NovelToon NovelToon
Dijual Anak, Dinikahi CEO Dingin

Dijual Anak, Dinikahi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Lari Saat Hamil / One Night Stand / Anak Genius / Cinta Lansia / Mandul
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Di usia lima puluh, Maya diceraikan karena dianggap mandul dan dijual oleh anaknya sendiri demi ambisi. Saat hidupnya hancur, ia justru mengetahui dirinya hamil dan dinikahi Raka Wijaya, CEO dingin dari keluarga terpandang. Namun pernikahan itu menyeret Maya ke pusaran warisan, rahasia kelahiran, mantan suami yang kembali, anak yang penuh penyesalan, dan wanita licik yang ingin merebut segalanya. Ketika ingatan, cinta, dan nyawanya dipertaruhkan, Maya harus memilih: tetap menjadi korban, atau merebut kembali hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18

Raka membaca email itu dua kali.

Rekaman panitia menunjukkan Vina datang ke hotel dua jam sebelum acara reuni dimulai. Ia menyerahkan flashdisk kepada salah satu staf teknis, mengatakan itu video kenangan dari Bu Ratna. Staf itu tidak curiga karena nama Ratna memang tercatat sebagai salah satu donatur acara.

Di dalam flashdisk, hanya ada satu video.

Maya sedang mengepel lantai hotel.

Raka berdiri di ruang kerja, wajahnya gelap.

Bima yang masih berada di sambungan telepon berkata hati-hati, “Pak, apakah langsung kita kirim somasi ke Bu Vina?”

“Belum.”

“Pak?”

“Maya sedang tidur.”

Bima langsung mengerti. Kalau kabar itu diberikan sekarang, Maya pasti kembali terguncang.

“Kumpulkan dulu semua bukti,” kata Raka. “Termasuk siapa yang merekam video awal.”

“Baik, Pak.”

Raka menutup telepon.

Ia keluar dari ruang kerja dan berhenti di depan pintu kamar. Pintu tidak tertutup rapat. Dari celahnya, ia melihat Maya tidur miring, satu tangan di dekat perut. Wajahnya lebih tenang daripada beberapa hari lalu.

Raka seharusnya kembali bekerja.

Namun ia berdiri lama.

Pagi berikutnya, Maya bangun dengan suasana hati lebih ringan. Pertengkaran semalam sudah mereda. Ia bahkan memakai sepatu olahraga yang dibelikan Raka tanpa protes terlalu banyak.

“Jangan jalan cepat,” kata Raka begitu mereka keluar lift menuju taman apartemen.

“Saya belum jalan.”

“Aku mengingatkan.”

“Mas Raka bisa mengingatkan setelah saya melakukan.”

“Terlambat.”

Maya menatapnya. “Sulit sekali bicara dengan Mas.”

“Tapi kamu tetap bicara.”

Maya tidak punya jawaban.

Taman di lantai podium masih sepi. Udara pagi lembap, tapi segar. Beberapa penghuni berjalan santai, seorang bapak melakukan peregangan, dan anak kecil bermain sepeda ditemani pengasuh.

Maya berjalan pelan di jalur batu.

Raka berjalan di sampingnya, tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk menangkap kalau ia tersandung. Kadang ia menatap jam, kadang menatap langkah Maya.

“Berhenti melihat kaki saya.”

“Aku memastikan.”

“Saya bisa berjalan sejak umur satu tahun.”

“Sekarang kamu membawa anakku.”

Maya menghela napas, tapi sudut bibirnya naik.

Mereka berhenti di dekat kolam kecil. Maya duduk di bangku, mengusap perutnya.

“Mas Raka ingin anak laki-laki atau perempuan?”

Raka tampak tidak menyangka pertanyaan itu.

“Sehat.”

“Itu jawaban dokter.”

“Itu jawaban ayah.”

Maya menatap air kolam.

Ayah.

Kata itu membuat hatinya bergerak.

“Dimas dulu waktu kecil sering tanya kenapa dia tidak punya ayah,” kata Maya pelan. “Saya selalu bilang ayahnya sudah di surga. Dia akan diam sebentar, lalu bertanya kenapa surga tidak mengizinkan ayah pulang.”

Raka duduk di sampingnya.

“Kamu membesarkannya sendirian.”

“Iya.”

“Dan dia tetap menjadi seperti itu.”

Maya menoleh.

“Mas Raka memang tidak punya bakat menghibur.”

“Itu bukan salahmu.”

Maya tersenyum lemah. “Saya tahu orang selalu bilang begitu. Tapi seorang ibu tetap bertanya bagian mana yang salah. Apakah saya terlalu memanjakan? Terlalu sering mengalah? Terlalu membuat dia merasa dunia berutang padanya?”

Raka diam.

Maya melanjutkan, “Saya takut mengulang kesalahan yang sama.”

“Dengan anak ini?”

Ia mengangguk.

Raka menatap kolam. “Kali ini kamu tidak sendiri.”

Kalimat itu sederhana. Tapi Maya merasa seperti seseorang meletakkan selimut di atas bahunya.

Mereka kembali ke apartemen setelah dua puluh menit. Raka tampak puas karena Maya tidak pusing. Maya merasa seperti berhasil melewati ujian olahraga nasional.

Namun suasana ringan itu tidak bertahan lama.

Siang hari, Dimas datang ke lobi apartemen.

Ia tidak diizinkan naik.

Bima memberi tahu Raka, dan Raka langsung menolak. Tapi Maya yang mendengar dari Wati memilih turun.

“Aku ikut,” kata Raka.

“Boleh. Tapi biarkan saya bicara dulu.”

Dimas terlihat berantakan. Kemejanya kusut, matanya merah. Begitu melihat Maya, ia berdiri.

“Bu.”

Maya berhenti beberapa langkah darinya. Raka berdiri di samping, Bima di belakang.

“Ada apa?”

Dimas melihat Raka, lalu kembali ke Maya.

“Vina belum stabil. Bu Ratna terus menyalahkan aku. Papa Heru bilang proyek ditunda. Aku… aku butuh bantuan.”

Maya tidak terkejut.

Tetap saja, hatinya sakit.

“Bantuan apa?”

Dimas menelan ludah. “Pinjaman. Sementara saja. Nanti aku kembalikan.”

Raka tersenyum tipis.

Maya memejamkan mata sebentar.

“Berapa?”

Dimas ragu, lalu menyebut angka yang membuat Maya hampir tertawa.

“Kamu datang meminta uang setelah semua yang terjadi?”

“Aku terdesak, Bu.”

“Kamu selalu terdesak ketika butuh Ibu.”

Dimas tampak tersinggung. “Jangan bicara begitu.”

“Lalu Ibu harus bicara bagaimana?”

“Aku anak Ibu.”

Maya menatapnya. “Kalimat itu bukan kartu ATM.”

Dimas tersentak.

Raka menoleh sedikit, seolah tidak menyangka Maya akan berkata setajam itu.

Dimas memerah. “Jadi sekarang setelah menikah dengan orang kaya, Ibu merasa bisa menghinaku?”

“Ibu tidak menghina. Ibu menolak.”

“Ibu berubah karena dia.” Dimas menunjuk Raka. “Dia membuat Ibu membenci anak sendiri.”

Raka hendak maju, tapi Maya mengangkat tangan.

“Tidak. Mas Raka tidak membuat Ibu membencimu. Perbuatanmu yang membuat Ibu melihatmu dengan jelas.”

Dimas seperti kehilangan napas.

“Bu…”

Maya mengambil amplop kecil dari tasnya.

Raka menatap amplop itu, alisnya turun.

Maya menyerahkannya kepada Dimas.

“Ini uang pribadi Ibu. Tidak banyak. Cukup untuk biaya obat Vina beberapa hari. Setelah ini, jangan datang meminta uang lagi. Kalau kamu butuh pekerjaan yang benar, Bima bisa memberimu kontak konsultan karier. Kalau kamu butuh modal untuk proyek yang tidak jelas, jawabannya tidak.”

Dimas menerima amplop itu dengan tangan kaku.

“Cuma ini?”

Maya menarik tangannya kembali.

“Lihat? Bahkan saat menerima, kamu masih merasa kurang.”

Dimas menunduk.

Untuk pertama kali, wajahnya tampak malu.

Tapi malu itu belum cukup kuat untuk menjadi penyesalan.

Ia pergi tanpa mengucapkan terima kasih.

Di lift, Raka tidak bicara.

Maya menoleh. “Mas marah karena saya memberinya uang?”

“Ya.”

“Itu uang saya.”

“Aku tahu.”

“Jumlahnya tidak besar.”

“Masalahnya bukan jumlah.”

Maya menghela napas. “Saya tahu. Tapi saya juga belum bisa melihat dia benar-benar jatuh tanpa melakukan apa pun.”

Raka menatapnya.

“Aku tidak memintamu berhenti menjadi ibu.”

“Lalu?”

“Aku ingin kamu berhenti menjadi korban.”

Maya diam.

Lift terbuka.

Sebelum mereka keluar, Raka berkata, “Dan ada hal yang harus kamu tahu.”

Maya menoleh.

“Video reuni itu bukan dikirim Ratna.”

Jantung Maya turun.

“Siapa?”

Raka menatapnya, ragu untuk pertama kalinya.

“Vina.”

Maya berdiri kaku.

Pintu lift hampir tertutup lagi sebelum Raka menahannya.

“Maya.”

Ia mengangguk pelan, tapi wajahnya pucat.

“Saya baik-baik saja.”

Raka tidak percaya.

Namun Maya berjalan keluar lebih dulu.

Di ruang tamu, ia duduk. Tangannya menempel di perut, bukan karena sakit, melainkan karena ia perlu mengingat ada kehidupan lain yang lebih penting daripada luka lama.

“Dia kehilangan bayi,” bisik Maya. “Dan sebelum itu, dia masih sempat mempermalukan saya.”

Raka duduk di depannya.

“Rasa sakit tidak selalu membuat orang berhenti kejam.”

Maya memejamkan mata.

Air matanya jatuh, tapi ia tidak menangis keras.

Raka mengulurkan tangan, menggenggam jarinya.

Maya tidak menarik diri.

Malamnya, Maya menerima pesan dari nomor Vina.

`Jangan merasa menang. Semua orang akan tahu siapa kamu sebenarnya.`

Maya menatap pesan itu.

Kali ini, ia tidak gemetar.

Ia hanya menyerahkan ponsel kepada Raka.

“Mas bilang Bima bisa mengurus bukti, kan?”

Raka menerima ponsel itu.

“Ya.”

“Kalau begitu urus.”

Tatapan Raka berubah.

Ada rasa bangga yang tidak ia ucapkan.

“Baik.”

Maya bersandar di sofa, lelah tapi tidak kalah.

Di luar jendela, Jakarta menyala seperti biasa.

Dan untuk pertama kali, Maya merasa ia tidak perlu memadamkan dirinya agar orang lain nyaman.

1
naira
lanjutkan thor
jangan lama² UP nya,penasaran dengan cerita nya👍👍👍
naira
cerita nya bagus,tapi kenapa bisa sepi pembaca yaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!