Di balik gaun megah bertabur mawar merah dan dansa yang begitu mesra, tersimpan sebuah rahasia yang mematikan.
Melanie mengira ia telah menemukan cinta sejatinya pada diri Glen, seorang pria menawan yang memperlakukannya bak seorang ratu tanpa cela, seperti mawar merah yang indah tanpa duri (Thornless Red Rose). Namun, Melanie tidak pernah tahu bahwa di balik tatapan penuh kehangatan itu, Glen sedang merajut jaring balas dendam yang kejam terhadap keluarganya.
Ketika kebenaran perlahan mulai terkuak, Melanie harus menghadapi kenyataan pahit: apakah cinta Glen kepadanya murni nyata, ataukah ia hanya sekadar bidak dalam permainan balas dendam yang dirancang untuk menghancurkan hidupnya?
Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di atas bara dendam, di mana batas antara ketulusan dan pengkhianatan menjadi begitu tipis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bara di Balik Abu
Sambungan telepon yang terputus secara sepihak itu meninggalkan nada pias yang panjang di telinga Melanie. Ia perlahan menurunkan ponselnya, menatap layar yang kini menggelap dengan dada yang terasa begitu lapang oleh rasa sesak. Kamar mewahnya kembali hening, namun keheningan kali ini terasa berbeda, sunyi yang kini menuntut sebuah kepastian. Melanie menghapus sisa air mata di pipinya. Ia tidak boleh tenggelam dalam kesedihan yang melumpuhkan; ia harus mencari tahu sisa kebenaran yang sengaja disembunyikan oleh keluarganya.
Sementara itu, di kamar kost Thone, Glen masih duduk mematung menatap ponselnya yang tergeletak di atas meja kayu. Napasnya bertualang pendek, mencoba menguasai gemuruh hebat yang baru saja dilemparkan Melanie lewat untaian kata pasrahnya.
Thone, yang sejak tadi menyimak perdebatan itu dari tepi kasur, akhirnya bangkit berdiri. Ia melangkah mendekati meja belajar, lalu mengambil kertas sketsa mawar yang telah remuk dalam cengkeraman Glen dan mencoba meratakannya kembali dengan telapak tangannya.
"Kamu keterlaluan, Glen," ujar Thone, suaranya terdengar sangat rendah namun penuh dengan teguran yang tajam. "Gadis itu menawarkan segalanya untuk menebus kesalahan yang bahkan tidak ia lakukan. Dia rela melepas takhtanya, dan kamu masih saja melemparkan duri?"
Glen tidak menoleh. Rahangnya mengeras, menatap keluar jendela tempat rintik gerimis kembali mengetuk kaca dengan ritme konstan. "Dia tidak tahu apa-apa, Thone. Melepaskan harta tidak akan bisa menjahit kembali pikiran ayahku yang robek. Dia hanya berbicara dari tempatnya yang nyaman."
"Dia berbicara dari tempatnya yang hancur, Glen! Apa kamu tidak dengar suaranya tadi?" Thone meletakkan kertas sketsa yang sudah kusut itu tepat di hadapan mata Glen. "Kamu selalu mengira dirimu adalah sutradara dari tragedi ini, tapi nyatanya kamu hanya aktor pengecut yang takut mengakui bahwa kamu sudah kalah. Kamu takut karena setiap kali kamu mencoba membencinya, hatimu justru berteriak sebaliknya."
Glen bangkit dari kursinya dengan sentakan kasar hingga kaki kursi berderit keras menghantam lantai semen. "Cukup, Thone! Aku tidak butuh analisis psikologismu!"
"Kamu butuh cermin, Glen!" balas Thone tak kalah sengit, menatap langsung ke dalam manik mata elang sahabatnya yang kini memancarkan keputusasaan yang murni. "Lihat dirimu. Bara dendammu itu sudah berubah jadi abu sejak kamu tahu Melanie adalah mawar tanpa duri. Jangan sampai abu itu justru membutakan matamu dan membuatmu menyesal seumur hidup."
Glen mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan letupan amarah yang nyaris meledak. Tanpa membalas sepatah kata pun, ia menyambar jaket denim dan kunci motornya di atas meja, lalu melangkah lebar keluar dari kamar kost Thone, membiarkan pintu berdentum keras di belakangnya. Ia butuh angin malam, ia butuh ruang yang lebih luas dari sekadar sepetak kamar untuk melarikan diri dari kenyataan bahwa dirinya telah sepenuhnya goyah.
🤏🤏🤏
Keesokan paginya, suasana di kediaman mewah keluarga Melanie masih diselimuti kecanggungan yang masif. Saat sarapan berlangsung di meja makan panjang marmer, tidak ada gurauan bahasa Jawa yang biasanya meramaikan ruangan. Sang ayah hanya diam mengecap kopinya, sementara sang ibu sibuk mengoles selai pada roti tanpa minat.
Begitu sarapan selesai dan ibunya beranjak ke dapur, Melanie menahan langkah ayahnya yang hendak menuju ruang kerja.
"Bapak... saged nopo mboten kita pados margi kangge nuntaskan perkawis meniko?" tanya Melanie lirih, menatap punggung ayahnya yang tampak sedikit membungkuk dimakan usia. (Bapak... bisa atau tidak kita mencari jalan untuk menuntaskan perkara ini?)
Ayah Melanie menghentikan langkahnya, terdiam lama sebelum akhirnya membalikkan badan dengan helaan napas yang teramat berat. Beliau menatap putri tunggalnya dengan mata yang menyiratkan sisa-sisa kejayaan masa lalu yang kini terasa getir.
"Nduk, Melanie..." ujar ayahnya, logat Jawanya terdengar parau dan dalam. "Ono perkoro ing dunyo iki sing ora iso rampung mung nganggo dhuwit utawa bondo. Yen pancen bocah sing jenenge Glen kuwi nggawa tatu sing semono gedhene... Bapak yo ora ngerti kudu piye carane nambani. Mergo salah mbo sithik neng masa lalu, dadi embuh neng masa ngarep." (Nduk, Melanie... Ada perkara di dunia ini yang tidak bisa selesai hanya dengan uang atau harta. Kalau memang anak yang namanya Glen itu membawa luka yang sebegitu besarnya... Bapak ya tidak tahu bagaimana caranya mengobati. Karena salah sedikit di masa lalu, jadi entahlah di masa depan).
Melanie tertegun mendengar kepasrahan di suara ayahnya. Untuk pertama kalinya, ia melihat sang pahlawan besar itu tampak begitu kecil di hadapan bayang-bayang kesalahannya sendiri. Bara masa lalu itu rupanya belum sepenuhnya padam; ia masih tersimpan di balik abu sunyi, siap membakar siapa saja yang mencoba mengusiknya, termasuk dirinya dan Glen yang kini berada di ambang batas antara dendam yang melelahkan dan rasa yang menuntut untuk diakui.
terlalu mengaitkan kisah fiksinya...