda tentang sang Penakluk Jiwa Kematian baru saja dituliskan dengan darah, dan takdir Benua Awan Ilahi kini telah sepenuhnya berada di dalam genggaman sang kaisar bayangan.