Kebebasan dari balik jeruji ternyata bukanlah akhir dari hukuman.
Setelah bertahun-tahun mendekam di penjara, Indri berharap dapat memulai hidup yang baru. Namun, dosa masa lalu yang telah menghancurkan kehidupan seseorang membuatnya menjadi sasaran balas dendam.
Di balik kepulangannya, Evan telah menyiapkan sebuah permainan yang dirancang dengan sempurna. Bukan untuk membunuh Indri, melainkan membuat wanita itu merasakan penderitaan yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian. Sedikit demi sedikit, kehidupan Indri direnggut—harga dirinya, kebebasannya, hingga harapan untuk hidup bahagia.
Namun, semakin jauh Evan melangkah menjalankan rencana balas dendamnya, semakin dalam pula ia terjebak dalam perasaan yang tak pernah ia duga.
Lantas... Akankah Indri berhasil terbebas dari belenggu dendam yang mengikat hidupnya? Ataukah justru Evan yang akan terperangkap dalam rasa yang sama beracunnya dengan kebencian yang selama ini ia pelihara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Keesokan paginya, Indri tetap berangkat bekerja. Tidak ada alasan baginya untuk berhenti. Justru pekerjaan menjadi satu-satunya cara untuk mengalihkan pikirannya.
Namun sejak Evan meninggal, konsentrasinya semakin buruk. Sebuah laporan yang biasanya bisa ia selesaikan dalam waktu singkat kini harus dibaca berkali-kali.
Ia baru menyadari telah membaca halaman yang sama tiga kali. Indri mengembuskan napas.
"Kenapa aku tidak bisa fokus?" Ia memijat pelipis.
Pikirannya kembali kepada pemakaman. Foto Evan. Pusara itu. Dan kalimat-kalimat yang pernah mereka ucapkan.
Tanpa sadar, tangannya berhenti di atas keyboard. Untuk pertama kalinya, penyesalan muncul dengan jelas. Bukan karena ia merindukan Evan. Bukan pula karena ia tiba-tiba melupakan semua yang telah dilakukan pria itu kepadanya.
Namun karena ia mulai mempertanyakan keputusan yang dibuatnya sendiri. Apakah kematian benar-benar satu-satunya jalan?
Indri memejamkan mata. Ia teringat percakapan terakhir mereka. Evan sebenarnya ingin mengatakan sesuatu. Ia bisa melihatnya dari tatapan pria itu.
Namun karena ego, Evan tidak pernah mengucapkan kata maaf.
Seandainya waktu bisa diputar kembali... Mungkin Indri akan memilih pergi. Mungkin ia akan mencari jalan lain. Mungkin semuanya masih bisa diselesaikan tanpa kematian.
Indri segera menggeleng. "Sudah terlambat." Ia mencoba kembali bekerja. Tetapi pikirannya tidak juga tenang.
...
Beberapa hari berlalu. Indri tetap menjalani rutinitasnya. Datang pagi. Bekerja. Menghadiri rapat. Pulang menjelang sore atau malam.
Ia tidak peduli saat tubuhnya memberikan beberapa tanda yang membuatnya merasa tidak nyaman. Kadang ia tiba-tiba merasa mual. Kadang kepalanya mendadak pusing. Sesekali ia harus berhenti bekerja dan memejamkan mata beberapa menit.
"Kurang tidur," pikirnya.
Ketika rasa mual datang lagi suatu siang, ia mengambil air putih. Seorang rekan kerja yang melihatnya bertanya, "Bu Indri, Ibu tidak apa-apa?"
Indri tersenyum. "Tidak apa-apa. Sepertinya tadi belum sempat makan."
"Kalau begitu makan dulu."
"Iya."bIndri memang sering melewatkan waktu makan karena terlalu sibuk. Ia sama sekali tidak menghubungkan gejala tersebut dengan kemungkinan lain. Baginya, semuanya hanyalah kelelahan. Dan setelah tidur cukup, keadaan pasti akan membaik.
Sementara itu, pekerjaan Riko semakin menunjukkan perkembangan. Dalam beberapa minggu terakhir, pria itu berhasil menyelesaikan beberapa tugas yang sebelumnya dianggap cukup rumit.
Ia cepat memahami sistem perusahaan. Teliti. Tidak mudah panik. Dan yang paling penting, ia mampu bekerja tanpa banyak membutuhkan arahan.
Haris mulai mempercayainya untuk menangani beberapa bagian proyek.
Suatu sore, Riko datang membawa laporan. "Bu Indri."
Indri mengangkat kepala. "Ya?"
"Ini laporan evaluasi kerja sama yang kemarin."
Indri menerima map tersebut. "Sudah selesai?"
"Sudah."
Indri membukanya. Ia membaca beberapa halaman. "Bagus."
Riko tersenyum. "Terima kasih."
Indri kembali memeriksa laporan.
"Data ini cukup lengkap."
"Saya sudah mengecek ulang semuanya sebelum menyerahkannya."
"Bagus. Pertahankan."
Riko mengangguk. Ia tidak langsung pergi.
Indri menyadarinya. "Ada lagi?"
"Tidak, Bu." Riko tersenyum kecil. "Saya hanya ingin memastikan Ibu tidak terlalu memaksakan diri."
Indri menatapnya. "Maksudnya?"
"Beberapa hari ini Ibu kelihatan sering kelelahan."
Indri terdiam.n"Kamu memperhatikan?"
Riko tersenyum. "Sebagai rekan kerja, wajar kalau saya memperhatikan."
Indri mengalihkan pandangan. "Saya baik-baik saja."
"Kalau begitu, syukurlah." Riko hendak pergi. Namun sebelum membuka pintu, ia berhenti. "Bu Indri."
"Ya?"
"Kalau Ibu butuh bantuan, jangan sungkan beritahu saya."
Indri hanya mengangguk. "Terima kasih."
Riko kemudian keluar. Indri memandangi pintu yang tertutup.
Ada sesuatu yang berbeda dari pria itu. Riko tidak pernah memaksakan dirinya. Tidak pernah bertanya tentang masalah pribadi secara berlebihan. Ia hanya hadir ketika dibutuhkan. Dan entah mengapa, sikap sederhana itu membuat Indri sedikit nyaman.
...
Hari-hari berikutnya, kedekatan mereka mulai terlihat. Bukan dalam bentuk hubungan yang berlebihan. Melainkan melalui pekerjaan.
Riko sering membantu Indri menyelesaikan laporan. Sesekali mereka berdiskusi sambil makan siang bersama.
Ketika Indri terlihat kelelahan, Riko akan mengingatkannya untuk beristirahat.
Suatu siang, Indri kembali merasa pusing. Ia menutup mata beberapa detik.
Riko yang sedang berdiri di dekat meja langsung menyadarinya. "Ibu pusing?"
"Sedikit."
"Sudah makan?"
Indri menggeleng. "Belum sempat."
Riko menghela napas. "Jangan begitu."
Indri tersenyum tipis. "Aku cuma sibuk."
"Kesibukan tidak akan berkurang kalau Ibu jatuh sakit."
Indri tertawa kecil. "Kamu mulai seperti dokter."
"Kalau perlu, saya bisa jadi pengingat makan untuk Bu Indri."
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Indri tersenyum lebih tulus. "Baiklah."
Riko ikut tersenyum. Namun di balik percakapan sederhana itu, ada sesuatu yang perlahan tumbuh. Perhatian. Kenyamanan. Dan sebuah kedekatan yang belum diberi nama.
Malamnya, Indri kembali sendirian di kamar. Ia membuka ponsel.
Tidak ada pesan dari Evan.
Tentu saja. Tidak akan pernah ada lagi.
Indri menatap layar kosong itu beberapa saat. Aneh. Dulu, pesan dari Evan membuatnya takut. Sekarang, tidak adanya pesan justru terasa asing.
Ia meletakkan ponsel. Kemudian tanpa sadar tangannya menyentuh perutnya yang lagi-lagi terasa tidak nyaman. Ia merasa sedikit mual lagi.
"Mungkin belum makan." Indri tersenyum getir.
Ia mengambil biskuit dari meja dan memakannya perlahan. Setelah beberapa saat, rasa mual berkurang. Ia mengira dugaannya benar. Hanya karena telat makan.
Tidak lebih.
Indri kemudian berbaring. Namun sebelum tidur, wajah Evan kembali muncul dalam pikirannya.
"Aku minta maaf." Kali ini air matanya jatuh.
"Aku benar-benar minta maaf." Ia tidak tahu apakah penyesalan itu akan pernah hilang.
semoga saja benar Evan masih hidup... Evan jangan lama" sembunyi nya entar si Indri jadi milik Royco, cepat keluar ya bikin surprise Indri kamu masih hidup...mau ku 😩🤣🤣🤣🤣
sepertinya kecebong babang Evan udah berubah jadi berudu kecil ❤️😁