NovelToon NovelToon
SISTEM MEDIS SUPER DOKTER LEGENDARIS

SISTEM MEDIS SUPER DOKTER LEGENDARIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dokter Ajaib
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Bima Aditya, seorang dokter magang yang diremehkan dan dicampakkan kekasihnya demi pria kaya, tiba-tiba mendapatkan keajaiban setelah mengalami kecelakaan tragis. Ia membangkitkan Sistem Medis Super yang memberinya kemampuan bedah tingkat dewa, mata-X, dan pengetahuan medis puluhan tahun, dengan syarat ia harus terus menyelamatkan nyawa pasien di lapangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

"Ternyata kau berani juga datang ke kandang singa, Bima."

Kevin berjalan menuruni tangga panggung dengan senyum meremehkan.

Leo langsung bergeser menutupi tubuh Bima.

Tangan pengawal kekar itu bersiap meraih senjata tersembunyi di balik mantelnya.

"Tenang, Leo," bisik Bima.

"Jangan gegabah dulu."

Tuan X mengerutkan keningnya dari atas panggung.

"Tuan Kevin, siapa orang ini?" tanya Tuan X dengan nada dingin.

"Apakah dia penyusup?"

"Dia adalah Bima Aditya," jawab Kevin lantang.

"Dokter magang yang menggagalkan rencana bos besar kita minggu lalu."

Suara riuh rendah langsung memenuhi seluruh ruangan gudang tersebut.

Para penjahat dan tamu undangan saling berbisik sambil menatap Bima dengan pandangan bermusuhan.

Srak srak srak.

Suara langkah kaki puluhan penjaga bersenjata mulai mendekati posisi Bima dan Leo.

Moncong senjata api kini terarah lurus ke kepala mereka berdua.

"Bunuh saja dia sekarang, Tuan X," perintah Kevin sambil menunjuk Bima.

"Kehadirannya di sini hanya akan mengacaukan bisnis kita."

Bima tertawa pelan mendengar ancaman itu.

Tawanya terdengar sangat tenang, membuat beberapa penjaga ragu untuk menarik pelatuk.

"Tentu saja aku akan mengacaukan bisnis kalian," ucap Bima santai.

Bima membuka masker hitamnya agar suaranya terdengar lebih jelas.

"Terutama jika kalian mencoba menipu semua bos besar di ruangan ini dengan barang rongsokan beracun."

Seluruh tamu undangan langsung terdiam.

Mereka saling berpandangan dengan wajah penuh kebingungan.

"Apa maksudmu, Dokter?" tanya seorang pria gemuk dari barisan depan.

"Kau bilang barang di lelang ini palsu?"

"Jangan dengarkan omong kosongnya!" teriak Tuan X panik.

"Dia hanya mencoba mengulur waktu sebelum mati!"

"Aku tidak bilang barang itu palsu," sahut Bima cepat.

"Akar Teratai Darah itu memang asli dan berusia lima puluh tahun."

"Tapi Tuan X dan sindikatnya telah menyuntikkan neurotoksin mematikan ke dalam akar itu."

"Sistem, bisakah kau memberikan rincian racunnya?" batin Bima.

[Neurotoksin tersebut akan bereaksi jika dicampur dengan alkohol atau dipanaskan di atas suhu enam puluh derajat celcius.]

[Efek racun: Kelumpuhan pernapasan dalam waktu tiga menit tanpa gejala awal.]

"Jika kalian mengolah akar itu menjadi obat atau stimulan, racunnya akan aktif," lanjut Bima menjelaskan.

"Kalian semua yang mengonsumsinya akan mati karena gagal napas dalam tiga menit."

"Sindikat ini tidak sedang berbisnis dengan kalian, mereka sedang merencanakan pembunuhan massal."

Wajah para mafia dan pejabat korup di ruangan itu langsung berubah drastis.

Mereka adalah orang-orang yang sangat paranoid terhadap upaya pembunuhan.

"Tuan X, apakah ucapan dokter ini benar?!" bentak pria gemuk tadi sambil berdiri dari kursinya.

Beberapa pengawal pribadi dari para tamu juga mulai mencabut senjata mereka.

"Itu fitnah murahan!" bantah Kevin dengan wajah mulai memucat.

"Dia hanya asal bicara karena dia tidak punya uang untuk menawar!"

"Tembak dia sekarang juga!" perintah Kevin pada para penjaga gudang.

"Tunggu!" teriak Bima menghentikan gerakan mereka.

"Jika aku berbohong, kalian bisa membunuhku setelah ini."

"Tapi jika kalian penasaran, kalian bisa mengujinya sendiri sekarang juga."

Bima menunjuk ke arah kotak kaca di atas panggung.

"Potong sedikit ujung akar itu dan masukkan ke dalam segelas wiski."

"Berikan campuran itu pada salah satu tikus putih yang ada di kandang belakang panggung."

Para tamu undangan mulai berteriak menuntut pembuktian.

"Lakukan tesnya, Tuan X!"

"Buktikan kalau barang kalian bersih!"

Keringat dingin mulai mengucur deras dari dahi Tuan X.

Dia tahu betul bahwa bos besarnya memang sengaja mencampur racun itu untuk menyingkirkan para mafia saingan.

Tuan X menelan ludah dan menatap Kevin dengan pandangan panik.

"Tuan Kevin, bagaimana ini?" bisik Tuan X pelan.

"Jangan pedulikan mereka!" teriak Kevin kehilangan kendali.

"Sindikat Ular Hitam tidak perlu membuktikan apa pun pada tikus-tikus seperti kalian!"

Ucapan arogan Kevin itu adalah sebuah kesalahan fatal.

Dor!

Satu tembakan meletus dari arah tamu undangan, mengenai bahu salah satu penjaga sindikat.

"Kurang ajar, mereka benar-benar ingin meracuni kita!"

"Bunuh semua anggota Ular Hitam!"

Tratatatat!

Suara tembakan senapan otomatis langsung memenuhi ruangan gudang tersebut.

Kaca-kaca hancur berantakan dan lampu gantung berjatuhan.

Para tamu undangan dan pengawal mereka mulai membalas tembakan ke arah penjaga sindikat.

Ruangan lelang yang mewah itu berubah menjadi medan perang berdarah dalam hitungan detik.

"Leo, sekarang!" teriak Bima di tengah kekacauan.

Leo langsung menendang meja di depannya hingga terbalik untuk dijadikan tempat berlindung.

"Tetap menunduk, Dokter Bima!"

Leo mencabut pistol dari balik mantelnya dan mulai menembak jatuh beberapa penjaga yang menghalangi jalan.

Dor dor dor.

Bima bergerak merayap di lantai menghindari peluru yang berdesingan di atas kepalanya.

Tujuannya bukan pintu keluar, melainkan panggung utama.

Kotak kaca berisi Akar Teratai Darah itu terjatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping.

Tuan X sudah lari terbirit-birit ke pintu belakang panggung.

Kevin bersembunyi di balik mimbar lelang sambil menutupi kepalanya ketakutan.

Bima merangkak mendekati serpihan kaca itu.

Dia mengambil pot berisi akar merah tersebut dan memasukkannya ke dalam tas ranselnya.

"Ayo kita pergi dari sini, Leo!"

Bima menepuk bahu pengawalnya itu.

Leo mengangguk dan melemparkan sebuah bom asap ke tengah ruangan.

Psssss.

Asap putih pekat langsung mengepul menutupi pandangan semua orang di dalam gudang.

Bima dan Leo memanfaatkan momen itu untuk berlari keluar melalui pintu samping yang tidak terkunci.

Mereka berlari sekuat tenaga menembus udara malam pelabuhan yang dingin.

Suara tembakan dan teriakan dari dalam gudang perlahan terdengar semakin jauh.

"Masuk ke mobil, cepat!" perintah Leo.

Bima langsung melompat ke kursi penumpang sementara Leo menyalakan mesin van.

Brummm!

Mobil van hitam itu melaju kencang meninggalkan area pelabuhan utara.

Napas Bima masih tersengal-sengal saat dia bersandar di kursi mobil.

Dia membuka tas ranselnya dan melihat akar berwarna merah darah itu dengan perasaan lega.

"Kita berhasil, Leo."

"Obat untuk jantung Nona Kiara sudah ada di tangan kita."

Leo melirik dari kaca spion dengan raut wajah masih tegang.

"Itu tindakan yang sangat gila, Dokter."

"Anda baru saja memicu perang antar geng di kota ini."

Bima tersenyum tipis dan menutup kembali tas ranselnya.

"Biarkan saja penjahat membunuh sesama penjahat."

"Yang penting nyawa pasienku aman malam ini."

Leo hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat ketenangan Bima.

"Lalu apa langkah selanjutnya, Dokter Bima?"

"Apakah Anda akan langsung memberikan akar beracun ini pada Nona Kiara?"

Bima menggeleng pelan.

"Tentu saja tidak."

"Akar ini masih mengandung neurotoksin buatan sindikat itu."

"Aku harus membawanya ke laboratorium rumah sakit dulu untuk dimurnikan."

Bima melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul sebelas malam.

"Sisa waktu kita tinggal dua puluh delapan hari."

"Kita harus bekerja cepat sebelum jantungnya benar-benar menyerah."

"Bawa aku kembali ke rumah sakit sekarang juga, Leo."

Leo menginjak pedal gas lebih dalam, membuat van itu melesat membelah jalanan kota.

Di dalam benak Bima, dia sudah mulai merangkai proses ekstraksi kimia.

"Sistem, tampilkan prosedur pemurnian alkaloid tingkat lanjut," batin Bima.

[Prosedur pemurnian ditampilkan.]

[Peringatan: Proses ini membutuhkan ketelitian tingkat seluler.]

[Satu tetes cairan yang salah akan membuat akar ini hancur tak tersisa.]

Bima menelan ludahnya pelan membaca peringatan tersebut.

Tantangan selanjutnya ternyata bukan adu tembak, melainkan adu ketelitian di laboratorium.

Namun dia tidak akan mundur satu langkah pun demi menyelamatkan wanita itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!