Terbuang saat bayi dan nyaris tewas di Hutan Terlarang, Hu Jin tumbuh tanpa mengetahui identitas aslinya sebagai Putra Mahkota Kerajaan Timur.
Ditolak oleh dunia dan diasuh oleh Dewi Es dari Sekte Teratai, Hu Jin bangkit membuktikan dirinya melalui Tulang Kaisar Langit—bakat mitologi yang mengguncang semesta. Namun, alih-alih menjadi alat politik sekte, ia memilih pergi menantang alam liar demi membebaskan gurunya dan merebut kembali takdir yang dirampas!
Mampukah pangeran yang terbuang ini menaklukkan benua dan kembali sebagai Dewa Pedang Es Kuno?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kota Besar Teratai Hitam
Kota Besar Teratai Hitam berdiri bagaikan raksasa batu yang tertidur di tengah hamparan lembah. Tembok-tembok granit setinggi ratusan meter mengelilingi ibu kota persilatan itu, dilapisi array pelindung kuno yang memancarkan pendar ungu tipis ke angkasa.
Atmosfer di sekitar kota terasa amat megah sekaligus mencekam. Ratusan ribu orang dari berbagai penjuru Benua Timur—mulai dari tetua klan, murid sekte, pengembara bebas, hingga rakyat biasa—menyemut memadati jalanan utama menuju pintu gerbang selatan. Bendera-bendera berkibar gagah, dan tekanan Qi yang saling berbenturan di udara membuat suhu kota terasa begitu hangat dan menegangkan.
Hu Jin melangkah menyusuri jalanan batu yang padat. Topi jeraminya terpasang miring, menyembunyikan wajah tampannya di balik bayang-bayang jubah abu-abu.
Di hadapannya, Pintu Utama Kota Teratai Hitam dijaga ketat oleh empat pengawal raksasa bertubuh tegap dari sekte penyelenggara. Masing-masing mengenakan zirah besi hitam tebal dan memegang tombak cabang tiga yang memancarkan gelombang energi Ranah Inti Jiwa (Soul Core). Mata sharp mereka mengawasi setiap orang yang melintas.
Begitu melewati pintu gerbang utama, pemandangan di dalam kota jauh lebih riuh dan semarak. Di sepanjang jalanan utama yang seluas lapangan arena, puluhan tenda dan paviliun berdiri megah. Para penjual senjata bermutu tinggi, pedagang rumput spiritual langka, hingga penjual jimat pelindung berteriak nyaring mempromosikan barang dagangan mereka demi memikat kandidat peserta ujian.
Di pusat kota, aula pendaftaran Ujian Tiga Sekte Besar baru saja dibuka. Ribuan pemuda berkumpul mengantre dalam barisan panjang yang mengular hingga ke luar alun-alun.
Hu Jin ikut melangkah masuk ke dalam aula pendaftaran. Di tengah antrean, gesekan kecil tak terelakkan terjadi. Beberapa murid klan kaya bertindak arogan, menyelak antrean dan menyeret keluar para kultivator bebas yang lemah. Namun saat mata para murid arogan itu menatap ke arah Hu Jin yang berjalan tenang, tekanan aura es dingin yang tersembunyi rapat di tubuh Hu Jin membuat mereka secara refleks mundur dan memberi jalan tanpa berani menyapa.
Setelah menunggu beberapa saat, giliran Hu Jin tiba di depan meja pendaftaran. Seorang tetua penilai berwajah kaku menunjuk sebuah Batu Pengukur Energi berwarna transparan di atas meja.
"Cukup letakkan tanganmu di atas batu ini dan sebutkan namamu untuk penilaian ranah dasar," perintah tetua tersebut acuh tak acuh.
Hu Jin mengangguk pelan. Ia menyentuhkan telapak tangannya ke permukaan dingin batu pengukur tersebut. Di dalam Dantian-nya, Hu Jin menyembunyikan Tulang Kaisar dan menahan dorongan Qi Ranah Inti Jiwa miliknya secara drastis, hanya membiarkan sedikit energi es paling luar mengalir ke dalam batu.
SZZZT
Batu pengukur energi itu mendadak memancarkan cahaya biru terang! Tulisan energi muncul di permukaannya: [Ranah Pembentukan Qi Puncak / Peak Qi Foundation].
Namun tepat saat tetua penilai hendak mencatat hasil tersebut, batu pengukur yang terbuat dari kristal keras itu mendadak bergetar tipis. Sebuah retakan halus bagaikan jaring laba-laba muncul di permukaannya—dampak dari kualitas murni Qi emas Hu Jin yang terlalu padat meski hanya disalurkan setetes!
Tetua penilai tersentak kaget, membelalakkan mata menatap retakan pada batu. "I-ini... kualitas energi murni yang aneh!"
"Siapa namamu, Anak Muda?" tanya tetua itu, kini menatap Hu Jin dengan pandangan jauh lebih serius.
"Pangeran Es," jawab Hu Jin santai, menggunakan nama samaran yang telah ia siapkan.
Tetua penilai mencatat nama itu pada lembaran bambu emas, lalu menyerahkan sebuah plat besi bernomor pendaftaran #108. "Pendaftaranmu selesai. Babak penyisihan resmi baru akan dibuka tujuh hari dari sekarang. Gunakan waktu ini untuk bersiap."
Hu Jin menerima plat pendaftaran tersebut, membungkuk sopan, lalu melangkah keluar dari aula pendaftaran tanpa memedulikan tatapan heran orang-orang di sekitarnya.
Beberapa jam kemudian, saat matahari mulai condong ke barat, parade kedatangan yang sangat megah mengguncang Pintu Utama Kota Teratai Hitam.
Rombongan utama dari dua sekte raksasa—Sekte Pedang Langit dan Sekte Awan—secara resmi memasuki kota! Ratusan kereta kuda bersayap dan para pengawal berzirah emas mengawal kedatangan para murid jenius pilihan mereka. Sorak-sorai puluhan ribu warga membumbung tinggi menyambut parade tersebut.
Namun, Hu Jin sama sekali tidak menyaksikan kemegahan kedatangan kedua sekte besar itu.
Ia sudah berada jauh dari keramaian alun-alun kota, melangkah menyusuri gang-gang kecil untuk mencari penginapan yang tenang. Setelah mendatangi lima penginapan besar yang semuanya sudah penuh dipesan oleh klan kaya, Hu Jin akhirnya menemukan sebuah kedai dan penginapan kayu sederhana yang agak tua di sudut utara kota.
Di lantai dasar penginapan yang hangat itu, Hu Jin duduk sendirian di meja sudut sambil menikmati semangkuk mie daging dan cangkir teh panas.
Di sekelilingnya, suasana penginapan sangat riuh oleh obrolan seru para kultivator bebas dan pengunjung kota yang mendiskusikan Ujian Tiga Sekte.
"Kau tahu tidak? Tahun ini persaingan Ujian Tiga Sekte benar-benar gila!" ujar seorang kultivator brewokan sambil menghempaskan cangkir peraknya.
"Tentu saja! Dengar-dengar, Sekte Pedang Langit membawa jenius pemegang Tubuh Pedang Sembilan Nirwana yang rumornya telah berhasil menembus Ranah Inti Jiwa Tahap Awal di usianya yang baru dua puluh tahun!" sahut temannya penuh nada takjub.
"Bukan cuma Sekte Pedang Langit! Sekte Awan juga memiliki jagoan utama yang tak kalah mengerikan! Gadis jenius pemegang Meridian Cahaya Kuno bernama Su Qing'er... Konon dia juga baru saja berhasil melompati batasan dan menerobos ke Ranah Inti Jiwa Tahap Awal!"
UHUK
Hu Jin yang baru saja hendak menyesap teh hangatnya mendadak hampir tersedak! Ia meletakkan cangkir tanah liatnya ke meja, membelalakkan matanya di balik bayang-bayang topi jerami.
Su Qing'er?! gumam Hu Jin pelan di dalam hati.
Pikirannya melayang kembali ke momen pertemuannya semalam di atas Jembatan Pelangi Kuno Kota Sungai Merah. Gadis cantik berjubah putih-keemasan yang mengobrol santai dengannya tentang kue manisan dan melontarkan tawa renyah itu... ternyata adalah jenius utama nomor satu dari Sekte Awan yang paling banyak dibicarakan oleh seluruh Benua Timur!
Hu Jin menyipitkan mata, mengukir senyum tipis yang sangat penuh arti. Gadis itu... menyembunyikan identitas dan ranahnya dengan sangat rapi saat mengobrol denganku. Ranah Inti Jiwa Tahap Awal di usia belasan tahun... tidak heran dia menjadi kebanggaan Sekte Awan.
Namun saat mendengar nama sekte-sekte besar itu terus disebut dalam riuhnya obrolan kedai, kedamaian di hati Hu Jin mendadak bergetar halus.
Di tengah gelak tawa dan semangat ratusan orang yang membicarakan pertarungan para jenius, rasa rindu yang teramat dalam menyusup pelan ke dalam dada Hu Jin. Tanpa sadar, pikirannya melayang menembus jarak—memikirkan gurunya, Qian Renxue, yang saat ini pasti sedang berada di atas Puncak Es Sekte Teratai menanggung tekanan para tetua, serta ayahnya, Raja Hu Yan, yang sedang memulihkan diri di tempat perlindungan bersama Jenderal Gu.
Guru... Ayah... batin Hu Jin dengan tatapan mata yang berubah lembut. Tujuh hari lagi... aku akan membuktikan pada kalian bahwa tempaan dua tahun ini tidak sia-sia.
Hu Jin menyelesaikan makan malamnya, menyerahkan beberapa keping perak terakhirnya kepada pemilik penginapan, lalu melangkah naik ke lantai atas menuju kamar kecilnya.
Malam semakin larut menyelimuti Kota Besar Teratai Hitam. Perjalanan panjang dan pengasingannya telah membawanya sampai ke titik ini. Di dalam kamar penginapan yang sunyi, Hu Jin melipat kakinya di atas pembaringan batu, mulai bermeditasi menyelaraskan Inti Jiwa Naga miliknya—menunggu dengan tenang hingga panggung pertarungan yang sesungguhnya dibuka tujuh hari kemudian.