Tiga tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Alya bertahan hanya karena menghormati wanita yang telah menyatukan mereka.
Namun, tepat setelah sang nenek meninggal dunia, suaminya menjatuhkan talak dan mengakhiri hubungan yang selama ini hanya dianggap sebagai kewajiban.
Dengan satu kaki palsu dan hati yang hancur, Alya meninggalkan rumah yang tak pernah benar-benar menerimanya. Ia tak menyadari bahwa di dalam rahimnya sedang tumbuh kehidupan baru.
Saat dunia seolah menutup semua pintu untuknya, Alya memilih bertahan demi seorang anak yang bahkan belum lahir. Anak itu ia beri nama Senja.
Ini adalah kisah tentang seorang ibu yang berjuang melawan keterbatasan, kesepian, dan kerasnya kehidupan. Sebab bagi Alya, Senja bukan sekadar anak. Senja adalah alasan mengapa ia terus hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pencarian Yang Gagal
Arlan kembali ke dalam mobilnya kali ini perasaannya benar-benar tidak bisa dikendalikan, hatinya hancur berkeping-keping air mata sejak tadi tiada henti membasahi pipinya.
Bagaimana mungkin dirinya menjadi pelaku utama atas kehancuran masa depan seorang gadis, jika dirinya sendiri selalu menganggapnya sebelah mata, bahkan pernah di suatu hari pada waktu itu, mulut jahatnya melukai hati Alya.
"Selama aku ada di rumah jangan sesekali kamu melepas kaki palsumu itu."
Kini kalimat itu berulang-ulang menggema di kepalanya. Dulu ia mengucapkannya dengan penuh ego. Sekarang setiap kata terdengar seperti cambuk yang menghantam hati nuraninya sendiri.
Waktu itu Alya nurut tanpa ada protes sama sekali padahal Arlan sendiri tahu jika terlalu lama mengenakan kaki palsu akan timbul rasa nyeri di bagian lutut perempuan itu.
"Alya maaf... maafkan aku yang sampai saat ini baru tahu," ucapnya penuh dengan sesal.
Namun di tengah-tengah rasa sesal itu Arlan pun masih punya satu harapan untuk mencari Alya. Bahkan salah satu anak buahnya sudah menemukan tempat tinggal Alya di sebuah kost kecil yang jauh dari kata mewah.
"Pak kita jadi ke kost itu?" tanya sopir itu.
Arlan hanya mengangguk pasrah, lalu mobil melaju dengan kecepatan sedang, di dalam perjalanan tiba-tiba saja pikirannya teringat akan ucapan karyawan Cintami Carf tadi yang mana sempat berucap jika pembuat buket di etalase nomor dua itu sedang hamil.
Apa mungkin sekarang Alya sedang mengandung, dan jika itu benar, bayi yang dikandung Alya sudah pasti darah dagingnya.
Arlan mengacak rambutnya penuh frustrasi bagaimana tidak, wanita yang selama ini ia sakiti berulang kali ternyata sedang mengandung benihnya sekarang.
"Ya Allah... jika memang benar Alya sekarang sedang hamil maka aku tidak akan memaafkan diriku sendiri," gumamnya sambil meremas dadanya sendiri.
☘️☘️☘️☘️
Sementara itu di dalam kediaman Dewa. Entah kenapa Alya merasa jenuh, seperti tidak kerasan berada lama-lama di dalam rumah ini. Bukannya Alya tak menghargai kenaikan pria itu. Tapi entah kenapa hatinya seolah berada di dalam kamar kost kecilnya itu.
"Neng ayo minum vitamin, tadi pagi Tuan sudah menyiapkan ini semua," ujar Mbok Ina.
Alya kemudian tersentak kecil, suara itu sedikit membuatnya terkejut. "Ah, Mbok mengagetkan saja," ujar Alya.
"Maaf Neng, gak ketuk pintu dulu," ucap Ina.
"Gak apa-apa lain kali ketuk pintu dulu ya Mbok," pesan Alya.
"Itu pasti Neng, ya sudah kalau ditu di minum dulu obatnya," suruh Mbok Ina.
"Nanti dulu aja deh Mbok," ujar Alya.
"Gak bisa Neng, Mbok harus mastiin Neng minum obat, soalnya mau aku foto biar Tuan tahu," ucap Mbok Ina.
Seketika Alya membelalakkan matanya malas, segitu tidak percayanya Dewa terhadap dirinya, hingga meminum obat pun harus ada buktinya.
"Mbok ini beneran, minum obat saja harus di foto?" tanya Alya menelisik.
"Iya Neng, minta kerja samanya ya, biar Tuan gak uring-uringan sama Mbok," pinta Ina.
Seketika Alya mendengus kecil. "Dia memang nyebelin ya Mbok," ucap Alya.
"Banget, tapi dia itu orangnya sangat tulus Neng," sahut Mbok Ina.
Suasana hening seketika, saat raut wajah wanita paruh baya itu berubah menjadi sedih.
"Mbok kenapa?" tanya Alya.
"Gak apa-apa, cuma ingat sama kebaikan Tuan pada Mbok," sahut Ina.
"Mereka berdua adik kakak memang sangat baik, gak pilih-pilih kalau nolong orang," timpal Alya.
"Iya bener banget," sahut Ina.
Setelah percakapan yang cukup panjang itu akhirnya Alya mau meminum vitamin dari Dewa, namun saat Mbok Ina kembali ke dapur rasa jenuh itu mulai menghantui pikirannya.
Tanpa banyak pikir Alya pun mulai memasang kaki palsunya, ia mencoba menghilangkan rasa jenuhnya itu dengan cara berkeliling di area taman belakang, barang kali saja ia bisa mengusir rasa suntuknya itu.
Sementara di meja kerjanya, Dewa sedikit mengernyit dan senyum-senyum sendiri saat tahu Alya dan Mbok Ina sedang ghibahhin dirinya. Dewa sengaja memasang CCTV yang sudah terhubung di handphone-nya agar dirinya bisa mengawasi Alya dari kejauhan.
"Dasar perempuan-perempuan ghibah," gumamnya namun sudut bibirnya terangkat tipis melihat keduanya.
☘️☘️☘️☘️
Mobil Arlan sudah sampai di depan gerbang kost Emil, pria itu langsung turun dengan beberapa anak buah yang mengikutinya dari belakang.
Nafas Arlan memburu saat dirinya mempercepat langkahnya, seolah memastikan jika wanita yang sedang ia cari ada di dalam bangunan per petak itu.
Namun saat langkahnya sampai di depan kamar kost, semua pintu masih tertutup rapat tak ada satupun orang yang terlihat keluar kamar.
"Tuan, masih sepi sepertinya para penghuni kost sedang bekerja," ucap salah satu anak buahnya.
"Tapi tidak dengan Alya kan, dan karyawan Eyang tadi bilang jika Alya sedang tidak enak badan," tegas Arlan.
Beberapa anak buah mulai mendatangi salah satu kamar kost sementara dirinya hanya memantau dari kejauhan, namun tidak lama kemudian Arlan melihat penampakan seorang gadis muda yang baru keluar dari rumah utama.
"Sepertinya ada orang," ucap Arlan.
"Iya Tuan," sahut anak buahnya.
Tak ingin membuang-buang waktu Arlan pun langsung menghampiri gadis itu dengan langkah tegap dan sorot mata yang jelas terlihat sedang mencari seseorang.
Sementara Emil yang melihat itu sedikit kaget, karena ia begitu hapal dengan wajah Arlan yang beberapa hari lalu viral di media sosial, namun di sini Emil berusaha untuk tidak terkecoh.
"Maaf, Mas. Mau cari siapa?" tanya Emil.
Arlan langsung menjawab dengan tegas. "Saya di sini sedang mencari Alya, karena kabar terakhir perempuan itu ada di sini."
Deg!
Emil merasa sedikit terancam, karena pasalnya Arlan tidak datang sendirian beberapa anak buahnya bertengger di belakang sedangkan dia hanya sendiri dan seorang perempuan.
"Alya," ulang Emil.
"Ya, apakan perempuan itu ada di kost sini?" tanya Arlan menelisik.
"Wanita yang tadi anda sebut memang pernah tinggal di sini, tapi tadi malam dia sudah keluar dari kost ini," ucap Emil berusaha untuk terlihat tenang.
"Anda yakin?" tanya Arlan.
"Saya pastikan tidak ada perkataanku yang membohongi," sahut Emil cepat.
Namun entah kenapa pria dihadapannya itu seperti tidak mau menyerah begitu saja, ia masih terdiam, namun bukan diam yang santai. Tatapannya terus menghunus mencari celah dari sorot mata gadis dihadapannya itu.
"Jangan pernah bohongi aku, kalau tidak mau kost kecilmu ini hancur berkeping-keping," ancamnya.
Emil sedikit terkejut, tidak menyangka Arlan yang mempunyai citra baik ternyata semengerikan ini bagaimana dengan Alya yang pernah tinggal bersama pria itu.
'Tidak aku tidak akan memberi tahu pada siapapun posisi Mbak Alya apalagi pada pria jahat ini,' ucap Emil di dalam hati.
"Ayo jawan!" gertak pria itu.
Emil mencoba melawan, gadis itu mendongakkan kepalanya agar seimbang dengan pria di hadapannya itu.
"Aku sudah bilang jika orang yang kau cari sudah pergi sejak semalam!" teriaknya begitu kencang. "Kalau kamu tidak percaya silahkan cari di setiap kamar kost ku," imbuhnya masih dengan nada yang cukup tinggi.
Arlan terus mengerahkan anak buahnya agar menggeledah setiap kamar kost satu persatu, tanpa peduli dengan privasi orang di setiap kamarnya. baginya yang terpenting adalah menemukan keberadaan Alya.
Setelah semuanya digeledah. Arlan tidak menemukan Alya di satu pun kamar. Namun, sebuah petunjuk yang tertinggal justru membuatnya sadar bahwa perempuan itu sengaja menghilang agar tak pernah ditemukan lagi.
"Sial!" teriaknya penuh kekesalan.
Bersambung .....
Selamat siang Kak. Semoga suka ya ♥️♥️♥️🙏🙏🙏